Diari Charles Roring

alam dan pikiran

MALARIA TROPIKANA

oleh Charles Roring

Sedikit goncangan kecil terjadi ketika pesawat menembus awan. Lampu peringatan di langit-langit kabin menyala. Penumpang diminta mengencangkan ikat pinggang dan tidak merokok.

“Sepuluh menit lagi, kita akan mendarat di bandara Domine Eduard Osok, Sorong.” terdengar suara pilot di pengeras suara yang diulang lagi dalam bahasa Inggris.

Mira duduk cemas di kursi bernomor 13C. Dalam hati dia berdoa, “Oh, Tuhan, biarkan kami mendarat dengan selamat. Aku harus menemui Rendy – kekasihku. Ia sangat membutuhkanku saat ini.”

Penumpang lain yang berada di sampingnya sedang tertidur lelap. Dari jendela pesawat, pulau-pulau nampak indah dihiasi pantai yang putih bersih. Kota Sorong semakin jelas terlihat dari udara. Sementara itu, seorang pramugari berjalan memeriksa apakah semua penumpang telah mengenakan sabuk pengaman.

Tak lama kemudian roda pesawat menyentuh landasan. Pesawat bergoncang lagi naik turun. Suara dengungan mesin tiba-tiba membesar, ini berarti sudu jet sudah dibalik. Kecepatan pesawat lalu berkurang drastis dan tampak melambat. Pesawat Boeing 737 Seri A-300 milik maskapai penerbangan Batavia mendarat pukul 12.30 WIT, terlambat setengah jam dari jadual yang telah ditentukan semula.

Setelah pesawat benar-benar berhenti dan pintu dibuka, perlahan-lahan para penumpang turun. Mira bangkit dari tempat duduknya. Diambilnya sebuah tas yang disimpannya di langit-langit kabin.

“Walaupun lelah, aku harus segera ke rumah sakit,” katanya dalam hati.

Di bawah tangga pesawat, sebuah bus bandara sudah menunggu untuk mengantar mereka ke ruang kedatangan penumpang. Mira menaiki bus itu bersama para penumpang lainnya. Ia terpaksa berdiri saja karena semua tempat duduk telah terisi. Dua menit kemudian bus berhenti tepat di depan pintu kedatangan penumpang. Segera ia turun. Tak ada seorangpun yang menjemputnya.

Keluar dari bandara, Mira langsung menghentikan sebuah taksi.

“Pak, kalau ke kota berapa?” tanya Mira

“Nona, mau ke mana?” tanya sopir taksi itu.

“Eh-saya mau ke rumah sakit umum. Berapa harganya?”

“Seratus ribu saja, Nona.”

“Bagaimana kalau lima puluh ribu.”

“Ah, Nona kan tahu, ini Papua. Segalanya mahal. Tambah lagi sedikit ongkosnya.”

“Kalau tujuh puluh lima ribu?”

“Baiklah. Silahkan naik, Nona,” kata sopir sambil membuka pintu.

Mira segera naik. Ia duduk di depan, di samping sang sopir.

“Apa Nona baru pertama kali datang ke Papua?”

“Iya, aku ingin menjenguk calon suamiku. Ia sedang sakit. Kalau bisa, tolong dipercepat mobilnya.”

Sopir itu segera melaju menyalib beberapa mobil di depannya.

“Sakit apa?”

“Malaria Tropica. Saya baru di SMS kemarin oleh ibunya. Katanya, mereka sekeluarga sudah berada di Sorong karena anak mereka dalam keadaan kritis. “

“Memang Malaria Tropicana adalah penyakit yang sangat berbahaya di tanah Papua ini. Kalau daya tahan penderita tidak terlalu kuat, ia bisa meninggal. Kalau sembuh, ia belum akan pulih seratus persen, kadang-kadang otaknya akan sedikit terganggu. Perlu waktu lama bagi seorang penderita supaya bisa sembuh sepenuhnya.”

“Apa Bapak pernah terkena Malaria?”

“Iya, rata-rata semua orang yang sudah lama tinggal di tanah Papua ini pernah terkena penyakit itu. Tapi saya cuma menderita Malaria Tertiana.”

“Lebih parah yang mana?” tanya Mira lagi.

“Tentu saja Malaria Tropicana,” jawab sopir itu lagi, “Kalau saya boleh tahu, tugas apa calon suami Nona di sini?”

