Mengunjungi Kamp Pengungsi Korban Banjir Wasior di Manokwari
Kemarin sore, saya bersama Pak Agus Gunario mengunjungi dua kamp pengungsi korban banjir Wasior di lapangan KODIM dan BLK Manokwari. Di sana beliau menyerahkan sejumlah bantuan makanan kepada petugas Badan Nasional Penanggulan Bencana yang melayani para pengungsi itu. Kami berkesempatan berbincang-bincang dengan sejumlah pengungsi untuk mengetahui bagaimana perasaan dan keadaan mereka selama di tempat pengungsian tersebut.
Seorang bapak dengan senang hati menjawab pertanyaan-pertanyaan kami. Menurutnya, mereka mendapat cukup makan dan minum. Kalau dilihat dari menu makanan yang baru saja diambil, sore itu ia mendapat nasi, sayur dan tempe. Walaupun sederhana, makanan yang diterima tersebut cukup untuk santapan malam buat bapak tersebut dan isterinya. Sekalipun ia mendapat cukup makan dan pakaian, ia masih mengeluh karena tidak memiliki uang untuk membeli pinang.
Pengungsi yang tinggal di kamp lapangan KODIM berjumlah 1178 orang, jumlah yang tergolong banyak untuk diberi makan setiap hari. Sedangkan pengungsi di tempat penampungan BLK tidak jauh berbeda jumlahnya.
Menurut informasi yang saya terima, para pengungsi tersebut masih belum bisa pulang kembali ke Wasior karena pekerjaan pembangunan kembali pemukiman yang layak buat mereka baru saja berlangsung. Di antara mereka, kebanyakan penduduk asli (Papua) yang berasal dari Wasior ingin sekali segera kembali ke sana. Ada juga sejumlah pendatang yang tidak ingin kembali ke sana karena trauma.
Sehari sebelumnya, kawan lama saya datang jauh-jauh dari Bandung, setelah 18 tahun tidak bertemu untuk terlibat dalam tim relawan yang diterjunkan ke Wasior.Namanya Yosep Subai. Dia dan para relawan dari Caritas Bandung akan berada di ibukota Kabupaten Teluk Wondama tersebut guna melakukan pekerjaan tanggap darurat melayani pengungsi. Semoga kondisi masyarakat di sana berangsur-angsur membaik. oleh Charles Roring
















