Diari Charles Roring

alam dan pikiran

Sepeda dan Kebijakan Pembangunan Berkelanjutan Pemerintah Kuba

Ini adalah terjemahan dari artikel saya dalam bahasa Inggris yang berjudul Bicycle and Sustainable Development Policy of the Cuban Government. Mengendarai sepeda adalah aktivitas rekreasional perkotaan yang saya rekomendasikan kepada setiap orang yang mencintai alam. Dalam tulisan saya sebelumnya, saya sebutkan bahwa saya mengendarai sepeda gunung di sore hari sebagai cara untuk menjaga kebugaran tubuh. Rute yang saya pilih adalah Kampung Ambon, Kwawi, Pasir Putih, Arowi dan Bakaro di pinggiran kota Manokwari. Sebenarnya rute ini tidak sesuai dengan dirt jump mountain bike – Polygon Cozmic DX 2.0 yang saya miliki yang roda giginya Shimano Alivio. Jalan sepanjang tempat-tempat ini mulus. Setelah pantai Pasir Putih, jumlah kendaraan bermotor berkurang. Jalan antara pantai Pasir Putih dan Tanjung Bakaro sangat baik untuk para pesepeda yang ingin mengendarai kendaraan tanpa mesin mereka dan pada saat yang sama menikmati udara segar yang dihasilkan oleh pohon-pohon yang tumbuh di sepanjang pantai dan hutan hujan tropis (tropical rainforest) kawasan itu. Berdiri di pantai Pasir Putih, saya bisa menyaksikan lautan indah yang berwarna biru serta Pegunungan Arfak di seberang Teluk Dorey yang juga berwarna biru. Rumah bagi berbagai spesies binatang termasuk burung surga (paradise birds). Ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar, beberapa kapal pesiar suka mengunjungi kota kecil ini. Kapal-kapal itu membawa wisatawan dari Eropa dan Amerika Serikat. Tetapi saya belum pernah melihat Oasis of the Seas datang ke teluk ini. Akan menyenangkan bila saya bisa menyaksikan kapal pesiar yang terbesar dan termewah di dunia itu berada di Teluk Dorey ini. Oh, saya sedang berkhayal di siang bolong, ha…ha…ha….
Nah, sekalipun sepeda tidak dianggap sebagai sumber energi terbarukan, mengendarainya merupakan salah satu cara untuk mengurangi konsumsi bahan bakar fosil dan pada saat yang sama melawan pemanasan global lewat pengurangan emisi gas-gas CO2.

 

Lautan Teluk Dorey Manokwari dan Pegunungan Arfak yang berwarna biru

Lautan Teluk Dorey Manokwari dan Pegunungan Arfak yang berwarna biru

Pelajaran yang Diperoleh Dari Cuba
Beberapa tahun yang lalu, saya menulis sebuah artikel tentang bagaimana Pemerintah Kuba beralih ke energi terbarukan dan mendesak rakyatnya mengendarai sepeda ketika negara tersebut tiba-tiba saja masuk ke dalam krisis ekonomi setelah runtuhnya Uni Sovyet. Artikel saya tersebut diterbitkan oleh Intisari – sebuah majalah nasional di Indonesia. Bahan bakar murah dan bersubsidi yang diimpor dari Russia tidak bisa dinikmati lagi.
Untuk mengantisipasi krisis energi, pemerintah Kuba mengimpor 1.5 juta sepeda dari Cina. Produksi sepeda di dalam negeri ditingkatkan hingga 100.000 unit per tahun. Pada saat yang sama, panel surya photovoltaic diperkenalkan untuk menyediakan energi listrik bagi rumah, sekolah, klinik kesehatan di keseluruhan negeri tersebut. Di samping tenaga surya, Kuba membangun pembangkit listrik tenaga angin (wind farms) dan memasang ratusan pembangkit listrik tenaga mikro-hidro dan biogas yang sangat besar mengurangi ketergantungan Cuba terhadap bahan bakar fosil. Kebijakan pemerintah Kuba dalam menanggulangi krisis ekonomi dengan bertumpu pada energi terbarukan menarik perhatian Perserikatan Bangsa-bangsa sekaligus menepis prediksi negara-negara maju bahwa Cuba akan runtuh setelah tidak ada lagi sokongan dari Uni Sovyet. Pada tahun 2001 Cuba menerima UN Global 500 award. Sekarang Cuba dilihat sebagai model bagi banyak negara di seluruh dunia yang ingin mengembangkan energi terbarukan mereka. Insinyur-insinyur Cuba menolong Bolivia, Honduras, Lesotho, Mali, Nigeria, Afrika Selatan dan Venezuela dalam membangun sektor energi terbarukan mereka.

 

Sepeda Gunung Polygon Dirt Jump Cozmic DX 2.0

Sepeda Gunung Polygon Dirt Jump Cozmic DX 2.0

Budaya Bersepeda Orang Belanda
Di samping belajar dari Cuba, kita – di Indonesia – bisa melihat pada Belanda sebagai contoh yang baik bagi aplikasi energi terbarukan. Orang-orang Belanda mengendarai sepeda ke tempat kerja. Memasang panel surya di atap-atap rumah mereka dan membangun instalasi pembangkit listrik tenaga angin di lautan biru. Sepeda tidak hanya dilihat sebagai hobi tetapi telah menjadi bagian dari gaya hidup atau budaya. Orang-orang Belanda adalah yang pertama kali memperkenalkan kebiasaan bersepeda kepada masyarakat Indonesia selama zaman kolonial. Oleh karena itu, kita bisa belajar dari mereka jika kita serius membangun dengan metoda-metoda yang berkelanjutan.

Baca juga:
Bike to work following Dutch habit and Cuban experience
Cycling can increase productivity
Riding bicycle is one of the ways to create low carbon society
Health benefits of cycling
Mountain bike for ladies
Mountain biking in the Table Mountain

Januari 1, 2011 Posted by | Artikel, Teknologi | , , , , , | 3 Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.