Kulihat Pelangi dan Kerlip Bintang di Matamu
Kala kita beradu pandang – Kulihat pelangi
Tak mampu kubendung berkas sinar matamu.
Getar cinta menjalar ke hati
Aku rindu, jujur perasaanku
Bingung bagaimana kusampaikan padamu
Kutetap ingin melihat pelangi dan kerlip bintang di matamu
Setelah pelangi berlalu
Kutetap ingin bersamamu
Di bukit sana
Menyongsong indahnya senja mengantar mentari ke peraduannya,
Kala malam tiba
Kita songsong kerlip bintang
di langit sana
Meski Aku bukan siapanya Kamu
Dan Kamu bukan siapanya Aku
Jangan tutup matamu dan mataku
Jujur hatiku
Kala badai datang menghadang
Kala langit mendung, Kala hujan turun
Percayalah,
Badai pasti berlalu, hujan pasti berhenti
Langit akan cerah dan sang surya pasti bersinar lagi
Pelangi, cantiknya senja dan kerlip bintang akan terus ada
Menjadi milik kita
karya: Charles Roring
Edgar Alland Poe
Edgar Allan Poe dewasa ini dikenal sebagai salah satu penulis cerita-cerita horror, tetapi dia menerima sedikit sekali pengakuan dan hampir tidak ada uang untuk cerita-ceritanya ketika dia masih hidup. Dua puluh lima cerita terbaiknya diterbitkan dalam sebuah koleksi yang disebut Tales of the Grotesque and Arabesque, yang muncul di tahun 1840, namun pada saat itu hanya mendapat sedikit perhatian. Tiga tahun kemudian, cerita yang lain, “The Gold Bug,” diterbitkan, dan terjual sebanyak 300,000 kopi dan pada tahun 1845 dia telah menulis dua belas cerita lagi, yang dia terbitkan pada Tales. Ceritanya yang paling terkenal termasuk di antaranya “The Pit and the Pendulum” dan “The Tell-Tale Heart.” Naum puisi, “The Raven,” yang membawa dia ke pengakuan terbesar sebagai seorang penulis. Karya utama yang merupakan sekumpulan 30 puisi diterbitkan dalam sebuah volume yang berjudul The Raven and Other Poems yang menjadi cukup terkenal. Tema puisi itu adalah kepedihan atas cinta sejati yang hilang. Nada yang dramatis dan hampir theatrikal, intensitas pengulangan, dan ritme hipnotik mencerminkan despondent sang pembaca dan kegalauan pikirannya. Ketika dibacakan dengan nyaring, puisi itu menghasilkan efek yang dahsyat. Translated by Charles Roring from The Work of Edgar Allan Poe.
Baca juga: Learning English by Watching The Culture Express Program of CCTV 9 dan American Writer Laura Ingalls Wilder serta Women in US Marine Corps
Rintihan Putra-Putri Papua
oleh Edita Fatie
HIV dan AIDS, engkau jendela kematian
Akibat pergaulan bebas yang terlarang
Engkau membuat kami terancam sengsara,
Derita dan maut
Bagaimanakah cara kami membunuh……
Dan menghilangkanmu dari dunia ini?
Apakah Kau merasakan rintihan sakit kami?
Apakah ini juga caramu untuk membunuh kami?
TUHAN………
Sampai kapan jiwa kami menahan sakit…
Dan sampai kapan kami harus terikat dangan Virus ini.
Adakah dunia ini bisa terhindar dari Virus HIV?
TUHAN, bersihkan dunia kami dengan ketenagan dan kedamaian
Tampa ada rasa takut, hina da tercela
Biarkan kami Putra dan Putrimu
Hidup dalam dunia yang penuh dengan cinta Kasih.
Bertobatlah
Puisi ini ditulis oleh seorang siswi Papua yang bersekolah di SMP Katolik Manokwari, Papua Barat guna mengingatkan masyarakat tentang bahaya penyebaran virus HIV/AIDS
Hati-hati Dalam Pergaulan
oleh Dessy Nauw
Wahai dunia dengarlah pesan
Pakailah oleh mu sifat anak jantan
Bertanggung jawab dalam perbuatan
Yang dilakukan……..
Wahai dunia dengarlah
Virus yang mematikan
Telah datang ke Tanah Papua
Hati-hati dalam melakukan segala hal
Wahai dunia, Virus ini
Tidak memandang Agama,
Kaya atau Miskin
Semuanya bisa terserang penyakit ini
Wahai dunia itulah
Penyakit HIV yang menyerang
Dunia ini, sekarang
Hati-hati dalam pergaulanmu
Ku Berpasrah
oleh Yosepina Nauw
Tubuhku Kurus Mengering
Sekelompok Virus berkembang dalam darahku
Menjelajahi setiap sarafku
Hingga tinggal sejengkal hayatku
A I D S…….
Menggerogoti seluruh jiwaku
Akibat perbuatan yang nista
Berkelana menjadi kupu-kupu malam
Ku menyesali……
Masa laluku yang suram
Menjurumuskanku dalam dunia hitam
Yang membuat hatiku kelam
TUHAN……
Apa ini kutukan untukku
Kupasrahkan semua padamu
Hingga ajal ’kan datang
MENJEMPUTKU
Puisi di atas ditulis oleh seorang siswi Papua yang bersekolah di SMP Katholik Manokwari, Papua Barat untuk mengingatkan kita sekalian tentang bahaya penularan virus HIV/AIDS
Pemburu Remaja
AIDS……….
Kau bagaikan neraka dihatiku
Kau merusak tubuhku yang indah ini
Tak mampu aku menahannya
Oh AIDS mengapa menimpaku
Kini sanak dan saudaraku pergi
Dan akupun hidup sebatang kara
Oh TUHAN…….
Hinakah diriku ini dimatamu
S a k i t ……
Sering ku ucapkan kata itu
Aku sungguh tersiksa
Tetapi,,, semuanya telah terjadi
Oh AIDS……
Kau menghancurkan semuanya
Cita-cita serta impianku
Yang diperjuangkan selama ini
Tetapi aku hanya dapat menunggu kematianku

By: Rossa Samay
Puisi di atas ditulis oleh seorang siswi Papua yang bersekolah di SMP Katholik Manokwari, Papua Barat untuk mengingatkan kita sekalian tentang bahaya penularan virus HIV/AIDS
ODHA
by: Elisabet B kocu
Kau kuat dan tegar
Menghadapi segala cobaan
Segala caci, segala maki
Tak kau simpan sebagai dendam
Betapa malang dirimu
Betapa malang nasibmu
Jangan menyerah
Teruslah bersemangat
Kurindu senyummu
Kurindu tawamu
Kuingin engakau
Seperti yang dulu
Jangan jauhi dia
Jangan musuhi dia
Berilah dia motivasi
Yang sangat berarti baginya
Puisi di atas ditulis oleh seorang siswi Papua yang bersekolah di SMP Katholik Manokwari, Papua Barat untuk mengingatkan kita sekalian tentang bahaya penularan virus HIV/AIDS
Merah bajunya,







