Lembar-lembar Ekspresi

Transformasi Sosial dalam Sensualitas

Penyewaan Hutan Hujan Tropis Papua, terlalu murah buat kompensasi, terlalu bodoh buat konversi

oleh Charles Roring dari Manokwari Papua Barat, Indonesia

Dalam artikel sebelumnya, saya mengemukakan bahwa Penyewaan Hutan Tropis di Manokwari Papua Barat sungguh tidak wajar dan tidak bijaksana.

Sebuah perusahaan perkebunan minyak kelapa sawit yang bernama PT Medco Papua Hijau Selaras telah mencapai sebuah kesepakatan dengan keluarga-keluarga masyarakat adat di Manokwari untuk penyewaan suatu areal tanah yang sebagian besarnya masih hutan sebesar 5.930 hektar bagi perkebunan kelapa sawit. Perusahaan itu telah mulai membayar Rp. 450.000 atau sekitar 36 dolar per hektar sekali bayar untuk selama 35 tahun. Ini sama dengan Rp. 45 per meter persegi. Bagi saya, ini adalah GILA dan dengan demikian saya marah.

Hutan tropis di Prafi, Manokwari, Papua

Melalui posting ini saya menyerukan kepada kelompok-kelompok pencinta lingkungan hidup di tingkat lokal, nasional dan internasional untuk mengambil tindakan guna menyelamatkan hutan hujan tropis terakhir yang masih tersisa di dunia ini, di samping Amazon-nya Brazil.

Sampai sekarang, perusahaan tersebut sedang mempersiapkan pembibitan sawit. Tahun depan, mungkin mereka akan mulai melakukan penebangan hutan, pembersihan lahan dan mulai menanam anakan-anakan sawit itu.

Nampaknya, para pejabat pemerintah setempat tidak melihat ini sebagai sebuah masalah serius. Bisa jadi mereka belum tahu. Mereka cenderung mengundang sebanyak mungkin investor ke wilayah ini tanpa melihat hingga terperinci bagaimana para penanam modal tersebut memanfaatkan sumber daya alam Papua, contohnya, dari penebangan hutan seluas 5.930 hektar saja, perusahaan akan memperoleh banyak keuntungan. Ketika anakan sawit mulai bertumbuh, mereka dapat menjual carbon offset ke pasar dunia seandainya mereka berhasil mendapatkan sertifikasi carbon capture.

Skema seperti eco-tourism di mana para wisatawan dapat menikmati pengamatan burung dan anggrek liar belum dianggap penting, mungkin karena sumbangannya yang masih kecil atau tidak ada sama sekli buat anggaran pemerintah. Pilihan lain seperti penjualan carbon offset ke pasar karbon dunia dilihat sebagai sesuatu yang rumit.

Meskipun hutan tropis Papua adalah paru-paru yang menyerap jutaan ton emisi CO2 selama ratusan tahun, dunia belum berbuat banyak guna melindunginya. Kita membutuhkan aksi-aksi segera sebagai alternatif bagi konversi puluhan ribu hektar hutan hujan yang masih perawan menjadi perkebunan monokultur kelapa sawit.

Kita tidak dapat hanya berteriak, “stop pembabatan hutan Papua, stop pengkonversiannya menjadi perkebunan sawit, stop perataan hutan sagu menjadi sawah.” Kita harus bergerak keluar dari istilah-istilah klasik ini. Kita tahu bahwa masyarakat adat Papua membutuhkan perbaikan dalam kondisi hidup mereka. Kita harus membantu mereka agar berhenti menyerahkan tanah-tanah mereka buat perkebunan sawit dan lahan persawahan yang bukan merupakan tanaman asli Papua.

Saya tahu bahwa ada beberapa kelompok di Papua yang telah mulai memanfaatkan kekayaan hutan Papua dengan memanen Buah Merah, Sarang Semut dan Kulit Masoi bagi produk obat. Beberapa agen perjalanan wisata di Eropa juga telah berusaha berbuat yang terbaik dengan menjual paket tour bagi wisatawan yang ingin menyaksikan burung Cendrawasih yang eksotis berdansa dengan pasangan-pasangannya menyambut pagi merekah, atau mengamati anggrek-angrek liar. Kita membutuhkan skema yang sustainable dalam mendukung masyarakat adat.

Sungguh, ada banyak hal yang harus dikerjakan, mulai dari membantu masyarakat adat setempat untuk mensertifikasi hutan mereka supaya carbon offset-nya bisa dijual sehingga uang yang diperoleh bisa dimanfaatkan untuk memperbaiki fasilitas kesehatan dan pendidikan, hingga lebih banyak lagi mengundang para pelancong guna menikmati keindahan alam Papua.

Namun yang paling penting untuk dilakukan sekarang adalah menghentikan pembabatan ribuan hektar hutan Papua menjadi perkebunan sawit monokultur. Siapa saja yang ada di luar sana, ayo berbuatlah sesuatu!

Baca juga:

Desember 11, 2008 Ditulis oleh charlesroring | Lingkungan Hidup, Uncategorized | , , | & Komentar