Lembar-lembar Ekspresi

Transformasi Sosial dalam Sensualitas

TANDUK RUSA

oleh Charles Roring

Suatu hari Markus berada di Kebar, sebuah ibukota kecamatan di pedalaman Papua bagian utara. Jaraknya kurang lebih lima belas menit perjalanan pesawat dari Manokwari, ibukota provinsi Papua Barat. Sehabis mengunjungi keluarga dan tinggal beberapa bulan di sana, sekarang ia hendak kembali ke kota. Tentu saja ia harus naik pesawat. Jalan darat belum diaspal sehingga tebing-tebing yang curam sangat berbahaya kalau dilewati mobil di kala hujan.

Markus membawa sedikit kacang tanah yang diisi di dalam karung. Tas pakaian menggantung di punggung. Sementara itu tangan kirinya memegang sebuah tanduk rusa bercabang tujuh. Tanduk itu besar dan panjang.

Lapangan terbang Kebar tidak beraspal, letaknya di lembah yang luas dan rata ditumbuhi alang-alang. Pagi ini cuacanya terang agak mendung di sebelah utara. Pesawat mendarat jam 8.00 pagi.

Para penduduk sudah berdatangan untuk memeriksa kalau-kalau ada kiriman buat mereka. Anak-anak kecil mendekati pesawat, membantu menurunkan barang atau melihat-lihat ke dalam ruang kokpit yang penuh dengan tombol dan meteran yang rumit. Harapan mereka suatu saat nanti bisa menjadi Pilot. Ya, banyak sekali anak-anak Papua di pedalaman berangan-angan menjadi Pilot.

Pesawat adalah suatu suatu pemandangan yang biasa sekaligus menakjubkan buat mereka. Kampung-kampung Papua yang masih sederhana sekali ini sudah biasa dikunjungi oleh burung besi yang berteknologi canggih.

Dua jam berikutnya pesawat bersiap-siap akan berangkat. Petugas memeriksa tiket setiap penumpang. Pilot berdiri di dekat pintu pesawat menyaksikan setiap penumpang yang mulai naik mirip sopir bus yang stasiun kota. Markus berjalan perlahan-lahan menuju pesawat. Tanduk rusa yang ditentengnya langsung menarik perhatian sang Pilot. Melihat tanduk itu, Pilot menghentikan langkah Markus.

“Jual kah?” tanya Pilot.

“Iya Kep. Saya mau jual di kota. Kep mau beli?” Jib balik bertanya. Di Papua, Pilot biasanya disapa Kep yang adalah singkatan dari kata Captain.

“Mari, kasih tanduk itu saya lihat dulu. Nanti kalau sudah sampai di kota, saya akan bayar, OK?” tanya Pilot lagi.

“OK” jawab Markus sambil mengangguk.

“Berapa harganya?”

“Terserah Kep saja,” Markus malu mematok harga buat sang Pilot yang dinilainya sudah banyak berjasa membuka keterisolasian di kampungnya selama ini.

“Kalau begitu nanti saya bayar di bandara Manokwari saja,” kata Pilot sambil berlalu darinya.

“Iya, Kep,” jawab Markus dengan wajah berseri-seri, tanduk rusa yang besar dan berat itu akan segera laku. Ia naik ke pesawat. Tanduk itu ditaruhnya di dekat tempat duduknya.

Tak lama kemudian semua penumpang sudah duduk di dalam pesawat. Jenisnya Twin Otter – dua baling-baling, panjangnya sekitar dua puluh lima meter. Pintu pesawat ditutup.

Sabuk-sabuk pengaman dikenakan penumpang. Swing-swing…zzz…. zzz… zzz… baling-baling kanan berputar duluan. Tiga menit kemudian baling-baling kiri ikut berputar. Dari balik kaca jendela para pengantar melambai-lambaikan tangan mereka. Putaran baling-baling semakin kencang. Rumput di belakang pesawat rata dengan tanah. Suara bising baling-baling pesawat memekakkan telinga. Debu dan rumput-rumput kering beterbangan. Perlahan-lahan pesawat bergerak meninggalkan apron. Zzsss… lari pesawat di landasan pacu. Wush…. burung besi itu perlahan-lahan terangkat ke angkasa. Semakin lama semakin tinggi, semakin kecil hingga nampak seperti seekor semut saja hingga menghilang di balik awan.

