<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Lembar-lembar Ekspresi &#187; Cerita Pendek</title>
	<atom:link href="http://charlesroring.wordpress.com/category/cerita-pendek/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://charlesroring.wordpress.com</link>
	<description>Transformasi Sosial dalam Sensualitas</description>
	<lastBuildDate>Sun, 03 Jan 2010 07:11:02 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='charlesroring.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/014d0cb10dfcb64985fdc1d9accd6530?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Lembar-lembar Ekspresi &#187; Cerita Pendek</title>
		<link>http://charlesroring.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://charlesroring.wordpress.com/osd.xml" title="Lembar-lembar Ekspresi" />
		<item>
		<title>Keberuntungan</title>
		<link>http://charlesroring.wordpress.com/2009/06/29/keberuntungan/</link>
		<comments>http://charlesroring.wordpress.com/2009/06/29/keberuntungan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 11:39:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>charlesroring</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://charlesroring.wordpress.com/2009/06/29/keberuntungan/</guid>
		<description><![CDATA[oleh Mark Twain
Diterjemahkan oleh Charles Roring

Aku berada di sebuah pesta jamuan makan di London yang diselenggarakan untuk menghormati salah satu petinggi militer yang paling dihormati pada masa itu. Aku tidak mau memberitahu kalian nama dan gelarnya yang sebenarnya. Aku hanya akan memanggilnya Letnan Jenderal Lord Arthur Scoresby,Y.C., K.C.B., etc. etc.
Aku tidak dapat mengambarkan dengan kata-kata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=charlesroring.wordpress.com&blog=3190708&post=318&subd=charlesroring&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;margin:0;">oleh Mark Twain</p>
<p style="text-align:center;margin:0;">Diterjemahkan oleh <a href="http://facebook.com/charles.roring">Charles Roring</a></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;">Aku berada di sebuah pesta jamuan makan di London yang diselenggarakan untuk menghormati salah satu petinggi militer yang paling dihormati pada masa itu. Aku tidak mau memberitahu kalian nama dan gelarnya yang sebenarnya. Aku hanya akan memanggilnya Letnan Jenderal Lord Arthur Scoresby,Y.C., K.C.B., etc. etc.<span id="more-318"></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;">Aku tidak dapat mengambarkan dengan kata-kata kegembiraanku ketika aku melihat pria yang gagah dan terkenal itu. Di sana dia duduk, sendiri, secara pribadi, penuh berhiaskan medali-medali. Aku tak bisa memalingkan mataku dari padanya. Nampaknya dia menunjukkan tanda kebesaran yang sesungguhnya. Ketenarannya tak berdampak apa pun padanya.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;">Di sampingku duduk seorang pendeta, yang adalah kawan lamaku. Dulu dia bukan seorang pendeta. Selama paruh pertama kehidupannya dia adalah seorang guru pada sebuah sekolah militer di Woolwich. Ada keanehan pada tatap matanya ketika dia memiringkan kepalanya padaku dan berbisik &#8211; &#8220;Secara pribadi &#8211; dia seorang yang benar-benar tolol.&#8221; Yang dia maksudkan, tentu saja, pahlawan jamuan makan kita tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;">Ini mengejutkanku. Aku menatapinya lekat-lekat, seakan-akan tak percaya. Aku tak terkejut terlebih jika dia telah mengatakan hal yang sama tentang Napoleon, atau Socrates, atau Solomon. Tetapi aku yakin akan dua tentang pendeta itu. Dia selalu berbicara kebenaran. Dan, penilaiannya tentang orang-orang adalah benar. Oleh sebab itu, aku ingin mencari tahu lebih banyak lagi tentang pahlawan kita ini sesegera mungkin.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;">Beberapa hari kemudian aku berkesempatan berbicara dengan sang pendeta, dan inilah yang dikatakannya padaku. Ini tepatnya adalah kata-katanya sendiri:</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;">Kurang lebih empat puluh tahun yang lalu, aku adalah seorang instruktur di akademi militer di Woolwich, ketika Scoresby muda mengambil ujian pertamanya. Aku merasa sangat kasihan padanya. Setiap orang menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan baik, dengan pintar, sementara dia &#8211; sungguh kasihan &#8211; dia tidak mengetahui apapun, anggap saja demikian. Dia adalah seorang pemuda yang baik dan menyenangkan. Sungguh tak mengenakkan melihat dia berdiri layaknya seorang bodoh dan memberi jawaban yang adalah mukjizat dari kebodohan dan ketololan.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;">Tentu aku tahu bahwa bila diuji lagi dia akan gagal dan dikeluarkan. Jadi aku berkata pada diriku, perlu ada tindakan belas kasih, sederhananya untuk menolong dia, sebanyak mungkin yang bisa kulakukan.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;">Aku memanggil dia ke sisiku dan mendapati bahwa dia tahu sedikit tentang sejarah Caesar. Dan karena dia tidak tahu yang lainnya, aku berupaya keras, melatih dan menguji dia serta bekerja bersama dia layaknya seorang budak pendayung perahu. Aku menyuruhnya berlatih, berulang kali, pada beberapa pertanyaan seputar Caesar yang aku tahu akan bermanfaat.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;">Semoga kau percaya padaku, dia berhasil di hari ujian itu. Dia memperoleh nilai tinggi, sedangkan peserta lain yang mengetahui beberapa ribu kali lebih banyak darinya hanya mendapat nilai rendah. Oleh suatu keanehan, kecelakaan yang berubah menjadi keberuntungan, dia ternyata tidak ditanyai pertanyaan selain daripada pertanyaan-pertanyaan yang telah kulatihkan padanya. Kecelakaan itu tak akan terjadi lebih dari satu kali dalam seratus tahun.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;">Begitulah, selama studinya, aku berdiri di samping dia, bagaikan perasaan seorang ibu yang anaknya lumpuh. Dan dia selalu menyelamatkan dirinya, dengan sedikit mukjizat.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;">Aku berpikir bahwa pada akhirnya dia akan jatuh dalam pelajaran matematika. Aku memutuskan untuk membuat kejatuhannya ini tanpa kesakitan sama sekali. Jadi aku melatihnya dan memasukan berbagai hal ke dalam otaknya yang tolol itu selama berjam-jam. Akhirnya, aku membiarkan dia minum obat. Dengar, kawan, bayangkan seperti apa hasilnya. Aku terkejut setengah mati. Dia meraih peringkat pertama! Dan dia mendapat penghargaan tertinggi.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;">Kesadaranku menyiksaku siang dan malam-apa yang kulakukan tidak benar. Tetapi hanya ingin membuat keluarnya dia dari dinas ketentaraan tidak terlalu menyakitkan baginya. Aku tak pernah membayangkan bahwa hal ini justru akan mengarah pada hasil-hasil yang mencengangkan dan menakjubkan.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;">Aku pikir bahwa cepat atau lambat sesuatu pasti akan terjadi: ujian yang sebenarnya akan menghancurkannya.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;">Lalu, pecahlah Perang Crimean. Aku merasa bahwa ini sungguh menyedihkan baginya karena harus terjadi perang. Keadaan damai akan memberi keledai ini sebuah kesempatan untuk terhindar dari ketahuan ternyata dia seorang idiot. Dengan gugup, aku menanti hal yang terburuk terjadi. Dan itu terjadi. Dia ditunjuk memegang pangkat kapten. Seorang kapten, dari semua itu! Siapa yang dapat membayangkan bahwa mereka akan menempatkan tanggung-jawab yang sedemikian itu ke pundak yang lemah seperti dia.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;">Aku berkata pada diriku bahwa aku bertanggung jawab pada negara ini karena hal tersebut. Aku harus pergi bersamanya dan melindungi negara terhadap ketololannya sejauh yang dapat kulakukan. Jadi, aku bergabung dengannya. Maka pergilah kami ke medan tempur.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;">Dan di sana &#8211; oh sayang, sangat buruk. Kesalahan-kesalahan ceroboh, menakutkan &#8211; mengapa, dia tidak pernah melakukan segalanya dengan benar &#8211; tak satu pun kecuali kesalahan fatal. Tetapi, kau tahu, tak seorang pun tahu rahasia betapa tololnya dia. Setiap orang salah mengartikannya dan, tentu saja salah memahami aksi-aksinya itu. Mereka melihat kesalahan-kesalahan idiotik-nya itu sebagai karya seseorang yang jenius. Mereka mempercayainya, sungguh!</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;">Kesalahan-kesalahan terkecilnya membuat seseorang yang berpikir waras akan berteriak-dan marah serta mengeluarkan sumpah serapah &#8211; pada dirinya, tentu saja. Dan apa yang membuatku terus-terusan berkeringat khawatir adalah faktanya bahwa setiap kesalahan fatal yang dibuatnya menjadikan dia semakin terkenal dan disegani.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;">Aku terus berkata pada diriku sendiri bahwa pada akhirnya mereka akan mengetahui ketololannya itu, ini akan seperti matahari jatuh dari langit.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;">Dia terus merangkak naik, melewati tubuh-tubuh tak bernyawa atasan-atasannya. Lalu, dalam sebuah pertempuran sengit gugurlah kolonel kami. Jantungku berdegup kencang hingga hampir-hampir keluar dari mulutku, karena Scoresby lah yang akan menggantikan dia menempati jabatan itu. Sekarang, kita masuk perangkap, kataku…</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;">Pertempuran semakin sengit. Pasukan Inggris dan sekutu-sekutunya mundur teratur di semua medan. Resimen kami menguasai sebuah posisi yang sangat penting. Satu kesalahan fatal sekarang akan mengakibatkan mala petaka besar. Dan apa yang dilakukan Scoresby kali ini-hanya salah mengartikan tangan kanannya sebagai tangan kiri… itu saja. Sebuah perintah datang padanya agar mundur dan mendukung sisi kanan. Bukannya melakukan demikian, di bergerak maju ke arah bukit untuk bergerak ke sisi kiri. Kami sudah berada di puncak bukit sebelum pergerakan yang gila ini diketahui dan dihentikan. Dan apa yang kami dapati? Keseluruhan tentara Russia cadangan sedang beristirahat! Dan apa yang terjadi &#8211; apakah kita akan ditelan mentah-mentah? Itu yang tepatnya seharus terjadi dalam sembilan puluh-sembilan dari seratus kasus. Namun tidak &#8211; orang-orang Russia yang terkejut itu berpendapat bahwa pasti bukan satu resimen tunggal yang sedang datang mengepung pada saat-saat seperti ini.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;">Itu pasti keseluruhan tentara Inggris, pikir mereka. Mereka berbalik dan lari terbirit-birit kocar-kacir dari bukit hingga ke ladang-ladang, dan kami mengejar mereka. Dalam sekejap saja sekutu membalikkan kekalahan memalukan itu menjadi sebuah sapuan dan kemenangan gilang-gemilang.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;">Marshall Canrobert melihat hal itu, dia bingung, terkejut dan gembira. Dia menemui Scoresby, merangkulnya dengan tangannya dan memeluk dia di ladang itu di hadapan seluruh tentara. Nama Scoresby memenangkan hari itu sebagai seorang jenius militer luar biasa yang mengisi dunia dengan kemuliaannya. Keharuman namanya tak akan pernah pudar sekali pun buku-buku sejarah berakhir. Dia orang yang selalu baik dan menyenangkan, tetapi dia tidak menyadari hal itu. Dia adalah orang yang paling tolol di alam semesta ini.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;">Hingga sekarang, tak satu pun yang mengetahui hal tersebut kecuali Scoresby dan aku. Dia telah diikuti, dari hari ke hari, tahun ke tahun, oleh keberuntungan yang aneh. Dia adalah seorang tentara yang bersinar terang di berbagai medan tempur kita selama bertahun-tahun. Dia telah mengisi keseluruhan kehidupan kemiliterannya dengan kesalahan-kesalahan fatal. Setiap orang menobatkannya sebagai seorang kesatria atau seorang baronet atau seorang lord atau gelar lainnya. Lihat di dadanya, dipenuhi hiasan-hiasan dari dalam maupun luar negeri. Dengarlah, tuan, setiap penghargaan itu adalah rekaman dari beberapa ketololan besar. Mereka adalah bukti bahwa hal terbaik yang dapat terjadi pada seseorang adalah dilahirkan beruntung. Aku berkata lagi, seperti yang telah kukatakan di pesta jamuan makan itu, Scoresby adalah seseorang yang benar-benar tolol.</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/charlesroring.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/charlesroring.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/charlesroring.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/charlesroring.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/charlesroring.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/charlesroring.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/charlesroring.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/charlesroring.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/charlesroring.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/charlesroring.wordpress.com/318/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=charlesroring.wordpress.com&blog=3190708&post=318&subd=charlesroring&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://charlesroring.wordpress.com/2009/06/29/keberuntungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e27c6c7e5d39b6f3afb15e4785a9b498?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">charlesroring</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Kehidupan</title>
		<link>http://charlesroring.wordpress.com/2009/06/27/hukum-kehidupan/</link>
		<comments>http://charlesroring.wordpress.com/2009/06/27/hukum-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2009 02:28:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>charlesroring</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://charlesroring.wordpress.com/2009/06/27/hukum-kehidupan/</guid>
		<description><![CDATA[oleh Jack London
diterjemahkan oleh Charles Roring

Si tua Indian itu duduk di atas salju. Dialah Koskoosh, mantan kepala suku. Sekarang, ia hanya bisa duduk dan mendengar orang lain. Matanya rabun dan dia tidak bisa melihat. Tapi telinganya membuka lebar mendengar setiap suara.
