Para Pelancong Russia Mengunjungi Seniman-seniman Manokwari
Manokwari memiliki sejumlah seniman yang membuat sejumlah karya seni atau barang kerajinan tangan yang bagus dan layak dikunjungi oleh para wisatawan. Hari ini, saya menemani Mike, Inga dan Dima (tiga orang wisatawan lingkungan hidup yang suka menjelajahi hutan tropis Papua) untuk menjumpai beberapa dari para seniman tersebut. Yang pertama kami temui adalah Bapak Lucky Kaikatui. Dia adalah seorang pelukis cat minyak. Dia baru saja pindah ke rumah barunya di kompleks Missi. Ketika kami tiba di rumahnya, kami hanya bisa menyaksikan beberapa lukisan yang bersandar di dinding, salah satunya adalah tentang burung Cendrawasih sedangkan lainnya mengenai pemandangan dan wilayah perkampungan tradisional. Turis-turis Russia tak bisa membelinya karena ukurannya yang terlalu besar sehingga sulit dimuat ke dalam pesawat.
Kemudian kami melanjutkan perjalanan untuk melihat kuskus, binatang endemik di Pulau Papua. Kami mengambil beberapa foto. Setelah itu kami makan siang di kantin Orchid. Sehabis menyantap nasi goreng dan mie bakso, turis-turis Russia ini melanjutkan perjalanan mereka ke Pulau Raimuti. Mereka berenang di sana hingga matahari terbenam ditemani oleh Paul Warere – seorang seniman gambar yang juga telah saya arahkan menjadi pemandu wisata lokal.
Malamnya, saya menemani mereka lagi untuk mengunjungi rumah Ibu Fonataba. Wanita ini adalah master dalam pembuatan kain tenun tradisional Papua. Kain ini memiliki ornamen-ornamen indah yang suka dipakai orang Papua sebagai mas kawin. Ibu Fonataba sangat senang melihat kedatangan kami. Dia meminta cucu perempuannya untuk mengenakan pakaian traditional Papua untuk diperagakan kepada mereka.
Inga berkata bahwa dia tertarik membeli kain tenun yang dikenakan oleh gadis kecil itu melingkari dadanya. Mendengar permintaan Inga, ibu gadis kecil itu menanggalkan kain tersebut dan menyerahkannya kepada Inga. Setelah menanyakan harga kain-kain tenun yang Ibu Fonataba letakkan di atas meja, Mike, Dima dan Inga membeli kalung, gelang, dan kain senilai Rp. 500.000 (atau sekitar 50 US dollars).
Hari sudah larut ketika kami melanjutkan perjalanan ke rumah Tuan Asaribab. Di sini saya mengambil beberapa foto saat para turis Russia itu sedang membolak-balik ukir-ukiran kayu. Inga membeli dua piring relief dan satu patung kayu yang kecil. Tuan Asaribab nampak senang melihat hal ini. Mereka menghabiskan lagi sekitar 50 US dollars untuk suvenir ukir-ukiran kayu. Ketika kami telah kembali ke penginapan Kagum – sebuah penginapan yang murah di Manokwari, saya menyarankan kepada Mike untuk tidak membeli kulit binatang atau binatang hidup. Para turis haruslah menjadi pembeli yang pintar. Mereka seharusnya tidak membeli burung, binatang mamalia, kulit binatang melata atau terumbu karang. Mereka bisa membeli souvenir seperti kain tenun, ukir-ukiran dan lukisan yang dibuat berdasarkan kreatifitas para seniman itu.
Saya secara pribadi sangat mendukung pariwisata di Manokwari tetapi jenis pariwisata tersebut haruslah ramah terhadap lingkungan sekitar. Industri yang mendorong pengembangan kreativitas seniman-seniman Papua di Manokwari. Jika Anda tertarik mengunjungi kota Manokwari, Papua Barat untuk menikmati keindahan daerah ini, dan Anda membutuhkan seorang pemandu wisata, maka saya bersedia menjadi guide. Anda bisa menghubungi saya – Charles Roring melalui email: peace4wp@gmail.com atau ponsel: +62 81 332245180
Baca juga tulisan saya yang lain tentang Travel in Manokwari Papua:













