Konversi Hutan Tropis Papua Menjadi Perkebunan Sawit
oleh Charles Roring di Manokwari Papua
Sebuah perusahaan bernama PT. Medco Papua Hijau Selaras segera akan membuka lahan perkebunan sawit di Manokwari seluas 5.929,7 hektar (sumber data: ornop peduli lingkungan hidup, PERDU).
Menurut Harian Cahaya Papua tanggal 24 Desember 2008 yang saya baca, pembayaran sewa lahan telah dilakukan akhir tahun 2008 ini, seharga Rp. 450.000/ hektar atau Rp. 45 per meter persegi sekali bayar untuk 35 tahun kepada masyarakat adat sebagai pemegang hak. Izin pelepasan tanah akan diterbitkan pada bulan Januari 2009 sebagaimana ditegaskan oleh Kadis Kehutanan. Lawan sawit tersebut akan dibuka di tiga distrik yakni Masni, Sidey dan Manokwari Utara. Rencananya Maret atau April penanaman akan dimulai menggunakan 75 ribu bibit sawit yang telah disiapkan.
Hutan hujan tropis Manokwari Papua
Memang harga Rp. 45 per meter persegi masih sedikit lebih tinggi dari pada harga kompensasi lahan yang dibayar oleh British Petroleum kepada masyarakat adat untuk proyek ekstraksi gas BP LNG Tangguh di Teluk Berau, Papua sebesar Rp. 10/meter2. Tapi hal tersebut tidak bisa dijadikan sebagai pembenaran untuk menguasai lahan hutan seluas hampir enam ribu hektar tersebut untuk kemudian dikonversi menjadi perkebunan sawit. Sebenarnya masih ada banyak lahan kritis di Indonesia yang bisa dimanfaatkan.
Saya juga melihat ada kejanggalan angka, di cahaya Papua disebutkan luas lahan yang akan dibuka adalah sekitar 3.000 ha sedangkan menurut PERDU adalah 5.929,7 hektar. Pembaca yang ingin memperoleh data yang lebih terperinci silahkan mengirim email ke PERDU: perduers@gmail.com atau menghubungi mereka lewat telepon di 0986 214850.
Bila PT MEDCO ingin memproduksi bio-fuel, mengapa Anda tidak bekerja sama dengan BP LNG Tangguh membangun “kebun algae.” Saya baca di sebuah artikel ilmiah bahwa algae bisa menghasilkan biofuel beberapa puluh kali lebih banyak. Kendala yang dihadapi adalah algae membutuhkan CO2 dalam jumlah yang sangat banyak. Nah, kebetulan BP LNG Tangguh harus memisahkan 12,5 persen dari 32,7 tcf natural gas stream-nya dalam bentuk CO2. Dari pada dibuang ke udara, bagaimana kalau PT Medco memanfaatkannya? Saya yakin pihak BP akan sangat berterima kasih dan malahan mau membeli Carbon Offset dari PT Medco.
Patut disayangkan bahwa lahan yang luas tersebut saat ini sebagian besar masih berupa hutan hujan tropis, penuh dengan keanekaragaman hayati yang tak ternilai harganya.
Di samping harga kompensasi yang terlalu rendah, sebenarnya masih ada alternatif lain yang bisa ditawarkan kepada masyarakat seperti penjualan carbon offset, pemanenan hasil hutan non-kayu seperti rotan, buah merah, sarang semut, kulilawang dan kulit masoi, buah-buahan tropis serta budi-daya kayu gaharu.
Skema lain yang bisa diterapkan adalah peningkatan nilai tambah dari hasil hutan non-kayu tersebut lewat pelatihan ketrampilan bagi masyarakat adat agar produk yang mereka jual sudah dalam bentuk barang setengah jadi atau barang jadi.
Saya tetap yakin bahwa ada alternatif lain yang jauh lebih baik bagi peningkatan taraf hidup masyarakat adat selain dari pada konversi hutan tersebut menjadi perkebunan sawit yang monokultur.
Terlepas dari kepentingan politik dan ekonomi yang terkandung dalam proyek sawit Medco, konversi hutan hujan tropis menjadi industri monokultur dewasa ini sangat ditentang oleh masyarakat internasional yang peduli dengan lingkungan hidup maupun masalah global warming.
Harga 1 Carbon Offset yang setara dengan serapan 1 ton CO2 ekuivalen adalah antara 21 dan 24 euro untuk European emission allowances tahun 2008 – 2012.
Saya pikir kalau kita mau lebih berepot-repot dan serius mengurus hutan hujan tropis sekaligus membantu pemberdayaan ekonomi masyarakat adat, maka skema seperti eco-tourism saja sudah mampu membawa perbaikan ekonomi bagi mereka.
Saya mempublikasikan posting ini ke hadapan Anda dengan harapan agar ada perhatian dari berbagai pihak yang BENAR-BENAR peduli dengan masyarakat adat di Papua.
Jadi jangan mengangkat isu ini hanya sebagai materi proposal LSM kepada lembaga donor.
Saya tidak memiliki kepentingan apapun selain dari pada ingin melihat hutan hujan tropis Papua tetap lestari, di mana anak-anak Papua yang sedang berjalan di bawah kerindangan pepohonan hijau saat mencari binatang buruan, tetap masih bisa menghirup udara segar, menikmati kicauan burung nuri, kebasan sayap Taun-taun, dan romantisnya tarian burung Cendrawasih di pagi hari.
Bila hutan Papua ini dibabat, semuanya akan sirna. Baca juga: Amazon Kindle









Saat kunjungan Greenpeace di Indonesia, dengan mengawali pelayaran dipapua 15 Oktober, kampanye penghentian kerusakan hutan atau perlindungan hutan sudah ditegaskan..untuk kasus – kasus ini lebih baik diadili di pengadilan inrenasional sudah.,…karna saya tidak yakin HUKUM direpublik ini
Bagaimana kalau kamu yang buat gugatan, nanti saya dukung lewat jaringan advokasi yang ada.
saya tidak ingin aset dunia rusak hanya gara-2 kepentingan segelintir orang
harap di perhatikan
papua adalah salah satu kebanggaan indonesia
jangan segampang itu dilepas hanya u perkebunan kelapa sawit
di sumatra sudah cukup
hutan telah rusak, bahkan harimau sumatra sudah tak pernah terlihat lg akibat konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit
jangan membohongi masyarakat adat setempat
go green indonesia