Pembatalan Proyek Nikel di Raja Ampat Adalah Masa Depan Cerah Bagi Pengembangan Pariwisata Kelautan
Charles Roring di Manokwari Papua
Pertengahan bulan November 2008 yang lalu, BHP Billiton, membatalkan proyek peleburan nikel senilai $ US 4,8 milliar dolar di Pulau Gag Papua Barat. Meskipun telah menghabiskan $ 75 juta dolar untuk studi nikel, perusahaan tersebut meninggalkannya begitu saja.

Pembatalan ini dilihat sebagai berita baik bagi para scuba diver dan marine biologists yang telah menentang rencana di atas sejak semula. Pulau Gag dan pulau-pulau lain di sekitarnya adalah bagian dari Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat, Indonesia. Kabupaten baru ini secara administratif baru dibentuk beberapa tahun yang lalu. Guna mempercepat pembangunan di wilayah ini, para pejabat pemerintah daerah berupaya keras untuk mengundang para investor. Siapa saja yang tertarik membuka usaha mereka di Kepulauan Raja Ampat disambut baik. Namun investor yang berbeda memiliki kepentingan yang berbeda-beda pula.
Ketika aktivitas eksplorasi dilaksanakan di wilayah itu, geologists menemukan cadangan laterite nickel dalam jumlah yang besar. Cadangan serupa telah ditemukan juga di Buli, Pulau Halmahera, Provinsi Maluku Utara.
Di pihak lain, para scuba divers menyatakan bahwa terumbu karang Raja Ampat adalah yang terbaik di dunia. Keanekaragaman hayati di pulau-pulau ini adalah yang tertinggi. Pengumuman semacam ini dapat memicu investment milyaran dolar dalam industry pariwisata laut. Terletak di katulistiwa, Kepulauan Raja Ampat menawarkan potensi pariwisata dengan kebudayaan yang eksotik, pancaran sinar matahari sepanjang tahun, pegunungan hutan hujan tropis, bentangan pasir pantai yang panjang, air laut yang bersih dan terumbu karang dengan kondisi terbaik.
Jika dikembangkan dengan baik, Kepulauan Raja Ampat bisa menjadi Karibia-nya Pasifik di masa datang.
Kurang lebih satu atau dua minggu yang lalu, seorang gadis bernama Meilina Sulistyawati, yang bekerja sebagai staf ahli di Bappeda Papua Barat, terlibat dalam percakapan dengan saya mengenai Raja Ampat. Dia akan pergi ke Raja Ampat untuk mengerjakan sesuatu yang ada hubungannya dengan pekerjaannya di sana. Saya katakan jika Raja Ampat hendak dibangun, industry scuba diving tidak bisa dihindari. Kemudian saya rekomendasikan sebuah buku yang dirilis oleh CORAL berjudul, “The Sustainable Tourism for Marine Recreation Providers.”
Mengapa saya rekomendasikan kepada para pengambil keputusan dan ahli-ahli perencanaan untuk membaca buku ini? Jawabannya sederhana saja. Jika direncanakan dengan tepat dan dikembangkan dengan baik, aktivitas diving dan pariwisata kelautan lainnya dapat memberikan kontribusi yang penting baik bagi masyarakat lokal dan pemerintah.
Pengembangan industry scuba diving bukanlah berarti nelayan lokal tidak boleh lagi menangkap ikan di wilayah itu. Memang akan ada beberapa no take zone areas yang biasanya kita sebut Marine Protected Area (MPA). Pengembangan pariwisata kelautan di Raja Ampat seharusnya menyediakan ruangan bagi pemilik resort, dan para penyelam, dan terlebih lagi masyarakat nelayan tradisional yang telah tinggal di wilayah itu selama ratusan tahun.
Pengembangan pariwisata kelautan di Raja Ampat membutuhkan sebuah pendekatan terintegrasi yang melibatkan semua pihak yang berkepentingan dari berbagai sektor, termasuk departemen kehutanan. Mengapa kehutanan? Pembabatan hutan yang tidak bertanggung jawab akan menciptakan erosi dan hanyutnya sampah-sampah bekas dan akibat penebangan tersebut ke laut. Ketika pasir, lumpur dan bebatuan dari daratan mengalir ke laut, mereka akan menutupi rumput laut, dan coral sehingga menghalangi binatang laut seperti penyu dan ikan duyung untuk makan, demikian pula sinar matahari akan terhalang menerpa terumbu. Ketika ini terjadi, terumbu karang akan mati, ikan akan berkurang dan keseluruhan industry diving akan ambruk. Ini adalah satu dari beberapa alasan mengapa para pencinta lingkungan hidup menentang Proyek Peleburan Nickel oleh BHP Billiton di Pulau Gag Raja Ampat Papua Barat.
Artikel ini adalah adaptasi dari tulisan saya di blog lain yang berjudul: Cancellation of nickel project in Raja Ampat means a brighter future for the development of marine tourism








