Lembar-lembar Ekspresi

Transformasi Sosial dalam Sensualitas

Vivien Melihat Pelangi dan Kerlip Bintang

oleh Charles Roring

Jam 17.05 aku tiba di rumah kawanku. Vivien namanya. Lama sudah kita tak bertemu kurang lebih 10 tahun telah berlalu. Saklar bell di atas daun pintu sebelah kanan kupencet – ding… dong….vivien-brown.jpg

Tak sampai setengah menit pintu dibuka, “Hello, Charl. Mari masuk.”

“Selamat sore…, kelihatannya lagi ada acara ya, ada suara ribut-ribut dan musik di ruang sebelah.”

“Ah, hanya kumpul-kumpul biasa dengan keluarga.”

“Lalu aku harus bagaimana? Tanyaku.

“Kamu langsung aja ke lantai dua, ya. Sebentar lagi sanak-saudaraku itu pulang. Aku akan segera menyusul. Bawa sketchbook, kan?”

“Sesuai permintaan kamu.” Jawabku ringan sambil berjalan ke belakang rumahnya. Aku lalu berbelok ke kanan, menaiki tangga kayu.

Vivien sahabatku sejak kecil itu sekarang tinggal di kota Bandung. Dia libur ke kota Manokwari Papua ini seminggu saja. Setelah itu ia akan kembali ke sana.

Lantai atas ditutupi karpet abu-abu. Ada sofa, lemari buku dan TV set. Ada juga beberapa lukisan besar di ruang itu. Belum banyak perubahan di tempat ini sejak kurang lebih sepuluh tahun lalu aku kemari.

Lima belas atau dua puluh menit kemudian aku sedang duduk bersila, berhadap-hadapan dengan Vivien. Aku akan membuat sketsa dirinya.

Sketchbook berukuran A3, pensil Staedtler B2, serta sekaleng watercolour pencils merek Derwent menjadi perkakas kerjaku.

Saat sedang digambar, Vivien angkat bicara, “Aku lagi pusing….”

“Pusing kenapa?” tanyaku sambil mulai menggores-gores lembaran sketchbook mencari bentuk figur makro kepala dan tubuhnya. Vivien duduk di bantal sambil memeluk lutut.

“Semua berawal dari adu pandang antara aku dan dia di pelabuhan tiga tahun yang lalu. Ternyata kami berangkat ke kota yang sama, Bandung. Di sana tempat kerjaku tak jauh dari kantornya.”

“Ya, semua selalu berawal dari adu pandang.” Komentarku sekenanya.

“Biarkan aku selesaikan dulu ceritaku.”

Aku tersenyum. Aku kembali sibuk menggores dan menghapus garis-garis pensil di sketchbook.

“Charl, kamu mau dengar nggak sih – ceritaku ini?”

“Iya.., aku mau, lanjut…”

“Setelah itu kami semakin sering bertemu dan beradu pandang. Di sore hari, setelah pulang kantor kami bertemu di warung soto. Kadang-kadang kami minum teh di kedai 77″

“Tidak nonton bareng?” tanyaku.

“Pernah.”

“Apa judulnya, ‘Pelangi di Matamu?’” tanya dan jawabku ngawur.

“Itu kan lagunya zamrud.” Vivien menyanggah.

“Nampaknya kalian berdua sedang menyaksikan pelangi.”

Tiba-tiba wajah Vivien cerah, dia nampak senang mendengar komentarku itu, “Iya, pelangi itu berwarna-warni indah sekali. Dan aku ingin duduk seharian penuh menyaksikan benang raja itu hingga datang senja seperti yang pernah kita saksikan di Kaimana.” Matanya menerawang ke langit-langit seakan-akan hendak mencari pelangi.

Mendengar komentarnya ini, tiba-tiba aku teringat sebuah cerpen yang pernah kubuat judulnya Senja Di Kaimana. Aku pun bertanya, “Bila senja tiba, kamu ingin tetap di sana menyaksikannya?”

“Iya, mengantar matahari ke peraduannya hingga malam tiba. Lalu aku ingin tetap bersamanya menyaksikan kerlip-kerlip bintang di angkasa,” Vivien mendesah, Tapi belakangan ini ia berhenti menemuiku lagi. Dia menutup mata.”

“Mungkin, pangeranmu itu tahu langit akan mendung sehingga ia menutup mata dan beranjak pulang.”

“Ah.., tapi pelangi masih nampak di angkasa, Charl. Mengapa dia buru-buru menutup mata?”

“Mungkin dia sadar tak bisa menggapai pelangi dan kerlip bintang itu.” Kataku prihatin.

“Kalau pelangi dan kerlip itu telah masuk ke dalam hatinya dan hatiku, berarti mereka sudah menjadi milik kita. Mengapa harus dia menutup mata?” mata Vivien berkaca-kaca.

“Maksudmu, tetap mempertahankan pelangi? Mempertahankan bara cinta yang menyala-nyala di hati kalian?” nada tanyaku menyudutkannya.

Vivien terdiam.

Lima belas menit berlalu. Sementara itu, sketsa pensil tubuhnya sudah selesai. Kini aku tinggal mewarnainya.