&#8220;Aha.&#8217; Itu suara anak perempuannya, Sit-cum-to-ha. Dia sedang memukul anjing-anjing, mencoba mengatur mereka berdiri di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=charlesroring.wordpress.com&blog=3190708&post=317&subd=charlesroring&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="line-height:normal;text-align:center;margin:6pt 0 0;">oleh Jack London</p>
<p style="line-height:normal;text-align:center;margin:0;">diterjemahkan oleh <a href="mailto:charlesroring@telkom.net">Charles Roring</a></p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:6pt 0 0;">
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Si tua Indian itu duduk di atas salju. Dialah Koskoosh, mantan kepala suku. Sekarang, ia hanya bisa duduk dan mendengar orang lain. Matanya rabun dan dia tidak bisa melihat. Tapi telinganya membuka lebar mendengar setiap suara.<span id="more-317"></span></p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Aha.&#8217; Itu suara anak perempuannya, Sit-cum-to-ha. Dia sedang memukul anjing-anjing, mencoba mengatur mereka berdiri di depan kereta luncur. Dia telah dilupakan oleh anak perempuannya itu, dan oleh yang lainnya juga. Mereka harus mencari tempat berburu yang baru. Perjalanan yang panjang dan bersalju menanti mereka. Dan hari-hari daratan utara bertambah pendek. Suku itu tidak bisa menanti kematian. Dan Koskoosh sedang sekarat.</p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Kaku, suara-suara meretih kulit binatang yang membeku memberitahunya bahwa tenda kepala suku sedang dibongkar. Kepala suku itu adalah seorang pemburu yang perkasa. Dia adalah anaknya, anak laki-laki Koskoosh. Dan Koskoosh sedang ditinggal mati.</p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Saat para wanita sedang bekerja, Koskoosh tua dapat mendengar suara anak laki-lakinya itu memerintahkan mereka agar bekerja lebih cepat. Dia berusaha mendengar. Itu terakhir kalinya dia mendengar suara mereka. Seorang anak kecil menangis, dan seorang wanita menyanyi lembut menenangkannya. Anak kecil ini bernama Koo-tee, pikir si tua itu, anak kecil yang sedang sakit. Dia segera akan meninggal, dan mereka akan membakar sebuah lobang di tanah yang beku untuk menguburnya. Mereka akan menutup tubuhnya yang kecil itu dengan batu-batu guna menjauhkan serigala-serigala.</p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Begitulah, apa maknanya? Beberapa tahun, dan akhirnya, kematian.</p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Kematian menanti setiap kelaparan. Kematian menguasai semua perut yang lapar.&#8221;</p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Koskoosh mendengar suara-suara yang lain, yang tidak akan lagi ia dengar: para lelaki mengikat tali kulit yang kuat mengitari kereta luncur untuk menahan barang-barang kepunyaan mereka; suara hentakan cambuk kulit, memerintahkan anjing-anjing supaya bergerak dan menarik kereta luncur.</p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Dengar teriakan anjing-anjing. Bagaimana mereka membenci pekerjaan itu.&#8221;</p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Mereka berangkat. Kereta luncur demi kereta luncur bergerak perlahan-lahan menembus kesunyian. Mereka berlalu dari kehidupannya, dan dia harus menemui saat-saat ajalnya sendirian.</p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Tetapi apa itu?&#8221; Salju yang remuk di bawah sepatu seseorang. Seorang pria berdiri di sampingnya, dan menaruh tangannya dengan lembut di kepala si tua itu. Anak laki-lakinya baik karena melakukan hal ini. Dia ingat orang-orang tua lainnya yang anak-anaknya tidak melakukan hal ini, melainkan pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal.</p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Pikirannya berjalan ke masa lampau sampai suara anak laki-lakinya membawa dia kembali. &#8220;Kamu baik-baik saja?&#8221; tanya anaknya. Dan si tua itu menjawab, &#8220;baik.&#8221;</p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Ada kayu di sampingmu dan api menyala terang,&#8221; kata anaknya. &#8220;Pagi nampak abu-abu dan dingin di sini.&#8221; Salju akan segera turun. Bahkan sekarang sedang hujan salju.&#8221;</p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Orang-orang suku itu bergegas-gegas. Muatan mereka berat dan perut mereka rata akibat kekurangan makanan. Perjalanannya panjang dan mereka bergerak cepat. Aku pergi sekarang. Semua baik-baik saja?&#8221;</p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Baik-baik saja. Aku bagaikan sehelai daun terakhir tahun lalu yang menempel pada sebuah pohon. Tiupan angin pertama akan merobohkan aku ke tanah. Suaraku mirip suara seorang wanita tua. Mataku tak dapat lagi menunjukkan arah ke mana kakiku melangkah. Aku lelah dan segalanya baik-baik saja.&#8221;</p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Dia menundukkan kepalanya ke dadanya dan mendengar salju saat anak laki-lakinya itu berlalu dengan kereta luncur. Dia meraba potongan-potongan kayu yang ada di sampingnya lagi. Satu per satu, api akan memakan mereka sampai habis. Dan perlahan-lahan, kematian akan menjemputnya. Ketika potongan kayu terakhir habis, dingin akan datang. Pertama-tama kakinya akan membeku. Kemudian, tangan-tangannya. Dingin itu akan menjalar perlahan-lahan dari luar ke dalam dirinya, dan dia akan beristirahat. Semudah itu&#8230; semua orang harus mati.</p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Dia merasa sedih, tetapi dia tidak memikirkan kesedihannya. Itulah hukum kehidupan. Dia telah hidup dekat dengan alam, dan hukum itu bukanlah hal yang baru baginya. Itu adalah hukum daging. Alam tidak bersahabat dengan daging. Alam tidak kasihan terhadap seseorang yang sendirian. Dia hanya tertarik pada kelompok, pada ras, pada spesies.</p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Ini adalah pemikiran yang dalam buat Koskoosh tua. Dia telah melihat contoh-contoh itu pada keseluruhan masa hidupnya. Getah pohon di awal musim semi; daun hijau yang baru bertunas, lembut dan segar seperti kulit; gugurnya daun kering, yang telah menguning. Semua ini adalah sejarah.</p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Dia meletakkan sepotong kayu di perapian dan mulai mengingat masa lalunya. Dulu dia adalah seorang kepala suku yang gagah perkasa. Dia telah menyaksikan hari-hari di mana ada banyak makanan dan tawa; perut-perut yang kelaparan ketika makanan dibiarkan membusuk; saat-saat ketika mereka membiarkan hewan-hewan, tak terbunuh; dan hari-hari ketika para wanita memiliki banyak anak. Dan dia telah melihat hari-hari di kala tak ada makanan dan perut-perut yang kelaparan, hari-hari di kala ikan tidak datang, dan binatang-binatang sulit dicari.</p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Selama tujuh tahun binatang tidak datang. Dan kemudian, dia ingat ketika masih seorang anak laki-laki yang kecil menyaksikan serigala membunuh seekor rusa besar. Dia bersama kawannya Zing-ha, yang nantinya terbunuh di Sungai Yukon.</p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Ah, tetapi rusa besar itu. Zing-ha dan dia telah pergi bermain di siang itu. Di dekat sungai mereka melihat jejak-jejak seekor rusa moose besar yang masih baru. &#8220;Rusa itu sudah tua,&#8221; kata Zing-ha. &#8220;Rusa itu tidak bisa berlari secepat lainnya, dan dia tertinggal di belakang.</p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Serigala-serigala telah memisahkannya dari kawanannya, dan mereka tidak akan pernah meninggalkan dia.&#8221;</p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Dan itulah yang terjadi. Dari siang hingga malam, menggigit hidung, menggigit kaki, serigala-serigala tetap bersama rusa itu hingga kematiannya.</p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Zing-ha dan dia merasakan darah mengalir cepat dalam tubuh mereka. Ajal adalah pemandangan yang akan dilihat.</p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Mereka telah mengikuti jejak-jejak rusa moose dan serigala-serigala itu. Setiap langkah memiliki ceritanya sendiri-sendiri. Mereka dapat melihat bagaimana tragedi itu terjadi: di sinilah tempat rusa moose itu berhenti melawan. Salju menjadi rata oleh banyaknya injakkan kaki. Satu serigala telah ditendang mati oleh kaki rusa moose yang berat. Selanjutnya, mereka menyaksikan bagaimana moose berjuang melarikan diri ke sebuah bukit. Moose jatuh menimpa dua ekor serigala. Namun jelas ajalnya semakin dekat.</p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Salju berwarna merah di hadapan mereka. Kemudian mereka mendengar suara-suara pertempuran. Bukan lolongan panjang serigala yang jelas, semua menggonggong bersama, tapi ributnya kertakan gigi saat mereka mengunyah daging.</p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Dia dan Zing-ha mendekat, sambil tiarap, sehingga serigala tak dapat melihat mereka. Mereka melihat ajal. Dan gambar itu nampak begitu kuat sehingga tetap segar dalam benaknya seumur hidupnya. Matanya yang rabun, buta melihat ajal itu lagi sama seperti yang telah disaksikan di masa lalu.</p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Lama, pikirannya menyaksikan masa lalunya itu. Api mulai mengecil, dan dingin mulai merambati tubuhnya. Dia menaruh dua potong kayu lagi di atas perapian, tinggal dua potong yang tersisa. Ini sama dengan seberapa lama dia akan hidup.</p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Dia begitu sendirian. Dia menempatkan satu dari potongan-potongan kayu yang terakhir di perapian. Dengar, suara gemericik aneh kayu yang sedang terbakar. Bukan itu bukan suara kayu. Dan tubuhnya gemetar karena dia mengenal suara itu… serigala.</p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Lolongan seekor serigala mengembalikan gambar rusa moose yang tua itu ke dalam benaknya lagi. Dia melihat tubuh rusa itu tercabik-cabik, dengan darah yang segar mengalir di atas salju. Dia melihat tulang-tulang bersih yang berwarna abu-abu tergeletak kontras dengan darah yang membeku. Dia melihat sekawanan serigala abu-abu yang tergesa-gesa, dengan mata mereka yang bernyala-nyala, lidah mereka panjang membasah dan gigi-gigi yang tajam. Dan dia melihat mereka membentuk sebuah lingkaran yang mendekat perlahan-lahan.</p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Hidung yang basah dan dingin menyentuh wajahnya. Ketika tersentuh, jiwanya terkejut membangunkan dia. Tangannya meraba-raba perapian dan dia menarik sepotong kayu yang sedang terbakar. Serigala melihat api itu tetapi ia tak gentar. Ia berbalik dan berteriak ke udara, kepada saudara-saudaranya serigala yang lain. Mereka menjawab dengan tenggorokan mereka yang lapar kemudian datang sambil berlari.</p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Si tua Indian mendengar serigala-serigala lapar. Dia mendengar mereka membentuk sebuah lingkaran di sekelilingnya dan perapiannya yang mengecil. Dia mengayun-ayunkan potongan kayu yang sedang terbakar itu kepada mereka, tetapi mereka tidak beranjak pergi. Sekarang satu dari mereka mendekat, perlahan, seakan-akan hendak menguji kekuatan si tua itu. Seekor demi seekor mendekat pula. Lingkaran itu semakin kecil. Tak satu pun serigala yang tertinggal di belakang.</p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Mengapa harus dia melawan? Mengapa terus berpegang pada kehidupan? Dan dia menjatuhkan potongan kayu yang menyala-nyala itu pada akhirnya. Kayu itu jatuh di atas salju dan apinya mati.</p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Lingkaran serigala bergerak semakin dekat. Dan sekali lagi si tua Indian ini melihat gambar moose yang berjuang hingga akhir hayatnya. Dia menundukkan kepalanya ke lututnya. Lagi pula apa yang harus dipersoalkan? Bukankah ini adalah hukum kehidupan?</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/charlesroring.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/charlesroring.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/charlesroring.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/charlesroring.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/charlesroring.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/charlesroring.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/charlesroring.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/charlesroring.wordpress.com/317/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/charlesroring.wordpress.com/317/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/charlesroring.wordpress.com/317/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=charlesroring.wordpress.com&blog=3190708&post=317&subd=charlesroring&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://charlesroring.wordpress.com/2009/06/27/hukum-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e27c6c7e5d39b6f3afb15e4785a9b498?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">charlesroring</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keesh</title>
		<link>http://charlesroring.wordpress.com/2009/06/27/keesh/</link>
		<comments>http://charlesroring.wordpress.com/2009/06/27/keesh/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2009 02:27:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>charlesroring</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[eskimo]]></category>
		<category><![CDATA[igloo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://charlesroring.wordpress.com/2009/06/27/keesh/</guid>
		<description><![CDATA[oleh Jack London
diterjemahkan oleh Charles Roring

Keesh tinggal di pinggir laut kutub utara. Dia telah melihat tiga belas matahari sesuai dengan penanggalan Eskimo. Menurut orang-orang Eskimo, matahari setiap musim dingin meninggalkan daratan itu dalam kegelapan. Dan tahun berikutnya, matahari yang baru kembali, sehingga cuaca akan hangat lagi.
Ayah Keesh dulu seorang yang pemberani. Tetapi dia tewas ketika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=charlesroring.wordpress.com&blog=3190708&post=316&subd=charlesroring&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;margin:6pt 0 0;">oleh Jack London</p>
<p style="text-align:center;margin:0;">diterjemahkan oleh <a href="http://charlesroring.blogspot.com/">Charles Roring</a></p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Keesh tinggal di pinggir laut kutub utara. Dia telah melihat tiga belas matahari sesuai dengan penanggalan Eskimo. Menurut orang-orang Eskimo, matahari setiap musim dingin meninggalkan daratan itu dalam kegelapan. Dan tahun berikutnya, matahari yang baru kembali, sehingga cuaca akan hangat lagi.<span id="more-316"></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Ayah Keesh dulu seorang yang pemberani. Tetapi dia tewas ketika berburu untuk mencari makanan. Keesh adalah anak satu-satunya. Dan Keesh tinggal sendirian bersama ibunya, Ikeega.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Suatu malam, dewan kampung bertemu di igloo yang besar, milik kepala suku Klosh-kwan. Keesh berada di sana bersama yang lain. Dia mendengar, kemudian menunggu hingga semua orang diam.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Benar,&#8221; dia berkata, &#8220;bahwa kalian memberi kami sejumlah makanan. Tetapi sering berupa daging tua yang liat, serta banyak tulangnya.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Para pemburu kaget. Ada seorang anak kecil yang berbicara menentang mereka. Seorang anak yang berbicara layaknya seorang pria dewasa!</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Keesh berkata, &#8220;Bapakku, Bok, adalah pemburu yang gagah perkasa. Kata orang, Bok membawa pulang lebih banyak daging daripada dua pemburu terbaik sekalipun. Dan selanjutnya dia membagi-bagi daging itu hingga semua orang memperoleh bagian yang sama.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Naah! Naah!&#8221; para pemburu berteriak. &#8220;Bawa anak kecil itu keluar! Kirim dia ke tempat tidur. Dia seharusnya tidak berbicara demikian kepada orang-orang tua!&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Keesh menunggu hingga suasana tenang kembali. &#8220;Kamu memiliki seorang isteri, Uh-gluk,&#8221; katanya. &#8220;Dan kamu berbicara atas namanya. Ibuku tak memiliki seorang pun kecuali aku. Oleh karena itu aku bicara. Seperti yang telah kukatakan, Bok berburu dengan baik, tetapi sekarang dia telah meninggal. Wajar jika ibuku, yang adalah istrinya, dan aku, anaknya, memperoleh daging bila suku mendapatkan daging. Aku, Keesh, anaknya Bok, telah berbicara.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Sekali lagi, ada keributan yang besar dalam igloo itu. Dewan memerintahkan Keesh pergi tidur. Dewan itu bahkan memutuskan untuk tidak memberinya makanan.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Keesh melompat berdiri. &#8220;Dengar aku!&#8221; dia berteriak. &#8220;Tak akan pernah lagi aku berbicara di dewan igloo ini. Aku akan pergi berburu mencari daging seperti ayahku, Bok.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Seluruh orang banyak itu tertawa ketika Keesh bilang ia akan berburu. Mereka terus menertawainya saat ia meninggalkan mereka.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Hari berikutnya, Keesh pergi ke pantai, di mana daratan bertemu es. Orang-orang yang memperhatikan, melihatnya membawa busur dan banyak anak panah. Di bahunya ada tombak berburu ayahnya yang besar. Sekali lagi mereka menertawainya. Beberapa orang menggeleng-gelengkan kepala mereka. Dan para wanita melihat ibunya Keesh dengan perasaan iba. &#8220;Dia akan segera kembali,&#8221; mereka berkata padanya. &#8220;Jangan khawatir.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Hari pertama berlalu, kemudian hari kedua. Pada hari ketiga, angin bertiup kencang, dan belum ada tanda-tanda tentang Keesh. Ibunya Ikeega, mengoles wajahnya dengan minyak anjing laut yang telah gosong untuk menunjukkan bahwa dia sedang berduka. Para wanita memarahi pria-pria mereka karena membiarkan anak laki-laki yang masih kecil itu pergi. Dan pria-pria itu tidak menjawab, tetapi mereka mulai bersiap-siap untuk mencari jenazah Keesh.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Pagi-pagi sekali di hari berikutnya, Keesh berjalan masuk ke dalam kampung. Di bahunya ada daging segar. &#8220;Pergilah, kalian yang laki-laki, dengan anjing-anjing dan kereta luncur. Ikuti jejak kakiku. Berjalanlah selama satu hari,&#8221; katanya. &#8220;Ada banyak daging di atas es. Seekor induk beruang dan dua anaknya.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Ibunya sangat senang. Keesh, mencoba menjadi seorang pria dewasa, berkata padanya, &#8220;Mari, Ikeega, kita makan. Dan setelah itu, aku akan tidur. Karena aku lelah sekali.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Orang ramai membicarakan Keesh setelah ia masuk ke igloonya. Membunuh seekor beruang adalah pekerjaan yang berbahaya. Tetapi tiga kali lebih berbahaya jika yang dibunuh itu seekor induk beruang dengan anak-anaknya. Pria-pria itu tidak percaya Keesh telah melakukannya. Namun, wanita-wanita itu menunjuk pada daging segar. Akhirnya, pria-pria itu setuju untuk berangkat mengambil daging yang telah ditinggalkan. Namun mereka sangat tidak senang.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Seseorang berkata bahwa sekalipun Keesh telah membunuh beruang itu, dia mungkin tidak memotong daging itu menjadi bagian yang kecil-kecil. Namun ketika mereka tiba di sana, mereka mendapati bahwa Keesh tidak hanya telah membunuh beruang itu, tetapi juga telah membaginya menjadi potongan-potongan, seperti yang biasanya dilakukan seorang pemburu dewasa.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Maka dimulailah misteri tentang Keesh.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Pada perjalanan berikutnya, dia membunuh seekor beruang muda. Dan pada perjalanan selanjutnya, seekor beruang jantan dewasa yang besar beserta pasangannya.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Bagaimana ia melakukannya?&#8221; para pemburu bertanya satu sama lain. &#8220;Dia bahkan tidak membawa seekor anjing bersamanya.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Kemudian berkembanglah cerita tentang kekuatan gaib dan ilmu sihir di kampung itu. &#8220;Dia berburu dengan roh-roh jahat,&#8221; kata yang seorang. &#8220;Mungkin roh ayahnya berburu bersama dia,&#8221; kata yang lain.