MANUSIA KERDIL
oleh Charles Roring
Rumahku terletak tidak jauh dari hutan lindung. Jaraknya sekitar tiga ratus meter di sebelah utara. Di timur ada sebuah sekolah dasar yang sudah berdiri sejak zaman Belanda. Sebuah jurang yang agak lebar memisahkan rumahku dengan sekolah itu. Di jurang itu tumbuh pohon mangga, kelapa dan pisang-pisang. Ada juga pohon matoa yang tinggi sekali.
Setiap kali musim buah, rumahku selalu menjadi sasaran hujan batu yang dilempari anak-anak sekolah ke pohon mangga dan matoa. Bila lemparan mereka meleset, batu atau kayu akan mendarat di atap rumahku. Untung saja atap rumah itu terbuat dari daun seng yang tebal sehingga tidak mudah bocor.
Sewaktu aku masih berusia sepuluh tahun, aku mengalami sebuah pengalaman aneh, yang hingga kini masih belum dapat kumengerti sepenuhnya. Itu terjadi di suatu sore ketika aku sedang bermain-main di pinggir jurang. Matahari sudah hampir terbenam. Cahayanya masih membias di awan-awan. Ayam-ayam, yang kami pelihara mulai terbang dan hinggap di pohon mangga kecil yang tumbuh di tengah-tengah jurang.
Ada beberapa potong bambu tergeletak di lantai di pinggir luar rumahku. Bambu-bambu ini sisa sehabis memasak daging dan sayur pangi beberapa hari sebelumnya. Bambu-bambu itu sudah mengering. Diameternya hampir sama dengan pergelangan kakiku. Aku meraih sepotong bambu yang panjangnya kurang lebih satu meter. Dengan pisau aku mulai membelahnya.
Kebetulan di luar rumah kami, ada sebuah tungku yang biasa dipakai ibu untuk memasak air dengan kayu api. Saat itu memang sebuah panci berisi air sedang dimasak di situ. Aku mulai memasukkan sebilah bambu ke dalam tungku yang sedang menyala. Setelah sepotong bambu habis kubakar, aku membelah lagi beberapa potong dan memasukkannya ke perapian. Matahari sudah terbenam sepenuhnya di ufuk barat. Suasana di sekelilingku menjadi remang-remang hanya diterangi cahaya perapian itu.
Bosan bermain bakar bambu, akupun memasukkan sebilah bambu kering yang tadi telah kubelah ke dalam perapian. Ketika bambu itu mulai terbakar, aku menariknya keluar agar tidak terbakar habis. Dengan potongan bambu yang masih menyala di ujungnya, aku mulai bermain pedang-pedangan.
Layaknya seorang pendekar, aku menebas udara di depanku dengan bambu itu. Apinya mati tertiup angin. Senang hatiku bermain dengan pedang bambu yang ujungnya merah membara. Bara itu semakin terang ketika aku mengibas-ngibaskannya dengan kencang di udara. Agar lebih seru, kubakar lagi sebilah bambu. Kini aku bisa bermain dengan dua buah pedang-pedangan bambu yang kedua ujungnya merah membara.
Aku berjalan ke arah jurang yang ada di dekat rumahku. Di pinggir jurang itu, aku memperagakan jurus-jurus pedang yang kuciptakan sendiri. Sekali-sekali aku mengacungkan pedang bambu yang membara itu ke arah ayam-ayam yang sedang bertengger di atas pohon mangga. Ayam-ayam itu terlalu tinggi di atas pohon sehingga mereka tidak terpengaruh sama sekali oleh pedang bambu itu.
Aku menebas-nebas pedang bambu itu ke arah jurang, seakan-akan hendak memotong sesuatu di jurang itu. Cukup lama aku bermain pedang-pedangan, kira-kira dua jam lamanya. Akhirnya aku kelelahan. Aku berhenti. Setelah masuk ke rumah dan minum teh yang dibuat ibuku, akupun mandi.
Seperti biasa di malam hari setelah mandi dan makan malam, aku menonton TV. Jam sembilan aku masuk kamar. Begitu duduk di kursi, aku mengantuk karena kelelahan bermain pedang bambu tadi sore. Aku pun mengurung niatku untuk belajar. Segera aku naik ke tempat tidur. Tidak lama kemudian aku telah tertidur nyenyak.
Kira-kira tengah malam, ketika semua orang di rumahku sedang terlelap, aku mengalami sesak napas. Aku langsung terbangun dan melihat ke sekelilingku yang sudah gelap semua. Aku melihat ke arah jendela kamar yang menghadap ke hutan lindung itu. Di balik kaca jendela dan kawat nyamuk, aku melihat cahaya-cahaya kecil. Cahaya itu bagai bulatan-bulatan kecil yang dipegang oleh orang-orang kerdil dan diarahkan padaku.
Walaupun aku masih kecil, tubuh mereka kelihatannya sedikit lebih kecil dari diriku. Jumlah mereka cukup banyak. Mereka melihat ke arahku. Aku ingin bangun dari tempat tidurku untuk melihat mereka lebih dekat lagi. Tapi aku tak bisa. Ada suatu kekuatan aneh yang menahanku. Akhirnya mereka pergi setelah beberapa menit menatapku. Setelah semuanya berlalu, aku kembali tertidur dalam keadaan lelah.