“Apa kamu memelihara anjing di rumahmu – di Bandung sana?” Aku bertanya lagi, kali ini aku berhenti sejenak dan menarik napas agak dalam. Aku minum air putih dingin yang disuguhinya di sebuah botol kaca.

“Aku punya seekor kecil. Coklat warnanya. Kami memanggilnya, Brown.”

“Apa kamu suka sama Bron?” Aku bertanya lagi.

“Ya, iyalah. Anjing kecilku itu lucu.”

“Andaikan Brown-mu itu bisa melihat pelangi,” kataku sambil kembali mewarnai gambar Vivien lagi. Kali ini aku pilih pensil Brown Ochre 57 untuk mewarnai tubuhnya agar mirip anjing bron-nya itu.

Dia menanyaiku, “Lho, apa Brown tak bisa melihat pelangi?”

Aku menjawab, “Kamu kan suka sama si bron, seharusnya kamu sudah tahu. Bangsa anjing itu buta warna.”

Lalu apa hubungannya dengan pelangi cinta yang sedang kusaksikan bersama pangeranku itu?”

“Kalau anjing bron-mu itu bisa melihat pelangi, ia pasti adalah anjing yang paling beruntung di dunia. Sayang, iya akan kesulitan menjelaskan fenomena alam tersebut ke teman-temannya sesama anjing. Bahkan mungkin ia akan dibilang gila.”

“Charl, aku bukan anjing…!!!”

“Lho, siapa yang bilang kamu anjing? Ini kan perumpamaan. Bukankah kita terkategorikan dalam berbagai shio binatang sesuai penanggalan Tionghoa? Ada shio anjing, shio kerbau, shio macan, shio kera, dan shio-shio yang lain.”

Aku membela diri, “Vivien, dengar kataku, saat kamu melihat pelangi yang indah itu, suamimu; sahabat-sahabatmu; dan orang-tuamu tidak bisa melihat pelangimu itu.” Kali ini aku terkesan bisa memahami perasaannya itu.

Aku menanyainya lagi, “Apa suamimu tahu?

“Tahu.”

“Lalu apa reaksinya?”

“Aku tidak tahu. Aku sudah siap. Aku tahu ini salah tapi aku tak mampu membendung berkas pelangi dan kerlip bintang yang menerobos masuk ke dalam mataku dan mengalir ke hatiku. Aku tidak mau kehilangan pelangiku dan kerlip bintangku itu.”

Aku balik terdiam. Arsiranku terhadap tubuhnya sudah selesai. Sekarang arsiran gambar Vivien kulanjutkan ke rambutnya. Kali ini pensil-pensil warna yang kuambil adalah Golden Brown 59, yang dikombinasikan dengan Vandyke Brown 55 serta Ivory Black 67.

“Penjelasanmu itu belum cukup buatku, Charl.” Vivien bersuara lagi.

“Apa yang pernah kau hadapi itu mirip dengan apa yang dihadapi Jean Paul Sartre dan Simone de Beauvoir.” Aku menghibur Vivien.

Siapa mereka?

“Dua filsuf besar abad ini dari Prancis.”

“Akhir cerita mereka, bagaimana?” Vivien penasaran

“Tentang kehidupan mereka, kau carilah sendiri. Yang jelas mereka tetap bertahan untuk melihat pelangi dan kerlip bintang mereka.”

Vivien berkomentar pendek, “O….”

Vivien bersuara lagi, “Tiba-tiba pangeranku itu tidak mau menemuiku lagi. Aku jengkel sekali padanya.”

“Kenapa dia tidak mau menemuimu?” Aku mengangkat kepalaku menatap matanya lalu aku bertanya lagi, “Apa dia sudah beristri?”

“Sudah.”

Brrr….. tubuhku bergetar bagaikan dialiri sengatan listrik beberapa ribu volt setelah mendengar jawabannya yang pendek itu.

“Kamu sudah bersuami dan dia sudah beristri?” kataku sambil menghentikan gambarku.

“Rumit” tambahku lagi.

******

Tiba-tiba tanganku gemetar, aku ragu melanjutkan karya seniku ini. Untung saja, aku hampir selesai. Aku berusaha mengendalikan keadaan. Aku menarik napas dalam-dalam, beberapa kali.

“Kenapa Charl?” nampaknya Vivien mampu menangkap reaksi tubuhku atas jawabannya itu.

“Apa kamu juga sedang melihat pelangi?” Vivien curiga padaku.

“Bukankah sekarang waktu curhatmu?” Aku menghindari pertanyaannya itu.

Vivien duduk bersila. Dia berhenti bicara. Dia menatapku lekat-lekat. Aku menunduk, pura-pura meneruskan gambarku dari jarak empat meter. Vivien, sahabatku itu, nampaknya mengerti.

“OK. Aku mengalah. Sekarang waktuku yang curhat. Lain kali giliranmu. Tapi sebelum aku lanjutkan ceritaku, jawab dulu dengan jujur pertanyaanku; Apakah pelangi dan kerlip bintang itu indah?”

Aku menjawab pendek, “indah”

Ia tersenyum mendengar jawabanku itu. “Baiklah, untuk sementara cukup dulu aku menggalimu.”

******

Vivien berbicara lagi, “Tapi dia tidak berhak menghentikan pelangi yang sedang kita saksikan bersama.”

Aku hanya diam saja, aku tak tahu harus jawab apa. Aku hanya mendengarnya berkeluh-kesah. Sketsa tubuhnya yang sensual ini akhirnya selesai kugambar.

“Untuk apa dan siapa sketsa ini?”

“Untuk pangeranku yang menyaksikan pelangi di hatiku.”

Aku berusaha mendalami perasaan Vivien. Halaman sketchbook kubalik.

“Kau mau kutulis beberapa bait puisi di belakang gambarmu ini?” tawarku.

“Tulislah sekehendakmu, yang jelas aku tak mau kehilangan pelangiku itu.”

Aku berpikir keras. Aku dapat ide beberapa bait kata mengalir dari tanganku:

Kulihat Pelangi dan Kerlip Bintang

Kala kita beradu pandang – Kulihat pelangi

Tak mampu kubendung berkas sinar matamu.

Getar cinta menjalar ke hati

Aku rindu, Jujur perasaanku

Bingung bagaimana kusampaikan padamu

Kutetap ingin melihat pelangi dan kerlip bintang di matamu

Setelah pelangi berlalu

Kutetap ingin bersamamu

Di bukit sana

Menyongsong indahnya senja mengantar mentari ke peraduannya,

Kala malam tiba

Kita songsong kerlip bintang

di langit sana

Meski Aku bukan siapanya Kamu

Dan kamu bukan siapanya Aku

Jangan tutup matamu dan mataku

Jujur hatiku

Kala badai datang menghadang

Kala langit mendung, Kala hujan turun

Percayalah,

Badai pasti berlalu, Hujan pasti berhenti

Langit akan cerah dan sang surya pasti bersinar lagi

Pelangi, cantiknya senja dan kerlip bintang akan terus ada

Menjadi milik kita

“SELESAI” kataku sambil berdiri, meluruskan kaki dan tanganku.

Vivien cepat-cepat mendekatiku dan mengambil sketchbook dari tanganku. Ia kemudian membalik halaman untuk melihat gambarnya yang tadi telah kubuat.

“Lho, kok aku digambar telanjang? Aku kan berpakaian lengkap,” Ia mengeluh manja.

“Eh, bukankah curhatmu itu tadi berarti kamu menelanjangi dirimu? Aku membela diri.

Ia tertawa, “Tapi nggak apa-apa dech. Bagus kok gambarnya,” Vivien memuji.

Ia lalu membalik lagi halaman sketchbook-ku itu. Ia diam beberapa saat. Dibacanya puisi itu. Lalu dia mengangkat wajahnya padaku. Vivien tersenyum.

“Terima kasih, Charl”

Ketika memandang langit penuh kerlap bintang, aku teringat kisah Galileo di tahun 1632. Dia dianggap menentang “kebenaran umum” yang diterima dan dipegang selama ribuan tahun oleh Gereja bahwa Bumi adalah pusat tata surya. Ia dibilang gila, tidak bermoral, sombong dan berbagai sumpah serapah ditujukan padanya ketika ia membela teori Heliosentrisnya Nicolaus Copernicus. Teori yang menyatakan bahwa matahari adalah pusat tata surya. Ia pun dihukum Gereja. Sayang sekali, Paus yang ketika itu adalah teman dekatnya sendiri tak mampu melindunginya. Di kemudian hari, ternyata teori Galileo-lah yang benar.

Hari sudah malam, saat aku meninggalkan rumahnya. Nun jauh di angkasa sana, kerlap-kerlip bintang mengantarku pulang.

Sambil menatap gelapnya langit aku bergumam, “Ah.. Vivien, Jangan kau bermuram durja. Bila cuma kau yang melihat pelangi dan kerlip bintang, kau tak sendirian. Ada Jean Paul Sartre dan Simone de Beauvoir, ada Galileo dan besar kemungkinan si Bron anjing kesayanganmu. Kami ada di pihakmu sekalipun dengan pelangi dan kerlip bintang yang berbeda.”

Tengah malam aku tak bisa tidur. Pikiranku galau dipengaruhi komentar-komentar kritis sahabatku, Vivien. Lewat jendela kamar masih memancar kerlap-kerlip bintang di langit. Aku bangun dari ranjangku, kuambil kamus Indonesia-Inggris; karya John Echols dan Hassan Shadily. Kucari kosa kata kerlip di situ kudapati arti flicker of (candle, star) pada entri yang kedua kutemukan arti yang lain. Kerlip artinya fall in love – jatuh cinta.

“Oh, Vivien kawanku, aku juga melihat indahnya pelangi dan kerlip bintang yang kau ceritakan itu,

tapi di langit yang berbeda.”

Aku menarik napas dalam-dalam dan tidur terlelap.

Juni 24, 2009 - Ditulis oleh charlesroring | Cerita Pendek | , , , | 1 Komentar

1 Komentar »

  1. its good chale….

    Komentar oleh laode jamil | Desember 12, 2009 | Balas


Tinggalkan komentar