Sekat Kedap Air di Kapal Penumpang dan Teori Insubmersibilitas
oleh Charles Roring
Kapal-kapal pesiar memiliki banyak ruang akomodasi bagi para penumpang. Namun ruang-ruang tersebut tidak berfungsi sebagai sekat kedap air yang penting dalam melindungi kapal dari tenggelam. Bagaimana RMS Titanic tenggelam, selama perjalanan perdananya memunculkan pertanyaan bagi banyak pihak apakah kapal-kapal modern dapat pula mengalami kecelakaan tragis seperti itu di laut. Semua kapal bisa saja berpotensi mengalami kecelakaan di laut dan adalah tanggung jawab arsitek kapal untuk mendesain kapal yang stabil dan tidak mudah tenggelam jika lambungnya bocor akibat tabrakan dengan pulau es, dengan kapal lain atau karena ledakan.
Arsitek kapal ketika merancang kapal tahu bahwa mereka harus membagi kapal menjadi sejumlah kompartemen yang kecil-kecil sebagai tindakan pencegahan untuk melindungi kapal agar tidak mudah tenggelam bilamana kapal itu mengalami kebocoran fatal selama pelayarannya. Sebagai sebuah standard, akan selalu ada tangki forepeak yang dipasangi sekat tabrakan (collision bulkhead) dan tangki afterpeak, dan alas ganda (double bottom) di kapal. Untuk memberi lebih banyak perlindungan ke kapal, arsitek kapal akan menambah beberapa sekat kedap air, menurut peraturan yang diwajibkan oleh biro-biro klasifikasi dan perhitungan tabel kebocoran yang diperkenalkan oleh Admiral Makarov dan diformulasi oleh A.N. Krylov, dua ilmuan Russia.
Kekalahan yang memalukan Russian Navy dari Imperial Japanese Navy selama pertempuran laut Tsushima pada 27-28 May 1905 mendorong ilmuan-ilmuan teknik perkapalan Russia untuk mengkaji ulang secara menyeluruh desain kapal-kapal perang mereka khususnya kapal-kapal tempurnya (battle ships). Selama pertempuran laut, bangsa Russia kehilangan dua pertiga dari keseluruhan armadanya. Kekalahan itu menginspirasi A.N. Krylov dan ilmuan-ilmuan Russia untuk memperkenalkan konsep insubmersibilitas yang di banyak buku teks naval architecture barat seperti Basic Ship Theory 1 dan Introduction to Naval Architecture dikenal sebagai watertight subdivision.
Ketika masih belajar Arsitektur Perkapalan di Universitas Pattimura ambon, Kepulauan Maluku, saya diperkenalkan dengan konsep ini.
Insubmersibility atau insubmersibilitas, menurut buku Statics and Dynamics of the Ships karangan Semyonov dan yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Maria Konyaeva, adalah kemampuan sebuah kapal untuk tetap mengapung ketika satu atau lebih kompartemen-kompartemennya rusak dan terendam air laut. A.N. Krylov memformulasikan bahwa ketika sebuah kompartemen terendam air, satu atau beberapa kompartemen harus diisi air untuk menyeimbangkan kembali atau memulihkan lagi stabilitas kapal. Di samping itu, dia memperkenalkan konsep pembagian kapal, khususnya kapal-kapal perang, dengan kompartemen-kompartemen yang lebih kecil untuk melindungi mereka dari bahaya tenggelam. Pengembangan studi insubmersibilitas kapal perang mengarah pada diperkenalkannya konsep insubmersibiltas 100%. Ini adalah ide inovatif yang diformulasikan oleh A.N. Krylov dan ilmuan Russia lainnya. Dalam konsep ini, sebuah kapal perang akan tetap mengapung, dan masih memiliki kemampuan tempur meskipun semua kompartemennya bocor selama pertempuran laut. Teori apungan cadangan (reserve buoyancy) dibahas secara mendalam di buku itu untuk mendukung konsep insubmersibility 100% dari kapal perang. Saya mendapati bahwa insubmersibility adalah sebuah idea yang brilian dari ilmuan teknik perkapalan Russia yang para arsitek kapal di seluruh dunia perlu mempelajarinya. Subyek ini disajikan dengan baik dalam buku Statics and Dynamics of the Ships. Jika tertarik mempelajari subyek ini, saya menyarankan agar Anda membaca buku itu. Sekarang buku itu ditawarkan oleh penerbitnya di internet. Baca juga: Traveling with Cruise Ship or Private Yacht?; The interior of passenger ship and cruise ship
Stabilitas Kapal Pesiar
oleh Charles Roring
Kapal pesiar atau kapal penumpang adalah struktur terapung kompleks yang dibangun untuk mengangkut penumpang dari satu tempat ke tempat lainnya. Kapal-kapal penumpang modern dilengkapi dengan peralatan navigasi canggih yang akan membantu awak kapal menangani kapal dengan aman.
Di samping itu, kapal-kapal pesiar atau penumpang memiliki geladak yang membuatnya lebih tinggi. Salah satu contoh kapal seperti ini adalah Carnival Destiny. Kapal yang indah ini dibangun oleh Fincantieri Cantieri Navali di Italia dan diklasifikasi menurut Lloyd’s Register, salah satu biro klasifikasi yang paling berpengalaman di dunia. Di samping memiliki 16 geladak, kapal pesiar mewah tersebut memiliki sebuah kolam renang di geladak atas atau geladak matahari (sun-deck). Dari sudut pandang stabilitas, massa air di kolam renang akan menaikkan titik berat kapal VCG.
Di samping itu, semakin tinggi superstruktur kapal, semakin tinggi pula titik berat CG (center of gravity). Kapal-kapal yang memiliki titik berat vertikal yang tinggi (VCG) akan memiliki lengan penegak (righting lever) GZ yang lebih kecil. Kondisi seperti ini berbahaya untuk perjalanan di samudra bebas. Untuk memiliki titik berat vertikal VCG yang rendah atau tinggi metasenter yang lebih besar, desainer kapal akan menyeimbangkan kapal penumpang tersebut dengan tanki-tanki ballast yang diisi air laut.
Di samping itu, perancang kapal akan menggunakan bahan-bahan yang lebih ringan seperti material komposit, aluminium, dan kayu, untuk geladak-geladak yang lebih tinggi sehingga penambahan tinggi CG tidak akan mengorbankan lengan penegak kapal, GZ. Kapal dengan GZ yang lebih besar akan lebih stabil dibandingkan kapal dengan GZ yang kecil. Kapal akan tidak stabil jika tinggi metacenter adalah nol atau negatif.
Sumber: K.J. Rawson dan E.C. Tupper, Basich Ship Theory 1, halaman 105
Di samping, menstabilkan kapal dengan air balas, arsitek kapal biasanya akan mendesain kapal penumpang yang dipasangi sirip pen-stabil. Sirip-sirip ini akan mengurangi periode rolling kapal penumpang atau kapal pesiar hingga pada range yang dapat diterima yakni antara 7-8 detik. Dengan pengaturan ini, kapal akan stabil dan aman untuk berlayar melintasi samudra di seluruh dunia. Baca pula: The effect of turbulence on propeller and safety of cruise ship and Ship Displacement and Capacity Limitation
Kapal Pesiar dan Kapal Penumpang – apa bedanya?
oleh Charles Roring
Kapal pesiar dan penumpang adalah kapal-kapal yang mengangkut orang-orang dari satu pelabuhan ke pelabuhan lainnya. Meskipun kapal-kapal ini nampak mirip, mereka memiliki tujuan yang berbeda. Kapal pesiar biasanya menekankan jasa mereka pada pengalaman berlayar bagi para penumpang yang ada di atasnya dengan berbagai fasilitas seperti restoran, bioskop, geladak matahari untuk berjemur, kolam renang, pusat olah raga, ruang-ruang pijat dan spa. Sedangkan kapal penumpang lebih menekankan pada pengantaran penumpang dari satu pelabuhan ke pelabuhan lainnya secepatnya.
Kapal pesiar, hingga pada taraf tertentu sama dengan hotel. Dengan kata lain, kapal pesiar adalah hotel terapung bagi para pelancong laut atau samudra. Oleh karena itu banyak kapal pesiar yang menjual tiket pulang pergi dan melakukan perjalanan laut atau samudra lebih panjang dari kapal penumpang.
Antara tahun 1800-an dan awal 1900-an, kapal-kapal penumpang merupakan maskapai pelayaran samudra yang mengantar penumpang dan barang dari pelabuhan-pelabuhan Eropa ke Amerika. Berjuta-juta kaum migran pindah dari Eropa ke Amerika menggunakan kapal penumpang. Salah satunya adalah Kapal Uap Pembawa Surat Kerajaan (Royal Mail Steamer) RMS Titanic yang nahas itu. Selama masa itu, perjalanan yang lebih cepat berarti pelayanan kapal yang lebih baik dan keuntungan lebih tinggi yang bisa mereka peroleh karena biaya operasional yang semakin berkurang untuk setiap perjalanan.
Perusahaan pelayaran milik Indonesia, PELNI, mengoperasikan lusinan kapal-kapal buatan Jerman yang melayani penumpang Indonesia yang semakin meningkat.
Dengan diperkenalkannya pesawat-pesawat penumpang besar di tahun 1960an, para pelancong berpindah dari kapal ke pesawat. Untuk layanan transatlantic, kapal-kapal penumpang berhenti beroperasi pada tahun 1986 sedangkan di banyak belahan dunia lainnya seperti Kepulauan Indonesia, Kepulauan Filipina, dan Kepulauan Pasifik, kapal-kapal penumpang masih memainkan peranan yang sangat penting dalam mengantar penumpang dan barang. Pemerintah Indonesia, melalui maskapai pelayaran milik Negara – PELNI, telah membeli lebih banyak kapal penumpang dari Jerman untuk memenuhi peningkatan jumlah orang yang bepergian dari satu pulau ke pulau lainnya.
Penumpang dan buruh di Manokwari Papua sedang menunggu kapal Penumpang PELNI milik Indonesia, KM Nggapulu. Kapal tersebut bisa mengangkut 3.000 orang. Kapal ini dibangun di Jerman.
Indonesia sebagai negara kepulauan terbear di dunia memiliki kurang lebih 17.000 pulau. Indonesia membutuhkan ribuan kapal untuk mendukung mobilitas rakyatnya dan aktivitas ekonomi negara. Oleh karena itu, lebih banyak kapal penumpang dibutuhkan di negara ini. Pasar potensial untuk kapal penumpang, roll on roll off (RORO) atau feri di Indoesia adalah besar dibandingkan kapal-kapal pesiar karena alasan daya beli masyarakat. Situasi yang sama dapat pula dilihat di Filipina di mana masyarakat lebih membutukan kapal penumpang dibandingkan kapal pesiar. Namun demikian kedua Negara itu memiliki pasar yang potensial untuk operasi kapal pesiar khususnya untuk masyarakat kelas menengah ke atas.
Di saat pasar untuk kapal pesiar di Asia masih kecil, pasar untuk Amerika Utara dan Eropa bertumbuh cepat dengan kompetisi tinggi. Operator-operator kapal pesiar seperti Holland America Lines, Royal Carribean International, dan Carnival Cruise Lines meluncurkan kapal-kapal baru untuk melayani para wisatawan yang terus meningkat, yang lebih suka menghabiskan waktu-waktu berharga mereka pada berbagai aktivitas rekreasional baik di atas hotel terapung yang mewah ini atau di resort-resort eksotik pribadi di Laut Karibea.
Dengan membaiknya pertumbuhan ekonomi di Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, Vietnam, dan Filipina serta negara ASEAN lainnya, pasar potensial untuk kapal pesiar di wilayah ini akan menarik operator kapal pesiar untuk menginvestasikan milyaran dollar Amerika dam Euro bagi pembangunan kapal-kapal pesiar yang baru. Sekarang tinggal masalah waktu saja bagi kita untuk melihat ratusan kapal penumpang dan pesiar mewah beroperasi di laut-laut Asia Tenggara. Pemerintah negara-negara ASEAN perlu didekati oleh para investor untuk pembuka pasar mereka bagi pengembangan industry perjalanan dan pariwisata samudra melalui sejumlah deregulasi di sektor kepariwisataan di wilayah ini. Baca juga: Stability of Cruise Ship and The effect of turbulence on propeller and safety of cruise ship








