Diari Charles Roring

alam dan pikiran

Pengobatan Herbal di Kampung Kwau Pegunungan Arfak Papua

Papua sangat kaya dengan tumbuh-tumbuhan berkhasiat obat. Di kampung Kwau kawasan Pegunungan Arfak Kabupaten Manokwari, ada dua orang yang bergelut di bidang obat-obatan tradisional yang suka memandu wisatawan berkeliling hutan guna mempelajari manfaat tumbuhan dan bunga yang biasanya dipakai masyarakat asli Papua untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Nama mereka adalah Samuel Mandacan dan Hans Mandacan. Aku menulis artikel Herbal Medicine from Kwau Village in Arfak Mountains of Manokwari ini untuk menarik wisatawan yang menaruh perhatian pada pengobatan dari tumbuh-tumbuhan (herbal medicine) sehingga mereka mau datang ke kampung Kwau untuk mempelajari tumbuh-tumbuhan tropis berkhasiat obat di sana.

tanaman obat dari kampung kwau di Pegunungan Arfak Manokwari

Bunga Tanaman Obat di Hutan Tropis Pegunungan Arfak Manokwari

Karena lokasi kampung yang terisolir dari dunia luar, penduduk asli di kampung Kwau harus mengandalkan tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar hutan untuk merawat kesehatan mereka.  Tradisi ini sekarang dimunculkan ke dunia luar lewat blog ini untuk membantu masyarakat Papua  melestarikan hutan hujan dan pada saat yang sama mempromosikan teknik-teknik pengobatan tradisional mereka yang unik bagi orang-orang seperti kita yang sering bergantung pada obat-obatan kimiawi sepanjang hidup kita.
Aku berada di Kampung Kwau di Pegunungan Arfak pada 24 hingga 25 September 2010. Aku pergi ke sana berdasarkan undangan Hans Mandacan, seorang asli Papua yang mencoba mengembangkan eco-tourism di kampungnya. Aku bertemu dia pertama kali di akhir bulan Mei 2010. Ketika itu, aku sedang berbicara dengan Katja Zimmermann – seorang turis dari Jerman saat Hans Mandacan masuk ke toko buku tempatku bekerja. Dia sedang mencari sebuah alkitab yang diterbitkan dalam dua bahasa yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Dia membutuhkan buku itu untuk belajar bahasa Inggris. Dua hari sebelumnya, Katja telah pergi ke Pegunungan Arfak di mana dia bertemu dengan Hans Mandacan. Katja kemudian memperkenalkan Hans kepadaku. Dalam pertemuan pertama itulah Hans menyatakan niatnya untuk mengembangkan skema ekotourism bagi kampung Kwau agar penduduk setempat bisa pula memperoleh manfaat dari ecotourism atas hutan tropis yang menutupi seluruh pegunungan di dalam batas wilayah kampung mereka.

Bunga Ntam bermanfaat menghilangkan berbagai jenis penyakit kulit

Bunga Ntam yang bisa menyembuhkan macam-macam penyakit kulit

Aku tidak terlalu memberi perhatian pada idenya itu karena aku tahu bahwa tidaklah mudah untuk mengembangkan ecotourism di sebuah kampung yang infrastrukturnya tidak memadai untuk menerima wisatawan khususnya mereka yang datang dari Australia, Eropa atau Amerika. Namun Hans Mandacan terus mendatangiku sampai kira-kira tujuh kali. Pada kunjungan-kunjungannya yang pertama, aku menolak atau mengabaikan dia. Dia tidak marah. Sebaliknya, dia dengan sabar menantiku saat aku sedang dalam sebuah tour mengantar wisatawan Belanda mengelilingi Gunung Meja. Beberapa hari yang lalu, dia datang lagi untuk ketujuh kalinya. Oleh karena itu, setelah melihat kesungguhannya, aku pikir tidak bisa menolaknya lagi.

