oleh Charles Roring di Manokwari, Papua Barat – Indonesia
Sebentar lagi masyarakat dunia merayakan hari kasih sayang tanggal 14 Februari. Ada yang menyebutnya sebagai hari cinta, saat-saat ketika seorang pria dan wanita yang sedang dimabuk asmara memadu kasih dalam kecupan dan pelukan mesra. Walaupun ada yang kurang sepakat dengan hari Valentine, setidaknya dunia komersil menyambutnya dengan gegap gempita.
Warna pink dan simbol heart bertebaran di mall-mall. Toko pakaian menjual T-shirt berwarna pink berlambang hati. Bioskop dan stasiun televisi menayangkan film bernuansa pink dan percintaan. Dari mana warna pink atau merah muda dipertalikan dengan kata cinta?, Terus terang saja saya tidak tahu.
Kebanyakan gadis-gadis suka dengan warna pink, kelembutan dan romantismenya membangkitkan hasrat cinta dan kasih saying di dalam hati.
Mungkin pada hari Valentine nanti, Anda berkhayal duduk berduaan dengan kekasih Anda. Dalam remang cahaya rembulan atau kelap-kelip lampu kota, sambil mengenakan baju kaos pink, atau sofa pink atau bantal kursi yang berwarna pink, Anda menerima ucapan kata cinta dari sang kekasih yang sedang menggenggam sekuntum mawar berwarna merah.
Tapi kawan, cinta tak selamanya berwarna pink. Dalam dunia yang serba pragmatis dan materialis, cinta bisa berwarna biru atau merah (sesuai dengan pecahan lima puluh ribu dan seratus ribu). Kadang cinta itu berwarna putih sebagai lambang kesucian.
Ada sejumlah orang yang lebih suka melihat cinta dalam warna coklat. Dalam bahasa Inggris seharusnya istilahnya adalah brown. Tapi saya lebih senang mengartikannya dengan kata chocolate. Pernah sebuah iklan menampilkan pasangan muda mudi yang saling menggigit sebatang coklat SilverQueen di kedua ujungnya. Kalau coklat itu digigit terus sampai habis, bagaimana hasilnya? Tentu kedua kekasih yang dimabuk asmara itu akan bertemu bibir. Nilai sebatang coklat chunky bar merek Silver Queen harganya sekitar Rp. 10.000. Saya pikir ini sangatlah terjangkau bagi seorang pria yang sedang jatuh cinta pada gadis pujaan hatinya. Begitu pula, sebatang coklat SilverQueen mudah dibeli oleh seorang gadis untuk dihadiahkan kepada pemuda yang ditaksirnya.
Namun, dibalik harga yang mahal itu tersimpan sebuah potensi bisnis yang sangatlah besar. Karena hampir setiap orang menyukai coklat yang rasanya manis kepahit-pahitan itu, pasar untuk coklat terbentang luas dari anak-anak, remaja hingga orang tua. Petra Foods sebagai perusahaan pembuat Silverqueen yang bermarkas di Singapura dan Indonesia mematok keuntungan senilai $ 500 juta dollar di tahun 2006.
Ya, coklat yang dasarnya pahit ternyata laris manis dan dicintai setiap lapisan masyarakat dari miskin hingga kaya, dari muda hingga tua.
Saya pribadi suka dengan Silver Queen chunky bar yang isinya cashew nut. Rasanya manis dan gurih. Memang Chuang & Co sungguh piawai dalam mengembangkan coklat batangan yang sekarang sering dijadikan hadiah oleh pasangan-pasangan yang sedang jatuh cinta. Semoga coklat SilverQueen yang enak, gurih dan manis-manis pahit ini tetap dicintai masyarakat dan terus menjadi produk kebanggaan baik masyarakat pendirinya maupun perusahaan pembuatnya. Selamat hari cinta, selamat hari kasih sayang, selamat hari valentine 14 Februari 2009.
Februari 11, 2009
Ditulis oleh
charlesroring |
Catatan Kecil, Ekonomi dan Bisnis |
chocolate, chunky bar, coklat, hari valentine, silver queen |
1 Komentar
Jujur saja walau saya seorang laki-laki, saya sangat menyukai bunga. Kebanyakan kaum pria lebih suka pada hal-hal yang berhubungan dengan maskulinitas atau apalah istilahnya. Mau contoh? Katakan saja olah raga tinju, sepak bola, balapan atau memelihara iguana dan anjing herder.
Bagaimana dengan memelihara bunga? Ah, itu biasanya urusan perempuan.
Saya sendiri tidak peduli apa kata orang. Yang jelas saya suka sekali dengan bunga. Ada bunga Canna dan kembang sepatu di belakang rumah. Ada juga bermacam-macam bunga di samping kiri rumah saya. Saya menyenangi semuanya sampai-sampai saya tidak tahu nama mereka. Pendek kata, keindahan alam adalah kecintaan saya.