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Tetapi Keesh terus membawa daging ke kampung. Beberapa orang menganggap dia seorang pemburu yang hebat. Ada pembicaraan untuk menjadikannya kepala suku, setelah si tua Klosh-kwan. Mereka bahkan menunggu, berharap agar dia akan datang ke pertemuan-pertemuan dewan. Tetapi dia tidak pernah datang.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Aku akan membangun sebuah igloo,&#8221; Keesh berkata pada suatu hari, &#8220;tetapi aku tak memiliki waktu. Pekerjaanku adalah berburu. Jadi adalah hal yang bijaksana jika para pria dan perempuan di kampung yang memakan dagingku, membangun igloo-ku.&#8221; Dan igloo dibangun. Igloo itu bahkan lebih besar daripada igloonya kepala suku, Klosh-kwan.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Suatu hari, Ugh-gluk berbicara kepada Keesh. &#8220;Kata orang kau berburu dengan roh-roh jahat, dan mereka memantumu membunuh beruang.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Bukankah dagingnya bagus?&#8221; Keesh menjawab. &#8220;Adakah orang di kampung yang sakit setelah memakannya? Bagaimana kau tahu bahwa roh-roh jahat bersamaku? Ataukah kau berkata begitu karena aku seorang pemburu yang baik?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Ugh-gluk tidak memiliki jawaban.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Dewan membicarakan Keesh dan dagingnya itu hingga larut malam. Mereka memutuskan untuk memata-matainya.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Pada perjalanan Keesh yang berikutnya, dua pemburu muda, Bim dan Bawn mengikutinya. Setelah lima hari, mereka kembali. Dewan bertemu untuk mendengar cerita mereka.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Saudara-saudara,&#8221; kata bim, &#8220;kami mengikuti Keesh, dan dia tidak melihat kita. Hari pertama dia bertemu seekor beruang besar. Keesh berteriak kepada beruang itu, dengan suara nyaring. Beruang melihat dia dan marah. Binatang itu berdiri dan mengaum. Tetapi Keesh mendekatinya.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Kami melihat binatang itu,&#8221; Bawn, pemburu yang lain, berkata, &#8220;Beruang itu mulai mengejar Keesh. Keesh berlari. Tapi, ketika dia berlari, dia menjatuhkan sebuah bola kecil di atas es. Beruang berhenti dan menciumi bola itu, lalu memakannya. Keesh terus berlari menjatuhkan lebih banyak bola ke atas es. Beruang mengikutinya dan memakan bola-bola itu.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Anggota-anggota dewan menyimak setiap kata. Bim melanjutkan ceritanya lagi, &#8220;Tiba-tiba beruang berdiri lurus dan mulai berteriak kesakitan. Beruang meraung-raung, lalu melompat-lompat, naik-turun. Belum pernah aku melihat hal seperti itu!&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Roh-roh jahat,&#8221; kata Ugh-gluk.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Aku tidak tahu,&#8221; kata Bawn. &#8220;Aku hanya bisa mengatakan apa yang kusaksikan. Beruang kemudian melemah. Binatang itu berjalan sepanjang pantai dengan kepala yang bergoyang-goyang ke kanan dan ke kiri. Selanjutnya binatang itu duduk dan mencabik bulu-bulunya sendiri dengan cakar-cakarnya yang tajam. Keesh menyaksikan beruang itu sepanjang hari.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Selama tiga hari selanjutnya, Keesh terus menyaksikan beruang itu. Binatang tersebut semakin lemah. Keesh bergerak perlahan-lahan mendekati beruang dan menikamnya dengan tombak ayahnya.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Lalu?&#8221; tanya Klosh-kwan.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Lalu kami pergi.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Siang itu, dewan membahas hal itu. Ketika Keesh tiba di kampung, dewan mengirim seorang utusan untuk memintanya datang ke pertemuan. Tapi Keesh bilang bahwa dia lelah dan lapar. Dia berkata igloonya besar dan dapat menampung banyak orang, jika dewan menginginkan sebuah pertemuan.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Klosh-kwan memimpin dewan ke igloonya Keesh. Keesh sedang makan, tetapi dia menyambut mereka. Klosh-kwan memberitahu Keesh bahwa dua pemburu telah melihatnya membunuh seekor beruang. Lalu, dengan nada serius kepada Keesh, dia berkata, &#8220;Kami ingin tahu bagaimana kamu melakukannya? Apakah kamu memakai kekuatan gaib dan sihir?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Keesh mengangkat mukanya dan tersenyum. &#8220;Tidak, Klosh-kwan. Aku seorang anak kecil, dan tidak tahu apapun mengenai kekuatan gaib atau sihir. Teapi aku telah menemukan cara yang mudah untuk membunuh beruang-es. Aku memakai akal (<em>head-craft</em>), dan bukan sihir (<em>witchcraft</em>).</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Dan maukah kamu memberitahu kami, O Keesh?&#8221; Klosh-kwan memintanya dengan suara gugup.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Aku akan memberitahukannya kepada kalian. Sangat sederhana. Perhatikan.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Keesh memungut sepotong tulang ikan paus yang tipis. Ujung-ujungnya lancip dan tajam seperti pisau. Keesh melengkungkan tulang itu membentuk sebuah lingkaran. Tiba-tiba Keesh melepasnya, dan tulang itu lurus mengeluarkan suara tajam. Dia mengambil sepotong daging anjing laut.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Jadi,&#8221; katanya, &#8220;pertama-tama bentuklah sebuah lingkaran menggunakan tulang ikan paus yang tipis dan tajam. Masukan tulang yang lengkung itu ke dalam sepotong daging. Taruhlah daging itu di dalam salju untuk membekukannya. Beruang akan makan daging bola itu dengan tulang yang melengkung di dalamnya. Ketika daging masuk ke dalam beruang, daging itu akan melunak, dan tulang melentur lurus! Ujung-ujungnya yang tajam membuat beruang sakit. Sehingga mudah untuk membunuhnya. Sederhana kan.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Ugh-gluk berkata, &#8220;Ohh!&#8221; Dan Klosh-kwan berkata, &#8220;Ahh!&#8221; Dan setiap orang berbicara sendiri-sendiri. Maka semua orang akhirnya mengerti.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Dan begitulah kisah tentang Keesh, yang dulu sekali hidup di tepi laut kutub utara. Karena dia menggunakan akalnya dan bukannya sihir, dia bangkit dari igloo yang termiskin menjadi kepala suku di kampung itu. Dan selama bertahun-tahun selanjutnya, rakyatnya bahagia. Tak seorang pun yang menangis lapar di tengah malam.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/charlesroring.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/charlesroring.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/charlesroring.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/charlesroring.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/charlesroring.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/charlesroring.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/charlesroring.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/charlesroring.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/charlesroring.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/charlesroring.wordpress.com/316/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=charlesroring.wordpress.com&blog=3190708&post=316&subd=charlesroring&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://charlesroring.wordpress.com/2009/06/27/keesh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e27c6c7e5d39b6f3afb15e4785a9b498?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">charlesroring</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Vivien Melihat Pelangi dan Kerlip Bintang</title>
		<link>http://charlesroring.wordpress.com/2009/06/24/vivien-melihat-pelangi-dan-kerlip-bintang/</link>
		<comments>http://charlesroring.wordpress.com/2009/06/24/vivien-melihat-pelangi-dan-kerlip-bintang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2009 02:13:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>charlesroring</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[pelangi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://charlesroring.wordpress.com/2009/06/24/vivien-melihat-pelangi-dan-kerlip-bintang/</guid>
		<description><![CDATA[oleh Charles Roring

Jam 17.05 aku tiba di rumah kawanku. Vivien namanya. Lama sudah kita tak bertemu kurang lebih 10 tahun telah berlalu. Saklar bell di atas daun pintu sebelah kanan kupencet &#8211; ding… dong….
Tak sampai setengah menit pintu dibuka, &#8220;Hello, Charl. Mari masuk.&#8221;
&#8220;Selamat sore…, kelihatannya lagi ada acara ya, ada suara ribut-ribut dan musik di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=charlesroring.wordpress.com&blog=3190708&post=312&subd=charlesroring&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:left;margin:6pt 0 0;">oleh <a href="mailto:charlesroring@telkom.net">Charles Roring</a></p>
<p style="text-align:center;margin:6pt 0 0;">
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Jam 17.05 aku tiba di rumah kawanku. Vivien namanya. Lama sudah kita tak bertemu kurang lebih 10 tahun telah berlalu. Saklar bell di atas daun pintu sebelah kanan kupencet &#8211; ding… dong….<img style="display:inline;float:right;" src="http://charlesroring.files.wordpress.com/2009/06/vivien_brown.jpg" alt="vivien-brown.jpg" height="406" /></p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Tak sampai setengah menit pintu dibuka, &#8220;Hello, Charl. Mari masuk.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Selamat sore…, kelihatannya lagi ada acara ya, ada suara ribut-ribut dan musik di ruang sebelah.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Ah, hanya kumpul-kumpul biasa dengan keluarga.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Lalu aku harus bagaimana? Tanyaku.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Kamu langsung aja ke lantai dua, ya. Sebentar lagi sanak-saudaraku itu pulang. Aku akan segera menyusul. Bawa sketchbook, kan?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Sesuai permintaan kamu.&#8221; Jawabku ringan sambil berjalan ke belakang rumahnya. Aku lalu berbelok ke kanan, menaiki tangga kayu.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Vivien sahabatku sejak kecil itu sekarang tinggal di kota Bandung. Dia libur ke kota Manokwari Papua ini seminggu saja. Setelah itu ia akan kembali ke sana.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Lantai atas ditutupi karpet abu-abu. Ada sofa, lemari buku dan TV set. Ada juga beberapa lukisan besar di ruang itu. Belum banyak perubahan di tempat ini sejak kurang lebih sepuluh tahun lalu aku kemari.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Lima belas atau dua puluh menit kemudian aku sedang duduk bersila, berhadap-hadapan dengan Vivien. Aku akan membuat sketsa dirinya.<span id="more-312"></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Sketchbook berukuran A3, pensil Staedtler B2, serta sekaleng watercolour pencils merek Derwent menjadi perkakas kerjaku.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Saat sedang digambar, Vivien angkat bicara, &#8220;Aku lagi pusing….&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Pusing kenapa?&#8221; tanyaku sambil mulai menggores-gores lembaran sketchbook mencari bentuk figur makro kepala dan tubuhnya. Vivien duduk di bantal sambil memeluk lutut.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Semua berawal dari adu pandang antara aku dan dia di pelabuhan tiga tahun yang lalu. Ternyata kami berangkat ke kota yang sama, Bandung. Di sana tempat kerjaku tak jauh dari kantornya.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Ya, semua selalu berawal dari adu pandang.&#8221; Komentarku sekenanya.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Biarkan aku selesaikan dulu ceritaku.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Aku tersenyum. Aku kembali sibuk menggores dan menghapus garis-garis pensil di sketchbook.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Charl, kamu mau dengar nggak sih &#8211; ceritaku ini?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Iya.., aku mau, lanjut…&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Setelah itu kami semakin sering bertemu dan beradu pandang. Di sore hari, setelah pulang kantor kami bertemu di warung soto. Kadang-kadang kami minum teh di kedai 77&#8243;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Tidak nonton bareng?&#8221; tanyaku.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Pernah.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Apa judulnya, &#8216;<em>Pelangi di Matamu</em>?&#8217;&#8221; tanya dan jawabku ngawur.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Itu kan lagunya zamrud.&#8221; Vivien menyanggah.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Nampaknya kalian berdua sedang menyaksikan pelangi.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Tiba-tiba wajah Vivien cerah, dia nampak senang mendengar komentarku itu, &#8220;Iya, pelangi itu berwarna-warni indah sekali. Dan aku ingin duduk seharian penuh menyaksikan benang raja itu hingga datang senja seperti yang pernah kita saksikan di Kaimana.&#8221; Matanya menerawang ke langit-langit seakan-akan hendak mencari pelangi.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Mendengar komentarnya ini, tiba-tiba aku teringat sebuah cerpen yang pernah kubuat judulnya <em>Senja Di Kaimana</em>. Aku pun bertanya, &#8220;Bila senja tiba, kamu ingin tetap di sana menyaksikannya?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Iya, mengantar matahari ke peraduannya hingga malam tiba. Lalu aku ingin tetap bersamanya menyaksikan kerlip-kerlip bintang di angkasa,&#8221; Vivien mendesah, Tapi belakangan ini ia berhenti menemuiku lagi. Dia menutup mata.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Mungkin, pangeranmu itu tahu langit akan mendung sehingga ia menutup mata dan beranjak pulang.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Ah.., tapi pelangi masih nampak di angkasa, Charl. Mengapa dia buru-buru menutup mata?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Mungkin dia sadar tak bisa menggapai pelangi dan kerlip bintang itu.&#8221; Kataku prihatin.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Kalau pelangi dan kerlip itu telah masuk ke dalam hatinya dan hatiku, berarti mereka sudah menjadi milik kita. Mengapa harus dia menutup mata?&#8221; mata Vivien berkaca-kaca.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Maksudmu, tetap mempertahankan pelangi? Mempertahankan bara cinta yang menyala-nyala di hati kalian?&#8221; nada tanyaku menyudutkannya.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Vivien terdiam.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Lima belas menit berlalu. Sementara itu, sketsa pensil tubuhnya sudah selesai. Kini aku tinggal mewarnainya.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Apa kamu memelihara anjing di rumahmu &#8211; di Bandung sana?&#8221; Aku bertanya lagi, kali ini aku berhenti sejenak dan menarik napas agak dalam. Aku minum air putih dingin yang disuguhinya di sebuah botol kaca.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Aku punya seekor kecil. Coklat warnanya. Kami memanggilnya, Brown.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Apa kamu suka sama Bron?&#8221; Aku bertanya lagi.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Ya, iyalah. Anjing kecilku itu lucu.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Andaikan Brown-mu itu bisa melihat pelangi,&#8221; kataku sambil kembali mewarnai gambar Vivien lagi. Kali ini aku pilih pensil <em>Brown Ochre 57</em> untuk mewarnai tubuhnya agar mirip anjing bron-nya itu.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Dia menanyaiku, &#8220;Lho, apa Brown tak bisa melihat pelangi?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Aku menjawab, &#8220;Kamu kan suka sama si bron, seharusnya kamu sudah tahu. Bangsa anjing itu buta warna.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Lalu apa hubungannya dengan pelangi cinta yang sedang kusaksikan bersama pangeranku itu?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Kalau anjing bron-mu itu bisa melihat pelangi, ia pasti adalah anjing yang paling beruntung di dunia. Sayang, iya akan kesulitan menjelaskan fenomena alam tersebut ke teman-temannya sesama anjing. Bahkan mungkin ia akan dibilang gila.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Charl, aku bukan anjing…!!!&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Lho, siapa yang bilang kamu anjing? Ini kan perumpamaan. Bukankah kita terkategorikan dalam berbagai shio binatang sesuai penanggalan Tionghoa? Ada shio anjing, shio kerbau, shio macan, shio kera, dan shio-shio yang lain.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Aku membela diri, &#8220;Vivien, dengar kataku, saat kamu melihat pelangi yang indah itu, suamimu; sahabat-sahabatmu; dan orang-tuamu tidak bisa melihat pelangimu itu.&#8221; Kali ini aku terkesan bisa memahami perasaannya itu.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Aku menanyainya lagi, &#8220;Apa suamimu tahu?</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Tahu.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Lalu apa reaksinya?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Aku tidak tahu. Aku sudah siap. Aku tahu ini salah tapi aku tak mampu membendung berkas pelangi dan kerlip bintang yang menerobos masuk ke dalam mataku dan mengalir ke hatiku. Aku tidak mau kehilangan pelangiku dan kerlip bintangku itu.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Aku balik terdiam. Arsiranku terhadap tubuhnya sudah selesai. Sekarang arsiran gambar Vivien kulanjutkan ke rambutnya. Kali ini pensil-pensil warna yang kuambil adalah <em>Golden Brown 59</em>, yang dikombinasikan dengan <em>Vandyke Brown 55</em> serta <em>Ivory Black 67</em>.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Penjelasanmu itu belum cukup buatku, Charl.&#8221; Vivien bersuara lagi.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Apa yang pernah kau hadapi itu mirip dengan apa yang dihadapi Jean Paul Sartre dan Simone de Beauvoir.&#8221; Aku menghibur Vivien.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Siapa mereka?</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Dua filsuf besar abad ini dari Prancis.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Akhir cerita mereka, bagaimana?&#8221; Vivien penasaran</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Tentang kehidupan mereka, kau carilah sendiri. Yang jelas mereka tetap bertahan untuk melihat pelangi dan kerlip bintang mereka.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Vivien berkomentar pendek, &#8220;O….&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Vivien bersuara lagi, &#8220;Tiba-tiba pangeranku itu tidak mau menemuiku lagi. Aku jengkel sekali padanya.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Kenapa dia tidak mau menemuimu?&#8221; Aku mengangkat kepalaku menatap matanya lalu aku bertanya lagi, &#8220;Apa dia sudah beristri?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Sudah.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Brrr….. tubuhku bergetar bagaikan dialiri sengatan listrik beberapa ribu volt setelah mendengar jawabannya yang pendek itu.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Kamu sudah bersuami dan dia sudah beristri?&#8221; kataku sambil menghentikan gambarku.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Rumit&#8221; tambahku lagi.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">******</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Tiba-tiba tanganku gemetar, aku ragu melanjutkan karya seniku ini. Untung saja, aku hampir selesai. Aku berusaha mengendalikan keadaan. Aku menarik napas dalam-dalam, beberapa kali.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Kenapa Charl?&#8221; nampaknya Vivien mampu menangkap reaksi tubuhku atas jawabannya itu.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Apa kamu juga sedang melihat pelangi?&#8221; Vivien curiga padaku.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Bukankah sekarang waktu curhatmu?&#8221; Aku menghindari pertanyaannya itu.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Vivien duduk bersila. Dia berhenti bicara. Dia menatapku lekat-lekat. Aku menunduk, pura-pura meneruskan gambarku dari jarak empat meter. Vivien, sahabatku itu, nampaknya mengerti.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;OK. Aku mengalah. Sekarang waktuku yang curhat. Lain kali giliranmu. Tapi sebelum aku lanjutkan ceritaku, jawab dulu dengan jujur pertanyaanku; Apakah pelangi dan kerlip bintang itu indah?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Aku menjawab pendek, &#8220;indah&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Ia tersenyum mendengar jawabanku itu. &#8220;Baiklah, untuk sementara cukup dulu aku menggalimu.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">******</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Vivien berbicara lagi, &#8220;Tapi dia tidak berhak menghentikan pelangi yang sedang kita saksikan bersama.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Aku hanya diam saja, aku tak tahu harus jawab apa. Aku hanya mendengarnya berkeluh-kesah. Sketsa tubuhnya yang sensual ini akhirnya selesai kugambar.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Untuk apa dan siapa sketsa ini?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Untuk pangeranku yang menyaksikan pelangi di hatiku.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Aku berusaha mendalami perasaan Vivien. Halaman sketchbook kubalik.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Kau mau kutulis beberapa bait puisi di belakang gambarmu ini?&#8221; tawarku.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Tulislah sekehendakmu, yang jelas aku tak mau kehilangan pelangiku itu.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Aku berpikir keras. Aku dapat ide beberapa bait kata mengalir dari tanganku:</p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:6pt 0 0;">