Pagi harinya aku menanyakan hal ini pada ibuku. Ia bilang itu terjadi karena aku terlalu banyak bermain. Tubuhku yang tertekuk sewaktu tidur menyebabkan peredaran darah tidak mengalir dengan lancar. Sebagai akibatnya, terjadilah apa yang disebut orang dengan istilah “ketindihan.”
Sebenarnya aku tidak puas dengan penjelasan ibuku itu. Bagiku, penglihatanku tentang manusia-manusia kerdil adalah nyata. Aku tidak sedang bermimpi. Aku bisa melihat mereka memegang suatu yang bercahaya di luar jendela kamarku. Mereka menatapku dari luar jendela kaca yang dilapisi kawat nyamuk. Tidak mungkin ini sebuah mimpi atau “ketindihan”.
Pengalamanku melihat manusia-manusia kerdil tersebut, terjadi beberapa kali setiap kali aku bermain pedang-pedangan bambu yang kubakar ujungnya. Semenjak itu aku berhenti bermain pedang-pedangan bambu.
Setelah aku beranjak dewasa, dan kuliah di kota Ambon, aku mengalami pengalaman yang sama saat tidur siang seorang diri di sebuah rumah yang letaknya di pinggir hutan. Ketika itu aku sedang mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Maluku. Seorang manusia kerdil berdiri di samping tempat tidurku. Ia menatapku dengan tersenyum. Bajunya berwarna putih. Aku berusaha bangkit dari tempat tidurku tapi tubuhku tak bisa kugerakkan. Aku menutup mata sejenak. Ketika mataku kubuka lagi, ia telah menghilang. Aku bangun dan berusaha mencarinya tapi yang kudapati adalah rumah itu tetap kosong dan pintu-pintu tetap terkunci.
Sekembalinya ke kampus, aku menceritakan pengalaman itu pada teman-temanku yang kebetulan berasal dari Maluku Tenggara. Bagi mereka, pengalamanku itu bukan pengalaman aneh. Menurut mereka, banyak orang di kampung mereka pernah melihat manusia-manusia kerdil yang biasa mereka sebut dengan istilah botolmanci.
Sebagaimana yang mereka jelaskan, walaupun kecil, botolmanci memiliki tenaga yang besar sekali. Manusia biasa dengan ukuran badan normal belum tentu bisa mengalahkannya. Di samping itu, botolmanci bisa berlari kencang. Botolmanci mungkin juga memiliki penciuman yang tajam.
Tapi botolmanci memiliki kelemahan. Mereka tidak tahan dengan sinar matahari. Oleh karena itu mereka hanya suka berkeliaran di malam hari. Setiap botolmanci memiliki topi. Bila sedang bergumul dengan manusia dan topinya berhasil dirampas manusia maka botolmanci akan menjadi lemah. Ia akan memelas minta dilepaskan sebelum matahari terbit. Biasanya manusia yang berhasil menahannya itu akan meminta sesuatu dari botolmanci, seperti kekuatan magis yang bisa digunakan untuk memikat wanita, memperoleh kekayaan atau jabatan.
Menurut teman-teman kuliahku,botol-manci bisa dipanggil dengan mengibas-ngibaskan sebilah bambu kering yang ujungnya ada bara api.
Bagiku penjelasan teman-temanku tersebut ada yang bisa diterima akal sehat dan ada juga yang tidak masuk akal. Mungkin kibasan pedang-pedangan bambu yang diujungnya mengandung bara api menghasilkan suara atau cahaya dengan frekuensi tertentu yang bisa didengar atau ditangkap oleh indera pendengaran atau penglihatan manusia kerdil.
Setelah wisuda aku kembali lagi ke kotaku Manokwari, Papua untuk membuka usaha. Tahun 2007 yang lalu seorang gadis dari Amerika Serikat datang ke kota ini. Ia adalah keturunan dinasti Rotschild, salah satu keluarga terkaya di dunia. Keluarga-keluarganya adalah pemilik bank-bank terkemuka di Eropa sejak dua abad yang lalu. Keluarganya juga berada dibalik kekalahan Napoleon Bonaparte di Waterloo. Ia seorang mahasiswi program studi anthropologi. Gadis ini mengunjungi Pulau Mansinam yang terletak di tengah-tengah Teluk Doreri tempat kotaku berada.
Dari penuturan kenalanku yang pernah bercerita dengannya, gadis ini sempat mengajukan pertanyaan tentang apakah ia percaya akan adanya manusia kerdil. Kenalanku yang rumahnya berada di tengah hutan itu yakin bahwa manusia kerdil sungguh ada.
