Pencahayaan, Sirkulasi Udara dan Kekuatan Rumah di Daerah Tropis
Oleh Charles Roring di Manokwari, West Papua, Indonesia
Memiliki sebuah rumah yang baik dan nyaman telah menjadi impian setiap keluarga. Sebuah rumah adalah tempat tinggal dan beristirahat sebuah keluarga. Rumah adalah sebuah konstruksi yang melindungi sebuah keluarga dari hujan, salju, dan cahaya matahari serta udara dingin yang berlebihan.
Rumah yang baik hendaknya harus memenuhi persyaratan teknis tertentu sebagaimana yang ditentukan oleh ISO, DIN, JIS atau SNI. Sebagai penuntun, contohnya, persyaratan minimum pencahayaan bagi sebuah rumah menurut SNI adalah 20% dari luas lantai. Ini berarti jika sebuah kamar tidur berukuran 4m x 4m = 16 m2 maka luas jendela hendaknya minimal 20% x 16 m2 = 3.2 m2. Biasanya, sebuah ruang tamu memerlukan pencahayaan yang lebih banyak dari pada kamar tidur.
Di samping, memiliki cukup pencahayaan, sebuah rumah juga membutuhkan sirkulasi udara yang cukup. Ini penting buat rumah-rumah di daerah tropis yang selalu diterpa sinar matahari sehingga suhu udaranya panas dengan kelembaban udara yang tinggi. Untuk rumah tinggal, bukaan-bukaan sirkulasi udara hendaknya paling sedikit 5% dari luas lantai. Untuk gedung-gedung perkantoran yang menampung lebih banyak orang selama jam-jam kerja, bukaan sirkulasi udara hendaknya paling sedikit 10%.
Di daerah tropis, orang suka membangun dinding lebih tinggi supaya rumah lebih sejuk. Namun demikian, dinding yang tinggi harus diberi pengikat baik di dasar, samping dan atas dinding supaya tetap tegar bila terjadi gempa bumi.
Di Indonesia, sebuah rumah yang baik tidak hanya membutuhkan pencahayaan dan sirkulasi udara yang memadai tetapi juga kekuatan untuk menahan struktur kalau terjadi gempa bumi. Ketika orang di kota besar menggunakan balok-blok baja profil untuk memperkuat gedung-gedung bertingkat, penduduk desa lebih menyukai memakai bamboo dan kayu. Material ini mudah diperoleh di daerah terpencil dan bisa dibeli dengan harga yang memadai. Selama ratusan tahun kayu telah melindungi rumah-rumah dari keambrukan selama terjadi gempa bumi. Gempa bumi atau tanah goyang di Indonesia terjadi hamper setiap tahun karena negara ini berada di daerah jalur gempa (ring of fire).
Oleh karena itu setiap orang yang membangun rumah, tidak hanya perlu memperhatikan faktor kesehatan, dan lingkungan hidup tetapi juga kekuatan konstruksi agar bangunan bisa menjadi tempat yang aman bagi setiap orang yang bernaung di dalamnya.
Bersepeda Dapat Meningkatkan Produktivitas
oleh Charles Roring di West Papua. Indonesia
Bersepeda adalah suatu aktivitas yang menyenangkan. Jika olah raga ini dilaksanakan secara teratur, ia dapat memperbaiki kesehatan kita. Tubuh kita akan lebih sehat bila mengendarai sepeda. Perbaikan kesehatan yang kita peroleh dapat dilihat dari menurunnya berat badan, stabilnya tekanan dan lancarnya sirkulasi. Kebanyakan dari kita tahu benar bahwa kegemukan telah menjadi masalah utama yang erat kaitannya dengan gaya hidup masyarakat modern. Kegemukan atau obesitas ditemukan pada 25 persen orang dewasa (adults) dan 10 persen anak-anak (children).
Sayangnya, banyak orang masih berpikir bahwa bersepeda hanyalah cocok untuk anak-anak yang pergi ke sekolah atau bermain di sekitar perumahan. Berolah raga dengan sepeda dapat membuat bentuk tubuh lebih baik. Tapi kebanyakan orang besar di negara kita ini enggan untuk meluangkan waktu guna berolah raga karena mereka terlalu sibuk mengerjakan atau menyelesaikan tugas-tugas kantor.