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><strong> <em>Kulihat Pelangi dan Kerlip Bintang</em> </strong></p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;">
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><em>Kala kita beradu pandang &#8211; Kulihat pelangi</em></p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><em>Tak mampu kubendung</em> berkas sinar matamu.</p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><em>Getar cinta menjalar ke hati</em></p>
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;">
<p style="text-align:justify;margin:0;"><em>Aku rindu, Jujur perasaanku</em></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><em>Bingung bagaimana kusampaikan padamu</em></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><em>Kutetap ingin melihat pelangi dan kerlip bintang di matamu</em></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">
<p style="text-align:justify;margin:0;"><em>Setelah pelangi berlalu</em></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><em>Kutetap ingin bersamamu</em></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><em>Di bukit sana</em></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><em>Menyongsong indahnya senja mengantar mentari ke peraduannya,</em></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><em>Kala malam tiba</em></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><em>Kita songsong</em> kerlip bintang</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><em>di langit sana</em></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">
<p style="text-align:justify;margin:0;"><em>Meski Aku bukan siapanya Kamu</em></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><em>Dan kamu bukan siapanya Aku</em></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">
<p style="text-align:justify;margin:0;"><em>Jangan tutup matamu dan mataku</em></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><em>Jujur hatiku</em></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><em>Kala badai datang menghadang</em></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><em>Kala langit mendung, Kala hujan turun</em></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">
<p style="text-align:justify;margin:0;"><em>Percayalah,</em></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><em>Badai pasti berlalu, Hujan pasti berhenti</em></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><em>Langit akan cerah</em> dan sang surya pasti bersinar lagi</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><em>Pelangi, cantiknya senja</em> dan kerlip bintang akan terus ada</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><em>Menjadi milik kita</em></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;SELESAI&#8221; kataku sambil berdiri, meluruskan kaki dan tanganku.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Vivien cepat-cepat mendekatiku dan mengambil sketchbook dari tanganku. Ia kemudian membalik halaman untuk melihat gambarnya yang tadi telah kubuat.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Lho, kok aku digambar telanjang? Aku kan berpakaian lengkap,&#8221; Ia mengeluh manja.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Eh, bukankah curhatmu itu tadi berarti kamu menelanjangi dirimu? Aku membela diri.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Ia tertawa, &#8220;Tapi nggak apa-apa dech. Bagus kok gambarnya,&#8221; Vivien memuji.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Ia lalu membalik lagi halaman sketchbook-ku itu. Ia diam beberapa saat. Dibacanya puisi itu. Lalu dia mengangkat wajahnya padaku. Vivien tersenyum.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Terima kasih, Charl&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Ketika memandang langit penuh kerlap bintang, aku teringat kisah Galileo di tahun 1632. Dia dianggap menentang &#8220;kebenaran umum&#8221; yang diterima dan dipegang selama ribuan tahun oleh Gereja bahwa Bumi adalah pusat tata surya. Ia dibilang gila, tidak bermoral, sombong dan berbagai sumpah serapah ditujukan padanya ketika ia membela teori Heliosentrisnya Nicolaus Copernicus. Teori yang menyatakan bahwa matahari adalah pusat tata surya. Ia pun dihukum Gereja. Sayang sekali, Paus yang ketika itu adalah teman dekatnya sendiri tak mampu melindunginya. Di kemudian hari, ternyata teori Galileo-lah yang benar.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Hari sudah malam, saat aku meninggalkan rumahnya. Nun jauh di angkasa sana, kerlap-kerlip bintang mengantarku pulang.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Sambil menatap gelapnya langit aku bergumam, &#8220;Ah.. Vivien, Jangan kau bermuram durja. Bila cuma kau yang melihat pelangi dan kerlip bintang, kau tak sendirian. Ada Jean Paul Sartre dan Simone de Beauvoir, ada Galileo dan besar kemungkinan si Bron anjing kesayanganmu. Kami ada di pihakmu sekalipun dengan pelangi dan kerlip bintang yang berbeda.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Tengah malam aku tak bisa tidur. Pikiranku galau dipengaruhi komentar-komentar kritis sahabatku, Vivien. Lewat jendela kamar masih memancar kerlap-kerlip bintang di langit. Aku bangun dari ranjangku, kuambil kamus Indonesia-Inggris; karya John Echols dan Hassan Shadily. Kucari kosa kata kerlip di situ kudapati arti <em>flicker of (candle, star)</em> pada entri yang kedua kutemukan arti yang lain. Kerlip artinya <em>fall in love</em> &#8211; jatuh cinta.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">&#8220;Oh, Vivien kawanku, aku juga melihat indahnya pelangi dan kerlip bintang yang kau ceritakan itu,</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">tapi di langit yang berbeda.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">Aku menarik napas dalam-dalam dan tidur terlelap.</p>
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">
<p style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/charlesroring.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/charlesroring.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/charlesroring.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/charlesroring.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/charlesroring.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/charlesroring.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/charlesroring.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/charlesroring.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/charlesroring.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/charlesroring.wordpress.com/312/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=charlesroring.wordpress.com&blog=3190708&post=312&subd=charlesroring&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://charlesroring.wordpress.com/2009/06/24/vivien-melihat-pelangi-dan-kerlip-bintang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e27c6c7e5d39b6f3afb15e4785a9b498?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">charlesroring</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://charlesroring.files.wordpress.com/2009/06/vivien_brown.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">vivien-brown.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BOM IKAN</title>
		<link>http://charlesroring.wordpress.com/2008/09/26/bom-ikan/</link>
		<comments>http://charlesroring.wordpress.com/2008/09/26/bom-ikan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 09:21:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>charlesroring</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[papua]]></category>
		<category><![CDATA[terumbu karang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://charlesroring.wordpress.com/2008/09/26/bom-ikan/</guid>
		<description><![CDATA[          oleh Charles Roring        

Perairan di sekitar Pulau Numfoor sebelah utara Papua dikelilingi oleh terumbu karang yang indah. Karang itu menyerupai cincin berwarna-warni yang melingkari pulau. Bila cuaca cerah dan air laut jernih, bermacam-macam ikan terlihat berenang ria di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=charlesroring.wordpress.com&blog=3190708&post=55&subd=charlesroring&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="line-height:200%;text-align:center;margin:0;">          <em>oleh</em> <a href="mailto:charlesroring@telkom.net">Charles Roring</a>        </p>
<p style="line-height:200%;text-align:center;margin:0;">
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Perairan di sekitar Pulau Numfoor sebelah utara Papua dikelilingi oleh terumbu karang yang indah. Karang itu menyerupai cincin berwarna-warni yang melingkari pulau. Bila cuaca cerah dan air laut jernih, bermacam-macam ikan terlihat berenang ria di dalam air.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Nelayan-nelayan di Pulau Numfoor Papua tidak perlu bersusah-payah berlayar hingga bermil-mil ke tengah laut. Alam telah menyediakan ikan-ikan bebatuan yang lezat rasanya dan tinggi harganya tak jauh dari pantai mereka.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Kadang-kadang wisatawan mancanegara dari Amerika, Australia dan Jepang menyelam di sekitar Pulau Numfoor. Mereka datang dalam rombongan lima hingga sepuluh orang dan menyewa perahu-perahu penduduk setempat untuk melihat warna-warni ikan dan terumbu karang di dasar laut.</p>
<p> <span id="more-55"></span>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Belakangan ini, permintaan ikan di pasaran meningkat pesat karena ada sebuah perusahaan yang bersedia menampung tangkapan nelayan dalam jumlah besar. Ikan-ikan yang dibeli perusahaan itu kemudian dimasukkan ke dalam <em>cold storage</em> untuk selanjutnya diekspor ke manca negara. Tentu saja peluang ini sangat menggairahkan semangat para nelayan di Pulau Numfoor.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Di antara nelayan-nelayan yang ada di pulau itu, ada dua anak muda yang bernama Mesakh dan Sadrakh. Mereka mampu menangkap ikan bebatuan hingga ratusan ekor per hari. Berbeda dengan nelayan-nelayan lain yang pada umumnya menangkap ikan dengan kail dan <em>bubu</em>, diam-diam Mesakh dan Sadrakh menangkap ikan menggunakan bom. Mereka berdua adalah sahabat karib sejak kecil.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Sebenarnya menangkap ikan memakai bom telah dilarang oleh kepala suku. Karena selain berbahaya, bom ikan juga merusak karang-karang laut yang menjadi rumah ikan. Perlu waktu puluhan tahun untuk memulihkan kondisi terumbu karang yang rusak terkena bom. Di samping itu, banyak sekali ikan-ikan kecil yang belum siap dipanen akan ikut mati terkena ledakan. Oleh karena itu, Mesakh dan Sadrakh diam-diam membuat bom ikan jauh dari kampung mereka.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Dulu, sebelum Mesakh dan Sadrakh lahir, Pulau Numfoor menjadi medan pertempuran antara tentara Jepang dan Sekutu antara tahun 1942 dan 1944. Jepang membangun tiga lapangan terbang sebagai pangkalan udara untuk menghadapi serbuan Sekutu di kawasan itu. Setelah menderita banyak korban dalam pertempuran di Laut Karang dan Midway di Samudra Pasifik, akhirnya kekuatan Jepang melemah dan kemudian tidak bertahan lama di Papua. Sedikit demi sedikit, tentara sekutu merebut tanah Papua. Serangan-serangan pasukan Sekutu membuat Jepang semakin terdesak, termasuk yang bertahan di Pulau Numfoor.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Sebelum merebut pulau itu, pesawat-pesawat Sekutu terlebih dahulu menjatuhkan ribuan bom pada tanggal 2 Juli 1944 subuh pukul 4.30 terhadap posisi-posisi pertahanan Jepang. Pagi harinya sekitar pukul 08.00 waktu setempat, kapal-kapal sekutu mendaratkan ribuan tentara di Pulau Numfoor. Jepang akhirnya kalah tanpa perlawanan yang berarti.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Walaupun Perang Pasifik telah lama berakhir, masih ada banyak bom yang ketika dijatuhkan dari pesawat, ternyata belum sempat meledak.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Mesakh dan Sadrakh mendapatkan bahan baku pembuatan bom ikan dari bom-bom tua bekas Perang Dunia II yang mereka temukan di tengah hutan. Sebelum digunakan, bom yang beratnya kurang lebih dua puluh kilogram tersebut dipikul ke pantai. Dari luar bom itu kelihatan sudah karatan, tapi mesiu yang ada di dalamnya masih aktif dan sewaktu-waktu bisa menyala.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Ketrampilan membuat bom ikan dipelajari mereka dari seorang nelayan tua yang sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Bubuk mesiu yang berhasil dikeluarkan dari bom tua, kemudian dimasukkan ke dalam botol, bekas obat suntik, yang diambil dari tempat sampah Puskesmas. Botol-botol tersebut lalu ditutup rapat dan diberi sumbu yang terbuat dari sedotan. Bom ikan rakitan ini disebut <em>dopis</em> oleh orang kampung.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">          <em>Dopis</em> yang sudah siap diledakkan kemudian disulut dengan rokok dan dibuang ke dalam air di mana banyak ikan berkumpul. Ketika ikan-ikan itu melihat ada benda yang jatuh, mereka segera berkerumun karena mengira ada makanan yang jatuh. Pada saat itulah bom meledak. Sekali meledak, ratusan ekor ikan karang termasuk telur-telurnya serta segala makhluk hidup yang ada di sekitarnya akan mati.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Karena jumlah <em>dopis</em> yang mereka miliki telah habis, Mesakh dan Sadrakh harus membuatnya lagi. Bom tua bekas Perang Dunia II yang sudah dipikul ke pantai kemudian dipotong dengan menggunakan gergaji besi.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Siang itu cuacanya cerah. Matahari bersinar terang. Bom tua yang berwarna coklat kehitam-hitaman tersebut, mereka jepit dengan dua batang kelapa. Hanya moncong hingga leher bom yang menggantung. Mesakh duduk di atasnya seperti seseorang yang sedang menunggang kuda. Setiap lima gesekan gergaji, ia harus berhenti untuk mendinginkan bom. Guna mempercepat proses pendinginan, Sandrakh menyirami bom itu dengan air laut yang diambilnya dengan sebuah ember kecil.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Krik&#8230; kruk&#8230; krik&#8230; kruk&#8230; krik… , tak terasa sudah satu jam Mesakh memotong bom. Tangannya pegal. Perutnya keroncongan. Ia lapar. Peluh mengalir di sekujur tubuhnya. Sudah tiga perempat bagian yang digergajinya. Sedikit lagi bom itu putus. Sadrakh terus menyiram dengan sabar. Sudah beberapa puluh kali ia bolak-balik mengambil air laut yang jaraknya hanya beberapa depa dari mereka.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Sebentar lagi pekerjaan memotong akan selesai. Sadrakh harus kembali menimba air. Sementara itu, Mesakh ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya. Tanpa menunggu air lautnya datang, ia terus menggergaji bom itu. Sadrakh membungkuk dan membenamkan embernya ke laut. Air mulai mengisi ember. Ia berdiri lagi dan berbalik.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">BUUM&#8230;.! Bom tua itu meledak, menggelegar di angkasa. Tubuh Mesakh hancur, terlempar ke mana-mana. Potongan-potongan tubuhnya menempel di pohon ketapang, pohon kelapa dan pasir pantai. Sebagian jatuh di laut. Tubuh Sadrakh juga hancur dihajar pecahan bom. Mereka berdua tewas di tempat. Pusat ledakan berubah menjadi sebuah kolam kecil yang penuh darah dan potongan-potongan daging manusia.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Nelayan-nelayan yang mendengar ledakan bom dari kejauhan mulai mencari-cari arah sumber ledakan. Setengah jam kemudian, perahu-perahu motor milik orang kampung tiba di tempat itu. Tak ada yang bisa mereka lakukan. Sebagian tubuh Mesakh dan Sadrakh sudah jadi santapan ikan.</p>
<p>Manokwari, 7 April 2008</p>
<p class="zoundry_raven_tags">  <!-- Tag links generated by Zoundry Raven. Do not manually edit. http://www.zoundryraven.com -->  <span class="ztags"><span class="ztagspace">Technorati</span> : <a href="http://www.technorati.com/tag/cerpen" class="ztag" rel="tag">cerpen</a>, <a href="http://www.technorati.com/tag/papua" class="ztag" rel="tag">papua</a>, <a href="http://www.technorati.com/tag/terumbu+karang" class="ztag" rel="tag">terumbu karang</a></span>  <br /> <span class="ztags"><span class="ztagspace">Del.icio.us</span> : <a href="http://del.icio.us/tag/cerpen" class="ztag" rel="tag">cerpen</a>, <a href="http://del.icio.us/tag/papua" class="ztag" rel="tag">papua</a>, <a href="http://del.icio.us/tag/terumbu%20karang" class="ztag" rel="tag">terumbu karang</a></span>  <br /> <span class="ztags"><span class="ztagspace">Zooomr</span> : <a href="http://www.zooomr.com/search/photos/?q=cerpen" class="ztag" rel="tag">cerpen</a>, <a href="http://www.zooomr.com/search/photos/?q=papua" class="ztag" rel="tag">papua</a>, <a href="http://www.zooomr.com/search/photos/?q=terumbu%20karang" class="ztag" rel="tag">terumbu karang</a></span>  <br /> <span class="ztags"><span class="ztagspace">Flickr</span> : <a href="http://www.flickr.com/photos/tags/cerpen" class="ztag" rel="tag">cerpen</a>, <a href="http://www.flickr.com/photos/tags/papua" class="ztag" rel="tag">papua</a>, <a href="http://www.flickr.com/photos/tags/terumbu%20karang" class="ztag" rel="tag">terumbu karang</a></span> </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/charlesroring.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/charlesroring.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/charlesroring.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/charlesroring.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/charlesroring.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/charlesroring.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/charlesroring.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/charlesroring.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/charlesroring.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/charlesroring.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=charlesroring.wordpress.com&blog=3190708&post=55&subd=charlesroring&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://charlesroring.wordpress.com/2008/09/26/bom-ikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e27c6c7e5d39b6f3afb15e4785a9b498?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">charlesroring</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DIBURU BURUAN</title>
