Kisah Seputar Terbunuhnya Tuan Manuputty Bestuur Momi Waren di Papua
oleh Charles Roring
Tuan Manuputty adalah seorang Bestuur yang bekerja bagi pemerintah Belanda di Momi Waren Papua (the Netherlands New Guinea) sekitar masa sebelum Perang Dunia ke-2. Beliau bersama anak laki-lakinya dibunuh oleh tentara Jepang sesaat setelah pasukan Jepang tiba di Papua. Menurut catata sejarah, maka perkiraan saya kasus ini terjadi sekitar tahun 1943.
Hingga saat ini kisah sebenarnya tentang pembunuhan terhadap Bestuur Manuputty oleh serdadu Jepang kabur. Dari cerita-cerita lisan yang saya himpun, ada 2 versi yang diketahui. Yang pertama menceritakan bahwa beliau dan anaknya dibunuh di pinggir pantai di dekat Jembatan Jute (menurut Bpk Lucky Kaikatui yang mendengar cerita itu dari Kakeknya), sedangkan versi yang lain (sesuai penuturan Bpk. Jan Manusawai) bahwa Tuan Manuputty dan anaknya dibunuh di Pulau Roon di sebuah tanjung yang berada di depan Kampung Inarbu.
Hingga saat ini, saya belum bisa memastikan mana dari kedua versi cerita tersebut yang benar-benar akurat. Oleh karena itu saya akan berusaha menguraikan keduanya dalam tulisan ini sebagai bagian dari sejarah masyarakat Papua.
Cerita versi pertama
Kisah ini saya peroleh dari Bpk Lucky Kaikatui tanggal 27 Juni 2009, saat iya mengunjungi saya di siang hari di Toko Buku Xavier – tempat saya bekerja. Menurutnya Kakeknya dulu adalah sahabat dekat Tuan Manuputty. Mereka ketika itu tinggal di Manokwari dan selalu ke mana-mana berdua. Manokwari di masa pemerintahan Belanda sebelum Perang Dunia II adalah kota yang kecil sekali. Rumah-rumah Belanda yang ada ketika itu hanya berlokasi di kawasan sekitar Gouvernements Hotel (sekarang Hotel Arfak) sepanjang Panorama-weg (sekarang Jalan Brawijaya).
Ketika Tuan Manuputty selanjutnya menjabat sebagai Bestuur Momi Waren, ia dan temannya, Tn Kaikatui mendapat laporan bahwa orang-orang Serui yang bekerja di Perkebunan Jute, yang dikelola Jepang di Waren diperlakukan dengan tidak manusiawi. Hal ini membuat Tn. Kaikatui marah karena istrinya juga berasal dari Serui.
Kemarahan mereka itu dilampiaskan dengan membakar Jute. Setelah kejadian itu, Tn. Kaikatui pergi melarikan diri di hutan.
Suatu hari saat ia sedang bersembunyi di atas sebuah pohon kelapa yang pelepah mayangnya lebat, ia melihat kapal selam Jepang muncul ke permukaan. Setelah itu, dari kapal tersebut sebuah speedboat merapat ke pasir pantai yang di dalamnya berisikan tentara Jepang dan Tn. Manuputty. Setelah mendarat, Tn. Manuputty diperintahkan untuk menggali pasir. Saat ia sedang menggali, kepalanya dipenggal dengan samurai oleh serdadu Jepang. Kemudian mereka menguburnya di situ. Melihat semua kejadian itu, Tn. Kaikatui takut sekali, karena ia juga adalah pelaku pembakaran Jute.
Segera ia menemui keluarga Manuputty untuk mencari tahu keadaan yang sebenarnya. Isteri Tuan Manuputty mengatakan bahwa suami dan anaknya yang laki-laki telah dibawa pergi oleh Jepang untuk dibunuh. Sang anak yang tidak terlibat dalam kasus pembakaran, karena perasaan sayang, menyertai bapaknya.
Karena ketakutan, Tn. Kaikatui segera kembali ke rumahnya dan meminta isterinya agar segera melarikan diri dari Momi. Mereka mengisi perahu dengan banyak makanan, pakaian dan perlengkapan lain. Setelah itu mereka mendayungi perahu mereka hingga tiba di Serui. Waktu yang diperlukan adalah sekitar satu minggu.
