RITUAL MANDI ASMARA
oleh Charles Roring
Jessica gadis cantik tinggi semampai. Hidungnya mancung, matanya biru kehijau-hijauan. Kulitnya putih, rambutnya panjang keemasan. Ia datang jauh-jauh dari Australia untuk magang di Lembaga Studi Hak-hak Adat Rakyat Papua (L-SHARP) Jayapura. Di sana ia mempelajari berbagai masalah yang berkaitan dengan masyarakat adat Papua.
Setiap hari ia suka berjalan dari rumah ke rumah guna berbicara dengan warga kota. Tak kenal lelah ia menemui penduduk, dari pagi hingga sore. Kadang-kadang ia tidak kemana-mana, hanya di kantor L-SHARP saja. Duduk di depan layar komputer, ia mengetik berbagai hal yang diperolehnya dari hasil wawancara dengan masyarakat. Topiknya bermacam-macam, mulai dari soal kawin adat, tanah adat, hukum adat, hingga orang-orang yang tidak tahu adat melanggar hak-hak adat orang Papua.
Bila duduk berbicara dengan para aktivis di ruang kerja L-SHARP, ia selalu dikelilingi oleh pemuda-pemuda Papua, yang begitu bersemangat mendengar penjelasannya maupun menjawab pertanyaan-pertanyaannya, entah kagum karena kecantikannya atau serius membahas masalah adat yang pelik rumit atau mungkin kedua-duanya.
Di antara aktivis-aktivis ini, yang paling sering mendekatinya tentu saja mereka yang masih lajang. Jessica yang masih muda itu sebenarnya seorang peneliti dari sebuah universitas di Sydney, negerinya Kangguru. Aktivis-aktivis pria yang terpesona oleh kecantikan gadis Aussie ini, membuat aktivis-aktivis perempuan iri pada Jessica.
Suatu hari rombongan aktivis hak-hak adat Papua tersebut bersama Jessica pergi ke pantai. Cuacanya cerah. Hari itu hari Minggu. Mobil yang mengantar mereka tiba di pantai, para pemuda langsung membuka baju mereka. Telanjang dada dan hanya ditutupi celana pendek, mereka melompat ke air. Timbul tenggelam bagai bebek di kolam, aktivis-aktivis ini saling mempertontonkan kehebatan mereka berenang dan menyelam.
Jessica dan perempuan Papua lainnya sibuk membakar betatas, memanggang ikan di pasir pantai. Aktivis-aktivis pria memanggil aktivis-aktivis perempuan untuk segera turun mandi bersama mereka. Mereka hanya tersenyum saja, kalau mereka mandi sekarang, makanan tidak akan matang.
Sehabis memasak, kini giliran para perempuan yang turun mandi. Tak seorangpun yang berani memakai bikini. Mereka hanya berani mandi dengan celana pendek dan baju kaos saja. Cuma Jessica yang melepas baju dan jeansnya. Mengenakan bikini yang seksi, Jessica berjalan menuju air. Wah-pemandangan itu membuat para aktivis pria gemetar di dalam air dan langsung dimabuk asmara. Semua mata tertuju pada keindahan tubuh Jessica. Setiap aktivis pria itu ingin sekali memilikinya. Jessica tersenyum pada mereka. Ia masuk ke dalam air. Berenang ke sana kemari. Sejenak para pria tak berenang. Mereka hanya menontonnya berenang. Tersipu malu mereka melihat gadis pirang ini. Para aktivis perempuan juga mengagumi kecantikan dan kemulusan tubuh gadis Aussie itu.
Jam makan pun tiba, mereka semua naik ke darat. Jessica dan para aktivis hak-hak adat tersebut lahap menyantap keladi, betatas, ikan bakar, dan sayur paku yang ditumis dengan bawang merah dan bawang putih. Enak sekali rasanya ikan bakar itu ketika dimakan dengan sambal. “Di Australia, pesta makan seperti ini mirip dengan pesta bakar daging di alam terbuka. Kami menyebutnya barbecue,” jelas Jessica kepada mereka. Aktivis-aktivis itu hanya mengangguk-angguk saja pura-pura lugu di hadapannya. Makan siang selesai dan acara mandi-mandi di pantai dilanjutkan kembali. Sore hari mereka pulang ke rumah masing-masing diantar mobil kantor.
Dua aktivis pria menuju Abepura. Mereka punya rencana lain. Sedari tadi mereka asyik berbisik-bisik. Tak ada yang tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Kemungkinan besar mereka membahas tentang Jessica, si cantik itu. Kali ini dua aktivis pria tersebut bermalam di Abepura. Padahal mereka tinggal di sebuah tempat kos yang letaknya hanya lima menit berjalan kaki ke kantor L-SHARP.
Mereka melakukan ritual mandi asmara. Ya, mandi asmara, ritual yang dilakukan dengan iringan doa dan mantra-mantra pemikat. Harapannya sehabis mandi, mereka bisa memikat hati Jessica, si gadis Australia berambut pirang yang cantik bagai boneka Barbie. Mulut si pemandi berkomat-kamit membaca doa-doa alam dan mantra-mantra asmara. Yang dimandikan diam saja menutup mata merasakan dinginnya air dan wanginya kembang-kembang hutan. Syarat utama setelah ritual mandi asmara adalah perempuan pertama yang diajak bicara dan kontak mata setelah matahari terbit akan jatuh hati padanya.
Pagi hari, jam delapan, kedua aktivis pria itu berangkat kembali ke kantor L-SHARP. Sesampainya di kantor, tak ada orang di sana. Hanya ada seseorang yang sedang sibuk menyapu lantai. Mereka bertanya padanya, “kemana kawan-kawan kami yang lain?” Nenek itu menjawab, “Semuanya lagi ke bandara mengantar Jessica terbang kembali ke Australia.”









Wahh..kalau gitu mereka berjodoh dengan nenek yang sedang menyapu itu ya?..hahaha..kasian deh lu:)
jodohnya si nenek nenek.
Wah, kasian si nenek hahaha….
ternyata masyarakat kita masih awam ya kalo ngeliat cewe pake bikini, padahal mungkin saja dibalik si jessica berbikini adalah memberikan pelajaran bahwa dalam melakukan suatu hal harus selalu pada saat yang tepat, contoh kalo mo renang ya harus pake swimsuit, tujuannya kan untuk mempermudah gerakan kita di dalam air, kalo renang pake pakian lengkap itu nama kecebur bukan renang.
trus contoh yang paling pas lagi adalah si para pria itu ternyata melakukan hal tidak pada waktu yang tepat, percuma punya mantra kalo target pulang
memang kita harus lebih membuka pikiran dan banyak belajar tentunya, jangan cuma melihat sisi negatif dan selalu “piktor”