PENDARAHAN DI MULUT
PENDARAHAN DI MULUT
oleh Charles Roring
Ruang tunggu bandara Mokmer nampak ramai. Yuli duduk sendiri di dekat jendela kaca yang menghadap ke lapangan terbang. Di apron, sebuah pesawat jet jenis Boeing 737 Seri 200 milik Maskapai Penerbangan Merpati sedang diparkir. Tidak jauh dari pesawat besar itu, ada sebuah pesawat kecil yang berbaling-baling tunggal di moncongnya. Orang menyebutnya Pilatus. Pesawat ini milik MAF (Mission Aviaton Fellowship).
Yuli akan terbang dengan pesawat kecil ini ke Numfoor, kota kelahirannya. Kemarin ia baru tiba di kota Biak setelah berlayar dengan KM. Nggapulu selama seminggu dari Tanjung Perak, Surabaya. Ia tercatat sebagai mahasiswi jurusan teknik kimia di UPN Veteran, Jogjakarta. Sudah dua tahun ia tidak berlibur ke Papua. Sebentar lagi ia akan akan bertemu dengan bapak, ibu dan adik-adiknya di Numfoor. Ia rindu masakan ibunya – ikan bobara bakar -yang dilumuri lemon, irisan cabe dan garam.
Sementara itu di ruang pilot, Capt. Stanley Parker sedang duduk sambil membaca peta navigasi. Pilot muda ini akan menjalani tugas perdananya di tanah Papua hari ini. Ia baru saja dikontrak oleh MAF guna bertugas selama dua tahun. Pesawat-pesawat MAF sangat berjasa dalam membuka keterisolasian di kampung-kampung Papua. Captain Parker akan menerbangkan pesawat Pilatus Porter PC-6.
Pesawat buatan Swiss ini panjangnya 11 meter, lebar sayapnya 16 meter dan tingginya 3 meter. Pesawat tersebut sanggup mengangkut muatan sebanyak lebih dari satu ton atau sepuluh orang penumpang.
Kini Capt. Parker sudah siap. Ia berdiri dan pamit pada petugas yang sedang sibuk dengan kertas-kertas administrasi. Pilot Parker berjalan menuju pesawatnya.
Pengumuman di pengeras suara menyatakan bahwa penumpang dari Biak dengan tujuan Numfoor diminta segera naik ke pesawat Pilatus Porter. Di ruang tunggu, para penumpang berdiri sambil membawa barang bawaan mereka. Yuli ikut berdiri dan berjalan ke pintu yang sedang diawasi oleh petugas MAF. Ia menunjukkan tiketnya kepada petugas itu dengan tersenyum kepadanya. Mereka berjalan menuju ke pesawat kecil itu.
Tak lama kemudian para penumpang sudah berada di dalam pesawat. Yuli duduk di belakang pilot. Tidak ada sekat yang memisahkan kabin penumpang dengan cockpit. Oleh karena itu, para penumpang bisa melihat Capt. Stanley Parker dan bermacam-macam tombol pesawat yang nampak rumit bagi mereka.
Pilotnya sudah ada di dalam pesawat. Ia membalikkan badannya sebentar dan dengan bahasa Indonesia yang masih belum terlalu lancar, ia mengucapkan salam kepada mereka. “Selamat pagi, Tuan-tuan dan Puan-puan. Nama saya, Stanley Parker. Senang bertemu dengan Kalian semua. Penerbangan kita ke Numfoor akan ditempuh selama kurang lebih dua puluh lima menit, pada ketinggian lima belas ribu kaki. Mohon mengenakan sabuk pengaman.”