		<link>http://charlesroring.wordpress.com/2008/09/26/diburu-buruan/</link>
		<comments>http://charlesroring.wordpress.com/2008/09/26/diburu-buruan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 09:19:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>charlesroring</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[papua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://charlesroring.wordpress.com/2008/09/26/diburu-buruan/</guid>
		<description><![CDATA[oleh Charles Roring
Di seluruh Kampung Warmare, keluarga Cornelis telah lama dikenal sebagai keturunan pemburu yang ulung. Cornelis sendiri mulai mempelajari teknik berburu dari ayahnya sejak ia masih kecil. Mula-mula ia diajari bagaimana menangkap ayam yang dipelihara di kolong rumah. Menginjak usia sepuluh tahun, ia sudah diajari bagaimana memanah burung Kumkum yang bertengger di dahan pohon [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=charlesroring.wordpress.com&blog=3190708&post=54&subd=charlesroring&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="line-height:200%;text-align:center;margin:0;"><em>oleh</em> <a href="mailto:charlesroring@telkom.net">Charles Roring</a></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Di seluruh Kampung Warmare, keluarga Cornelis telah lama dikenal sebagai keturunan pemburu yang ulung. Cornelis sendiri mulai mempelajari teknik berburu dari ayahnya sejak ia masih kecil. Mula-mula ia diajari bagaimana menangkap ayam yang dipelihara di kolong rumah. Menginjak usia sepuluh tahun, ia sudah diajari bagaimana memanah burung Kumkum yang bertengger di dahan pohon durian di belakang rumahnya. Kini sebagai kepala keluarga beranak dua, setiap minggu ia berburu di hutan Prafi untuk memberi nafkah bagi keluarganya.</p>
<p> <span id="more-54"></span>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Biasanya hasil buruannya dijualnya kepada tetangga dan para penduduk di kampungnya. Kalau daging yang dijualnya masih banyak, Cornelis akan membawanya ke Pasar SP IV Prafi. Satu kilogram daging babi hutan harganya tiga puluh ribu, sedangkan daging rusa bisa mencapai empat puluh lima sampai lima puluh ribu rupiah per kilogram.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Baginya menjadi seorang pemburu bukanlah pekerjaan yang hina. Kegiatannya membunuh binatang di hutan sama dengan pekerjaan nelayan menangkap ikan di laut. Keduanya memberi makan kepada masyarakat.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Lagipula, profesinya sebagai pemburu bisa memberinya penghasilan yang tinggi untuk ukuran masyarakat di kampungnya. Ia mampu membangun rumah besar dan membeli TV yang dilengkapi antena parabola. Ia juga mempunyai sebuah sepeda motor trailer keluaran terbaru dengan suspensi garpu pada roda belakang. Memang tidak semua barang-barang tersebut didapatkannya dari hasil menjual daging buruannya di pasar. Sebagai usaha sampingan, ia beternak ayam kecil-kecilan di belakang rumah.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Cornelis sendiri sebenarnya lulusan Peternakan dari Universitas Papua. Ia pernah bekerja di kantor Distrik Warmare. Tapi ia tidak tahan hanya duduk-duduk saja di belakang meja. Setelah tiga bulan bekerja sebagai pegawai honor di sana, ia mengundurkan diri dan melanjutkan lagi tradisi keluarga sebagai pemburu.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Isterinya, seorang keturunan Jawa, bekerja sebagai guru bahasa Inggris di SMP Kasuari 1 Warmare. Orang tuanya datang ke tanah Papua sebagai transmigran tiga puluh tahun yang lalu. Waktu itu ia baru berusia lima tahun ketika mengikuti mereka.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Hanya Cornelis satu-satunya warga di Kampung Warmare yang berprofesi tetap sebagai pemburu. Kebanyakan keluarga-keluarga di kampung itu bekerja pada perkebunan kelapa sawit yang dikelola oleh PT Perkebunan II Prafi Manokwari. Kakak-kakaknya juga sudah meninggalkan profesi berburu mereka. Tinggal dia saja dalam keluarga besarnya yang masih melanjutkan tradisi sebagai pemburu.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Sepuluh tahun terakhir ini, bermacam-macam binatang yang hidup di hutan Prafi seperti: babi hutan, rusa, kuskus, burung Kasuari dan Kumkum semakin menjauh dari hutan di sekitar kampungnya. Kawasan itu bertambah ramai oleh berbagai macam aktivitas manusia. Ribuan hektar hutan Prafi telah dirubah menjadi perkebunan kelapa sawit, kakao, areal persawahan serta perumahan bagi para transmigran.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Oleh karena itu, untuk mencapai tempat berburu yang masih banyak binatangnya, Cornelis harus melakukan perjalanan jauh ke dalam hutan melewati dua bukit dan satu sungai lebar. Setiap kali hendak berburu, ia selalu ditemani seekor anjing kesayangannya, si Blacky.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Kali ini, seperti biasa Cornelis bangun pukul setengah enam. Kedua anaknya masih tidur sedangkan istrinya sedang menyiapkan sarapan di dapur. Sehabis mencuci muka dan mengganti pakaian, Cornelis turun ke dapur untuk sarapan pagi dan mempersiapkan alat-alat berburunya.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Istrinya, Yanti, baru saja menggoreng telur burung Maleo untuknya. Telur itu ukurannya tiga kali lebih besar dari telur ayam kampung biasa. Segelas teh panas telah dihidangkannya di atas meja. Cornelis langsung menyantap telur itu dengan nasi dan tumis kangkung.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Sehabis sarapan, ia mulai mengambil alat-alat berburu yang diletakkannya di lantai dapur. Parang dan tombak diasahnya lagi hingga mengilap dan tajam. Busur yang terbuat dari sebilah bambu dipanggangnya di atas api supaya lebih lentur. Di samping itu, ia mengganti tali busur lama dengan yang baru, yang terbuat dari seutas belahan rotan. Beberapa buah anak panah juga dipanggangnya di atas api supaya lebih lurus dan ringan. Bila anak-anak panah itu dilepas dari busurnya, mereka akan melesat menuju sasaran buruan dengan cepat dan tepat.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Yanti duduk disampingnya sambil berkata, &#8220;Nelis, apa kamu tidak berencana membeli senjata berburu supaya lebih gampang menembak rusa atau babi hutan?&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Ah, aku tidak perlu senjata berburu. Di samping mahal harganya, senjata berburu sangatlah berbahaya dan tidak ramah lingkungan. Lagi pula pengurusan surat izinnya terlalu rumit,&#8221; jawab Cornelis dengan santai sambil membelai rambut istrinya.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Kata temanku yang suaminya bekerja di kantor Polsek Warmare, harga sepucuk senjata berburu kira-kira lima juta rupiah. Sedangkan untuk pengurusan surat izin kepemilikan senjata api tidaklah sulit. Yang penting senjatanya harus dititip di kantor Polsek. Apalagi seluruh orang di kampung ini sudah tahu bahwa keluargamu secara turun-temurun mencari nafkah sebagai pemburu. Jadi kamu tidak akan dipersulit.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Yanti, kamu dengar,&#8221; kata Cornelis sambil melipat kaki kirinya di atas bangku, &#8220;justru karena keluargaku ini sudah menjadi pemburu secara turun-temurun maka aku lebih terbiasa menggunakan alat-alat berburu tradisional. Suara letusan senjata api yang menggelegar akan membuat binatang-binatang ketakutan dan semakin menjauh dari hutan di sekitar sini.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;OK kalau begitu. Itu terserah kamu saja, aku cuma mau kasih saran. Kalau kamu lebih <em>enjoy</em> berburu dengan alat tradisional, bagiku itu <em>no problem</em>!&#8221; jawab istrinya dalam bahasa Indonesia yang dicampur dengan beberapa istilah Inggris.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Mereka bertemu pertama kali waktu masih mahasiswa. Cornelis kuliah di Fakultas Pertanian jurusan Peternakan, sedangkan Yanti adalah mahasiswi jurusan Sastra Inggris Universitas Papua.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Alat-alat berburu telah siap. Cornelis dan Yanti duduk berdampingan di bangku dapur. Mereka saling berpegangan tangan. Mereka mulai berdoa memohon berkat dan perlindungan Tuhan bagi aktivitas mereka hari itu. Sehabis berdoa, mereka berdiri.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Sayang, ingat bahwa kamu di hutan sendirian, kamu harus ekstra hati-hati. Jangan sampai mendapat kecelakaan, kasihan aku dan anak-anakmu ada di rumah,&#8221; kata Yanti sambil memeluk dan menciumi bibir suaminya.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Iya, sayang, jangan kuatir, aku akan jaga diri selama di hutan.&#8221; Cornelis pun balik mengecup bibir isterinya dengan mesra. Mereka berciuman agak lama.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Jangan sampai pulang malam ya.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Ya, aku akan pulang cepat hari ini. Aku hanya pergi memeriksa jerat yang telah kupasang dua hari yang lalu.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Setelah itu, Cornelis mengambil busur, panah dan tombak yang telah diikat kemudian disilangkannya mereka di punggungnya. Parang disarungkannya di pinggang kirinya.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Cornelis keluar dari rumahnya dan menghidupkan motornya. Blacky, si anjing pemburu yang selama ini setia menemaninya di hutan, didudukannya di atas tangki bensin. Beberapa menit kemudian, kedua pemburu tradisional tersebut berangkat meninggalkan Kampung Warmare. Sepanjang jalan, orang-orang kampung mulai ramai menjalankan pagi mereka. Yanti masuk lagi ke dalam rumah, membangunkan kedua anaknya dan mempersiapkan mereka untuk ke sekolah.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Motor yang dikendarai Cornelis hanya bisa mengantarnya dan anjingnya sampai di ujung jalan beraspal di tepi Sungai Prafi. Setelah itu ia dan si Blacky harus menyebrangi sungai dan berjalan kaki lagi ke dalam hutan. Perjalanannya cukup melelahkan. Mereka harus mendaki dan menuruni bukit.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Tiba di lokasi berburu, tubuhnya sudah berkeringat. Mula-mula Cornelis memeriksa beberapa jerat yang telah dipasangnya. Dua jerat telah diperiksa, hasilnya kosong. Ia berjalan lagi. Sementara itu, si Blacky, anjingnya yang berwarna hitam kecoklatan, berjalan di depan sambil mengendus-endus tanah mencari bau binatang buruan.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Jerat yang ketiga telah dipasangnya di tanah becek yang menuju ke kubangan. Di sekitar jerat itu ditaruhnya beberapa buah jambu merah untuk menarik perhatian babi hutan yang akan lewat. Teknik ini selalu berhasil.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Beberapa puluh meter sebelum mencapai jerat yang ketiga tersebut, tiba-tiba si Blacky mulai menggonggong dan berlari meninggalkan tuannya. Melihat hal ini, Cornelis yakin bahwa jeratnya pasti berhasil menangkap seekor binatang. Perlahan-lahan ia mendekati jerat itu, dan memang benar dugaannya. Tonggak kayu yang semula melengkung ke tanah, telah berdiri tegak. Ujungnya yang diikat dengan tali rotan dan disambung dengan sebuah kawat sedang bergoyang-goyang. Seekor babi hutan sedang tergantung di sana dan salah satu kakinya terjerat kawat. Kawat itu adalah bekas kawat rem sepeda motornya. Babi hutan yang terjerat ukurannya besar sekali.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Gonggongan si Blacky membuat babi hutan itu meloncat-loncat ketakutan. Tanpa menunggu aba-aba dari tuannya, Blacky melompat dan menggigit leher babi hutan itu. Cornelis yang baru tiba di lokasi jerat tersebut langsung mengambil busur dan panah dari punggungnya. Babi hutan yang meronta-ronta itu dipanahnya. Swing…, bles…! Panah itu melesat dan menusuk paha kirinya.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Babi itu terluka. Ia semakin ketakutan tapi segera berubah menjadi ganas. Ia balik menggigit kaki depan Blacky.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Kaing.., kaing…, kaing…, guk…, guk …, guk… &#8221; anjing Blacky berteriak kesakitan.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Gigitannya di leher babi hutan tersebut lepas. Ia meloncat lagi hendak mengigit tapi babi hutan itu bergerak cepat ke samping dan menanduk perut Blacky dengan kedua taringnya yang menjorok keluar dari mulutnya.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Kaing…, kaing…, kaing …, guk…, guk …, guk…. kaing…, kaing…, kaing …, guk…, guk …, guk…,&#8221; Blacky dan babi hutan bertarung mati-matian.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Cornelis tidak berani memanah lagi, takut panahnya nyasar mengenai anjingnya. Anak panah yang tadi dilepaskannya masih menempel di paha kiri babi itu. Ia berjalan mendekati binatang itu yang sedang berkelahi melawan si Blacky. Ketika Cornelis hendak mengambil tombak di punggungnya, tiba-tiba dilihatnya babi hutan tersebut terlepas. Ujung kaki kanan bagian depan yang terikat kawat akhirnya putus di pergelangan akibat rontahan babi itu sendiri.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Walaupun pincang dan berdarah-darah, babi hutan yang terluka ini menjadi lebih beringas menghadapi musuhnya. Dalam sekejap, si Blacky diseruduk dan digigitnya. Anjing itu terluka parah. Ia tidak mampu lagi melawan babi hutan yang sedang mengamuk membela diri. Ia hanya bisa menggonggongnya saja. Kemudian babi itu berlari mengejar Cornelis yang tinggal beberapa meter saja dari binatang itu. Cornelis sekarang balik diburu buruannya.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Ia tidak jadi mengambil tombaknya. Cepat-cepat dicabutnya parang yang menggantung di pinggangnya. Babi hutan itu semakin dekat. Cornelis melompat ke samping. Diayunnya parangnya sekuat tenaga ke kepala babi itu. Tebasannya meleset. Karena tanahnya licin dan berair, Cornelis kehilangan keseimbangan. Ia jatuh terjungkal. Parang yang dipegangnya terlempar darinya sementara busur, anak-anak panah dan tombak di punggungnya sudah berserakan di tanah.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Babi hutan itu berbalik dan menyerangnya lagi. Tak ada waktu baginya untuk memunguti salah satu dari senjata-senjatanya itu. Babi hutan berlari kencang, ia semakin dekat. Taring-taringnya yang panjang, yang mencuat dari mulutnya siap mencabik-cabik tubuh Cornelis. Ia segera bangkit. Ia harus berlari menyelamatkan diri dari amukkan babi hutan ini. Ia berlari sekuat tenaga menuju sebuah pohon yang berdiri tak jauh dari situ.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Berkelahi dengan tangan kosong melawan babi hutan yang ganas ini artinya sama saja dengan cari mati. Pernah seorang penduduk kampung yang berburu di hutan ditemukan mati mengenaskan diamuk babi hutan yang terluka. Cornelis tidak ingin menjadi korban berikutnya. Ia harus berhati-hati seperti yang dinasihati isterinya tadi pagi.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Babi itu berlari mengejarnya dari belakang, diikuti si Blacky yang menggonggong dari belakang. Anjing hitam ini berusaha menolong tuannya. Cornelis berhasil mencapai pohon. Ia melompat dan menangkap dahan pohon yang paling rendah. Ditariknya tubuhnya ke atas. Mulut babi terbuka, ia hampir menggigit betis Cornelis.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Walaupun telah terluka parah akibat gigitan babi hutan itu, si Blacky, anjing pemburu yang setia pada tuannya itu, melompat lagi dan menggigit pantat babi hutan tersebut. Babi itu berbalik dan menyeruduknya dengan taringnya yang tajam. Anjing pemburu itu terlempar.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Untuk mengecoh babi hutan, dari atas pohon, Cornelis membuka bajunya, celana panjangnya dan celana kolornya. Kini ia telanjang bulat. Diremas dan diikatnya pakaiannya itu membentuk sebuah bola. Lalu dilemparnya babi hutan itu.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Bola kain itu mengenai punggung babi hutan. Keringat dan bau badannya yang masih menempel di bajunya membuat babi itu menggigit dan merobek-robek bola tersebut. Beberapa kali bajunya tersangkut di ranting-ranting semak belukar yang tumbuh di sekitar pohon. Sangkutan itu seakan-akan merupakan perlawanan dari bola kain pada babi hutan. Babi hutan semakin mengganas, bola kain itu diobrak-abrik hingga terbongkar. Ia mengamuk terus hingga tak peduli lagi dengan Cornelis dan si Blacky.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Cornelis. Cepat-cepat dia melompat turun mendapati tombak yang tergeletak tidak jauh dari kubangan. Diraihnya tombak itu dan dilemparinya babi hutan yang sedang bergulat dengan baju, celana dan kolornya itu. Tombak menembus rusuk kiri tepat mengenai jantung. Babi hutan itu akhirnya roboh, mati tak berdaya.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Untuk beberapa saat, Cornelis berdiri saja dengan tubuhnya yang telanjang bulat menatapi saat-saat terakhir babi hutan tersebut. Ia memungut lagi pakaiannya. Dikenakannya kembali baju, celana dan kolornya yang sudah hancur dicabik-cabik oleh babi hutan tadi. Pakaiannya kini penuh berlumuran darah dari luka babi hutan.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Babi itu lalu dipikulnya di punggungnya. Anjingnya berjalan mengikutinya dengan terpincang-pincang. Perlahan kedua pemburu yang gagah perkasa ini berjalan meninggalkan hutan. Setelah menyebrangi sungai dan sampai di motor, binatang buruannya ini diturunkannya dari pundaknya, dan diikatnya di jok belakang. Si Blacky kembali didudukkannya di atas tangki bensin. Anjing ini harus istirahat satu atau dua bulan penuh sebelum dapat kembali menemaninya berburu. Ia pun pulang mengenakan pakaian yang compang-camping berlumuran darah dan lumpur tanah.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Siang itu, sesampainya di kampungnya, tetangga-tetangganya sudah ramai menunggu di depan rumahnya. Mereka ingin membeli daging buruan yang masih segar. Terheran-heran mereka melihat pakaian Cornelis yang telah compang-camping itu. Dalam benak mereka, pasti Cornelis telah bertarung habis-habisan melawan babi hutan ini.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Memang dia pemburu yang terhebat di kampung kita, tak ada yang mampu menandinginya,&#8221; kata salah seorang bapak di antara tetangga-tetangganya itu.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/charlesroring.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/charlesroring.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/charlesroring.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/charlesroring.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/charlesroring.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/charlesroring.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/charlesroring.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/charlesroring.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/charlesroring.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/charlesroring.wordpress.com/54/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=charlesroring.wordpress.com&blog=3190708&post=54&subd=charlesroring&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://charlesroring.wordpress.com/2008/09/26/diburu-buruan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e27c6c7e5d39b6f3afb15e4785a9b498?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">charlesroring</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SOFTWARE BAJAKAN</title>
		<link>http://charlesroring.wordpress.com/2008/09/26/software-bajakan/</link>
		<comments>http://charlesroring.wordpress.com/2008/09/26/software-bajakan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 09:18:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>charlesroring</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[papua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://charlesroring.wordpress.com/2008/09/26/software-bajakan/</guid>
		<description><![CDATA[oleh Charles Roring
Suatu sore, seorang misionaris Amerika datang mengunjungi toko bukuku. Orangnya masih muda kira-kira usianya 25 tahun. Ia ditemani seorang anak kira-kira 15 tahun, yang berperan sebagai penerjemah atau mungkin sebagai penunjuk jalan. Mereka baru datang dari kota Serui.