Konservasi Sumber Daya Alam Perspektif Islam dan Sains
Judul Buku: Konservasi Sumber Daya Alam Perspektif Islam dan Sains
Penulis: Dra. Ulfah Utami, M.Si.
Tebal: 249 halaman
Penerbit: UIN Malang Press
Buku ini cukup menarik perhatianku, karena aku seorang pencinta alam. Sekilas buku ini terkesan berat materinya ketika aku menggenggamnya. Halaman demi halaman kubuka dari belakang ke depan.
Topik-topik yang disajikan cukup menarik karena sesuai dengan apa yang terjadi di Indonesia. Mulai dari soal kerusakan sumber daya alam di darat, laut hingga udara, ibu Ulfah Utami membahasnya dari sudut pandang ilmiah dan islam.
Memang apa yang dikemukakan seperti penebangan hutan yang berlangsung antara 2000-2005 adalah yang tercepat yaitu sebesar 1,871 juta hektar atau 2% setahun. Ini setara dengan 51 km2 per hari. Angka yang sangat fantastis tentunya.
Aku terkesan dengan kedalaman berpikir ibu Utami ini. Ia mampu menyajikan materi konservasi sumber daya alam dengan bahasa yang mudah dicerna sehingga tidak membuat kepalaku pusing.
Sebagai pencinta laut, walau bukan seorang pelaut, aku semakin dicerahkan oleh cara bu Utami memaparkan seberapa jauh intervensi manusia telah merusak ekosistem terumbu karang mulai dari tingkat global hingga ke dalam wilayah Indonesia sendiri.
Beliau tidak hanya memaparkan masalah melainkan juga memberikan solusi. Sebenarnya masyarakat tradisional Indonesia telah mengenal sistem pemanfaatan sumber daya alam secara ramah lingkungan. Contohnya, pertanian di lereng-lereng gunung menerapkan petakan persawahan bergaya terasering dan rorak untuk menghindari terjadinya tanah longsor. Memang nenek moyang kita, bukan hanya orang pelaut tetapi juga, petani yang ulung.
Masalah kerusakan alam adalah masalah universal. Setiap individu di bumi ini bertanggung jawab melestarikan alam yang kita diami bersama. Buku ini layak dibaca oleh siapa saja yang peduli dengan pelestarian lingkungan hidup. Anda tertarik? Silahkan mengunjungi toko buku terdekat di kota Anda.
Klitoris Dalam Pelukan Jingga
oleh Charles Roring di Manokwari, West Papua, Indonesia
Mendengar kata “Clitoris” atau “Klitoris”, kebanyakan orang pasti menghubungkannya dengan daerah peka kaum hawa. Ya, itu tidak salah. 
Namun, pembaca yang terhormat, yang saya maksudkan di sini adalah klitoris bunga Anggrek. Sungguh, bunga anggrek yang banyak bergelantungan di hutan-hutan nusantara juga memiliki Klitoris yang erotis dan eksotis. Saya suka “menikmati” (dalam tanda kutip) keindahan dan kelembutan warna-warni “klitoris” tersebut.
Sayang sekali, anggrek-anggrek di hutan tropis Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua sedang terancam akibat lajunya penebangan liar (ilegal logging) yang terus berlangsung hingga saat tulisan ini saya buat. Perilaku hidup modern kita juga turut menambah beban yang harus dipikul oleh hutan tropis.
Bunga anggrek klitoris/ clitoris hanyalah sebuah alasan sepele yang saya pakai untuk membela keberadaan hutan hujan tropis yang saat ini tengah terancam.
Mungkin Anda akan berkata, “Tapi kan GW tidak menebang hutan. GW ini kerjanya di kota.”
Iya, itu benar. Hanya saja gaya hidup Anda ikut memberi beban pada hutan.
