Ancaman Baru Bagi Kelestarian Hutan Papua
oleh Charles Roring Manokwari Papua Barat
Hutan hujan tropis Papua adalah paru-paru dunia yang harus kita lestarikan sampai kapanpun. Sayangnya, laju penggundulan hutan di daerah ini semakin tinggi. Hal tersebut sangat mencemaskan semua pihak. Jumlah penduduk yang semakin bertambah dengan sendirinya akan mendongrak kebutuhan terhadap kayu sebagai bahan penting dalam pembuatan rumah. Di samping itu, perusahaan monokultur perkebunan kelapa sawit terus berdatangan dan membuka lahan-lahan baru.
Pada tanggal 6 Desember 2008 yang lalu, Cahaya Papua, sebuah surat kabar local memuat berita di halaman depan yang mengatakan bahwa PT Medco Papua Hijau Selaras telah mencapai kesepakatan sewa lahan hutan seluas 5.930 ha (lima ribu sembilan ratus tiga puluh hektar) selama 35 tahun untuk perkebunan kelapa sawit. Harga yang dibayar adalah Rp. 450.000/hektar/35 tahun. Ini berarti harga sewa lahan hutan untuk 1 meter persegi adalah Rp 45. Pembayaran sedang dilakukan secara bertahap dimulai dari daerah Sidey, Masni dan Pantura.
Berita di atas ini sangat memprihatinkan. Hutan Papua yang sangat kaya dengan keanekragaman hayati dan berfungsi sebagai paru-paru dunia, ternyata dihargai sangat murah.
Secara pribadi, saya keberatan bila ribuan hektar hutan Papua harus dikonversi menjadi lahan monokultur.
Dalam kesempatan terpisah dan pada kasus yang agak berbeda, dalam sebuah wawancara video yang dilakukan oleh Kevin dan Darcy, dua orang aktivis lingkungan hidup, di kawasan perkebunan Prafi Manokwari, terungkap bahwa sebagian besar petani sawit di kawasan itu memperoleh pendapatan dari kelapa sawit tidak mencukupi kebutuhan keluarga. Sebagai jalan keluar mereka terpaksa harus membuka kebun sayur dan betatas guna mendapatkan tambahan penghasilan. Seorang kepala suku di daerah itu juga menyatakan penyesalannya karena telah menyerahkan ribuan hektar tanah adat kepada PT P-2 untuk dijadikan lahan kelapa sawit. Ternyata masyarakat tidak memperoleh pendapatan yang sangat signifikan dari projek monokultur tersebut.
Dengan semakin tuanya pohon kelapa sawit di daerah Prafi Manokwari, semakin menurun pula produktivitasnya.
Masih ada alternatif lain yang bisa kita tawarkan sebagai pengganti untuk konversi hutan menjadi perkebunan sawit.
Beberapa diantaranya adalah:
Penjualan Carbon Offset. Skema ini merupakan bagian dari gaya hidup “karbon netral” sebagaimana yang diamanatkan oleh Kyoto Protocol dalam the “Clean Development Mechanism (CDM). Satu karbon offset setara dengan pengurangan satu ton karbon dioksida atau ekuivalennya (CO2e). European emission allowances untuk tahap kedua 2008-2012 adalah antara 21 dan 24 Euro buat penjualan 1 metrik ton CO2.
Kita tinggal menghitung berapa ton CO2eyang dapat diserap oleh hutan tropis seluas 5.930 hektar yang hendak atau sedang disewa oleh PT Medco Papua Hijau Selaras. Setelah itu, lewat kerja sama dengan Global Carbon kita bisa memproses sertifikasi untuk serapan CO2 tersebut dan menjual offsetnya di pasar karbon dunia.
Saya yakin pemasukan yang diterima oleh masyarakat adat dari penjualan carbon offset selama 35 tahun ke depan jauh lebih besar daripada harga sewa tersebut di atas. Pemasukan ini bisa dipakai untuk membiayai pendidikan, kesehatan serta modal usaha.
Di samping itu pula, masyarat masih tetap bisa mengambil hasil hutan non-kayu seperti binatang buruan (babi hutan, soa-soa, burung meleo, ikan air tawar, burung kumkum) untuk kebutuhan protein harian mereka. Hasil-hasil hutan lainnya seperti rotan, buah merah, kulit masoi, sarang semut dan anggrek mampu meningkatkan pendapatan mereka.
Manfaat lainnya yang cukup signifikan dari pelestarian hutan Papua adalah pariwisata. Banyak turis mau membayar hingga puluhan ribu Euro per orang untuk sebuah paket perjalanan yang mencakup pengamatan (bird watching) burung Cendrawasih, proses pembuatan tepung sagu sebagai makanan tradisional, serta pengamatan anggrek liar. Setahu saya, sudah ada travel agency di Eropa yang sudah mulai menjual paket tersebut dan ternyata banyak peminatnya. Sebagian dari pemasukan mereka dialokasikan untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat setempat.
Bila sebagaian besar hutan Papua telah ditebang dan dikonversi menjadi lahan sawit, suara nyaring burung Cendrawasih yang memanggil kekasih-kekasihnya untuk berdansa menyambut matahari pagi tak akan terdengar lagi.
Anda bisa membaca artikel saya lainnya dalam bahasa Inggris di http://charlesroring.blogspot.com









Pemda pu bodoh… harga tanah di Papua tuch trada yang begitu… masa dong mo jual tanah dengan harga begitu tuch ??
secara ekonomis, harga Rp 45,- sanga2 tidak masuk akal… apalagi per tahun untuk 1 meter persegi.