Setelah berkeliling melihat buku-buku yang dipajang di rak-rak, ia akhirnya tiba di rak buku komputer. Di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=charlesroring.wordpress.com&blog=3190708&post=53&subd=charlesroring&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="line-height:200%;text-align:center;margin:0;">oleh <a href="mailto:charlesroring@telkom.net">Charles Roring</a></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Suatu sore, seorang misionaris Amerika datang mengunjungi toko bukuku. Orangnya masih muda kira-kira usianya 25 tahun. Ia ditemani seorang anak kira-kira 15 tahun, yang berperan sebagai penerjemah atau mungkin sebagai penunjuk jalan. Mereka baru datang dari kota Serui.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Setelah berkeliling melihat buku-buku yang dipajang di rak-rak, ia akhirnya tiba di rak buku komputer. Di samping menjual buku-buku komputer, aku juga menaruh software bajakan, kira-kira 30 keping banyaknya, termasuk beberapa produk Microsoft.</p>
<p> <span id="more-53"></span>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Setelah membolak-balik beberapa keping, ia kemudian mendatangiku dan mulai mengajak bercakap-cakap. Aku sudah bisa menerka apa yang hendak dikatakannya.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Ia mulai angkat bicara, &#8220;buku-buku kamu cukup banyak, bagus. Ini sangat membantu masyarakat Papua dalam bidang pendidikan dan pengetahuan.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Nampaknya ia memuji terlebih dahulu,&#8221; pikirku. Lalu aku jawab, &#8220;&#8221;Memang benar, tapi buku yang saya sediakan belum terlalu banyak bila dibandingkan dengan toko buku ada di kota-kota besar di Pulau Jawa.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Tapi, ini sudah cukup membantu dan bermanfaat bagi masyarakat lokal&#8221; katanya lagi.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Semoga demikian,&#8221; jawabku singkat.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Aku lalu mempersilahkan dia duduk. Aku mengambil lagi sebuah kursi plastik dan mempersilahkan penerjemahnya duduk. Si penerjemah duduk dan diam saja, karena dia tahu, dia tidak diperlukan dalam percakapan ini.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Saya lihat kamu menjual software bajakan, ini tidak baik.&#8221; kata Misionaris Amerika itu sambil menatap mataku.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Nah, komentar tersebut yang aku tunggu-tunggu. Aku tidak membantah mengenai hal ini, &#8220;Anda benar, ini pembajakan, dan saya tahu ini melanggar hukum.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Kamu sudah tahu ini ilegal dan kamu masih menjualnya? Kamu pasti memperoleh untung banyak sekali dari penjualan tersebut.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Aku mengiyakan lagi pernyataannya itu, tapi tidak sepenuhnya. &#8220;Kalau ini ilegal &#8211; memang iya. Tapi kalau mengambil keuntungan yang banyak sekali &#8211; saya kira tidak. Memang ada keuntungan tapi terlalu sedikit karena saya jual tidak banyak, hanya beberapa puluh keping dengan harga standard yakni 25 ribu per keping. Lagipula saya tidak menggandakannya. Software-software itu didatangkan dari Pulau Jawa. Dan tidak semua harus pakai lisensi karena sebagiannya adalah <em>open source</em>.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Kami berdua kemudian terlibat dalam perdebatan yang cukup panjang dan melelahkan mengenai <em>intellectual property rights</em> serta <em>copyright protection</em>.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Aku berbicara sedikit tentang Bern Convention 1956 mengenai toleransi terhadap pengkopian material untuk keperluan studi pribadi. Sebagaimana yang telah aku lakukan saat memfotokopi buku terbitan Longman ketika memberi kursus bahasa Inggris gratis kepada pemuda-pemudi Papua baru-baru ini. Namun dia meragukan konvensi itu dengan alasan sudah terlalu lama dan mungkin telah kedaluarsa.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Ia selanjutnya berbicara tentang artikel dalam sebuah majalah terkenal di Amerika yang menjelaskan mengenai kerugian yang diderita oleh industri entertainment di negaranya sebanyak ratusan milyar dollar, sebagai akibat dari pembajakan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Tidak lupa pula ia mengajarkan tentang moralitas kekristenan yang ia simpulkan bahwa pembajakan adalah dosa. Yang jelas, semua yang dikatakannya adalah benar dan sangat idealis.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Dalam pandangan-pandangan yang aku paparkan padanya, aku mengatakan bahwa sayang sekali Amerika &#8211; negara asalnya &#8211; dan korporat-korporat multinasionalnya tidak se-idealis pemikirannya.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Aku katakan bahwa aku bersedia menghentikan penjualan software bajakan di tanah Papua, detik ini juga, kalau aparat keamanan berbuat hal yang sama di Pulau Jawa. Selama jutaan keping software bajakan masih dijual di Pulau Jawa, maka harus ada <em>balance</em>. Masyarakat Papua juga berhak mempelajari IT dengan buku-buku asli dan walaupun terpaksa dengan software-software bajakan.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Menurut pendapatku, perusahaan-perusahaan pembuat software cenderung membiarkan terjadinya pembajakan terlebih dahulu supaya software mereka bisa dipakai secara luas oleh masyarakat. Setelah tercipta ketergantungan terhadap software tersebut, maka perlahan-lahan mereka mendesak pemerintah-pemerintah di negara berkembang untuk menghormati dan melindungi hak cipta mereka.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Menurut pendapatku, Amerika Serikat tidak selalu meninggalkan kesan yang baik di mata rakyat Papua.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Memang benar, Amerika turut berjasa dalam memperkenalkan kekristenan dan membuka peradaban modern di tanah Papua. Memang benar, Amerika mengusir Jepang yang kejam di tanah Papua. Memang benar, Amerika banyak memberikan bantuan kemanusiaan, dalam kerangka USAID, untuk penanggulangan bahaya HIV-AIDS, Malaria, polio; serta dukungan bagi peningkatan kualitas pendidikan, dan good governance serta program-program lainnya di Papua.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Tapi orang Papua juga turut berjasa setidaknya bila dilihat berdasarkan sejarah. Bahwa selama Perang Pasifik berkecamuk di tanah Papua, rakyat Papua yang masih sederhana banyak membantu tentara Amerika. Orang-orang Papua memikul tentara-tentara Amerika yang tertembak atau terluka di atas tandu dari garis ke garis belakang untuk perawatan.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Ketika ada tentara Amerika yang jatuh dengan pesawat dan tersesat di lembah Sangrila Pegunungan Bintang, orang-orang Papua pedalaman juga membantu mereka, Setidaknya tidak memberikan mereka makan dan minum. Bahwa orang Papua juga ikut berperang dengan persenjataan seadanya melawan tentara Jepang di daerah kepala burung demi mengusir Jepang, bahu-membahu dengan tentara kerajaan Belanda yang terpaksa melakukan perang gerilya.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Keadaan sekarang ini, sangat memprihatinkan. <em>Multi National Corporation</em> milik Amerika Serikat seperti Freeport telah mengaduk-ngaduk perut bumi di kawasan Tembaga Pura, mengeruk tembaga, emas dan mineral berharga lainnya serta dan meninggalkan limbah tailing berton-ton. Sementara itu kesejahteraan masyarakat pada umumnya belum banyak meningkat. Demikian pula, salah satu MNC milik Amerika telah menyedot jutaan barrel minyak bumi di wilayah Sele, Kabupaten Sorong. Setelah sumur-sumur di sana menipis, mereka pergi begitu saja tanpa mengimplementasi CSR (<em>Corporate Social Responsibility</em>) secara serius. Perut bumi Papua telah dikuras oleh perusahaan Amerika. Di samping itu, sebuah perusahaan gas raksasa, milik Inggris, akan menyedot gas dalam jumlah triyunan kaki kubik dari dalam perut bumi kawasan Teluk Bintuni, Papua selama beberapa puluh tahun mendatang. Sedangkan tuntutan kompensasi hak ulayat masyarakat adat masih menjadi masalah. Hal ini belum termasuk masalah lingkungan hidup di mana akan terjadi emisi karbon dioksida di daerah itu dalam jumlah yang sangat besar.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Semua hal di atas belum termasuk peran Amerika Serikat yang jelas sangat kontroversial dalam sejarah dekolonisasi Papua yang sengaja tidak aku katakan kepada misionaris Amerika itu.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Jadi apa artinya beberapa keping software bajakan yang mengakibatkan sedikit kerugian beberapa ratus dollar di pihak perusahaannya Bill Gates dibandingkan dengan bermilyar-milyar dollar kekayaan tanah Papua yang dikeruk oleh MNC-MNC Amerika dan Inggris?</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Mengenai moralitas Kristen yang dikotbahkan misionaris Amerika tersebut kepadaku, secara sederhana aku menjawab begini;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Ya, memang pembajakan software adalah salah dan &#8216;berdosa.&#8217; Tapi ada juga kasus di mana ketika Yesus sedang mengajar di sebuah rumah yang dikerubuti orang banyak. Ada seorang yang menderita sakit parah. Untuk membawa si penderita kepada Yesus, orang-orang membongkar atap rumah. Dan menurunkan si penderita tersebut dengan tandu ke hadapan Yesus. Membongkar atap rumah orang lain adalah melanggar hukum. Tapi mukjizat terjadi, dan orang sakit itu disembuhkan. Ini bukan <em>logical conclusion</em> atau alasan untuk membenarkan pembajakan software tapi setidaknya ini adalah ilustrasi yang bisa dipakai untuk melihat kerja-kerja pemberdayaan di tanah Papua.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Misionaris Amerika ini, nampaknya agak kaget ketika aku mengutip cerita di dalam injil untuk menjawab komentarnya tentang pandangan moralitas Kristen terhadap pembajakan software. Kemudian aku menjelaskan lagi padanya, bahwa dengan segala keterbatasan yang ada, aku berusaha mengambil peran dalam pemberdayaan masyarakat Papua sesuai dengan kemampuanku. Kerja-kerja pemberdayaan itu antara lain; pembuatan <em>reading corner</em>, penyelenggaraan kursus bahasa Inggris selama beberapa bulan belakangan ini kepada muda-mudi Papua, kursus web-design, dengan software bajakan tentunya, kepada beberapa mahasiswa dan pekerja sosial. Belum termasuk pelatihan pembuatan barang kerajinan tangan khas Papua serta promosi para seniman Papua ke manca-negara. Semua yang diselenggarakan secara gratis itu tidak ada artinya, karena aku telah berbuat berdosa dan terancam masuk neraka hanya karena menjual software bajakan.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Perdebatanku dengan misionaris muda tersebut tidak berhasil membuahkan kesepakatan atau kesimpulan apa-apa. Akhirnya setelah berjabatan tangan denganku, ia pamit sambil tersenyum. Komentar terakhirnya, &#8220;Baru kali ini saya bertemu dengan seseorang yang mengutip cerita pembongkaran atap rumah di dalam Injil untuk sebagai tanggapan atas kritikan saya mengenai pembajakan software.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Aku hanya bilang, &#8220;Yang aku jual kepada mahasiswa adalah software bajakan, dan bukan film-film barat yang banyak <em>adult content-nya</em>.&#8221; Dua pembajakan yang berbeda motivasi dan tujuan. Oh, iya, aku tidak tahu namanya karena kami tidak sempat berkenalan.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:right;margin:0;">Manokwari, 17 Mei 2008</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/charlesroring.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/charlesroring.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/charlesroring.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/charlesroring.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/charlesroring.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/charlesroring.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/charlesroring.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/charlesroring.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/charlesroring.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/charlesroring.wordpress.com/53/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=charlesroring.wordpress.com&blog=3190708&post=53&subd=charlesroring&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://charlesroring.wordpress.com/2008/09/26/software-bajakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e27c6c7e5d39b6f3afb15e4785a9b498?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">charlesroring</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TES PEGAWAI</title>
		<link>http://charlesroring.wordpress.com/2008/09/26/tes-pegawai/</link>
		<comments>http://charlesroring.wordpress.com/2008/09/26/tes-pegawai/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 09:16:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>charlesroring</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://charlesroring.wordpress.com/2008/09/26/tes-pegawai/</guid>
		<description><![CDATA[oleh Charles Roring
Maria bekerja di sebuah agen perjalanan yang melayani penjualan tiket maskapai penerbangan Batavia, Merpati dan Express Air. Sudah enam tahun ia mengabdi di perusahaan kecil itu. Matoa Travel Agency, nama perusahaan itu. Maria tidak tahu persis mengapa bosnya menamai agen perjalanan ini, Matoa. Yang jelas, Matoa adalah nama buah asli Papua yang ukurannya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=charlesroring.wordpress.com&blog=3190708&post=52&subd=charlesroring&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="line-height:200%;text-align:center;margin:0;">oleh <a href="mailto:charlesroring@telkom.net">Charles Roring</a></p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Maria bekerja di sebuah agen perjalanan yang melayani penjualan tiket maskapai penerbangan Batavia, Merpati dan Express Air. Sudah enam tahun ia mengabdi di perusahaan kecil itu. <em>Matoa Travel Agency</em>, nama perusahaan itu. Maria tidak tahu persis mengapa bosnya menamai agen perjalanan ini, Matoa. Yang jelas, Matoa adalah nama buah asli Papua yang ukurannya sedikit lebih besar dari buah lengkeng. Warna kulitnya hitam, isi dagingnya putih dan manis.</p>
<p> <span id="more-52"></span>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Para calon penumpang yang membeli tiket di <em>Matoa Travel Agency</em> lumayan banyak. Kebanyakan adalah para pejabat pemerintah yang sering terbang ke Jakarta. Katanya untuk urusan dinas. Sering, ketika sedang melayani mereka, ia diceritakan tentang gemerlapnya kota Jakarta. Gedung-gedung megah yang berjejer di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman, sudah akrab di telinganya. Begitu pula nama beberapa hotel berbintang begitu sering didengarnya dari pejabat-pejabat itu. Yang jelas ia senang kalau mereka datang. Ini berarti target penjualan tiket yang dikenakan bos akan mudah dicapainya.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Walaupun sudah bertahun-tahun bekerja di agen perjalanan ini, untuk berlibur ke luar daerah saja, ia tidak mampu. Biaya tiket pesawat ke Jakarta dari Sorong, Papua bisa mencapai satu koma delapan sampai dua juta rupiah, tergantung musimnya. Bila mendekati hari-hari raya keagamaan seperti Idul Fitri dan Natal, tentu harganya akan naik selangit.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Dari apa yang didengar Maria berdasarkan penuturan para pejabat itu, menurutnya profesi sebagai pegawai negeri sipil di Papua ternyata sangatlah menjanjikan. Di samping banyak sekali fasilitas yang bisa dinikmati, gaji bulanan selalu lancar diterima. Berbeda dengan perusahaan tempatnya bekerja. Kadang-kadang, gaji terlambat dibayar karena karyawan belum memenuhi target penjualan mereka. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila Maria ikut tergoda menjadi pegawai negeri sipil.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Hampir setiap tahun pemerintah provinsi Papua Barat dan Pemerintah Kabupaten Sorong menyelenggarakan Tes Penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil. Ribuan orang selalu mengikuti tes tersebut. Perekonomian di kota-kota di Papua belum banyak yang digerakkan sektor swasta. Jumlah perusahaan swasta masih sedikit sekali. Oleh karena itu, setiap kali ada tes penerimaan pegawai negeri, banyak sekali pelamar yang berbondong-bondong mendaftar. Maria salah satu dari mereka.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Tahun 2007 ini, untuk ketiga kalinya ia mengikuti tes pegawai. Pada dua tes yang sebelumnya, dia tidak lulus. Maria kecewa, tapi ia tidak patah semangat. Oleh karena itu, pada hari pertama loket pendaftaran dibuka, berkas lamarannya sudah lengkap. Ia langsung memasukkannya ke panitia.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Masa penerimaan berkas pendaftaran tes CPNS berlangsung hampir satu bulan. Setelah itu, panitia akan menyelenggarakan tes penyaringan untuk menentukan siapa saja yang akan lulus.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Sebenarnya Maria kurang percaya diri menghadapi tes itu. Sejak lulus dari SMK jurusan administrasi perkantoran enam tahun yang lalu, Maria tidak lagi membuka-buka buku pelajaran. Yang dibacanya setiap bulan hanyalah sejumlah majalah wanita yang lebih banyak membahas masalah kawin cerai artis ibu kota.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Maria memiliki seorang adik. Namanya Martha. Martha sekarang kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Papua. Ia sudah semester sembilan. Sebentar lagi, ia akan lulus. Ia sedang menyusun tugas akhirnya Selama ini Marialah yang membantu Martha dalam membiayai kuliahnya. Oleh karena itu, di suatu siang ketika mereka sedang berada di dapur, Maria membujuk Martha.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Martha, minggu depan saya harus ikut tes penerimaan pegawai.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Oh, jadi Kakak melamar lagi? Aku pikir Kakak sudah menyerah karena selama dua ujian yang lalu tidak lulus.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Dengar, selama masih ada kesempatan, tidak ada salahnya kalau saya mencoba terus.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Bagus, kalau begitu, semoga kali ini Kakak bisa lulus. Aku pasti doakan.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Martha, sebenarnya saya tidak terlalu yakin bakal lulus tahun ini. Jadi kakak harap Kamu bersedia membantu.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Maksud Kakak?