Hutan hujan tropis di gunung-gunung dan pulau-pulau di sekitar Wasior
Beberapa hari yang lalu saya memuat sebuah artikel yang berjudul, Tropical Rainforest in the Mountains along the Northen Coast of Manokwari sebagai bagian dari usaha saya dalam mempromosikan skema eko-wisata yang dapat menyediakan pekerjaan alternatif bagi penduduk asli Papua yang tinggal di wilayah pesisir. Kali ini, saya akan menulis sedikit tentang Kabupaten Teluk Wondama. Bencana banjir yang baru saja menimpa kota Wasior mengingatkan kita untuk memberikan lebih banyak perhatian kepada pelestarian hutan hujan tropis (tropical rainforest) dan pada penciptaan lapangan kerja alternatif bagi masyarakat adat Papua yang tidak akan secara destruktif mengeksploitasi lingkungan hutan dan laut. Bulan September yang lalu sebelum terjadinya bencana banjir, Pieter Wieringa dan istrinya, dua orang turis Belanda, mengunjungi kota itu. Mereka pergi ke sana untuk menemui keluarga mereka. Saat sedang berada di Wasior, istrinya mengambil banyak gambar pemandangan pulau dan gunung yang masih ditutupi oleh hutan hujan tropis.

Kampung di kawasan pantai kabupaten Teluk Wondama
Hutan hujan tropis dan terumbu karang sebagai fokus promosi eko-wisata yang bertanggung jawab
Sebelum meninggalkan Manokwari menuju Bali dan kemudian ke Belanda, Tuan Wieringa mengundang saya ke YAT Losmen untuk sedikit berdiskusi tentang bagaimana kita bisa mempromosikan Wasior lewat foto-foto hutan hujan tropis dan terumbu karang serta lingkungan laut yang masih dalam keadaan baik sekali tersebut. Dia memberikan kepada saya lebih dari 700 foto pegunungan, pulau-pulau, hutan hujan tropis yang berwarna hijau tua dan laut biru yang indah baik di Teluk Geelvink dan Teluk Wondama dari Pulau Papua.

- Hutan tropis di kawasan pesisir sekitar Wasior
Setelah bencana banjir, saya sedang berpikir untuk menunda mempromosikan eko-wisata bagi Wasior atau Kabupaten Teluk Wondama secara keseluruhan karena dalam pandangan saya, kota itu tidak akan siap menerima wisatawan. Sulit untuk mengembangkan industri pariwisata di sebuah kota yang baru saja tertimpa banjir dengan tingkat kerusakan hampir menyeluruh. Namun, saya melihat bahwa dengan mempromosikan keindahan terumbu karang dan hutan hujan tropis dari Kabupaten Teluk Wondama maka masyarakat di Wasior dan di kampung-kampung di wilayah itu akan mendapat harapan. Mereka masih bisa mengandalkan sumber daya alam sebagai sumber penghasilan lewat pariwisata yang bertanggung jawab. Saya belum menghubungi pejabat di pemerintah daerah apakah turis-turis masih diizinkan masuk kota itu karena status tanggap darurat untuk membantu para korban banjir masih berlangsung. Setelah tanggap darurat, upaya-upaya restorasi untuk memulihkan kembali ekonomi di kota itu akan dimulai. Saya pikir kota itu baru akan siap menerima turis-turis lagi pada bulan Januari 2010. Tapi saya harap mereka tidak bermimpi menginap di hotel yang mewah karena hal itu sangatlah tidak memungkinkan. Saya tidak sependapat dengan pandangan bahwa kampanye eko-tourism bagi Wasior harus ditangguhkan. Bagi saya, masih ada kampung-kampung lain di kabupaten itu yang tidak terkena banjir. Jika turis pergi ke sana, mereka masih bisa hiking di hutan hujan tropis atau menikmati snorkeling di wilayah perairan dari beberapa pulau tropis di Teluk itu.

- Hutan tropis di dekat pantai Teluk Wondama
Eko-wisata dapat menyediakan pekerjaan dan mengurangi deforestasi Kontribusi keuangan dari eco-tourism akan sangat membantu penduduk lokal Papua. Saya juga berpendapat kemungkinan eco-tourism dapat dilihat sebagai skema penyembuhan trauma. Masyarakat hendaknya melihat alam sebagai sahabat dan bukannya musuh. Hutan tropis di Papua Barat sedang menghadapi masalah yang sama dengan hutan tropis di wilayah Amazon Amerika Selatan. Penebangan hutan bagi pembukaan perkebunan kelapa sawit dan eksploitasi kayu sungguh-sungguh mengancam pulau itu. Tidak hanya Wasior yang hutannya sedang ditebang. Penebangan juga terjadi di hampir setiap sudut pulau New Guinea untuk memenuhi kebutuhan kayu di dalam dan luar negeri bagi industri konstruksi dan perabotan. Tadi siang, seorang sahabat lama saya mengunjungi saya. Kami tidak pernah bertemu selama sekitar 18 tahun. dia datang ke kota Manokwari bersama satu tim sukarelawan dari Bandung yang akan ke Wasior untuk membantu korban dan pengungsi yang masih berada di kota kecil itu. Selama 3 jam berdiskusi dengannya, saya menjelaskan kepadanya sejumlah skema alternatif yang bisa kita lakukan untuk membantu orang-orang Papua mengembangkan ekonomi mereka tanpa merusak atau mengeksploitasi alam secara berlebihan. Dia setuju dengan ide dan berkata dia juga ingin mengembangkan agro-wisata bagi Manokwari. Dia sedang berpikir untuk kembali lagi ke Papua untuk mewujudkan mimpinya. Sebenarnya dia adalah seorang Papua yang lahir di Manokwari. Dia juga dibesarkan di sini dan sekarang bekerja bagi sebuah NGO di Jawa. Saya berharap agar semua orang di Papua ini dan di seluruh dunia mengambil banjir Wasior sebagai pelajaran yang sangat mahal dan mulai mengubah gaya hidup untuk semakin bersahabat dengan lingkungan di sekitar kita. Jika Anda tertarik untuk mengunjungi Wasior atau Kabupaten Teluk Wondama guna mendaki atau mengamati burung atau pula snorkeling di antara terumbu karang pulau-pulau tropis di teluk itu, Anda bisa menghubungi saya – Charles Roring – via email peace4wp@gmail.com untuk lebih banyak informasi mengenai daerah itu. Saya akan dengan senang hati membantu merencanakan perjalanan Anda ke sana.
Also read:
- Tropical rainforest preservation in District Senopi
- Tropical rainforest of Arfak mountains
- Birds from the tropical rainforest of Manokwari Papua
- Tropical rainforest a great tourist attraction in Manokwari Papua
- Arfak Mountains
- Watching beetles in the tropical rainforest
- Tropical rainforest in the mountains and islands around Wasior