Di dalam pesawat, Markus duduk bersandar. Terbayang olehnya baju dan sepatu baru yang menggantung di pasar. Kalau ia sudah menerima uang penjualan tanduk rusa itu, akan ia beli barang-barang itu sebagai hadiah buat anaknya yang telah ditinggalkannya bersekolah di kota. Kalau ada kelebihan uang, ia ingin membeli sepucuk senapan angin yang baru. Senapan anginnya saat ini sudah tua dan karatan. Jarak tembaknya juga sudah berkurang banyak.

Pesawat akhirnya mendarat di bandara Rendani Manokwari. Setelah baling-baling berhenti, dan pintu pesawat dibuka oleh pramugari, para penumpang segera turun. Markus turun juga dan langsung berjalan ke arah pintu Pilot.

Sang Pilot membuka pintu. Begitu menginjakkan kakinya di landasan ia berkata kepada Markus, “Kawan, saya masih ada urusan di kantor bandara. Tunggu saya di luar ruang istirahat Pilot. Nanti saya akan panggil kamu di sana.”

“Iya, Kep,” jawab Markus. Ia berjalan menuju terminal kedatangan penumpang. Sesampainya di ruang itu, ia dicegat petugas bandara. Salah seorang memegang tanduk itu dan berusaha mengambilnya dari tangan Markus.

“Dik, tanduk rusa ini kami tahan,” kata petugas itu.

“Iya, kamu tidak bisa membawanya ke kota. Rusa adalah binatang langka yang dilindungi negara. Kamu dilarang memperjualbelikannya,” jelas salah seorang petugas yang lain.

“Pak, tanduk ini bukan milik saya.”

“Lalu, milik siapa?” tanya petugas itu.

“Tanduk ini milik Pilot.”

“Ah-kamu jangan membuat-buat alasan yang tidak perlu”

“Bah! Ini betul… Saya tidak bohong,” Markus melawan.

“Tetap tidak bisa! Kamu mau melawan petugas?”

“Pak, kalau mau menahan, silahkan tanyakan langsung ke Pilot.”

“Sudah! Kamu jangan banyak omong. Tanduk ini kami sita.”

Setelah berulang-ulang berdebat mengenai tanduk, akhirnya Markus kalah. Dengan langkah lunglai, ia berjalan ke luar ruangan kedatangan penumpang tersebut.

“Apa yang harus saya katakan pada Pilot itu?” tanya Markus dalam hatinya. Kecewa sekali rasanya diperlakukan seperti itu oleh petugas. Markus berjalan melewati emperan terminal. Ia duduk di tangga, di pintu luar ruang istirahat Pilot. Ia menunggu sang Pilot keluar. Angan-angan membeli baju dan sepatu baru buat anak-anaknya sirna sudah.

Masih terbayang betapa melelahkan bertarung melawan rusa itu, yang salah satu kakinya terikat jerat yang dipasangnya minggu lalu. Rusa itu masih hidup, beberapa kali anak panah yang ditembakkannya menembus tubuh rusa itu tetapi tetap saja binatang itu berdiri kokoh. Dua ekor anjing yang menemani Markus ikut membantunya. Yang coklat menggigit di leher dan yang belang mengigit di paha. Tendangan rusa membuat Si Belang hampir mati. Untung saja Markus membawa parang, sekali tebas leher rusa tersebut putus. Berat sekali rusa itu ketika ia memikulnya ke kampung. Malam itu, Markus beserta keluarga dan tetangga-tetangganya menikmati pesta daging rusa.

Sekarang tanduk rusa, yang hendak dijualnya ke Pilot, sudah ada di meja petugas yang sedang asyik bermain domino di ruangan mereka. Markus berdiri dan berjalan masuk ke ruang istirahat Pilot guna menemuinya.

“Permisi, apa Kep ada di dalam?” tanyanya pada seorang penjaga.

“Ada, kamu mau perlu apa?” si penjaga itu balik bertanya.

“Ah-tidak, begini Pak, saya tadi sudah sepakat dengan Kep mengenai tanduk rusa yang ingin dibelinya. Waktu saya turun dari pesawat, tanduk itu ditahan petugas di pintu kedatangan penumpang. Saya ingin menemui Pilot untuk memberitahunya tentang masalah ini.”

“Captain lagi bicara dengan Kepala Operasional Bandara. Kamu tunggu sebentar, saya akan masuk memberi tahu dia,” kata si penjaga itu. Tidak lama kemudian Pilotnya keluar. “Kamu pergi ke petugas yang menahan tanduk itu, bilang ke mereka, saya yang suruh ambil barang itu kembali,” perintah Pilot pada Markus.