&#8221; tanya Martha tidak mengerti</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Begini,&#8221; bisik Maria sambil menggeser tempat duduknya agar lebih dekat dengan adiknya, &#8220;kakak selama ini hampir tidak pernah belajar. Kamu kan tahu bahwa sejak lulus enam tahun yang lalu, kakak tidak pernah lagi membuka-buka buku pelajaran. Sebagai akibatnya, kakak sudah lupa semua mata pelajaran yang diajarkan di sekolah.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Lalu, apa hubungannya dengan aku?&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Kamu kan masih kuliah, jadi setidaknya berbagai pengetahuan umum yang selama ini kamu pelajari di bangku kuliah masih bisa kamu ingat. Bagaimana kalau saat ujian nanti, Kamu yang menggantikan kakak.&#8221; pinta Maria dengan nada suara merayu.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Aduh, itu berbahaya, Kak. Kalau sampai ketahuan oleh panitia, Kakak pasti tidak lulus. Di samping itu, aku harus berurusan dengan polisi.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Ah, tidak mungkin ketahuan. Wajah kita berdua sangat mirip. Panitia tidak akan tahu. Yang penting kamu jangan beritahu siapa-siapa.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Tapi kalau ketahuan, bagaimana?&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Percaya saja, Kamu tidak akan ketahuan. Yang penting jangan bilang siapa-siapa.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;OK, kita lihat saja nanti,&#8221; kata Martha ragu-ragu.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Martha tidak menuntut apa-apa dari kakaknya sebagai imbalan atas kesediaannya menggantikan kakaknya saat ujian nanti. Ia tahu bahwa kakaknya telah banyak berkorban membiayai perkuliahannya selama ini.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Tanggal pelaksanaan tes penerimaan calon pegawai negeri sipil pun tiba. Panitia telah menyewa beberapa gedung sekolah dasar untuk keperluan tes tersebut. Sehari sebelum tanggal ujian, Martha mendatangi ruang panitia untuk mencari tahu nomor kursi kakaknya. Setelah membaca daftar panjang nama-nama peserta tes, akhirnya Martha mendapati bahwa nomor kursi kakaknya adalah 777 yang berlokasi di gedung SDN 01 Sorong.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Sore harinya, Martha pergi ke salon dan meminta rambutnya dipangkas agar wajahnya semakin mirip dengan wajah kakaknya. Di malam hari Martha tidak belajar sama sekali, ia lebih tertarik menonton tv hingga jam sepuluh.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Keesokan harinya, Martha nampak antri bersama banyak peserta tes menuju ruang ujian mereka masing-masing. Ketika nomor ujiannya dipanggil, Martha berjalan masuk dengan gugup. Dia menarik tiga nafas panjang guna menenangkan dirinya. Di samping pintu masuk, petugas memeriksa kartu peserta ujiannya. Ternyata petugas itu tidak curiga sama sekali.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Dengan nafas lega, Martha duduk di kursi. Tempat duduknya berada di baris paling depan, di ujung sebelah kiri, dekat pintu. Ia melihat ke kanan. Semua peserta ujian nampak tenang memasuki ruang kelas. Lima belas menit kemudian ujian dimulai.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Ketika ia baru mulai menjawab soal-soal di halaman pertama, tiba-tiba petugas berdiri dan berjalan ke arahnya, sambil membawa secarik kertas. Melihat hal itu jantung Martha berdegup kencang, &#8220;Aduh, ketahuan!&#8221; katanya dalam hati, &#8220;Bagaimana ini?&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Maaf, apa anda Maria,&#8221; tanya petugas itu.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Iya,&#8221; jawab Martha sambil balik bertanya, &#8220;Ada apa, Pak?&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Tolong, tanda tangan di kolom daftar hadir ini,&#8221; kata petugas itu sambil menunjuk kolom tanda tangan di kertas itu, &#8220;setelah itu, kertasnya diberikan kepada peserta yang ada di belakang Anda. Begitu terus sampai daftar hadirnya terisi semua.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Oh, iya,&#8221; jawabnya.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Daftar hadir itu segera ditandatanganinya dan diserahkannya ke peserta lain yang duduk di belakangnya. Ternyata apa yang dikuatirkannya tidak terjadi.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Ujian berjalan lancar dan berlangsung selama tiga hari. Setelah ujian berakhir ia segera pergi ke kantor <em>Matoa Travel Agency</em>, tempat kakaknya bekerja.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Bagaimana ujiannya, Martha?&#8221; tanya Maria, kakaknya.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Kakak kan tahu, aku tidak belajar. Jadi aku tidak yakin dengan hasilnya.&#8221; kata Martha kepada kakaknya.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Tidak masalah, yang penting kamu sudah berusaha membantu saya. Tapi apa soal-soalnya susah?&#8221; tanya Maria lagi.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Ada yang susah, ada juga yang gampang,&#8221; jelas Martha, &#8220;Kak, kita pulang sekarang.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Tunggu sedikit lagi.&#8221; ujar Maria sambil merapikan meja kerjanya, &#8220;Sebentar, saya akan traktir Kamu di restoran <em>sea food</em> yang terletak di dekat Pasar Remu sore ini.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Nah, itu yang kutunggu dari mulut Kakak, he… he… he….&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Satu setengah bulan kemudian hasil ujian diumumkan oleh panitia. Nama Maria dengan nomor 777 tercantum di koran Sinar Papua. Ia adalah salah satu dari seratus Calon Pegawai Negeri Sipil yang lulus tes. Semua ini berkat usaha adiknya, Martha.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Tiga bulan setelah itu, Martha diwisuda. Ia sekarang bergelar Sarjana Ekonomi. Semua ini juga berkat dukungan kakaknya, Maria.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/charlesroring.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/charlesroring.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/charlesroring.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/charlesroring.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/charlesroring.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/charlesroring.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/charlesroring.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/charlesroring.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/charlesroring.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/charlesroring.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=charlesroring.wordpress.com&blog=3190708&post=52&subd=charlesroring&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://charlesroring.wordpress.com/2008/09/26/tes-pegawai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e27c6c7e5d39b6f3afb15e4785a9b498?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">charlesroring</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PELACUR DAN SOPIR TRUK</title>
		<link>http://charlesroring.wordpress.com/2008/09/26/pelacur-dan-sopir-truk/</link>
		<comments>http://charlesroring.wordpress.com/2008/09/26/pelacur-dan-sopir-truk/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 09:15:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>charlesroring</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta dalam Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://charlesroring.wordpress.com/2008/09/26/pelacur-dan-sopir-truk/</guid>
		<description><![CDATA[oleh Charles Roring        
Malam minggu adalah malam yang panjang. Kompleks 666, pusat industri hiburan di kota Sorong sejak sore tadi sudah ramai dikunjungi orang. Kompleks ini terletak jauh di luar kota. Perlu waktu satu jam berkendaraan untuk berkunjung ke sana. Walau terpencil, Kompleks 666 selalu ramai dikunjungi para [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=charlesroring.wordpress.com&blog=3190708&post=51&subd=charlesroring&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="line-height:200%;text-align:center;margin:0;">oleh <a href="mailto:charlesroring@telkom.net">Charles Roring</a>        </p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Malam minggu adalah malam yang panjang. Kompleks 666, pusat industri hiburan di kota Sorong sejak sore tadi sudah ramai dikunjungi orang. Kompleks ini terletak jauh di luar kota. Perlu waktu satu jam berkendaraan untuk berkunjung ke sana. Walau terpencil, Kompleks 666 selalu ramai dikunjungi para &#8220;wisatawan.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Waktu menunjukkan pukul 20.00 WIT. Semarak lagu dangdut terdengar nyaring di pengeras suara. Para pria larut dalam goyangan dangdut ditemani kaleng-kaleng bir dan wanita-wanita penghibur. Mereka adalah perantau-perantau yang datang ke tanah Papua untuk mengadu nasib. Ada yang bekerja di perusahaan kayu, perusahaan ikan, serta ada pula yang hanya berprofesi sebagai sopir angkutan umum atau tukang ojek. Kebanyakan dari mereka datang untuk melupakan keletihan dan kepenatan kerja.</p>
<p> <span id="more-51"></span>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Di salah satu kamar yang berjejer di belakang ruang diskotik, seorang wanita baru saja mandi. Namanya Linda. Berdiri di depan cermin, ia mengeringkan tubuhnya dengan sebuah handuk yang berhiaskan ornamen ikan, kapal dan lautan. Handuk ini pemberian Oom Gendut yang bekerja di sebuah kapal ikan. Handuk itu dibeli Oom Gendut waktu ia berlayar ke Jepang.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Dulu sebulan sekali Oom Gendut datang mengunjunginya. Ia selalu memberi uang yang banyak sekali kepadanya. Linda bisa memperoleh lima ratus ribu rupiah setiap akhir pekan kalau menemani Oom Gendut itu. Sayang sekali, Oom Gendut tidak pernah lagi menampakkan dirinya di tempat ini. Oom Gendut pernah bilang daerah operasi kapal ikannya akan dipindahkan ke kawasan selatan perairan Papua, atas perintah kantor pusat yang berkedudukan di Jakarta. Oleh karena itu ia tidak akan bisa bertemu Linda lagi. Linda tidak bersedih hati. Hampir setiap hari selalu saja ada pria yang datang dan mengajaknya bermain cinta.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Sejenak Linda memandangi tubuhnya yang telanjang bulat di hadapan cermin. Kulitnya yang putih mulus, lekak-lekuk tubuhnya yang indah dan payudaranya yang kencang adalah modal utamanya dalam menjaring rupiah di perantauan ini. Tak terhitung banyaknya lelaki yang pernah jatuh ke dalam pelukannya. Ia tahu ia semakin tua. Tak selamanya kulitnya mulus, tak selamanya lekak-lekuk tubuhnya menarik, tak selamanya payudaranya menonjol kencang. Semua ada waktunya. Dan waktunya itu kian pendek. Mulai sekarang ia harus mempersiapkan diri. Walaupun masih kelihatan cantik, ia tidak muda lagi. Usianya sudah mencapai tiga puluh lima tahun.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Baru-baru ini, manajer Kompleks 666 mendatangkan puluhan &#8220;pelayan-pelayan kafe&#8221; dari Sulawesi Utara. Mereka putih bersih, usia mereka masih sangat muda. Rata-rata delapan belas tahun ke atas dan kuat minum. Manager menyukai pelayan yang kuat minum ketika menemani tamu demi meningkatkan omset penjualan Bar 666. Sepintas, penampilan wanita-wanita penghibur asal Sulut mirip aktris Mandarin dalam film-film Hongkong. Hanya saja, mereka itu dikirim dari kampung-kampung di Minahasa.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Andai saja Linda tidak memiliki ketrampilan khusus, ia pasti sudah dipensiunkan dari Kompleks 666. Walaupun dengan kemampuan suara yang pas-pasan, Linda bisa menyanyikan lagu-lagu pop barat dengan baik. Rata-rata wanita penghibur di Kompleks 666 tidak pandai menyanyi lagu barat. Kebanyakan hanya mampu menyanyikan lagu pop biasa dan dangdut. Oleh karena itu Linda masih memiliki sejumlah penggemar setia.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Ia pernah kursus bahasa Inggris selama tiga bulan di Surabaya sebelum merantau ke Papua. Rencananya ia akan bekerja di sebuah perusahaan gas alam yang dikelola oleh sebuah konsorsium asing. Sayang sekali, nasibnya saja yang kurang beruntung sehingga ia terdampar di kompleks prostitusi ini.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Sehabis mengusapi wajah dan sekujur tubuhnya dengan bedak, Linda lalu menyemproti ketiak-ketiak dan lehernya dengan parfurm berbau mawar. Tubuhnya wangi. Kemudian ia mengenakan bh, celana dalam, rok, dan baju. Semua pakaian luar dan dalam yang dipakainya malam ini berwarna merah menyala. Roknya pendek sekali, satu jengkal ke paha bila diukur dari lututnya. Kalau ia duduk dengan paha sedikit terbuka, orang yang berhadapan dengannya, pasti dengan mudah dapat melihat pangkal paha dan selangkangannya yang dibalut kain berwarna merah. Bibirnya juga digoresnya dengan lipstik tipis berwarna merah. Semuanya berwarna merah.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Selesai berdandan ia tak berencana pergi memajang diri di &#8220;akuarium&#8221; depan.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Tiga bulan terakhir ini, dia kerap dikunjungi seorang pemuda yang sedang tergila-gila padanya. Pemuda itu berumur 27 tahun. Namanya Aldo. Ia seorang sopir truk yang hampir setiap hari lewat di depan Kompleks 666. Truk itu mengangkut kapur, batu, pasir, kayu atau hasil-hasil pertanian ke kota.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Suatu siang Aldo bersama sopir-sopir truk lainnya mampir di Kompleks 666 untuk sekedar makan dan mabuk-mabukkan. Ketika itu, Linda sedang bekerja. Linda menyanyikan lagu-lagu barat. Aldo juga menyukai lagu-lagu itu. Mereka lalu bernyanyi bersama.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Awalnya Linda hanya memperlakukan Aldo seperti pelanggan-pelanggan lain, tak ada yang istimewa. Namun Aldo semakin sering mengunjunginya. Setiap kali berduaan di kamar, Aldo memperlakukannya dengan lembut dan istimewa. Perilakunya berbeda dibandingkan pria-pria lain yang pernah ia layani.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Di antara para operator <em>chain saw</em>, pelaut, sopir taksi atau tukang ojek yang singgah untuk menyalurkan kebutuhan biologis mereka di Kompleks 666, ada beberapa orang yang perilakunya kurang Linda sukai. Ada yang datang dengan badan belum mandi dan berbau keringat. Ada pula yang mabuk berat sehingga suka memukul. Meskipun butuh rupiah, Linda enggan melayani orang-orang seperti itu.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Walaupun berprofesi sebagai pelacur, ia menginginkan pelanggan yang bersih, sopan dan mau memperlakukannya sebagai seorang wanita. Terlebih lagi bila pelanggan itu membawa bunga padanya. Aldo adalah satu-satunya pelanggan yang suka membawa seikat bunga mawar untuknya.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Belakangan ini Linda sering dikunjungi Aldo. Dalam seminggu Aldo bisa menginap di kamarnya tiga sampai empat kali. Lama-kelamaan Linda jatuh cinta padanya. Alis mata Aldo yang tebal dan tatapan matanya yang tajam, membuat Linda semakin menyukai pemuda ini. Namun demikian, Aldo belum pernah mengungkapkan cintanya padanya.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Mungkin Aldo hanya ingin menyalurkan kebutuhan biologisnya saja, tidak lebih. Mungkin pemuda itu hanya menyukaiku karena aku cukup berpengalaman di tempat tidur, tidak lebih. Mungkin sopir truk yang tampan ini hanya menyukai suaraku membawakan lagu-lagu barat di panggung karaoke saja, tidak lebih.&#8221; Linda berusaha mencari jawaban mengapa pemuda ini sering mendatanginya.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Sebenarnya, bayaran yang diterima Linda setiap kali melayani Aldo tidaklah tinggi. Bahkan Aldo pernah tidak membayarnya sama sekali dan berjanji akan memberi lebih pada kesempatan berikutnya. Linda tidak marah karena ia menyukai pemuda ini. Memang Aldo menepati janjinya, ia membayar lebih setelah itu, padahal Linda tidak pernah menagih apa-apa.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">*</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Linda yakin, malam ini Aldo akan datang. Ia berjalan menuju tempat tidurnya. Ditariknya ujung-ujung seprei dan disisipkannya di bawah kasur. Dibersihkannya permukaan kasur hingga kelihatan kencang dan rapi. Kursi plastik berwarna hijau dirapatkannya ke meja rias. Sampah-sampah yang masih tersisa di atas meja dibuangnya ke tong sampah di luar kamar. Disapunya lantai kamarnya hingga terasa licin tak berdebu. Setelah kamarnya benar-benar bersih dan rapi, ia kembali duduk di atas tempat tidurnya. Ia menyalakan TV kecil miliknya yang terletak di samping meja rias dan menyaksikan iklan sebuah kompleks hunian baru di kota Jakarta.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Tak lama kemudian pintu kamar berbunyi, &#8220;tok, tok, tok…. tok, tok, tok&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Linda membuka pintu. &#8220;Hai,&#8221; ucapnya pada pemuda yang telah dari tadi ditunggunya, &#8220;Aku pikir kamu tidak akan datang.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Aku kan sudah bilang, aku pasti datang malam ini,&#8221; kata Aldo sambil langsung memeluknya. Mereka berdua berciuman lama.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Linda mengambil barang bawaan Aldo. Seikat mawar yang dibungkus dalam kertas koran dan sebuah bungkusan plastik yang berbau makanan. Ditaruhnya semua di atas meja.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Bagaimana pekerjaanmu hari ini?&#8221; tanya Linda pada pelanggannya itu.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Lumayan. Tadi aku tiga kali mengangkut pasir kapur ke rumah seorang pengusaha. Ia ingin memperbesar rumahnya. Hari ini aku dapat bonus tiga ratus ribu, lumayan buat dihabiskan selama akhir pekan ini bersamamu.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Wah, itu banyak. Syukurlah kalau begitu. Berarti kita bisa bersenang-senang malam ini. Kamu mau minum apa? Nanti aku ambil di bar depan.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Tidak usah repot-repot. Aku sudah membawa makanan dan minuman untuk kita berdua.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Aldo membuka kantong plastik besar yang tadi dibawanya. Dikeluarkannya tiga kotak karton berwarna putih. Isinya nasi, ayam goreng, dan capcai. Dikeluarkannya lagi sebotol besar Sprite dingin. Linda mengambil piring dan gelas. Mereka berdua lalu menyantap makanan itu. Sekali-sekali mereka dua bersuap-suapan.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Meskipun larut dalam canda dan tawa, Linda bisa merasakan bahwa Aldo sedang gugup malam itu. Dalam hati, ia berpikir mungkin ini pesta perpisahan, dan Aldo akan meninggalkannya setelah itu. Sebagai seorang pelacur, ia tidak bisa menahan pemuda yang tampan ini. Sehabis makan, Linda membuang sisa-sisa makanan serta membersihkan lagi kamarnya. Sementara itu, Aldo pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah itu, mereka kembali naik ke tempat tidur. Aldo berbaring di kasur sedangkan Linda duduk melipat kedua kakinya sambil memijiti kedua paha pemuda itu.