Hans Mandacan adalah seorang pemandu wisata setempat yang bisa berbahasa Inggris

Hans Mandacan - tourist guide - sedang berpose bersama keluarga

Singkat cerita, aku pergi ke kampung Kwau keesokan harinya ditemani oleh Samuel Mandacan (kepala kampung) dan Hans Mandacan (guide berbahasa Inggris yang adalah penduduk asli Kampung Kwau). Hans mengatur kendaraan buat kami. Aku tahu bahwa harganya sangat mahal buat ukuran penduduk kampung dan juga bagi masyarakat Indonesia pada umumnya yang ingin ke Pegunungan Arfak (biaya sewa mobil dari Manokwari ke Kampung Kwau Pegunungan Arfak adalah 2 juta rupiah – pergi dan pulang). Kedua orang itu telah menunjukkan pengorbanan mereka dengan membawaku ke Pegunungan Arfak. Perlu waktu satu setengah jam untuk mencapai tempat di mana kendaraan tidak bisa lagi berlari terus karena tidak tersedia jalan. Kami pun turun dari mobil, Toyota 4WD Hilux, dan kemudian melanjutkan perjalanan dengan mendaki bahu gunung menelusuri jalan setapak yang mengarah ke rumahnya Hans. Ketika kami sedang berjalan di bawah kanopi pepohonan tropis, aku bisa mendengar sayup-sayup suara aliran air jauh di bawah kami berada. Di kedua sisi jalan setapak, bunga-bunga liar bermekaran. Aku tidak tahu nama mereka karena aku belum pernah melihat mereka sebelumnya. Aku mengambil kamera dan memotret bunga serta berbagai jenis tanaman yang unik dan menarik. Gerimis mulai turun ketika kami berada kurang lebih 1 kilometer dari rumahnya Hans. Aku menutupi kamera digital SLR bermerek Sony dengan kantong plastik guna melindunginya dari hujan. Empat puluh menit kemudian kami mencapai rumah. Hans telah membangun rumah beton di dekat rumah tradisional kaki seribu – yang sepenuhnya terbuat dari kayu. Kedua rumah itu nampak sangat kontras. Aku terkagum-kagum mendengar cerita bahwa Hans telah memikul ribuan karung pasir dari sebuah sungai kecil di dasar jurang yang terletak jauh di bawah sana sekitar satu kilometer dari rumah itu berada.

Rumah untuk wisatawan di Kampung Kwau Pegunungan Arfak Kabupaten Manokwari

Rumah Turis di Kampung Kwau

Aku sangat lelah karena tidak tidur satu malam sebelumnya. Aku meminta izin untuk beristirahat sebentar selama kurang lebih 1 jam sebelum mulai menjelajahi daerah sekitar. Suhu udara dingin sekali di siang hari. Kabut menutupi rumah dan keseluruhan hutan tetapi kemudian cerah kembali.
Setelah makan siang, aku memutuskan untuk melakukan tur singkat ke dasar jurang tempat sebuah sungai mengalir. Aku ditemani Samuel Mandacan dan Apolos serta dua anak Hans yang masih kecil-kecil. Samuel menunjukkan perhatian lebih dalam menjelaskan manfaat medis dari tumbuh-tumbuhan hijau yang kami lihat. Dia bercerita bahwa jauh sebelum obat-obatan modern diperkenalkan di Kampung Kwau oleh pegawai kesehatan dari pemerintah, leluhur mereka telah menggunakan berbagai jenis tumbuhan di pegunungan Arfak untuk menyembuhkan penyakit.  Dia mencabut sebuah tumbuhan. Dalam bahasa lokal, namanya Ntam. Menurut Samuel, bunga dari tumbuhan ini berkhasiat membunuh jamur dan bakteri yang menyebabkan berbagai jenis penyakit kulit. Orang yang menderita sakit kulit seperti panu, kadas, kudis dan kaskado, hanya perlu menggosokkan bunga dari tanaman Ntam pada permukaan kulitnya. Perawatan kulit perlu dilakukan setiap hari hingga kulit sembuh kembali. Dalam satu atau dua minggu kulit akan nampak sehat setelah digosok dengan bunga Ntam. Di samping bunga, daun Ntam sangat efektif dalam menyembuhkan orang yang sedang sakit malaria. Ekstrak dari daun Ntam berkhasiat menurunkan suhu tubuh seseorang yang terserang demam tinggi. Untuk anak-anak, dosis yang aman adalah setengah gelas dan untuk orang dewasa, direkomendasikan satu gelas.
Aktivitas ekotourisme yang bisa dinikmati para wisatawan di Kampung Kwau – Arfak Mountains cukup beragam. Selain mengamati burung-burung surga berdansa di pagi dan sore hari, saat hiking di bawah pepohonan yang menghasilkan udara segar, turis dapat mempelajari manfaat obat dari berbagai spesies tumbuhan tropis yang tumbuh di hutan. Wisatawan dapat pula mencoba obat-obatan tradisional itu dengan pengawasan Samuel untuk memastikan bahwa tumbuhan obat yang diminum telah diproses dan diukur secara aman sesuai dengan ratusan tahun tradisi yang dipraktekkan oleh masyarakat suku Kwau di Pegunungan Arfak Papua.

Jika Anda tertarik mengunjungi kampung Kwau di Pegunungan Arfak untuk menikmati keindahan alam dan mempelajari obat herbal tradisional, Anda bisa menghubungi saya lewat email: peace4wp@yahoo.com. Saya dengan senang hati akan mengatur perjalanan Anda ke wilayah itu. Terima kasih dan salam dari saya – Charles Roring

Herbal Medicine from Kwau Village in Arfak Mountains of Manokwari
Papua is very rich of medicinal plants. In Kwau village of Arfak Mountains of Manokwari regency, there are two “herbs men” who like to guide tourists around the forest to study the medicinal merit of plants and flowers that are usually used by the indigenous Papuan to cure various kinds of diseases. Their names are Samuel Mandacan and Hans Mandacan. I write this article to promote ecotourism scheme for Kwau village that is focused on attracting tourists who are interested in herbal medicine so that they can come to the village and study the tropical medicinal herbs. Because of their isolated location, the indigenous Papuan who live in Kwau village have to rely on the plants around them for the treatment of their health. This tradition is now exposed to the world through this blog to help the Papuan preserve their rainforest and at the same time promote their traditional medication techniques that are unique to people like us who often rely on chemical medicines throughout our life.
I was in Kwau village of Arfak Mountains on 24 and 25 September 2010. I went there on the invitation of Hans Mandacan, an indigenous Papuan who is trying to develop eco-tourism for his village. I met him for the first time in late May 2010. I was speaking to Katja Zimmermann – a tourist from Germany when Hans Mandacan entered my bookstore. He was looking for a bible that is published two languages, i.e. Bahasa Indonesia and English language. He needs the book to study English. Two days before that Katja went to Arfak Mountains where she met Hans Mandacan. She introduced Hans to me. In our first meeting, Hans expressed his intention to develop ecotourism project for his Kwau village so that the villagers can also get the benefit that ecotourism gives for the tropical rainforest that covers the entire mountains inside the boundaries of their village territory. I didn’t really pay attention to his idea because I know that it is not easy to develop ecotourism for a village whose infrastructure is not adequate to receive tourists especially those who come from Europe. But Hans Mandacan kept coming to me for around seven times. At his first visits, I rejected or ignored him. He was not angry. Instead, he patiently was waiting for me while I was on a tour with Dutch tourists around the Table Mountain. Few days ago, he came again for the seventh time. This time, I thought I could not reject him anymore.
So, I went to Kwau village accompanied by Samuel Mandacan (the head of the village) and Hans Mandacan (the English speaking guide for the Kwau village). Hans arranged the car for me. I know that it’s very expensive to go to Arfak Mountains and both the Arfak men showed their sacrifice to bring me there. It took one and a half hour to reach the place where the car could not go anyfurther. We got out of the car, it was a Toyota 4WD Hilux, and began hiking along the pathway leading to Hans Mandacan’s house. When we were walking along the ridge of the mountain under the canopy of the tropical trees, I could hear the sounds of streaming water far below us. On both side of the pathway, wild flowers were blooming. I don’t know their names because I haven’t seen them before. I took out my camera and took a lot of pictures of the flowers and various kinds of plants that looked interesting. It was drizzling when we were at around one kilometer from Hans’ house. I covered my Sony digital SLR camera with plastic bags to protect it from the rain. Fourty minutes later we reached the house. Hans had built a concrete house near his traditional kaki seribu house – fully made of wood. Both of them looked very contrast.  I was amazed to hear that Hans carried tousands of bags of sand from the ravine one kilometer from where the house is. I was very tired because I didn’t sleep the previous night. I requested permission from Hans Mandacan that I needed to take a rest for around 1 hour before I could start to explore the surrounding area. The temperature was so cool during the day. Fog covered the house and the whole forest but then it was clear again. After eating lunch, I decided to make a small tour to the ravine. I was accompanied by Samuel Mandacan and Apolos and two of Hans’ children.
Samuel showed much interest in explaining the medicinal merit of the green plants that we saw. He said that long before the modern medicine was introduced to Kwau village by health workers from the government, their ancestors had used various plants in the Arfak mountains to cure diseases. He pulled a plant. In local language, its name is Ntam. Samuel said that the flower of the plant is usually used to kill bacteria and skin fungus that cause various skin diseases. The person who suffers from a skin disease only rubs the flower of the Ntam plant on surface of his or her skin. The treatment should be carried out every day until the skin gets well again. Within one or two weeks the skin will look healthy after being treated by the flower of Ntam. In addition to the flower, its leaves are very effective in curing people who suffer from Malaria. The extract of the leaves is used to restore the body temperature to normal level when the patient experiences high fever. For children the safe dosage is a half glass of Ntam leaf extract whereas for adults, one full glass of the extract is recommended.
Eco-tourism activities which tourist can enjoy in Kwau are many. While hiking under the trees that produces fresh air, tourists can study the medicinal merit of a lot of species of tropical plants that live in the rainforest. Samuel Mandacan as the “herbs man” and Hans Mandacan, the interpreter will guide you around to show you the herbs. You can also try the medicine with the supervision of Samuel to ensure that the herbs that you drink is safely processed and measured according to the hundreds of years tradition of the Kwau tribe.
If you are interested in visiting Kwau village of the Arfak Mountains to enjoy the beauty of the nature and to study their traditional herbal medicine, you can contact me via email: peace4wp@yahoo.com. I will be happy to arrange your trip to the region. by Charles Roring

September 27, 2010 Posted by | Jalan-jalan, Pengobatan Tradisional, Wisata Alam | , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.