“Ia seorang dokter. Ia baru sepuluh bulan bertugas di Papua. Aku tidak menyangka kalau ia akan terkena penyakit mematikan itu,” kata Mira cemas. “Rencananya, awal tahun depan, ia akan balik lagi ke Jakarta untuk melamarku. Nanti setelah menikah, kami berencana pindah ke Papua, tempatnya bertugas. Sekarang ia sedang terbaring di rumah sakit.”

“Itulah penyakit, ia tidak mengenal jabatan atau status sosial seseorang. Tapi Nona, tidak usah kuatir. Serahkan saja pada Tuhan. Semoga calon suami Nona lekas sembuh.”

“Terima kasih. Saya harap begitu.”

Mereka akhirnya tiba di depan Rumah Sakit Umum Sorong. Setelah membayar ongkos taksi, Mira segera berlari masuk mencari bangsal VIP. Ia bertanya pada seorang suster yang sedang berdiri di sekitar situ.

“Suster, saya ingin menjenguk dr. Rendy. Katanya dia sedang diopname di sini karena terserang malaria.”

“Maaf, anda siapanya dr. Rendy?” tanya suster tua itu.

“Eh, saya baru datang dari Jakarta. Saya calon isterinya.

“Mari ikuti saya.” Suster berjalan menuju bangsal VIP. Sampai di depan pintu kamar, suster itu mempersilahkan Mira masuk. Suster itu pun pergi.

Di dalam kamar, ayah, ibu dan adik Rendy sedang duduk menunggu. Mereka semua berdiri ketika melihat Mira datang. Ibu Maria, mamanya Rendy, menjabat tangannya lalu memeluk Mira, diikuti ayah dan adik Rendy, Susan.

Mira tak kuasa menahan air mata, ketika melihat tubuh Rendy calon suaminya terbaring lemah di tempat tidur. Tubuhnya kurus, wajahnya pucat pasi.

“Mira, terima kasih karena sudah datang.” kata Ibu Maria.

“Iya, Bu, saya ambil cuti satu minggu dari kantor,” terang Mira kepada keluarga Rendy.

“Rendy masuk rumah sakit seminggu yang lalu. Sejak tiga hari belakangan ini kondisinya semakin memburuk. Semoga dengan kedatanganmu, Rendy bisa bersemangat melawan penyakitnya.” kata Pak Harto, ayah Rendy.

“Iya, Pak, semoga Rendy lekas sembuh,” jawab Mira sambil menyeka air matanya.

“Mira, kami keluar dulu sebentar, biar kamu bicara dengan Rendy.”

“Iya, Bu, terima kasih,” kata Mira lagi.

Susan, adiknya Rendy, memegang lengan Mira dari belakang. Ia berkata, “Kak Mira, jangan menangis. Nanti aku sedih dan ikut-ikutan menangis. Tolong bilang ke telinga Rendy, bahwa kami sekeluarga menginginkan dia segera sembuh.”

Mira tersenyum padanya. Ia tak tahu apa yang harus dikatakannya. Ia hanya memeluk Susan. Mereka berdua berlinang air mata melihat Rendy yang tak berdaya di tempat tidur.

Tanpa menunggu lama, Mira duduk di samping Rendy. Dipegangnya tangan kekasihnya. Tangan itu dingin dan lemah sekali. Diciumnya bibir kekasihnya. Tak ada respon sama sekali, yang Mira rasakan hanyalah badan Rendy yang dingin dan gemetar. “Rendy, ini aku,” bisik Mira pada telinga kekasihnya, “kamu harus sembuh. Jangan tinggalkan aku.”

Sekotak donut yang dibelinya sebagai oleh-oleh kesukaan Rendy tak jadi dibukanya. Rendy terlalu lemah untuk menikmati donat coklat yang lezat itu. Jarum infus yang ditusukkan di tangan kirinya terus memasukkan cairan makanan dan obat-obat pelawan Malaria ke dalam tubuh dokter muda ini.

Sejak saat itu, Mira dan keluarga Rendy secara bergantian menjaga Rendy. Mereka menginap di sebuah rumah dinas milik rumah sakit yang berada tak jauh dari situ. Mira lebih memilih menemani kekasihnya di malam hari. Dengan demikian ia bisa berbaring di sisi pujaan hatinya itu, memeluknya dan menciumnya dengan mesra.

Sayang sekali, usaha Mira menyemangati Rendy agar lekas sembuh tidak banyak membuahkan hasil. Tiga hari kemudian, setelah demam tinggi terus-menerus, akhirnya Rendy meninggal dunia.

