Lembar-lembar Ekspresi

Transformasi Sosial dalam Sensualitas

Amerika Serikat Akan Mengakhiri Larangan Perjalanan HIV Pada Bulan Januari

Travelers show their documents to immigration officers at Los Angeles International Airport

Para pelancong menunjukkan dokumen ke petugas immigrasi di Lapangan Udara Los Angeles

Obama berkata para pelancong dengan virus AIDS bukan merupakan suatu ancaman. Juga para peneliti memastikan bahwa studi vaksin HIV mereka di Thailand membuahkan hasil-hasil yang terbatas.

Pada sembilan belas delapan puluh tujuh, HIV/AIDS masuk ke dalam daftar penyakit yang dapat menyebabkan seseorang tidak bisa memasuki Amerika Serikat. Di kemudian hari pemerintah mencoba membatalkan keputusannya. Namun Kongres membuat larangan perjalanan itu sebagai bagian dari undang-undang immigrasi. Orang-orang dengan H.I.V, virus yang menyebabkan AIDS, dapat mencari suatu pengecualian, tetapi itu berarti perlu lebih banyak usaha.

Tahun lalu, Kongres dan Presiden George W. Bush mulai proses pengakhiran larangan perjalanan tersebut. Sekarang Presiden Obama menyelesaikan proses itu.

BARACK OBAMA: “Kita berbicara tentang mengurangi stigma penyakit ini, tetapi kita telah memperlakukan seorang pelancong yang mengidap virus itu sebagai sebuah ancaman. Kita memimpin dunia ketika membantu menghentikan penyebaran wabah AIDS yang mendunia, tetapi kita adalah salah satu dari beberapa negara yang masih melarang orang yang mengidap HIV agar tidak masuk ke negara kita sendiri.”

Sebuah peraturan terbaru yang diterbitkan hari Senin akan mengakhiri larangan perjalanan yang mulai berlaku pada empat Januari. HIV tidak lagi menjadi sebuah syarat yang dapat melarang orang masuk ke Amerika Serikat. Dan pengujian HIV tidak akan diminta lagi bagi orang-orang yang membutuhkan sebuah pemeriksaan medis bagi proses immigrasi.

AIDS telah membunuh lebih dari dua puluh lima juta orang sejak awal sembilan belas delapan puluhan.

Pada bulan September, ada berita bahwa sebuah vaksin menunjukkan sedikit kemampuan untuk mencegah infeksi H.I.V. pada manusia untuk pertama kalinya. Hasil selengkapnya dari studi vaksin itu dipresentasikan di akhir Oktober pada sebuah konferensi internasional di Paris. Hasil-hasil penelitian itu dimuat pula di New England Journal of Medicine. Para peneliti memastikan bahwa studi di Thailand membuahkan hasil-hasil yang “modest.”

The United States Army membiayai pengujian vaksin itu. Studi tersebut mengombinasikan dua vaksin, menggunakan versi H.I.V. umum di Thailand. Tak satu pun dari masing-masing vaksin menunjukkan kesuksesan pada penelitian-penelitian sebelumnya.

Para peneliti Thai menguji kombinasi itu di lebih dari enam belas ribu sukarelawan. Setengah dari sukarelawan mendapat vaksin itu. Yang lainnya mendapat sebuah placebo, suatu zat yang tidak aktif. Semuanya diberikan kondom dan konseling mengenai pencegahan AIDS selama tiga tahun. Studi itu mendapati tiga puluh satu persen kasus infeksi yang lebih sedikit dalam kelompok vaksin daripada dalam kelompok placebo.

Namun para pengritik berkata temuan-temuan itu mungkin terjadi karena kebetulan. Pengumuman pada bulan September didasarkan pada enambelas ribu sukarelawan. Hampir sepertiga dari mereka, tidak mengikuti semua langkah-langkah yang diminta dalam studi itu. Hasil-hasil dari mereka yang menaati adalah sama dengan kelompok yang lebih besar, tetapi pengaruh kebetulan adalah lebih dari sebuah possibility.

Namun, para peneliti berkata bahwa studi itu menghasilkan informasi berharga yang menawarkan harapan baru bagi penelitian AIDS. Dan inilah VOA Special English Health Report. Transkrip siaran radio 3 November 2009. Saya Bob Doughty, diterjemahkan oleh Charles Roring.

Baca juga:

Technorati : , , , ,
Del.icio.us : , , , ,
Zooomr : , , , ,
Flickr : , , , ,

November 11, 2009 - Ditulis oleh charlesroring | Kesehatan | , , , , | Belum Ada Tanggapan

Belum ada komentar.

Tinggalkan komentar