Pilatus Porter Pesawat Ringan yang Cocok untuk Daerah Pedalaman
oleh Charles Roring di Manokwari Papua
Perlunya Peninjauan Kembali Kontrak-kontrak Kerja Pertambangan
oleh Charles Roring di Manokwari Papua, Indonesia
Papua adalah daerah konflik yang tak pernah ditangani secara serius oleh berbagai pihak yang berkepentingan di dalamnya. Selain masalah pelurusan sejarah yang erat sekali kaitannya dengan tuntutan rakyat Papua untuk adanya suatu genuine self determination, ternyata potensi konflik di tanah ini terletak juga pada berbagai aktivitas ekstraksi sumber daya alam secara berlebihan yang kurang memperhatikan kepentingan masyarakat adat.
Bersahabatlah Dengan Alam
Sebentar lagi tahun akan berganti. Apa resolusi Anda untuk 2009 nanti? Tentu setiap orang menginginkan kehidupan yang lebih baik. Lebih banyak rezeki dan bila yang belum dapat jodoh, ingin supaya mendapat puteri atau pangeran dambaan hati. Dengar, semua angan-angan atau impian Anda sangat erat kaitannya terhadap bagaimana Anda berinteraksi dengan sesama, Tuhan dan alam sekitar. Berikut ini adalah tips untuk bersahabat dengan alam.
Konversi Hutan Tropis Papua Menjadi Perkebunan Sawit
oleh Charles Roring di Manokwari Papua
Sebuah perusahaan bernama PT. Medco Papua Hijau Selaras segera akan membuka lahan perkebunan sawit di Manokwari seluas 5.929,7 hektar (sumber data: ornop peduli lingkungan hidup, PERDU).
Menurut Harian Cahaya Papua tanggal 24 Desember 2008 yang saya baca, pembayaran sewa lahan telah dilakukan akhir tahun 2008 ini, seharga Rp. 450.000/ hektar atau Rp. 45 per meter persegi sekali bayar untuk 35 tahun kepada masyarakat adat sebagai pemegang hak. Izin pelepasan tanah akan diterbitkan pada bulan Januari 2009 sebagaimana ditegaskan oleh Kadis Kehutanan. Lawan sawit tersebut akan dibuka di tiga distrik yakni Masni, Sidey dan Manokwari Utara. Rencananya Maret atau April penanaman akan dimulai menggunakan 75 ribu bibit sawit yang telah disiapkan.
Hutan hujan tropis Manokwari Papua
Mahatma Gandhi, Rasul Non-kekerasan – Sebuah Pengenalan
Mahatma Gandhi, Apostle of Nonviolence: An Introduction
oleh John Dear
diterjemahkan oleh Charles Roring
Ketika Mahatma Gandhi dibunuh pada 30 Januari 1948, dunia memujinya sebagai salah satu pemimpin spiritual terbesar, tidak hanya pada abadnya, tetapi juga sepanjang masa. Dia disejajarkan tidak hanya dengan Thoreau, Tolstoy, dan Santo Fransiskus, tetapi juga dengan Buddha, Mohammed dan bahkan Yesus. “Generasi-generasi yang akan datang sulit percaya bahwa ada orang seperti dia yang pernah berjalan di muka bumi ini dalam rupa daging dan darah,” tulis Albert Einstein ketika itu.
Apa yang diwariskan Gandhi tidak hanya perjuangan yang secara cerdas melawan rasisme terinstitusi di Afrika Selatan, pergerakan kemerdekaan India, dan membuka jalan bagi dialog antar-agama, tetapi juga memperkenalkan penerapan pertama yang luas dari perlawanan tanpa-kekerasan[1] sebagai alat yang paling ampuh bagi perubahan sosial. Non-kekerasannya Gandi tidak hanya bersifat politis; Metoda ini tertanam dan berakar dalam spiritual, yang menjadi penyebab mengapa dia cepat terkenal tidak hanya di panggung politis India, tetapi di panggung dunia, dan tidak hanya sementara, tetapi untuk sepanjang massa.

Sketsa Gadis Telanjang Memeluk Lutut ini saya buat tadi siang. Untuk figure drawing study tersebut saya menggunakan pensil warna cat air atau watercolour pencil merek Derwent seri 72. Ketika menggambar gadis telanjang tersebut, saya pakai beberapa pensil sbb:








