Diari Charles Roring

alam dan pikiran

Menjelajahi Hutan Hujan Tropis Gunung Meja Manokwari

Penjelajahan kawasan hutan hujan tropis adalah salah satu cara yang baik untuk menghargai keindahan alam Gunung Meja Manokwari, ibu kota Prov. Papua Barat Indonesia. Hari ini saya dan teman, Paul Warere menemani tiga orang biologists Russia mengunjungi Gunung Meja yang terletak beberapa ratus meter dari Penginapan Kagum – sebuah hotel murah yang sering dikunjungi wisatawan asing di kota ini. Dalam bahasa Inggris gunung meja disebut Table Mountain. Ya, bentuk gunung tersebut di puncaknya rata seperti meja. Hutan gunung meja adalah kawasan yang dilindungi pemerintah kabupaten Manokwari. Nama ketiga eco-traveler Russia tersebut adalah InGa (perempuan), Mike dan Dima (laki-laki).

gunung-meja-manokwari.jpg
Kami menjelajahi hutan ini dari pukul 02.00 siang hingga 06.30 sore. Kami melihat berbagai jenis tumbuhan, jamur, serangga, burung, cicak dan bunga. Kami mengunjungi pula Monumen Peringatan Tentara Jepang yang gugur selama Perang Pasifik. Saya sekali tugu itu telah mengalami kerusakan yang sangat parah diakibatkan oleh buruknya pemeliharaan. Kami tidak lama bertahan di sana karena perjalanan harus dilanjutkan ke sebuah gua alam yang terletak beberapa kilometer jauhnya dari situ.
Perjalanan ke gua tersebut sangat menarik karena kami bisa memfoto berbagai hal yang kami jumpai di dalam hutan seperti jamur yang unik, serta bermacam-macam tanaman hijau yang dipakai masyarakat asli untuk menyembuhkan penyakit seperti malaria dan sakit paru-paru.
Ketika kami tiba di dekat gua, kami melihat seekor burung hantu di tanah. Matanya yang berwarna merah nampak tertutup. Mungkin ia sedang tidur, dan kelihatannya ia tak bisa terbang lagi. Mungkin ia terluka atau telah tua. Mungkin ia akan mati. Hujan sedang turun dan bulu-bulunya basah semua.
Inga menunjukkan ketertarikannya pada serangga sedangkan Dima lebih suka berurusan dengan kelelawar gua. Mike membawa sebuah kamera digital yang dilengkapi lensa untuk pemotretan jarak jauh. Harganya, wow, lebih dari 8.000 US dollars. Ketiga pelancong hutan dari Russia ini tidak mengeluhkan masalah tanah yang becek dan nyamuk-nyamuk yang beterbangan. Mereka kelihatannya begitu menikmati perjalanan di dalam hutan belantara Papua ini.
Jam lima sore kami tiba di mulut gua. Ini gua alam yang ditutupi oleh pohon-pohon. Bebatuan karang yang besar-besar menghalangi jalan masuk ke gua. Perlahan-lahan kami menuruninya dan merangkak masuk. Gelap sekali di dalam. Saya lupa membawa lampu senter. Terpaksa saya harus menggunakan view finder dari Sony digital camera untuk menuntun penjelajahan di dalam gua tersebut.
Dima senang karena dia bisa menemukan kelelawar-kelelawar kecil yang menggantung di dinding. Ada pula cicak yang kulitnya belang-belang (striped lizards). Inga memegang salah satunya dan membiarkan kami memfotonya. Kali ini Mike sibuk memotret cicak dan kelelawar-kelelawar itu. Saya lebih tertarik memotret turis-turis Russia ini yang sedang senang menjelajahi keindahan alam hutan hujan tropis Papua yang menutupi kawasan Gunung Meja Manokwari.
Setelah menyelesaikan penjelajahan gua ini, kami memutuskan untuk kembali ke Penginapan Kagum karena hari semakin gelap. Ketika kami mencapai jalan aspal yang menuju ke Sarinah, sebuah “taksi” (minibus yang dipakai sebagai transportasi umum) lewat. Paul menghentikannya. Inga membayar Rp. 10.000 untuk tumpangan dari Gunung Meja ke Toko Buku Xavier. Mike berkata bahwa mereka akan melanjutkan penjelajahan terhadap hutan belantara Papua keesokan harinya di daerah Nuni- daerah pantai utara Manokwari. Oleh Charles Roring

Januari 19, 2010 Posted by | Artikel | , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.