Bagi Bpk Lucky Kaikatui kisah terbunuhnya Bestuur Manuputty merupakan kisah penting baginya. Dengan pengungsian kakeknya ke Serui akhirnya Bapaknya dilahirkan di Serui. Oleh karena itu, ia disebut sebagai orang Serui walaupun kakeknya sebenarnya adalah orang asli Manokwari dari keturunan keluarga Mansim.
Cerita versi kedua
Sebelum Perang Dunia ke – 2 berlangsung, di Distrik Momi Waren Papua orang-orang Jepang mendirikan perkebunan Jute. Menurut Tuan Jan Manusawai, perkebunan itu luas sekali. Secara teratur kapal Jepang datang ke Waren untuk memuat serat Jute guna dikirim ke Jepang. Tapi mereka sebenarnya bukan pekerja perkebunan melainkan intel-intel Jepang yang ditugaskan untuk memantau keadaan Papua.
Pak Jan Manusawai mengenang bahwa saat itu ia masih duduk di kelas 3 sekolah dasar. Kawasan perkebunan Jute itu bahkan sudah dialiri listrik. Mereka suka membeli es yang dijual oleh orang-orang Jepang.
Tiba-tiba tidak lama sebelum meletusnya Perang Dunia ke-2, orang-orang Jepang itu kembali ke negara mereka. Kemungkinan besar mereka telah mengetahui bahwa perang akan pecah.
Perang Dunia ke-2 akhirnya pecah. Jepang mulai mendarat di berbagai pulau termasuk Papua. Tuan Manuputty sebagai seorang bestuur Belanda membakar pelabuhan untuk mencegah agar Jepang tidak mendarat.
Tapi Jepang tetap mendarat. Mereka marah ketika mendapati bahwa Pelabuhan telah dibakar. Pelaku pembakaran pun dicari.
Tuan Manuputty beserta keluarganya telah pergi bersembunyi di hall kecil yang bernama Papararo di Kampung Windesi sesuai dengan petunjuk dari orang kampung. Namun demikian ada intel-intel Jepang di kampung itu yang akhirnya mengetahui keberadaan mereka. Tuan Manuputty akhirnya ditangkap. Anaknya, karena sayangnya pada ayahnya, ikut dengan mereka. Keduanya dibawa ke Pulau Roon. Di sebuah tanjung yang terletak di depan kampung Inarbu, Tn. Manuputty dan anaknya itu dibunuh Jepang.
Cerita versi kedua ini juga dituturkan oleh Bapak Jan Manusawai pada tanggal yang sama yakni 27 Juni 2009 pada sekitar jam 7 malam. Sebenarnya kisah ini pernah dituturkan oleh Bpk Jan Manusawai sekitar tahun 2007 yang lalu.
Namun, setelah mendengar cerita versi pertama, saya merasa perlu untuk menulis kedua versi cerita tersebut agar bisa dijadikan sebagai bahan perbandingan dan kajian oleh siapa saja yang menaruh perhatian pada sejarah masyarakat Papua.
Pelestarian Gedung Tua Peninggalan Belanda Sangat Mendesak
oleh Charles Roring
Dua atau tiga hari yang lalu saya berjalan di sekitar kompleks. Saya ditemani Grace, keponakan kecil yang cantik dan baru berusia empat tahun. Saya membawa sebuah kamera digital kecil tipe Sony Cyber-shot 6.0 mega pixel. Saya memotret beberapa gambar saat berjalan perlahan bersama Grace.

rumah tua peninggalan Belanda di Papua
Salah satu di antara gambar itu adalah sebuah rumah Belanda yang dibangun di atas bukit. Seorang Papua yang sudah tua, Jan Manusawai, menceritakan bahwa rumah itu telah ada sejak sebelum Perang Dunia II. Rumah itu dulu digunakan sebagai rumah sakit sebelum menjadi kediaman pastor-pastor Katolik. Sekarang rumah tersebut milik Gereja Katolik diosis Manokwari – Sorong. Ada banyak gedung, rumah dan toko-toko indah yang dibangun oleh Belanda di kota ini.