Keyakinan kenalanku itu cukup beralasan karena lewat tayanan TV yang pernah kutonton, beberapa tahun sebelumnya para ahli Australia mengklaim telah menemukan spesies manusia bertubuh kerdil yang baru bagi ilmu pengetahuan. Spesies manusia itu pernah hidup 18.000 tahun yang lalu. Penemuan tersebut terjadi di Liang Bua, sebuah gua di Flores. Oleh sebab itu spesies manusia baru lebih dikenal dengan sebutan Homo Floresiensis. Manusia kerdil ini memiliki tinggi kurang lebih 1 meter menyerupai karakter Hobbit dalam film the Lord of the Rings atau film Snow White.
Bila dilihat di peta, letak Maluku Tenggara tidak jauh dari Flores dimana “Hobbit” ditemukan. Aku teringat kembali pada cerita teman-temanku semasa mahasiswa dulu tentang botolmanci. Mereka juga berasal dari Maluku Tenggara. Aku sendiri pernah melihat manusia-manusia kerdil baik di Papua atau di Maluku. Lagipula Papua terletak tidak jauh dari Maluku.
Mungkin jutaan tahun yang lalu pulau-pulau ini merupakan satu daratan. Bagiku penjelasan tentang Homo Floresiensis lebih masuk akal, daripada istilah “ketindihan” sewaktu tidur setelah lelah bermain pedang-pedangan dari bambu yang ada bara api di ujungnya.









Saudaraku,
Ini adalah satu tulisan yang sangat menarik bagi diri saya di Malaysia ini. Walaupun ringkas, tetapi manarik dan mengajak kita untuk berfikir. Yang pastinya kita mesti berpegang pada hakikat bahawa dunia ini tidak hanya milik kita tetapi juga adalah milik mahluk lain yang dijadikan tuhan.
Berbalik kepada cerita manusia kerdil saudara itu,jika dikaji dari sudut sains ini, mungkin ini akan dikatakan sebagai tahyul atau hanyalah lahir dari igauan sahaja. Namun bagi diri saya jika benarlah pengalaman saudara itu berlaku dalam keadaan sedar, maka itu tidak menghairankan kerana mahluk di dunia ini masih banyak lagi yang belum dijumpai oleh kita manusia.
Saya percaya kalau saudara berkata kepada orang lain tentang pengalaman ini, ramai yang akan beranggapan itu hanyalah ilusi seorang anak kecil yang terlalu taksub bermain dan merasakan dirinya seperti pendekar atau lebih tepatnya melihat sesuatu dalam dunianya yang tersendiri. Namun kalau saudara sendir berkata bahawa pengalaman itu menjadi misteri buat saudara hingga sekarang, saya boleh mempercayainya kerana saudara bercakap di atas kejujuran.
Saudaraku,
Saya pernah mendapat pengalaman yang serupa di Malaysia ini tetapi bukanlah bertemu dan melihat manusia kerdil sebaliknya melihat objek pesawat terbang yang tidak diketahui asal usulnya atau ringkasnya UFO.
Kejadian itu berlaku sekitaran tahun 1974(Kalau tidak silap saya) ketika saya pulang dari sekolah di King Edward VII Primary School, Taiping, Malaysia. Saya anggarkan kejadian jam lebih kurang 1300 – 1400 hrs. Pada waktu itu saya menaiki truck tentera dan duduk di bahagian hadapan sambil melihat ke arah langit. Dalam truck itu terdapat lebih kurang 30 orang pelajar lain dalam perjalanan dari sekolah ke rumah saya di berek tentera, Kem Garisson Salerno Line, Kamunting, Taiping.
Semasa truck saya sedang mendaki bukit Drummond Hill, saya tiba-tiba telah ternampak satu objek bewarna perak yang amat jelas berbentuk seperti V dan terdapa cahaya bewarna hijau atau biru bekerdip di sayapnya. Objek itu amat laju sedang menjunam di sebalik bukit yang jaraknya hanya 1 atau 2 km di hadapan saya. Saya menjadi panik lebih kurang 2-3 second melihat objek itu ddan nampak ia hilang di sebalik bukit di hadapan saya. Yang menghairankan ialah tiada terdengar bunyi letupan kalaulah ia itu pesawat terhempas!
Saya bercerita dengan rakan saya tetapi tiada sesiapa yang nampak kejadian itu.Besar pesawat itu lebih kurang sama seperti pesawat Cessna. Setiba di rumah, saya memberitahu kepada ibu dan ayah tetapi tiada sesiapa yang mahu mempercayainya.
Sehingga hari ini saya masih dapat mengingati bentuk objek tersebut dan masih kekal dalam sanubari saya bahawa itu bukanlah ilusi tetapi adalah hakikat sebenar apa yang saya lihat kira-kira 35 tahun silam. Terpulanglah sama ada hendak mempercayai atau tidak namun saya masih kekal mengatakan itu adalah objek misteri yang saya lihat di alam nyata dan bukan mimpi.
Sekarang, setelah saya menjawat jawatan tinggi di salah sebuah jabatan kerajaan di Malaysia, saya tetap menyimpan kenangan manis melihat objek yang tiada sesiapa pun pernah melihatnya.
Secara jujurnya nasib kita sama, hanya terpulang pada orang lain sama ada hendak mempercayainya atau tidak . Terpulanglah kepada mereka…