Lalu untuk apa bunga yang berwarna-warni itu? Bagi saya, untuk dinikmati saja. Saya belum berpikir untuk membisniskannya.
Dulu dalam film-film barat sering digambarkan bagaimana seorang pria yang sedang dimabuk asmara menyatakan cintanya dengan bunga. Wanita pujaan hatinya yang menerima seikat bunga itu akan tersenyum lebar. Kemudian dengan suara manja ia akan mendekati sang pria lalu memberikan ciuman mesra padanya.
Pertanyaannya, masih romantiskah bila laki-laki menyatakan cintanya pada wanita pujaan hatinya dengan sekuntum atau seikat bunga?
Saya harus akui bahwa walaupun sungguh menyukai bunga, belum pernah saya mengungkapkan cinta dengan bunga. Dulu waktu masih di bangku kuliah, saya suka langsung saja, menemui wanita yang ditaksir dan segera mengalirlah kata-kata cinta dan “rayuan-rayuan gombal”. Ini lebih praktis dan lebih murah, dan terpenting lagi lebih cepat – DARI PADA DIDAHULUI COWOK LAIN?
Mungkin ada di antara pembaca yang akan menjawab Ya; Cinta masih bisa diungkapkan lewat bunga terutama Sekuntum Mawar yang harum dan berwarna merah atau pink.
Bagaimana dengan menyatakan cinta lewat internet? Di dunia maya seperti sekarang ini, mengungkapkan cinta dengan bunga perlu lebih dilihat dari perspektif digital. Maksudnya? Ya, masih relevan menggunakan bunga, tapi lebih baik pakai Bunga Bank, supaya sang wanita pujaan hati Anda bisa membayar biaya internet atau pulsa yang kian membengkak bila sedang dimabuk asmara. Ini bukan materialis tapi pragmatis. Bagaimana pendapat Anda?
Februari 9, 2009
Ditulis oleh
charlesroring |
Catatan Kecil |
bunga, cinta |
& Komentar

Kemarin, di berbagai media massa tersiar berita bahwa Jakarta masuk Siaga 2 Banjir. Hujan deras yang turun beberapa jam saja di kawasan Bogor, secara langsung mengancam penduduk ibu kota. Banjir seakan-akan telah menjadi agenda tahunan dan lima tahunan di Jakarta. Ini merupakan hal yang sangat memprihatinkan. Masyarakat semakin keras berteriak agar pembangunan banjir kanal segera dipercepat.
Memang saluran drainase yang besar dan dalam mutlak diperlukan oleh kota Jakarta agar tetap kering menghadapi banjir kiriman dari kawasan Bogor.
Banjir dapat kita tanggulangi secara bersama-sama, bila kita mau mengubah gaya hidup kita. Halaman rumah kita janganlah semua ditutupi dengan semen. Berikanlah ruang serapan berupa taman, kawasan parkir yang ditutupi kerikil atau paving block dan selokan yang berpori. Di samping itu, kebiasaan membuang plastik atau sampah ke parit-parit besar harus dihentikan. Saya masih sering melihat orang kota yang intelek dengan ilmunya yang tinggi-tinggi, kurang peduli hal sepele seperti membuang botol plastik atau bungkusan snack mereka ke dalam tong sampah. Sering saya mendapati begitu banyak sampah rumah tangga menutupi selokan-selokan kecil di sekitar rumah.
Bila daerah serapan air semuanya sudah ditutupi lantai semen, selokan atau saluran drainase sudah disumbat oleh sampah-sampah yang dibuang oleh penduduk kota itu sendiri, jangan kaget kalau setiap tahun, Jakarta dilanda banjir.
Kita bisa mulai menambah daerah resapan dengan membongkar carport atau jalan-jalan di perumahan dan menggantinya dengan paving block. Kalau orang lain belum bersedia untuk melakukan hal yang sama, setidaknya kita sendiri mau memberikan contoh. Menaikan tinggi lantai, atau mengubah rumah 1 lantai menjadi 2 lantai, bukan merupakan solusi. Semua warga kota Jakarta harus mau membuka lebih banya daerah serapan di sekitar rumah mereka, membuat lubang-lubang serapan di selokan sehingga bahaya banjir bisa berkurang. Semoga.
Februari 3, 2009
Ditulis oleh
charlesroring |
Catatan Kecil, Gambar & Lukisan, Lingkungan Hidup |
banjir, jakarta |
No Comments Yet
Merah bajunya,
Merah pipinya,
Merah bibirnya
Cantik wajahnya,
Hitam rambutnya,
Lembut tatap matanya.
Merah Merekah senyumnya.
Oh…
Siapa dia?
Siapa punya?
Baca juga:
Februari 1, 2009
Ditulis oleh
charlesroring |
Gambar & Lukisan, Puisi |
Gambar & Lukisan, Puisi |
& Komentar