Frestea Green Dalam Kemasan Kotak
Baru saja lima belas menit yang lalu, saya meminum sekotak Frestea Green. Rasanya cukup enak, manis dan tidak terlalu sepat di lidah. Frestea Green hadir dalam takaran saji 250 ml dengan kandungan gula 23 gram, sedikit lebih banyak kadar gulanya dibandingkan produk serupa yang dijual TehBotol Sosro di Pasaran. Mungkin ini adalah jawaban PT Coca-Cola Bottling Indonesia terhadap produk pesaing mereka yang kini merajai pasar minuman teh dalam kemasan di Indonesia.
Sampai sejauh ini, saya lihat masih TehBotol Sosro yang menjadi pemimpin dalam industri minuman teh kemasan botol di Indonesia. Tapi untuk teh kemasan kotak kertas, nampaknya posisi tersebut tidak terlalu kuat. Dalam beberapa bulan terakhir ini, penerimaan masyarkat Indonesia terhadap Frestea Green cenderung meningkat.
Melihat semakin banyaknya produk-produk baru teh kotak, manajemen TehBotol Sosro pasti berpikir keras untuk mencari inovasi baru guna menandingi pesaing-pesaing mereka tersebut.
Loyalitas Peminum Teh dan Cita Rasa
Kita semua tahu bahwa kesetiaan orang terhadap TehBotol Sosro sangat dipengaruhi oleh cita rasa (DAN BUKANNYA IKLAN di media massa). Saya menyukai TehBotol Sosro juga karena cita rasanya yang pas di lidah. Hal senada juga diungkapkan oleh teman-teman saya yang suka minum Teh Kotak produksi TehBotol Sosro.
Lalu langkah apa yang harus dilakukan oleh Coca-cola agar produk Frestea Green-nya bisa mendapat tempat di lidah konsumen Indonesia? Ini adalah PR buat Coca Cola dan Nestle tentunya yang telah meluncurkan produk Frestea di Indonesia. Yang jelas, soal cita rasa adalah penting. Salah meramu cita rasa akibatnya bisa fatal buat produsen. Minuman teh bisa tidak dilirik oleh konsumen.
Kadar Gula
Bila dilihat di kotak kertas kemasannya, Frestea Green mengandung gula 23 g sedangkan teh kotak yang sama buatan TehBotol Sosro hanya 21 g. Tiga hari lalu saya mengonsumsi TehBotol Sosro dalam kemasan kotak kertas dengan kadar gula 14 g. Ini tentu saja strategi TehBotol Sosro dalam meraih minat para peminum teh yang mewaspadai kadar gula yang tinggi. Diabetes adalah penyakit yang banyak ditemukan di masyarakat Indonesia modern. Penyakit ini cenderung tinggi dalam masyarakat kota yang memiliki gaya hidup kurang beraktivitas (baca artikel saya yang lain berjudul Diabetes dan sedentary lifestyle).
Apakah CocaCola akan juga mengeluarkan produk Frestea Green dengan kadar gula yang 20% lebih rendah? Saya tidak tahu. apakah produk seperti itu sudah ada di pasaran, hanya saja saya belum pernah mencoba Frestea Green yang less sugar. Yang jelas, Frestea Green kemasan kotak kertas rasanya saat ini cukup enak di lidah saya- lebih baik daripada Frestea kemasan botol yang lebih sepat dan kurang saya sukai.
Apakah Frestea Green dalam kemasan kotak kertas mampu menguasai pasar? Waktu yang akan menjawabnya. Dan ini tentu saja terpulang kepada PT CocaCola dan seluruh karyawannya. Semoga mereka bisa gigih dalam mempromosikan dan memasarkan produk yang sangat potensial tersebut ke lidah masyarakat Indonesia yang sejarahnya secara tradisional adalah peminum teh.













