Lembar-lembar Ekspresi

Transformasi Sosial dalam Sensualitas

Ester Kereway, Perempuan Papua Yang Mandiri

oleh Charles Roring

Ester Kereway (62) adalah salah seorang seniman Papua, yang dalam usia senja, masih terus kreatif membuat barang kerajinan khas Papua.

Sehari-hari ia akrab dipanggil “Mama Rambut Putih” atau “Mama Kereway.”

Ia mulai membuat kerajinan tangan sejak tahun 1970. Awalnya, hal ini hanyalah sebuah hobi. Karena tekanan ekonomi, ia harus serius mencari nafkah dari ketrampilannya tersebut. Sejak dua puluh tahun lalu ia menjadi single parent menghidupi sembilan anaknya.

Sebenarnya, Mama Kereway adalah guru sekolah dasar. Ia lulusan Opleiding Dorps Onderweiss (ODO) Fakfak, sebuah sekolah pendidikan guru di zaman Belanda. Ia kemudian mengajar di SD YPK 1 Manokwari hingga pensiun dua tahun yang lalu. Bakat mengajar mungkin diperolehnya dari orangtuanya yang juga adalah guru.

Pada tahun 1992 pemkab Manokwari mengirimnya ke Jayapura untuk memamerkan karya-karyanya di Papua Expo. Di sana banyak produknya diborong pengunjung. Sejak itu Mama Kereway lebih berkonsentrasi pada hobinya ini. Ia pun telah diikutsertakan dalam berbagai pameran di tingkat nasional.

Contohnya, pada tahun 2001 ia dikirim ke Festival Budaya Nusa Dua Bali. Dua tahun kemudian ia memamerkan karyanya di Pameran Teknologi Tepat Guna yang diselenggarakan di Sidoarjo, Jawa Timur. Menurutnya ini adalah pameran terpenting yang pernah diikutinya. Di sana ia bisa menyaksikan bermacam mesin, salah satunya adalah mesin pintal sederhana. “Saya ingin sekali membeli mesin itu tapi saya tidak punya cukup uang. Di sini kami membuat benang dari serat tumbuhan secara manual. Prosesnya sangat lambat,” jelasnya. Pameran terakhir yang diikutinya adalah Pameran Kerajinan Tangan Indonesia di Jakarta bulan Maret lalu.

Selama menghadiri pameran, Mama Kereway selalu menyempatkan diri mengunjungi gerai daerah lain. Hal tersebut dilakukannya untuk mempelajari teknik desain dan proses produksi mereka. “Kamu tahu, saya tidak pernah masuk sekolah seni. Oleh karena itu, saya harus selalu bertanya kepada para peserta lain agar bisa memperoleh informasi sebanyak mungkin,” terangnya dengan mata yang berbinar-binar.

Dalam berkarya Mama Kereway menggunakan bahan baku lokal seperti kulit kerang, tempurung, kayu dan serat tumbuhan. Namun setelah menghadiri banyak pameran, ia mulai mengombinasikannya dengan material sintetik agar produknya lebih mudah diterima konsumen.

Pengalaman dan pengetahuan yang diperolehnya dari berbagai pameran, ia bagikan pula kepada teman-temannya seperti, Mama Werbete, Mama Naibey serta Mama Bonay. Sebagai sesama seniman perempuan, mereka sering bertemu dan bertukar pengalaman.

Mama Kereway tidak memasarkan produknya ke toko atau supermarket. Ia hanya menaruhnya di rumah. Sayang, walaupun terletak di wilayah yang strategis, rumahnya tak terlihat dari jalan raya. Namun demikian, ia cukup bangga karena suvenir buatannya sudah pernah dipesan oleh pembeli-pembeli di Negeri Belanda. Mereka memborong dengan harga tinggi hingga ia kewalahan memenuhi permintaan mereka. Harapannya suatu saat nanti ia bisa membangun galeri sendiri.

Sebenarnya pemkab Manokwari telah menawarkan sebuah ruangan di sebuah pasar tradisional yang terletak di kawasan perdagangan kota Manokwari. Mama Kereway menolaknya dengan alasan bahwa tempat itu tidak aman baginya dan seniman-seniman perempuan yang lain. “Banyak anak muda yang suka mabuk-mabukan di sana. Saya takut berurusan dengan mereka.”

DSC01549.JPGMama Kereway dan seniman-seniman lain di kota Manokwari pernah meminta pemerintah untuk menyediakan sebuah ruangan galeri di Bandara dan Terminal Kapal Penumpang Manokwari agar mereka bisa memajang dan menjual karya seni khas Provinsi Irian Jaya Barat. Sejauh ini, permintaan tersebut belum mendapat tanggapan dari pemerintah.

Ketika ditanya tentang pesannya kepada perempuan Papua, ia menjawab, “Coba lihat, Papua ini sangat kaya dengan sumber daya alam. Masalahnya kita, orang-orang Papua, malas mengolahnya. Kita kurang kreatif dan hanya mau cari gampangnya saja. Sebenarnya kalau mau bekerja keras, kita bisa memperoleh penghasilan setiap hari. Perempuan Papua jangan memiliki wawasan yang sempit. Kita bisa bekerja bergandengan-tangan untuk memroses semua sumber alam yang ada. Di luar Papua terutama di provinsi-provinsi lain, perempuan sangat dominan di bidang kerajinan. Kita tidak perlu malu belajar dari mereka.”