“Iya, Kep,” segera Markus beranjak dari ruangan itu.

Jarak tempat tanduk rusa ditahan dengan ruang istirahat Pilot kurang lebih lima puluh meter. Sesampainya di sana, Markus langsung meminta tanduk rusa dikembalikan. “Pak, Kep minta tanduknya dikembalikan.”

“Ah-tidak bisa. Kau jangan banyak alasan,” kata petugas yang berdiri di dekat pintu.

“Iya, kamu pulang saja,” tambah petugas lain yang sedang duduk memegang kartu.

“Ah-tidak bisa. Ini Kep yang suruh saya,” Markus melawan.

Petugas-petugas itu terus saja bermain kartu. Mereka tidak peduli dengan omelan Markus yang sedari tadi mempersoalkan penyitaan tanduk rusanya.

“Bah! Ini bukan binatang hidup sehingga kalian boleh menyitanya. Ini barang mati. Daging rusanya sudah habis dimakan orang kampung. Mengapa bapak-bapak masih menyita tanduk ini?” Markus terus bersungut-sungut di luar ruangan itu. “Eeh – kau dengar. Kami ini hanya menjalankan tugas. Rusa itu binatang yang dilindungi undang-undang. Jadi kami harus menyita tanduk ini.”

“Tapi tanduk itu Pilot yang beli!”

“Kau pikir kami takut sama Pilot?” tanya petugas yang berkacamata dengan congkaknya.

Tiba-tiba Pilotnya datang, “Selamat siang bapak-bapak,” katanya pada mereka.

“Oh, selamat siang Captain,” jawab mereka sambil menghentikan permainan domino mereka.

“Begini, saya mau ambil tanduk yang saya beli dari kawan ini,” telunjuk sang Pilot mengarah ke Markus. Tanpa menunggu jawaban dari petugas-petugas itu, Pilot langsung masuk dan mengambil tanduk rusa. Ia lalu berjalan keluar.

“Oh, iya-iya Captain, kami pikir orang ini tadi hanya membuat-buat alasan saja. Silahkan, Capt.”

“OK, kalau begitu terima kasih, selamat siang”

Pilot dan Markus berjalan kembali ke ruang istirahatnya. Ia mempersilahkan Markus duduk. “Kamu mau minum apa?” tanya Pilot padanya.

“Ah, tidak usah repot-repot Kep,” Markus menolak tawarannya dengan sopan.

“Tidak apa-apa, kamu kelihatan lelah sekali menunggu dan bertengkar dengan petugas-petugas itu,” kata Pilot sambil menyodorkan sekaleng Sprite dingin.

Markus menerimanya, membukanya dan langsung meminumnya sampai habis. Sedari tadi ia haus sekali. Napas lega ditariknya dalam-dalam, gas Sprite membuatnya bersendawa beberapa kali.

Sambil tersenyum, Pilot mengeluarkan dompetnya. Dihitungnya uang lembaran seratus ribu. Delapan lembar jumlahnya. “Kamu sudah punya anak?” tanya Pilot sambil menyerahkan uang itu.

“Sudah, Kep, dua, masih kecil-kecil,” jawab Markus. Kedua tangannya menerima uang hasil penjualan tanduk rusa. “Terima kasih, Kep.”

“Oh, iya, terima kasih. Jangan lupa beli oleh-oleh buat mereka.” Sang Pilot pesawat twin-otter Merpati itu mengingatkannya.

“Tentu, Kep. Saya sudah merencanakan ini sebelumnya. Terima kasih, Kep. Permisi.” Markus pamit. Ia berdiri lalu berjalan keluar ruangan itu.

“Iya-iya, terima kasih kembali.” Pilot mengantarnya hingga ke depan pintu.

Sewaktu berjalan keluar dari bandara, Markus dipanggil oleh petugas-petugas yang tadi menahan tanduknya, “Hey, rokok satu bungkus kah…,” teriak mereka padanya.

Markus pura-pura tidak mendengar mereka. Ia berjalan terus meninggalkan bandara Rendani Manokwari, menuju kendaraan-kendaraan umum yang sedang parkir menunggu penumpang.

Technorati :

September 26, 2008 - Ditulis oleh charlesroring | Cerita Pendek | | 1 Komentar

1 Komentar »

  1. Cerita yang bagus.. Perjuangan memang penuh penderitaan, jika dilalui dgn ksabaran dan ktekunan, tidak ada yg tidak mungkin..

    Komentar oleh Yudistira | Juli 3, 2009 | Balas


Tinggalkan komentar