Lembar-lembar Ekspresi

Transformasi Sosial dalam Sensualitas

Afrika Selatan Menguji Vaksin AIDS

Dr. Danielle Crida shows how an experimental AIDS vaccine would be tested at a health center near Cape Town, South Africa

Dr. Danielle Crida menunjukkan bagaimana sebuah vaksin AIDS eksperimental akan diujicobakan di sebuah pusat kesehatan di dekat Cape Town

Para ahli akan menggunakan 36 sukarelawan bagi calon-calon vaksin buatan Afrika yang pertama untuk mencapai pengujian pada manusia.
Tiga puluh enam sukarelawan di Afrika Selatan akan menguji keamanan sebuah vaksin yang dikembangkan orang Afrika dalam melawan HIV. Pengujian-pengujian tersebut adalah langkah pertama dalam pengujian klinis manusia dari dua calon vaksin yang dikembangkan di Universitas Cape Town.
Vaksin-vaksin AIDS experimental ini adalah yang pertama dari Afrika untuk mencapai pengujian pada manusia. Institut Kesehatan Nasional Amerika Serikat menyediakan bantuan. Pengujian dengan dua belas orang dimulai awal tahun ini di Boston, Massachusetts.
Afrika Selatan memiliki lebih dari lima juta orang yang terinfeksi HIV, jumlah terbesar dibanding negara manapun.
Afrika Selatan meluncurkan pengujian-pengujian tahun lalu di saat the International AIDS Society menyelenggarakan sebuah konferens di Cape Town. Pengujian-pengujian terhadap manusia dengan calon-calon vaksin dilaksanakan pula di seluruh dunia. Ilmuan berharap memperoleh sejumlah hasil akhir tahun ini.
Namun selama konferens minggu lalu, para ahli melaporkan penurunan pertama dalam pembiayaan internasional bagi riset vaksin AIDS. Mereka berkata pembiayaan berkurang dari sekitar sembilan ratus tiga puluh juta dolar di tahun 2007 menjadi delapan ratus tujuh puluh juta tahun lalu.
Juga di konferens itu, para ilmuan mempresentasikan temuan-temuan terkini mengenai ibu-ibu baru yang terinfeksi HIV. Dua studi menunjukkan cara-cara di mana obat-obat anti-HIV memungkinkan ibu-ibu yang terinfeksi bisa menyusui bayi-bayi mereka dengan risiko semakin rendah menularkan virus kepada mereka. Penelitian tersebut diselenggarakan di Cameroon, Ivory Coast, Afrika Selatan dan Zambia.
Dalam sebuah studi, ibu-ibu yang terinfeksi mulai menerima tiga obat anti-HIV saat sedang menyusui selama enam bulan. Dalam studi yang kedua bayi-bayi diberikan obat, dan bukannya ibu mereka. Bayi-bayi itu menerima satu obat setiap hari selama enam bulan penyusuan.
Para peneliti berkata kedua metode sangat mengurangi risiko infeksi HIV.
Laura Guay wakil presiden penelitian di Elizabeth Glaser Pediatric AIDS Foundation, yang mendukung penelitian itu. Doktor Guay berkata masalah di sub-Saharan Africa terbatas pada ketersediaan obat-obatan anti-retroviral.
LAURA GUAY: “Kami hanya tahu sekitar tiga puluh tiga persen wanita memiliki akses terhadap sebuah program yang sebenarnya memiliki layahan di tempat untuk mencegah transmisi ibu-ke-anak. Jadi tantangan pertama adalah bagaimana kami menjangkau semua ibu-ibu yang tidak memiliki akses ke suatu program pencegahan?”
Pada penelitian lain yang baru, sebuah studi telah menemukan bahwa sunat tidak mengurangi risiko bahwa pria positif HIV akan menginfeksi para wanita. Temuan-temuan, dari Uganda, ada di dalam jurnal medis, The Lancet.
Dan inilah VOA Special English Health Report, ditulis oleh Caty Weaver. Transcript of radio broadcast: 28 July 2009. Diterjemahkan oleh Charles Roring

Baca juga:

November 7, 2009 - Ditulis oleh charlesroring | Artikel, Kesehatan | , , , | 1 Komentar

1 Komentar »

  1. efek sosial dari vaksin ini terhadap stigma AIDS akan menjadi sedikit berbahaya, kalau ada vaksinnya maka orang tidak takut lagi akan terkena HIV/AIDS —> seks bebas merajalela, drug abuse pun demikian

    Komentar oleh eemoo | November 10, 2009 | Balas


Tinggalkan komentar