Sebagai seniman, prestasinya bagus sekali. Banyak penghargaan telah diraihnya. Sebagai warga masyarakat ia adalah ketua RT yang suka menolong. Sebagai aktivis gereja, ia adalah ketua Pelayanan Wanita GKI Gereja Elim Kwawi Manokwari, gereja tertua di Papua. Sebagai ibu dan nenek, walaupun sederhana, ia cukup bahagia dikelilingi kesembilan anak-anak dan beberapa cucunya. Ester Kereway memang perempuan Papua yang mandiri. Ia patut dijadikan panutan bagi perempuan lain tidak hanya di Papua tetapi juga di seluruh nusantara. Baca juga:

November 1, 2009 Ditulis oleh charlesroring | Artikel, Ekonomi dan Bisnis, Seni dan Kebudayaan | | No Comments Yet

Edgar Alland Poe

Edgar Allan Poe dewasa ini dikenal sebagai salah satu penulis cerita-cerita horror, tetapi dia menerima sedikit sekali pengakuan dan hampir tidak ada uang untuk cerita-ceritanya ketika dia masih hidup. Dua puluh lima cerita terbaiknya diterbitkan dalam sebuah koleksi yang disebut Tales of the Grotesque and Arabesque, yang muncul di tahun 1840, namun pada saat itu hanya mendapat sedikit perhatian. Tiga tahun kemudian, cerita yang lain, “The Gold Bug,” diterbitkan, dan terjual sebanyak 300,000 kopi dan pada tahun 1845 dia telah menulis dua belas cerita lagi, yang dia terbitkan pada Tales. Ceritanya yang paling terkenal termasuk di antaranya “The Pit and the Pendulum” dan “The Tell-Tale Heart.” Naum puisi, “The Raven,” yang membawa dia ke pengakuan terbesar sebagai seorang penulis. Karya utama yang merupakan sekumpulan 30 puisi diterbitkan dalam sebuah volume yang berjudul The Raven and Other Poems yang menjadi cukup terkenal. Tema puisi itu adalah kepedihan atas cinta sejati yang hilang. Nada yang dramatis dan hampir theatrikal, intensitas pengulangan, dan ritme hipnotik mencerminkan despondent sang pembaca dan kegalauan pikirannya. Ketika dibacakan dengan nyaring, puisi itu menghasilkan efek yang dahsyat. Translated by Charles Roring from The Work of Edgar Allan Poe.

Baca juga: Learning English by Watching The Culture Express Program of CCTV 9 dan American Writer Laura Ingalls Wilder serta Women in US Marine Corps

Juli 22, 2009 Ditulis oleh charlesroring | Artikel, Puisi, Seni dan Kebudayaan | | No Comments Yet

J-Melo Jendela Menuju Musik Jepang

oleh Charles Roring

Musik adalah bahasa yang universal. Setiap orang suka mendengar musik. Musik dapat menenangkan dan menghibur hati kita khususnya ketika kita sedang sedih. Musik dapat pula memberi semangat kepada kita selama masa-masa sulit. Ada banyak program di radio dan televisi tentang musik, salah satu di antaranya adalah J-Melo. Ini adalah sebuah program khusus dari stasiun TV pemerintah Jepang – NHK World.

two beautiful girls who host the NHK's music show J-Melo

Dua orang gadis cantik menjadi pembawa acara program itu. Mereka juga adalah penyanyi yang memiliki suara indah. Mereka berbicara bahasa Inggris dengan fasih sehingga kita tidak akan menemui kesulitan dalam mengikuti J-Melo. Pada episode terkini yang saya tonton, sang presenter membawa kita ke studio Radio Jepang dan bercakap-cakap dengan para staff di sana. Salah satunya adalah seorang penyiar radio dari Marocco untuk Bahasa Arab. Saya lupa namanya. Saya hanya tahu bahwa wanita itu cantik. Dia berkata bahwa dia suka musik Jepang dan membawa presenter J-Melo itu ke Le-Maghreb, sebuah restoran unik Maroko yang menyediakan hidangan berbumbu. Le-Maghreb artinya Matahari Terbenam. Di sana, presenter J-Melo dan penyiar radio Jepang itu menikmati makanan lezat dan menonton tari perut.

Kiroro was singing Mirai E

Setelah itu, presenter J-Melo berbicara dengan seorang penyiar lagi dari Indonesia. Dia berkata bahwa dia menyukai Kiroro. Dia adalah penyanyi yang membawakan lagu “Mirai E” yang artinya “Ke Masa Depan.” Lagu ini pernah menduduki peringkat atas di anak tangga musik dunia beberapa tahun yang lalu. Kemudian J-Melo memutar lagu itu untuk pemirsa NHK World. Banyak orang di seluruh dunia suka musik Jepang. Mungkin kita tidak sepenuhnya mengerti arti lagu-lagu itu, tetapi sebagai bahasa yang universal, kita bisa menikmati mereka dengan baik. Musik Jepang membantu kita lebih mengerti tentang orang Jepang dan kebudayaan mereka. Baca juga: J-Melo the window to Japanese Music and The NHK’s English Program of Begin Japanology

Juli 21, 2009 Ditulis oleh charlesroring | Artikel, Seni dan Kebudayaan | | & Komentar

Program Bahasa Inggris NHK yang bernama Begin Japanology

oleh Charles Roring

NHK word service memiliki sebuah program berbahasa Inggris yang menarik bernama Begin Japanology. Pembawa acara program ini adalah Peter Barachan, seorang ahli dalam berbagai hal tentang Jepang dan masyarakatnya. Karena Begin Japanology disajikan dalam bahasa Inggris, pemirsa televisi di seluruh dunia tidak akan menemui kesulitan dalam memahaminya.

Saya pernah menonton sebuah episode dari Begin Japanology mengenai sake, sebuah minuman beralkohol yang dibuat dari beras yang difermentasi. Dalam episode itu, Peter menjelaskan bagaimana dan mengapa sake sangat populer di Jepang. Di samping itu, kita bisa melihat, pada layar televisi, bagaimana sake telah dikembangkan sejak zaman Edo. Untuk meningkatkan kualitas dan kadar alkohol sake, produsen minuman itu menggunakan peralatan berteknologi canggih dan proses produksi yang lebih baik seperti pengekstraksian sake pada temperatur yang rendah atau dingin. Sekarang sake bukan lagi minuman beralkohol milik orang Jepang saja, minuman itu saat ini telah dijual atau disajikan di banyak restoran di seluruh dunia.

NHK adalah sebuah stasiun televisi milik pemerintah Jepang yang disiarkan dalam bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Setiap orang dapat menontonnya secara gratis dari seluruh dunia melalui antena parabola. Di samping Begin Japanology, NHK memiliki program lain tentang jalan-jalan keliling Jepang yang disebut Out and About. NHK memiliki banyak program menarik yang mana pemirsa televisi dapat menontonnya untuk mengetahui lebih banyak tentang Jepang dan budaya mereka. Begin Japanology adalah program TV yang direkomendasikan bagi pelajar bahasa Inggris yang ingin mengetahui lebih banyak tentang orang Jepang dan budaya mereka melalui bahasa Inggris. Baca juga: The NHK’s English Program of Begin Japanology

Juni 24, 2009 Ditulis oleh charlesroring | Artikel, Seni dan Kebudayaan | , | No Comments Yet

Mempelajari Bahasa Inggris dengan Menonton Program Culture Express CCTV 9

oleh Charles Roring

CCTV 9 adalah sebuah stasiun TV pemerintah Republik Rakyat China. Siaran TV menggunakan bahasa Inggris. Di samping menyajikan program berita, olah raga, dan ekonomi; stasiun TV tersebut memiliki sebuah program khusus untuk pecinta seni. Program ini disebut Culture Express. Melalui program ini, pemirsa TV bisa melihat berbagai informasi mengenai kegiatan seni dan kebudayaan seperti pameran lukisan, opera, pergelaran tari, serta konser musik. Program tersebut juga sering menyajikan kisah hidup seniman-seniman terkenal dari China. Kebanyakan dari mereka telah memberikan peran yang berharga bagi pengembangan kesenian dan kebudayaan Tionghoa.

Karena Culture Express dihadirkan dalam bahasa Inggris, para pelajar bahasa Inggris dapat memahami program tersebut dengan mudah. Di samping itu kita dapat belajar bahasa Inggris dan kebudayaan Tionghoa pada saat yang sama.

Pemerintah Cina berusaha menarik lebih banyak orang untuk mempelajari lebih banyak tentang China melalui program ini. Kelihatannya Culture Express-nya CCTV9 cukup berhasil dalam mewujudkan misinya, mempromosikan China dan masyarakatnya kepada pemirsa TV di seluruh dunia. Program yang sama diudarakan pula dalam bahasa Prancis, dan Spanyol lewat channel-channel TV yang serupa dari CCTV.

Saya suka sekali program ini. Dengan menonton Culture Express ini, saya bisa menikmati konser musik kontemporer Cina tanpa harus pergi ke Cina.

Dalam waktu dekat, manajemen CCTV akan pindah ke kantor baru mereka yang sedang dibangun saat ini. Lebih banyak ruang disediakan bagi konser musik, pergelaran tari dan opera. Bangunan CCTV yang baru dapat menampung ribuan orang. Meskipun gedung baru CCTV lebih tinggi dan besar, beberapa orang mengritiknya dengan berkata bahwa, karena desainnya yang unik, gedung ini tidak aman di kala gempa bumi. Namun arsitek Belanda yang merancang markas CCTV itu menyatakan bahwa bangunan tersebut aman.

Kita berharap semoga Program Culture Express CCTV 9 akan semakin baik setelah seluruh manajemen CCTV pindah ke kantor mereka yang baru itu.

Juni 22, 2009 Ditulis oleh charlesroring | Artikel, Seni dan Kebudayaan | , | No Comments Yet