Para penumpang nampak senang melihat keramahan pilot mereka. Sabuk pengaman segera dikenakan. Pilot mulai menyalakan mesin. Pesawat perlahan-lahan bergerak menuju landasan pacu. Setelah mencapai ujung landasan, pesawat kemudian berbalik dan berlari kencang. Tak lama kemudian pesawat perlahan-lahan terangkat ke udara. Cuaca cerah sehingga penerbangan berlangsung lancar. Para penumpang bisa melihat lautan yang luas membiru saat pesawat bergerak ke selatan melewati Pulau Yapen. Yuli duduk gelisah di tempat duduknya. Sebentar lagi ia akan bertemu dengan keluarganya yang sudah dua tahun ditinggalkannya. Penumpang lain kelihatan santai, tidak ada yang merasa tegang. Ada yang bercakap-cakap, ada yang baca majalah dan ada yang duduk tenang sambil menikmati pemandangan angkasa yang penuh dengan awan-awan putih kelabu.
Yuli merogoh sakunya, diambilnya sebuah pinang muda, sirih dan kapur yang dibungkus dalam sepotong kertas. Ia rindu sekali makan pinang muda. Perlahan-lahan dikupasnya pinang itu dengan giginya. Air pinang muda terasa pahit sepat di dalam mulutnya. Dikunyahnya pinang itu. Ia mencelupkan sebuah sirih ke dalam bubuk kapur lalu dikunyahnya lagi sirih itu. Kini mulutnya terasa panas dan berbau wangi. Mungkin karena lama tidak makan pinang muda, aroma buah yang dihirupnya itu membuat kepalanya pusing. Ia mabuk pinang.
Tak ada penumpang lain yang memprotesnya. Makan pinang adalah sebuah kebiasaan yang umum di Papua. Orang muda dan tua, laki-laki dan perempuan, suka makan pinang.
Sepuluh menit lagi pesawat akan mendarat. Cuaca di Numfoor ternyata berawan tebal. Ketika melewati turbolensi, pesawat bergoncang. Penumpang nampak terhentak beberapa kali dari kursi mereka. Ada yang tenang saja, dan ada pula yang berteriak-teriak menyebut nama Tuhan. Yuli yang sedang pusing akibat makan pinang tiba-tiba saja kaget. Mulutnya terbuka. Ia berteriak, “Oh, Tuhan tolong! Lindungi kami.”
Merasa bahwa para penumpang mengalami kepanikan, pilot menoleh ke belakang. Ia berusaha menenangkan mereka. “Tuan – puan harap tenang. Kita hanya melewati turbolensi, pesawat akan mendarat dengan selamat. Tidak usah kuatir.”
Captain Parker melihat wajah Yuli yang pucat pasi. Ada darah mengalir turun dari bibir ke dagu gadis muda ini. Darah itu telah mengotori bajunya.
Segera ia mengontak air traffic controller di bandara Numfoor meminta tenaga medis di darat agar siap menjemput seorang gadis yang sedang mengalami pendarahan di dalam pesawat.
Setelah menembus awan tebal, keadaan tenang kembali. Pesawat mendarat dengan mulus di bandara Numfoor. Para petugas kesehatan sudah siap di pinggir bandara lengkap dengan mobil milik MAF yang siap mengantar Yuli ke rumah sakit. Ketika pesawat benar-benar berhenti, mereka langsung mendekati pesawat untuk menjemput gadis yang mengalami pendarahan tersebut.
Yuli turun bersama-sama dengan penumpang lainnya. Sambil tersenyum kepada pilot dan para tenaga medis, ia berkata, “Maaf, saya tidak apa-apa. Tadi saya hanya makan pinang muda. Waktu pesawat berguncang-guncang di udara, saya berteriak-teriak sehingga cairan pinang muncrat dari mulut saya. Pilot mengira saya mengalami pendarahan di mulut.”
Yuli langsung berlari menuju ruang kedatangan penumpang. Di sana telah menunggu kedua orang tua dan adik-adiknya. Mereka berpelukan.
Sementara itu, Capt. Parker terbingung-bingung mendengar penjelasan para petugas kesehatan atas kesalahpahamannya tersebut.
Manokwari, 17 Mei 2008
Belum ada komentar.








