Diari Charles Roring

alam dan pikiran

Apakah sepeda hanyalah mainan anak-anak?

Setiap kali saya mengendarai sepeda mengelilingi kota Manokwari, saya bisa melihat bahwa kebanyakan yang naik sepeda adalah anak-anak dan remaja. Saya jarang melihat orang dewasa naik sepeda. Kita semua tahu bahwa mengendarai sepeda adalah baik untuk kesehatan kita (baca tulisan saya yang lain dalam bahasa Inggris yang berjudul: Health Benefits of Cycling) tetapi kita tidak melalukannya secara teratur atau bahkan tidak pernah. Kebijakan pro-kendaraan bermotor dari pemerintah merupakan faktor penyebab utama yang menyebabkan bersepeda tidak lagi menjadi gaya hidup yang populer di negara ini. Dalam satu minggu, saya mungkin melihat satu atau dua orang dewasa saja yang naik sepeda. Karena mengendarai sepeda di seputar pusat kota bukanlah hal yang menguntungkan karena kondisi lalu lintas, saya lebih suka menerap sepeda saya ke kawasan Pantai Pasir Putih.

anak-anak dengan sepeda

anak-anak dengan sepeda di kota Manokwari

Sepeda diperkenalkan di kota Manokwari dan seluruh wilayah Papua Barat oleh Belanda. Gaya hidup yang ramah lingkungan ini telah diganti oleh kendaraan bermotor khususnya mobil dan sepeda motor dalam jangka waktu 40 tahun belakangan ini sepanjang pembangunan kota. Tapi saya masih melihat sejumlah kecil orang yang mengendarai sepeda di kota ini.
Kembali ke pembahasan tentang pertanyaan di atas apakah sepeda hanyalah mainan anak-anak dan remaja belaka, saya melihat bahwa kebanyakan dari kita tidak menyadari betapa pentingnya naik sepeda bagi kesehatan, lingkungan dan ekonomi kita. Kita sudah terbiasa hidup di suatu negara yang bahan bakarnya disubsidi. Ketika Indonesia terkenda dampak krisis ekonomi terburuk di tahun 1998, subsidi bahan bakar secara perlahan-lahan mulai dikurangi. Masyarakat protes kepada pemerintah untuk kebijakan yang tidak populer ini. Kita tidak menyadari bahwa harga bahan bakar sebenarnya mahal di pasar internasional. Kita telah menikmati bahan bakar murah selama bertahun-tahun dan enggan untuk mengajarkan anak-anak kita bagaimana mengendarai sepeda ke sekolah. Pemerintah juga tidak memberikan cukup kebijakan pro-sepeda dalam strategi pembangunan nasional. Sekarang kebanyakan anak-anak di Indonesia tidak pergi ke sekolah naik sepeda. Mereka bergantung pada ojek (taksi sepeda motor), bus. Di daerah pedesaan, anak-anak berjalan kaki ke sekolah. Ketika anak-anak Indonesia pergi ke sekolah naik ojek, anak-anak di Belanda dan Denmark naik sepeda.

Sogun hill in Manokwari city

Perbukitan Sowi di Teluk Dorey kota Manokwari

Orang-orang di Indonesia mungkin berpikir bahwa mengendarai sepeda hanyalah sejenis latihan sebelum seseorang mengendarai sepeda motor. Mereka mengira sepeda merupakan alat transportasi yang lambat dan sudah ketinggalan zaman. Karena tidak ada kebijakan pro-sepeda dari pemerintah yang serius, promosi naik sepeda sebagai gaya hidup atau budaya di Indonesia tidaklah agresif hingga krisis bahan bakar kira-kira dua atau tiga tahun yang lalu.
Dalam upaya untuk hidup lebih efisien, dan menjaga kesehatan serta melawan pemanasan global, beberapa orang di Jakarta mulai membangkitkan kemblai gaya hidup bersepeda. Komunitas bike to work dibentuk dan sekarang memiliki cabang-cabangnya di beberapa kota besar dan kecil di Indonesia.
Di kota Manokwari sendiri, sebagai ibukota provinsi yang baru didirikan, beberapa orang mulai mengendarai sepeda ke tempat kerja. Tetapi semangat itu tidak didukung sepenuhnya oleh pemerintah khususnya departemen perhubungan dan badan perencanaan pembangunan daerah (terutama dalam penyusunan Rencana Tata Ruang dan Rencana Wilayah atau RT-RW) lewat penciptaan fasilitas dan jalur-jalur sepeda yang mendukung kampanye bike to work tersebut. Sebagai hasilnya, saya baru melihat bahwa cycling atau mountain biking di Manokwari masih dipandang sebagai olah raga saja.
Untuk mengubah pola pikir masyarakat tentang sepeda sebagai mainan anak-anak, banyak usaha harus dilaksanakan. Beberapa di antaranya adalah melalui penulisan artikel-artikel baik di internet dan media cetak tentang pentingnya budaya naik sepeda sebagai cara untuk menghemat uang, menjaga kesehatan dan melestarikan lingkungan hidup. Ada banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dari bersepeda.
Pabrik pembuat sepeda di Indonesia harus merespon gerakan yang baru ini dengan memproduksi sepeda yang sesuai dengan kemampuan daya beli golongan masyarakat pekerja. Harga sepeda harus dikurangi hingga mencapai tingkat di mana masyarakat di seluruh negara ini bisa menjangkaunya.
Dalam sektor eco-tourism, saya secara pribadi berencana untuk menyediakan paket tour bersepeda di Manokwari sebagai sebuah strategi untuk meningkatkan kepedulian masyarakat tentang peranan sepeda bagi kesehatan dan lingkungan hidup kita. Saya juga berencanan untuk membangun sebuah portal khusus dalam dua bahasa yakni Indonesia dan bahasa Inggris. Isinya adalah cerita dari para pesepeda di jalan, kajian-kajian tentang sepeda, serta review terhadap produk-produk sepeda yang baru dan artikel yang bersifat teknis atau manual, serta materi lain yang berhubungan dengan sepeda, pembangunan yang berkelanjutan dan lingkungan hidup. Saya yakin kendaraan bertenaga manusia ini suatu hari nanti akan dilihat lagi sebagai alat transportasi yang penting di Indonesia, suatu hari nanti di masa depan. Oleh Charles Roring.

Baca juga:

Januari 15, 2011 - Posted by | Sepeda | ,

1 Komentar »

  1. Salam seperjuangan, ini tulisan group saya di facebook (http://groups.to/b2wkertosono) dan ini tulisan saya di Kertosono e-Magazine (http://fendik.freehostia.com/edisi-0001/content/budaya-bersepeda.php). Jangan lelah berjuang ya bang Roring, ganbatte kudasai.

    Komentar oleh Firdaus Effendy | Januari 15, 2011 | Balas


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.