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Linda,&#8221; kata Aldo, &#8220;Aku ingin membicarakan sesuatu.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Ada apa?&#8221; Linda mendekat dan menindih Aldo. &#8220;Kamu mau bicara apa?&#8221; ujar Linda sambil duduk di atas kedua pangkal paha Aldo dan perlahan-lahan membuka kancing bajunya.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Sabar dulu Linda, aku mau membicarakan sesuatu denganmu sekarang.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Melihat wajah Aldo nampak serius, Linda berhenti menindihnya dan mengancing kembali pakaiannya.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Kamu kelihatan gugup dari tadi. Ada apa?&#8221; tanya Linda sambil mengecup mata Aldo.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Begini, aku tidak pandai merangkai kata-kata untuk mengatakan hal ini padamu. Kamu tahu belakangan ini aku sering mengunjungimu.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Iya, aku tahu, kamu suka datang kemari. Dan tidak ada wanita lain di sini yang kamu kunjungi selain aku. Terima kasih atas semua itu.&#8221; Linda menatap wajah pemuda itu dalam-dalam dengan tatapan mata yang sayu, &#8220;lalu ada apa?&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Sambil menarik nafas panjang Aldo berkata, &#8220;Linda, aku merasa bahwa aku suka padamu, aku sayang padamu.&#8221; Tangan Aldo memegang kedua tangan Linda, &#8220;Tapi masih ada yang mengganjal dalam hatiku.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Mendengar kata-kata itu, Linda menjadi canggung. Ia memang menyukai Aldo, namun ia tidak menyangka bahwa pemuda ini akan jatuh cinta padanya. &#8220;Maksudmu, Kamu mencintai aku?&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Iya, aku mencintaimu.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Lalu apanya yang menjadi ganjalan?&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Keadaanmu yang sekarang. Aku mau kamu berhenti bekerja di tempat ini. Kita bisa hidup bersama.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Aldo, apa kamu serius?&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Aku serius. Tinggalkan tempat ini. Kau bisa tinggal bersamaku di kota.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Aldo, aku ini sudah tua sedangkan kamu masih muda. Aku tiga lima sedangkan kamu dua tujuh. Kamu tampan, tentu ada banyak gadis di kota sana yang tertarik padamu. Mengapa kamu tidak menikahi saja gadis baik-baik, dan jangan aku. Aku hanya seorang pelacur.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Tapi, aku hanya sayang padamu, Linda.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Kamu sayang atau kasihan? Aku tidak butuh dikasihani.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Aku sayang padamu. Justru itu, aku tidak mau bila kamu terus di sini. Aku cemburu bila di hari-hari lain saat aku tidak ada, ternyata kamu sedang berduaan dengan pria lain.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Aldo, aku ini seorang pelacur. Sejujurnya aku suka dan sayang padamu, tapi aku tidak layak menerima cintamu. Kasihan kamu nanti.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Aldo bangkit dari tempat tidur, dia menarik kursi dan duduk di situ. &#8220;Dengar, apa kedatanganku selama tiga bulan ini belum cukup menunjukkan kesungguhanku dan rasa sayangku padamu?&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Belum,&#8221; jawab Linda pendek.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Linda merebahkan diri di tempat tidurnya. Matanya menerawang ke langit-langit kamar, &#8220;Aldo, apa kamu pernah pacaran?&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Pernah, Mengapa?&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Sudah berapa kali kamu pacaran?&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Mungkin sudah lima kali.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Mengapa tidak kamu nikahi saja salah satu dari pacar-pacarmu itu?&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Tak ada yang benar-benar aku cintai&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Aku sudah tua, Aldo. Nanti, kamu tidak akan benar-benar mencintaiku&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Linda, beri aku kesempatan untuk menunjukkan bahwa aku sungguh mencintaimu.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Aldo, usiaku membuat aku tak mampu lagi pacaran seperti layaknya para remaja. Aku sudah terlalu lelah bertualang dengan cinta. Selama aku di sini, aku selalu kalah. Pria-pria yang mengunjungiku kebanyakan sudah beristri. Aku hanya menjadi selingkuhan mereka saja, tempat mereka mencari pemuasan nafsu ketika bosan dengan istri-istri mereka. Hanya kamu saja yang masih bujangan yang sungguh-sungguh menyatakan perasaanmu padaku.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Aku tidak mengajakmu bertualang cinta. Aku sungguh sayang padamu. Jadi aku memintamu berhenti bekerja di sini dan kita pindah ke tempat lain. Di tempat yang baru, kita bisa mulai lagi lembaran hidup yang baru.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Linda terdiam, &#8220;Apakah pemuda ini serius?&#8221; tanyanya dalam hatinya.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Linda tiba-tiba saja merasa gugup, dia bangkit kemudian duduk di tepi tempat tidurnya. Ditatapinya lekat-lekat kedua mata Aldo. Lama mereka bertatapan. Mereka hanya diam saja.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Sementara itu di luar sana, semarak lagu dangdut, dan nyanyian para pemabuk riuh terdengar. Suara desahan nikmat dan lenguhan panjang yang dibuat-buat oleh para wanita penghibur bersama pasangan-pasangan mereka di kamar-kamar lain menembus ke kamar tempat Linda dan Aldo berada. Mereka berdua tidak mempedulikan semua itu.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Linda berdiri. Aldo juga berdiri. Mereka lalu berpelukan erat. Linda menangis. Dibenamkannya wajahnya di dada Aldo yang hangat dan wangi. Mereka larut dalam pelukan, belum ada kata-kata yang terucap. Aldo menunggu jawaban dari Linda.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Aldo, aku juga sayang padamu. Aku akan keluar dari tempat ini. Mulai hari ini aku tidak akan menerima tamu apapun selain kamu.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Linda, keluarlah sekarang juga. Tinggallah bersamaku di kota.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Aku pasti akan pindah. Aku sayang padamu. Tapi, berilah aku waktu untuk berpikir.&#8221; jawab Linda.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">&#8220;Aku lega mendengar jawabanmu itu.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Di usianya yang sudah tiga puluh lima, sebenarnya ia masih menarik bagi pria-pria lain yang lebih kaya, yang suka datang ke Kompleks 666. Namun Linda menginginkan cinta. Ia tidak ingin menjadi isteri kedua atau sekedar selingkuhan orang-orang berduit saja. Ia mendambakan seorang suami yang mencintainya seorang.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Walaupun penuh dengan keragu-raguan akan masa depannya, Linda memutuskan untuk keluar dari Kompleks 666 menuruti permintaan Aldo &#8211; pelanggannya yang kini menjadi kekasihnya. Tapi Linda tidak mau tinggal serumah dengan pemuda itu. Ia memilih tinggal di sebuah tempat kos yang terpisah. Dandanannya tidak lagi menantang seperti sebelumnya.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Mereka lalu pindah ke kota lain di kawasan selatan Papua, yakni Merauke. Di sana enam bulan setelah pindah, akhirnya mereka menikah. Aldo tetap bekerja sebagai sopir truk sedangkan Linda membuka sebuah salon kecantikan di rumah kontrakan mereka. Biar sederhana, mereka hidup bahagia.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/charlesroring.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/charlesroring.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/charlesroring.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/charlesroring.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/charlesroring.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/charlesroring.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/charlesroring.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/charlesroring.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/charlesroring.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/charlesroring.wordpress.com/51/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=charlesroring.wordpress.com&blog=3190708&post=51&subd=charlesroring&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://charlesroring.wordpress.com/2008/09/26/pelacur-dan-sopir-truk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e27c6c7e5d39b6f3afb15e4785a9b498?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">charlesroring</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PENDARAHAN DI MULUT</title>
		<link>http://charlesroring.wordpress.com/2008/09/26/pendarahan-di-mulut/</link>
		<comments>http://charlesroring.wordpress.com/2008/09/26/pendarahan-di-mulut/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 09:13:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>charlesroring</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://charlesroring.wordpress.com/2008/09/26/pendarahan-di-mulut/</guid>
		<description><![CDATA[PENDARAHAN DI MULUT
oleh Charles Roring        
Ruang tunggu bandara Mokmer nampak ramai. Yuli duduk sendiri di dekat jendela kaca yang menghadap ke lapangan terbang. Di apron, sebuah pesawat jet jenis Boeing 737 Seri 200 milik Maskapai Penerbangan Merpati sedang diparkir. Tidak jauh dari pesawat besar itu, ada sebuah pesawat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=charlesroring.wordpress.com&blog=3190708&post=50&subd=charlesroring&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="line-height:200%;text-align:center;margin:0;">PENDARAHAN DI MULUT</p>
<p style="line-height:200%;text-align:center;margin:0;">oleh <a href="mailto:charlesroring@telkom.net">Charles Roring</a>        </p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Ruang tunggu bandara Mokmer nampak ramai. Yuli duduk sendiri di dekat jendela kaca yang menghadap ke lapangan terbang. Di apron, sebuah pesawat jet jenis Boeing 737 Seri 200 milik Maskapai Penerbangan Merpati sedang diparkir. Tidak jauh dari pesawat besar itu, ada sebuah pesawat kecil yang berbaling-baling tunggal di moncongnya. Orang menyebutnya Pilatus. Pesawat ini milik MAF (<em>Mission Aviaton Fellowship</em>).</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Yuli akan terbang dengan pesawat kecil ini ke Numfoor, kota kelahirannya. Kemarin ia baru tiba di kota Biak setelah berlayar dengan KM. Nggapulu selama seminggu dari Tanjung Perak, Surabaya. Ia tercatat sebagai mahasiswi jurusan teknik kimia di UPN Veteran, Jogjakarta. Sudah dua tahun ia tidak berlibur ke Papua. Sebentar lagi ia akan akan bertemu dengan bapak, ibu dan adik-adiknya di Numfoor. Ia rindu masakan ibunya &#8211; ikan bobara bakar -yang dilumuri lemon, irisan cabe dan garam.</p>
<p> <span id="more-50"></span>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Sementara itu di ruang pilot, Capt. Stanley Parker sedang duduk sambil membaca peta navigasi. Pilot muda ini akan menjalani tugas perdananya di tanah Papua hari ini. Ia baru saja dikontrak oleh MAF guna bertugas selama dua tahun. Pesawat-pesawat MAF sangat berjasa dalam membuka keterisolasian di kampung-kampung Papua. Captain Parker akan menerbangkan pesawat Pilatus Porter PC-6.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Pesawat buatan Swiss ini panjangnya 11 meter, lebar sayapnya 16 meter dan tingginya 3 meter. Pesawat tersebut sanggup mengangkut muatan sebanyak lebih dari satu ton atau sepuluh orang penumpang.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Kini Capt. Parker sudah siap. Ia berdiri dan pamit pada petugas yang sedang sibuk dengan kertas-kertas administrasi. Pilot Parker berjalan menuju pesawatnya.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Pengumuman di pengeras suara menyatakan bahwa penumpang dari Biak dengan tujuan Numfoor diminta segera naik ke pesawat Pilatus Porter. Di ruang tunggu, para penumpang berdiri sambil membawa barang bawaan mereka. Yuli ikut berdiri dan berjalan ke pintu yang sedang diawasi oleh petugas MAF. Ia menunjukkan tiketnya kepada petugas itu dengan tersenyum kepadanya. Mereka berjalan menuju ke pesawat kecil itu.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Tak lama kemudian para penumpang sudah berada di dalam pesawat. Yuli duduk di belakang pilot. Tidak ada sekat yang memisahkan kabin penumpang dengan <em>cockpit</em>. Oleh karena itu, para penumpang bisa melihat Capt. Stanley Parker dan bermacam-macam tombol pesawat yang nampak rumit bagi mereka.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Pilotnya sudah ada di dalam pesawat. Ia membalikkan badannya sebentar dan dengan bahasa Indonesia yang masih belum terlalu lancar, ia mengucapkan salam kepada mereka. &#8220;Selamat pagi, Tuan-tuan dan Puan-puan. Nama saya, Stanley Parker. Senang bertemu dengan Kalian semua. Penerbangan kita ke Numfoor akan ditempuh selama kurang lebih dua puluh lima menit, pada ketinggian lima belas ribu kaki. Mohon mengenakan sabuk pengaman.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Para penumpang nampak senang melihat keramahan pilot mereka. Sabuk pengaman segera dikenakan. Pilot mulai menyalakan mesin. Pesawat perlahan-lahan bergerak menuju landasan pacu. Setelah mencapai ujung landasan, pesawat kemudian berbalik dan berlari kencang. Tak lama kemudian pesawat perlahan-lahan terangkat ke udara. Cuaca cerah sehingga penerbangan berlangsung lancar. Para penumpang bisa melihat lautan yang luas membiru saat pesawat bergerak ke selatan melewati Pulau Yapen. Yuli duduk gelisah di tempat duduknya. Sebentar lagi ia akan bertemu dengan keluarganya yang sudah dua tahun ditinggalkannya. Penumpang lain kelihatan santai, tidak ada yang merasa tegang. Ada yang bercakap-cakap, ada yang baca majalah dan ada yang duduk tenang sambil menikmati pemandangan angkasa yang penuh dengan awan-awan putih kelabu.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Yuli merogoh sakunya, diambilnya sebuah pinang muda, sirih dan kapur yang dibungkus dalam sepotong kertas. Ia rindu sekali makan pinang muda. Perlahan-lahan dikupasnya pinang itu dengan giginya. Air pinang muda terasa pahit sepat di dalam mulutnya. Dikunyahnya pinang itu. Ia mencelupkan sebuah sirih ke dalam bubuk kapur lalu dikunyahnya lagi sirih itu. Kini mulutnya terasa panas dan berbau wangi. Mungkin karena lama tidak makan pinang muda, aroma buah yang dihirupnya itu membuat kepalanya pusing. Ia mabuk pinang.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Tak ada penumpang lain yang memprotesnya. Makan pinang adalah sebuah kebiasaan yang umum di Papua. Orang muda dan tua, laki-laki dan perempuan, suka makan pinang.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Sepuluh menit lagi pesawat akan mendarat. Cuaca di Numfoor ternyata berawan tebal. Ketika melewati turbolensi, pesawat bergoncang. Penumpang nampak terhentak beberapa kali dari kursi mereka. Ada yang tenang saja, dan ada pula yang berteriak-teriak menyebut nama Tuhan. Yuli yang sedang pusing akibat makan pinang tiba-tiba saja kaget. Mulutnya terbuka. Ia berteriak, &#8220;Oh, Tuhan tolong! Lindungi kami.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Merasa bahwa para penumpang mengalami kepanikan, pilot menoleh ke belakang. Ia berusaha menenangkan mereka. &#8220;Tuan &#8211; puan harap tenang. Kita hanya melewati turbolensi, pesawat akan mendarat dengan selamat. Tidak usah kuatir.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Captain Parker melihat wajah Yuli yang pucat pasi. Ada darah mengalir turun dari bibir ke dagu gadis muda ini. Darah itu telah mengotori bajunya.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Segera ia mengontak air <em>traffic controller</em> di bandara Numfoor meminta tenaga medis di darat agar siap menjemput seorang gadis yang sedang mengalami pendarahan di dalam pesawat.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Setelah menembus awan tebal, keadaan tenang kembali. Pesawat mendarat dengan mulus di bandara Numfoor. Para petugas kesehatan sudah siap di pinggir bandara lengkap dengan mobil milik MAF yang siap mengantar Yuli ke rumah sakit. Ketika pesawat benar-benar berhenti, mereka langsung mendekati pesawat untuk menjemput gadis yang mengalami pendarahan tersebut.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Yuli turun bersama-sama dengan penumpang lainnya. Sambil tersenyum kepada pilot dan para tenaga medis, ia berkata, &#8220;Maaf, saya tidak apa-apa. Tadi saya hanya makan pinang muda. Waktu pesawat berguncang-guncang di udara, saya berteriak-teriak sehingga cairan pinang muncrat dari mulut saya. Pilot mengira saya mengalami pendarahan di mulut.&#8221;</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Yuli langsung berlari menuju ruang kedatangan penumpang. Di sana telah menunggu kedua orang tua dan adik-adiknya. Mereka berpelukan.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;">Sementara itu, Capt. Parker terbingung-bingung mendengar penjelasan para petugas kesehatan atas kesalahpahamannya tersebut.</p>
<p style="line-height:200%;text-align:right;margin:0;">Manokwari, 17 Mei 2008</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/charlesroring.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/charlesroring.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/charlesroring.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/charlesroring.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/charlesroring.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/charlesroring.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/charlesroring.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/charlesroring.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/charlesroring.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/charlesroring.wordpress.com/50/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=charlesroring.wordpress.com&blog=3190708&post=50&subd=charlesroring&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://charlesroring.wordpress.com/2008/09/26/pendarahan-di-mulut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e27c6c7e5d39b6f3afb15e4785a9b498?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">charlesroring</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>