Puisi: Rapalan Mantra Cinta Gadis Bali
Aku berjalan sepanjang Banjar Tebesaya
Sedari tadi si gadis Bali melirik kepada saya
Oh, gadis Bali yang sedang memegang sesajen suci
Ajari aku merapal mantra untuk perempuan cintaku tersuci
Kata gadis Bali itu, aku harus percaya
Kekasihku nun jauh di sana, akan balik padaku, niscaya
Namun aku ragu padamu Adinda
Mantramu justru akan memikatku padamu, kataku bercanda
Lalu gadis Bali itu menatap padaku
Dipegangnya sebuah suling bambu tak berbuku
Katanya, “akan kutiup lagu cinta untukmu yang sedang rindu”
“Supaya hatimu jangan terus menangis tersedu-sedu”
Kami sedang duduk di pendopo dekat pohon kelapa
Sambil berhadapan kami bersila bagai para petapa
Untuk mensucikanku, dipercikinya aku dengan tirta
Mulutnya berkomat-kamit dirapalnya mantra cinta
Dipanjatkannya pada para penguasa alam semesta
Kemudian didekatkan ke mulutnya itu suling
Sejenak suasana di sekitar kami terasa hening
Meniup suling bambu itu, ia sungguh pandai
Disenandungkannya lagu cinta yang merdu melambai-lambai
Hingga bergema ke gunung dan lembah yang indah dan permai
Suara suling bambu tak berbuku
Merdu sekali terdengar di telingaku
Setelah itu ia berdiri dan berjalan mengitariku
Mengenakan kebaya, selendang, serta suling tak berbuku
Ia mulai menari-nari dengan tangannya yang lemah gemulai
Rambutnya yang hitam mengkilat tergerai menjuntai
Citra perempuan kekasihku yang nun jauh di sana sirna dari benakku
Kini gadis Bali ini nampak cantik dan sungguh nyata di hadapanku
Ubud, Bali 24 Januari 2012
Puisi oleh Charles Roring
Belum ada komentar.