Apakah Anda memakai AC dan Kulkas di rumah? Mungkin gedung atau pabrik tempat Anda berkerja masih menggunakan CFC pada mesin pendinginnya. CFC merusak lapisan ozon yang berakibat pada pemanasan global yang semakin menambah beban pada hutan tropis kita.
Apakah Anda membawa kendaraan bermotor? Asap kendaraan bermotor mengandung gas CO2 dan CO, serta gas-gas beracun yang mengakibatkan terjadinya hujan asam. Hujan asam tersebut merusak daun-daun pohon sehingga mereka tidak bisa berfotosintesis dengan baik. Perlu diingat bahwa, setiap kendaraan bermotor yang memakai bahan bakar fosil turut berperan dalam terjadinya pemanasan global (global warming). Apakah Anda memasak menggunakan kompor gas? Kebocoran gas methane di stasiun pengisian, pabrik penyulingan ikut berperan dalam terjadinya global warming.
Apa yang bisa Anda lakukan untuk membantu menyelamatkan hutan hujan tropis:
- Kurangi penggunaan kendaraan bermotor pribadi. Bila memungkinkan bepergianlah dengan menggunakan kendaraan umum (vehicle sharing), atau naik sepeda.
- Kurangi penggunaan plastik. Karena bahan ini diproses dari hasil ekstraksi minyak bumi.
- Tanamlah bunga, atau pohon di halaman rumah Anda.
- Makanlah makanan segar. Kurangi penggunaan kompor gas yang memakai bahan bakar gas methane. Makan lalapan tentu lebih sehat.
Dan masih banyak lagi hal-hal sepele tapi bermanfaat dalam melindungi alam serta hutan tropis kita. Semoga Anda mau melaksanakannya. Baca juga: Bora Bora
Perlunya Peninjauan Kembali Kontrak-kontrak Kerja Pertambangan
oleh Charles Roring di Manokwari Papua, Indonesia
Papua adalah daerah konflik yang tak pernah ditangani secara serius oleh berbagai pihak yang berkepentingan di dalamnya. Selain masalah pelurusan sejarah yang erat sekali kaitannya dengan tuntutan rakyat Papua untuk adanya suatu genuine self determination, ternyata potensi konflik di tanah ini terletak juga pada berbagai aktivitas ekstraksi sumber daya alam secara berlebihan yang kurang memperhatikan kepentingan masyarakat adat.
Bersahabatlah Dengan Alam
Sebentar lagi tahun akan berganti. Apa resolusi Anda untuk 2009 nanti? Tentu setiap orang menginginkan kehidupan yang lebih baik. Lebih banyak rezeki dan bila yang belum dapat jodoh, ingin supaya mendapat puteri atau pangeran dambaan hati. Dengar, semua angan-angan atau impian Anda sangat erat kaitannya terhadap bagaimana Anda berinteraksi dengan sesama, Tuhan dan alam sekitar. Berikut ini adalah tips untuk bersahabat dengan alam.
Konversi Hutan Tropis Papua Menjadi Perkebunan Sawit
oleh Charles Roring di Manokwari Papua
Sebuah perusahaan bernama PT. Medco Papua Hijau Selaras segera akan membuka lahan perkebunan sawit di Manokwari seluas 5.929,7 hektar (sumber data: ornop peduli lingkungan hidup, PERDU).
Menurut Harian Cahaya Papua tanggal 24 Desember 2008 yang saya baca, pembayaran sewa lahan telah dilakukan akhir tahun 2008 ini, seharga Rp. 450.000/ hektar atau Rp. 45 per meter persegi sekali bayar untuk 35 tahun kepada masyarakat adat sebagai pemegang hak. Izin pelepasan tanah akan diterbitkan pada bulan Januari 2009 sebagaimana ditegaskan oleh Kadis Kehutanan. Lawan sawit tersebut akan dibuka di tiga distrik yakni Masni, Sidey dan Manokwari Utara. Rencananya Maret atau April penanaman akan dimulai menggunakan 75 ribu bibit sawit yang telah disiapkan.
Hutan hujan tropis Manokwari Papua