Kesedihan meliputi keluarga Rendy dan Mira. Jenazah Rendy tidak dikirim kembali ke Jakarta. Ia dikuburkan di Papua. Ratusan orang dari distrik Ayawasih, tempat dr. Rendy pernah bertugas, datang menghadiri upacara penguburan.

Dulu sebelum berangkat ke tempat tugas, Rendy pernah berkata pada kekasihnya bahwa ia benar-benar ingin datang ke Papua untuk membantu masyarakat di sana. Keinginannya itu terlaksana. Menurut penuturan teman-temannya di Puskesmas Ayawasih, dr. Rendy adalah seorang dokter yang sangat memperhatikan pasien-pasiennya. Ia bekerja tanpa kenal lelah. Dari pagi hingga siang, dari sore hingga malam. Bahkan rumah dinas dokter tempat tinggalnya selalu dikerumuni masyarakat yang datang berobat.

Pernah di suatu malam ketika hujan sedang turun dengan derasnya, dr. Rendy nekad menyebrangi sungai yang sedang banjir demi menolong persalinan seorang ibu yang anaknya lahir prematur. Anak itu lahir dengan selamat. Bayi itu diberi nama Yohanes Rendy Tambraw. Harapan orang tuanya, suatu hari nanti, anak mereka bisa jadi seperti Rendy, dokter muda yang penuh semangat dalam menolong sesamanya.

Mungkin, karena terlalu lelah bekerja, akhirnya daya tahan tubuh Rendy menurun. Penyakit Malaria Tropicana tega merenggut nyawa dokter muda lulusan Unika Atmajaya ini.

Dr. Rendy tidak hanya sibuk di puskesmas. Ia cukup aktif dalam bidang pendidikan. Ia sering memberi ceramah tentang kesehatan dan penanggulangan HIV-AIDS di sekolah-sekolah yang ada di distrik itu. Bahkan dua kali seminggu, ia mengajar pelajaran Biologi di salah satu SMA yang letaknya tak jauh dari puskesmas berada. Ia juga aktif dalam kegiatan muda-mudi di gereja. Dokter muda ini pandai bermain organ, dan gitar. Kehadirannya di gereja mampu menyemangati pemuda-pemudi di kota kecil Ayawasih untuk aktif bernyanyi di koor gereja setiap minggu. Warga Ayawasih merasa sangat kehilangan ketika mengetahui bahwa dr. Rendy telah tiada.

Dua minggu kemudian, Mira kembali ke Jakarta. Sesampainya di sana, ia kembali bekerja seperti sedia kala. Tapi ia hanya mampu bertahan selama tiga bulan. Idealisme Rendy, mantan kekasihnya itu, selalu tergiang-ngiang dalam hatinya. Tanpa diduga oleh teman-temannya, Mira mendadak mengundurkan diri dari jabatannya sebagai asisten manager di perusahaan tempatnya bekerja. Ia sudah mengambil keputusan untuk balik lagi ke Papua. Di distrik Ayawasi, tempat almarhum dr. Rendy dulu bertugas, Mira menjadi guru bahasa Inggris dan Biologi. Satu tahun kemudian ia pindah ke kota Sorong. Ia lalu mengajar di SMAK St. Agustinus Sorong.

Dua tahun setelah kematian kekasihnya, Mira menikah dengan seseorang yang bekerja di kantor dinas kehutanan. Mereka dikaruniai dua orang anak. Yang sulung dinamainya Margaretha, sedangkan yang bungsu, laki-laki, dinamainya Rendy.

About these ads

September 26, 2008 - Posted by | Cerita Pendek, Cinta dalam Cerpen | , ,

2 Komentar »

  1. kemarin sore sehabis maghrib saya di sms adik saya yg baru 2 minggu ini bertugas di Papua ,kalau dia terkena Malaria Tropica..
    Kami sekeluarga benar2 terkejut & khawatir….niat dia kesana karena dia ingin mengumpulkan biaya untuk melanjutkan kuliahnya….tapi kenapa begini jadinya?????????ya Allah…. jaga adikku,dia anak yg kuat…semua yg dia lakukan hanya ingin mengangkat derajat keluarga kami….

    Komentar oleh icha | Juni 2, 2010 | Balas

  2. semoga apa yg trjadi pd rendy tdk trjadi pada calon suamiq yg jg sedang dinas di Papua..amin…

    Komentar oleh fitriana | April 28, 2011 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: