Lembar-lembar Ekspresi

Transformasi Sosial dalam Sensualitas

Keesh

oleh Jack London

diterjemahkan oleh Charles Roring

Keesh tinggal di pinggir laut kutub utara. Dia telah melihat tiga belas matahari sesuai dengan penanggalan Eskimo. Menurut orang-orang Eskimo, matahari setiap musim dingin meninggalkan daratan itu dalam kegelapan. Dan tahun berikutnya, matahari yang baru kembali, sehingga cuaca akan hangat lagi.

Ayah Keesh dulu seorang yang pemberani. Tetapi dia tewas ketika berburu untuk mencari makanan. Keesh adalah anak satu-satunya. Dan Keesh tinggal sendirian bersama ibunya, Ikeega.

Suatu malam, dewan kampung bertemu di igloo yang besar, milik kepala suku Klosh-kwan. Keesh berada di sana bersama yang lain. Dia mendengar, kemudian menunggu hingga semua orang diam.

“Benar,” dia berkata, “bahwa kalian memberi kami sejumlah makanan. Tetapi sering berupa daging tua yang liat, serta banyak tulangnya.”

Para pemburu kaget. Ada seorang anak kecil yang berbicara menentang mereka. Seorang anak yang berbicara layaknya seorang pria dewasa!

Keesh berkata, “Bapakku, Bok, adalah pemburu yang gagah perkasa. Kata orang, Bok membawa pulang lebih banyak daging daripada dua pemburu terbaik sekalipun. Dan selanjutnya dia membagi-bagi daging itu hingga semua orang memperoleh bagian yang sama.”

“Naah! Naah!” para pemburu berteriak. “Bawa anak kecil itu keluar! Kirim dia ke tempat tidur. Dia seharusnya tidak berbicara demikian kepada orang-orang tua!”

Keesh menunggu hingga suasana tenang kembali. “Kamu memiliki seorang isteri, Uh-gluk,” katanya. “Dan kamu berbicara atas namanya. Ibuku tak memiliki seorang pun kecuali aku. Oleh karena itu aku bicara. Seperti yang telah kukatakan, Bok berburu dengan baik, tetapi sekarang dia telah meninggal. Wajar jika ibuku, yang adalah istrinya, dan aku, anaknya, memperoleh daging bila suku mendapatkan daging. Aku, Keesh, anaknya Bok, telah berbicara.”

Sekali lagi, ada keributan yang besar dalam igloo itu. Dewan memerintahkan Keesh pergi tidur. Dewan itu bahkan memutuskan untuk tidak memberinya makanan.

Keesh melompat berdiri. “Dengar aku!” dia berteriak. “Tak akan pernah lagi aku berbicara di dewan igloo ini. Aku akan pergi berburu mencari daging seperti ayahku, Bok.”

Seluruh orang banyak itu tertawa ketika Keesh bilang ia akan berburu. Mereka terus menertawainya saat ia meninggalkan mereka.

Hari berikutnya, Keesh pergi ke pantai, di mana daratan bertemu es. Orang-orang yang memperhatikan, melihatnya membawa busur dan banyak anak panah. Di bahunya ada tombak berburu ayahnya yang besar. Sekali lagi mereka menertawainya. Beberapa orang menggeleng-gelengkan kepala mereka. Dan para wanita melihat ibunya Keesh dengan perasaan iba. “Dia akan segera kembali,” mereka berkata padanya. “Jangan khawatir.”

Hari pertama berlalu, kemudian hari kedua. Pada hari ketiga, angin bertiup kencang, dan belum ada tanda-tanda tentang Keesh. Ibunya Ikeega, mengoles wajahnya dengan minyak anjing laut yang telah gosong untuk menunjukkan bahwa dia sedang berduka. Para wanita memarahi pria-pria mereka karena membiarkan anak laki-laki yang masih kecil itu pergi. Dan pria-pria itu tidak menjawab, tetapi mereka mulai bersiap-siap untuk mencari jenazah Keesh.

Pagi-pagi sekali di hari berikutnya, Keesh berjalan masuk ke dalam kampung. Di bahunya ada daging segar. “Pergilah, kalian yang laki-laki, dengan anjing-anjing dan kereta luncur. Ikuti jejak kakiku. Berjalanlah selama satu hari,” katanya. “Ada banyak daging di atas es. Seekor induk beruang dan dua anaknya.”

Ibunya sangat senang. Keesh, mencoba menjadi seorang pria dewasa, berkata padanya, “Mari, Ikeega, kita makan. Dan setelah itu, aku akan tidur. Karena aku lelah sekali.”

Orang ramai membicarakan Keesh setelah ia masuk ke igloonya. Membunuh seekor beruang adalah pekerjaan yang berbahaya. Tetapi tiga kali lebih berbahaya jika yang dibunuh itu seekor induk beruang dengan anak-anaknya. Pria-pria itu tidak percaya Keesh telah melakukannya. Namun, wanita-wanita itu menunjuk pada daging segar. Akhirnya, pria-pria itu setuju untuk berangkat mengambil daging yang telah ditinggalkan. Namun mereka sangat tidak senang.

Seseorang berkata bahwa sekalipun Keesh telah membunuh beruang itu, dia mungkin tidak memotong daging itu menjadi bagian yang kecil-kecil. Namun ketika mereka tiba di sana, mereka mendapati bahwa Keesh tidak hanya telah membunuh beruang itu, tetapi juga telah membaginya menjadi potongan-potongan, seperti yang biasanya dilakukan seorang pemburu dewasa.

Maka dimulailah misteri tentang Keesh.

Pada perjalanan berikutnya, dia membunuh seekor beruang muda. Dan pada perjalanan selanjutnya, seekor beruang jantan dewasa yang besar beserta pasangannya.

“Bagaimana ia melakukannya?” para pemburu bertanya satu sama lain. “Dia bahkan tidak membawa seekor anjing bersamanya.”

Kemudian berkembanglah cerita tentang kekuatan gaib dan ilmu sihir di kampung itu. “Dia berburu dengan roh-roh jahat,” kata yang seorang. “Mungkin roh ayahnya berburu bersama dia,” kata yang lain.

Tetapi Keesh terus membawa daging ke kampung. Beberapa orang menganggap dia seorang pemburu yang hebat. Ada pembicaraan untuk menjadikannya kepala suku, setelah si tua Klosh-kwan. Mereka bahkan menunggu, berharap agar dia akan datang ke pertemuan-pertemuan dewan. Tetapi dia tidak pernah datang.

“Aku akan membangun sebuah igloo,” Keesh berkata pada suatu hari, “tetapi aku tak memiliki waktu. Pekerjaanku adalah berburu. Jadi adalah hal yang bijaksana jika para pria dan perempuan di kampung yang memakan dagingku, membangun igloo-ku.” Dan igloo dibangun. Igloo itu bahkan lebih besar daripada igloonya kepala suku, Klosh-kwan.

Suatu hari, Ugh-gluk berbicara kepada Keesh. “Kata orang kau berburu dengan roh-roh jahat, dan mereka memantumu membunuh beruang.”

“Bukankah dagingnya bagus?” Keesh menjawab. “Adakah orang di kampung yang sakit setelah memakannya? Bagaimana kau tahu bahwa roh-roh jahat bersamaku? Ataukah kau berkata begitu karena aku seorang pemburu yang baik?”

Ugh-gluk tidak memiliki jawaban.

Dewan membicarakan Keesh dan dagingnya itu hingga larut malam. Mereka memutuskan untuk memata-matainya.

Pada perjalanan Keesh yang berikutnya, dua pemburu muda, Bim dan Bawn mengikutinya. Setelah lima hari, mereka kembali. Dewan bertemu untuk mendengar cerita mereka.

“Saudara-saudara,” kata bim, “kami mengikuti Keesh, dan dia tidak melihat kita. Hari pertama dia bertemu seekor beruang besar. Keesh berteriak kepada beruang itu, dengan suara nyaring. Beruang melihat dia dan marah. Binatang itu berdiri dan mengaum. Tetapi Keesh mendekatinya.”

“Kami melihat binatang itu,” Bawn, pemburu yang lain, berkata, “Beruang itu mulai mengejar Keesh. Keesh berlari. Tapi, ketika dia berlari, dia menjatuhkan sebuah bola kecil di atas es. Beruang berhenti dan menciumi bola itu, lalu memakannya. Keesh terus berlari menjatuhkan lebih banyak bola ke atas es. Beruang mengikutinya dan memakan bola-bola itu.”

Anggota-anggota dewan menyimak setiap kata. Bim melanjutkan ceritanya lagi, “Tiba-tiba beruang berdiri lurus dan mulai berteriak kesakitan. Beruang meraung-raung, lalu melompat-lompat, naik-turun. Belum pernah aku melihat hal seperti itu!”

“Roh-roh jahat,” kata Ugh-gluk.

“Aku tidak tahu,” kata Bawn. “Aku hanya bisa mengatakan apa yang kusaksikan. Beruang kemudian melemah. Binatang itu berjalan sepanjang pantai dengan kepala yang bergoyang-goyang ke kanan dan ke kiri. Selanjutnya binatang itu duduk dan mencabik bulu-bulunya sendiri dengan cakar-cakarnya yang tajam. Keesh menyaksikan beruang itu sepanjang hari.”

“Selama tiga hari selanjutnya, Keesh terus menyaksikan beruang itu. Binatang tersebut semakin lemah. Keesh bergerak perlahan-lahan mendekati beruang dan menikamnya dengan tombak ayahnya.”

“Lalu?” tanya Klosh-kwan.

“Lalu kami pergi.”

Siang itu, dewan membahas hal itu. Ketika Keesh tiba di kampung, dewan mengirim seorang utusan untuk memintanya datang ke pertemuan. Tapi Keesh bilang bahwa dia lelah dan lapar. Dia berkata igloonya besar dan dapat menampung banyak orang, jika dewan menginginkan sebuah pertemuan.

Klosh-kwan memimpin dewan ke igloonya Keesh. Keesh sedang makan, tetapi dia menyambut mereka. Klosh-kwan memberitahu Keesh bahwa dua pemburu telah melihatnya membunuh seekor beruang. Lalu, dengan nada serius kepada Keesh, dia berkata, “Kami ingin tahu bagaimana kamu melakukannya? Apakah kamu memakai kekuatan gaib dan sihir?”

Keesh mengangkat mukanya dan tersenyum. “Tidak, Klosh-kwan. Aku seorang anak kecil, dan tidak tahu apapun mengenai kekuatan gaib atau sihir. Teapi aku telah menemukan cara yang mudah untuk membunuh beruang-es. Aku memakai akal (head-craft), dan bukan sihir (witchcraft).

“Dan maukah kamu memberitahu kami, O Keesh?” Klosh-kwan memintanya dengan suara gugup.

“Aku akan memberitahukannya kepada kalian. Sangat sederhana. Perhatikan.”

Keesh memungut sepotong tulang ikan paus yang tipis. Ujung-ujungnya lancip dan tajam seperti pisau. Keesh melengkungkan tulang itu membentuk sebuah lingkaran. Tiba-tiba Keesh melepasnya, dan tulang itu lurus mengeluarkan suara tajam. Dia mengambil sepotong daging anjing laut.

“Jadi,” katanya, “pertama-tama bentuklah sebuah lingkaran menggunakan tulang ikan paus yang tipis dan tajam. Masukan tulang yang lengkung itu ke dalam sepotong daging. Taruhlah daging itu di dalam salju untuk membekukannya. Beruang akan makan daging bola itu dengan tulang yang melengkung di dalamnya. Ketika daging masuk ke dalam beruang, daging itu akan melunak, dan tulang melentur lurus! Ujung-ujungnya yang tajam membuat beruang sakit. Sehingga mudah untuk membunuhnya. Sederhana kan.”

Ugh-gluk berkata, “Ohh!” Dan Klosh-kwan berkata, “Ahh!” Dan setiap orang berbicara sendiri-sendiri. Maka semua orang akhirnya mengerti.

Dan begitulah kisah tentang Keesh, yang dulu sekali hidup di tepi laut kutub utara. Karena dia menggunakan akalnya dan bukannya sihir, dia bangkit dari igloo yang termiskin menjadi kepala suku di kampung itu. Dan selama bertahun-tahun selanjutnya, rakyatnya bahagia. Tak seorang pun yang menangis lapar di tengah malam.

Juni 27, 2009 - Ditulis oleh charlesroring | Cerita Pendek | , , , | No Comments Yet

Belum ada komentar.

Tinggalkan komentar