DIBURU BURUAN
oleh Charles Roring
Di seluruh Kampung Warmare, keluarga Cornelis telah lama dikenal sebagai keturunan pemburu yang ulung. Cornelis sendiri mulai mempelajari teknik berburu dari ayahnya sejak ia masih kecil. Mula-mula ia diajari bagaimana menangkap ayam yang dipelihara di kolong rumah. Menginjak usia sepuluh tahun, ia sudah diajari bagaimana memanah burung Kumkum yang bertengger di dahan pohon durian di belakang rumahnya. Kini sebagai kepala keluarga beranak dua, setiap minggu ia berburu di hutan Prafi untuk memberi nafkah bagi keluarganya.
Biasanya hasil buruannya dijualnya kepada tetangga dan para penduduk di kampungnya. Kalau daging yang dijualnya masih banyak, Cornelis akan membawanya ke Pasar SP IV Prafi. Satu kilogram daging babi hutan harganya tiga puluh ribu, sedangkan daging rusa bisa mencapai empat puluh lima sampai lima puluh ribu rupiah per kilogram.
Baginya menjadi seorang pemburu bukanlah pekerjaan yang hina. Kegiatannya membunuh binatang di hutan sama dengan pekerjaan nelayan menangkap ikan di laut. Keduanya memberi makan kepada masyarakat.
Lagipula, profesinya sebagai pemburu bisa memberinya penghasilan yang tinggi untuk ukuran masyarakat di kampungnya. Ia mampu membangun rumah besar dan membeli TV yang dilengkapi antena parabola. Ia juga mempunyai sebuah sepeda motor trailer keluaran terbaru dengan suspensi garpu pada roda belakang. Memang tidak semua barang-barang tersebut didapatkannya dari hasil menjual daging buruannya di pasar. Sebagai usaha sampingan, ia beternak ayam kecil-kecilan di belakang rumah.
Cornelis sendiri sebenarnya lulusan Peternakan dari Universitas Papua. Ia pernah bekerja di kantor Distrik Warmare. Tapi ia tidak tahan hanya duduk-duduk saja di belakang meja. Setelah tiga bulan bekerja sebagai pegawai honor di sana, ia mengundurkan diri dan melanjutkan lagi tradisi keluarga sebagai pemburu.
Isterinya, seorang keturunan Jawa, bekerja sebagai guru bahasa Inggris di SMP Kasuari 1 Warmare. Orang tuanya datang ke tanah Papua sebagai transmigran tiga puluh tahun yang lalu. Waktu itu ia baru berusia lima tahun ketika mengikuti mereka.
Hanya Cornelis satu-satunya warga di Kampung Warmare yang berprofesi tetap sebagai pemburu. Kebanyakan keluarga-keluarga di kampung itu bekerja pada perkebunan kelapa sawit yang dikelola oleh PT Perkebunan II Prafi Manokwari. Kakak-kakaknya juga sudah meninggalkan profesi berburu mereka. Tinggal dia saja dalam keluarga besarnya yang masih melanjutkan tradisi sebagai pemburu.
Sepuluh tahun terakhir ini, bermacam-macam binatang yang hidup di hutan Prafi seperti: babi hutan, rusa, kuskus, burung Kasuari dan Kumkum semakin menjauh dari hutan di sekitar kampungnya. Kawasan itu bertambah ramai oleh berbagai macam aktivitas manusia. Ribuan hektar hutan Prafi telah dirubah menjadi perkebunan kelapa sawit, kakao, areal persawahan serta perumahan bagi para transmigran.
Oleh karena itu, untuk mencapai tempat berburu yang masih banyak binatangnya, Cornelis harus melakukan perjalanan jauh ke dalam hutan melewati dua bukit dan satu sungai lebar. Setiap kali hendak berburu, ia selalu ditemani seekor anjing kesayangannya, si Blacky.
Kali ini, seperti biasa Cornelis bangun pukul setengah enam. Kedua anaknya masih tidur sedangkan istrinya sedang menyiapkan sarapan di dapur. Sehabis mencuci muka dan mengganti pakaian, Cornelis turun ke dapur untuk sarapan pagi dan mempersiapkan alat-alat berburunya.
Istrinya, Yanti, baru saja menggoreng telur burung Maleo untuknya. Telur itu ukurannya tiga kali lebih besar dari telur ayam kampung biasa. Segelas teh panas telah dihidangkannya di atas meja. Cornelis langsung menyantap telur itu dengan nasi dan tumis kangkung.
Sehabis sarapan, ia mulai mengambil alat-alat berburu yang diletakkannya di lantai dapur. Parang dan tombak diasahnya lagi hingga mengilap dan tajam. Busur yang terbuat dari sebilah bambu dipanggangnya di atas api supaya lebih lentur. Di samping itu, ia mengganti tali busur lama dengan yang baru, yang terbuat dari seutas belahan rotan. Beberapa buah anak panah juga dipanggangnya di atas api supaya lebih lurus dan ringan. Bila anak-anak panah itu dilepas dari busurnya, mereka akan melesat menuju sasaran buruan dengan cepat dan tepat.
Yanti duduk disampingnya sambil berkata, “Nelis, apa kamu tidak berencana membeli senjata berburu supaya lebih gampang menembak rusa atau babi hutan?”
“Ah, aku tidak perlu senjata berburu. Di samping mahal harganya, senjata berburu sangatlah berbahaya dan tidak ramah lingkungan. Lagi pula pengurusan surat izinnya terlalu rumit,” jawab Cornelis dengan santai sambil membelai rambut istrinya.
“Kata temanku yang suaminya bekerja di kantor Polsek Warmare, harga sepucuk senjata berburu kira-kira lima juta rupiah. Sedangkan untuk pengurusan surat izin kepemilikan senjata api tidaklah sulit. Yang penting senjatanya harus dititip di kantor Polsek. Apalagi seluruh orang di kampung ini sudah tahu bahwa keluargamu secara turun-temurun mencari nafkah sebagai pemburu. Jadi kamu tidak akan dipersulit.”
“Yanti, kamu dengar,” kata Cornelis sambil melipat kaki kirinya di atas bangku, “justru karena keluargaku ini sudah menjadi pemburu secara turun-temurun maka aku lebih terbiasa menggunakan alat-alat berburu tradisional. Suara letusan senjata api yang menggelegar akan membuat binatang-binatang ketakutan dan semakin menjauh dari hutan di sekitar sini.”
“OK kalau begitu. Itu terserah kamu saja, aku cuma mau kasih saran. Kalau kamu lebih enjoy berburu dengan alat tradisional, bagiku itu no problem!” jawab istrinya dalam bahasa Indonesia yang dicampur dengan beberapa istilah Inggris.
Mereka bertemu pertama kali waktu masih mahasiswa. Cornelis kuliah di Fakultas Pertanian jurusan Peternakan, sedangkan Yanti adalah mahasiswi jurusan Sastra Inggris Universitas Papua.
Alat-alat berburu telah siap. Cornelis dan Yanti duduk berdampingan di bangku dapur. Mereka saling berpegangan tangan. Mereka mulai berdoa memohon berkat dan perlindungan Tuhan bagi aktivitas mereka hari itu. Sehabis berdoa, mereka berdiri.
“Sayang, ingat bahwa kamu di hutan sendirian, kamu harus ekstra hati-hati. Jangan sampai mendapat kecelakaan, kasihan aku dan anak-anakmu ada di rumah,” kata Yanti sambil memeluk dan menciumi bibir suaminya.
“Iya, sayang, jangan kuatir, aku akan jaga diri selama di hutan.” Cornelis pun balik mengecup bibir isterinya dengan mesra. Mereka berciuman agak lama.
“Jangan sampai pulang malam ya.”
“Ya, aku akan pulang cepat hari ini. Aku hanya pergi memeriksa jerat yang telah kupasang dua hari yang lalu.”
Setelah itu, Cornelis mengambil busur, panah dan tombak yang telah diikat kemudian disilangkannya mereka di punggungnya. Parang disarungkannya di pinggang kirinya.
Cornelis keluar dari rumahnya dan menghidupkan motornya. Blacky, si anjing pemburu yang selama ini setia menemaninya di hutan, didudukannya di atas tangki bensin. Beberapa menit kemudian, kedua pemburu tradisional tersebut berangkat meninggalkan Kampung Warmare. Sepanjang jalan, orang-orang kampung mulai ramai menjalankan pagi mereka. Yanti masuk lagi ke dalam rumah, membangunkan kedua anaknya dan mempersiapkan mereka untuk ke sekolah.
Motor yang dikendarai Cornelis hanya bisa mengantarnya dan anjingnya sampai di ujung jalan beraspal di tepi Sungai Prafi. Setelah itu ia dan si Blacky harus menyebrangi sungai dan berjalan kaki lagi ke dalam hutan. Perjalanannya cukup melelahkan. Mereka harus mendaki dan menuruni bukit.
Tiba di lokasi berburu, tubuhnya sudah berkeringat. Mula-mula Cornelis memeriksa beberapa jerat yang telah dipasangnya. Dua jerat telah diperiksa, hasilnya kosong. Ia berjalan lagi. Sementara itu, si Blacky, anjingnya yang berwarna hitam kecoklatan, berjalan di depan sambil mengendus-endus tanah mencari bau binatang buruan.
Jerat yang ketiga telah dipasangnya di tanah becek yang menuju ke kubangan. Di sekitar jerat itu ditaruhnya beberapa buah jambu merah untuk menarik perhatian babi hutan yang akan lewat. Teknik ini selalu berhasil.
Beberapa puluh meter sebelum mencapai jerat yang ketiga tersebut, tiba-tiba si Blacky mulai menggonggong dan berlari meninggalkan tuannya. Melihat hal ini, Cornelis yakin bahwa jeratnya pasti berhasil menangkap seekor binatang. Perlahan-lahan ia mendekati jerat itu, dan memang benar dugaannya. Tonggak kayu yang semula melengkung ke tanah, telah berdiri tegak. Ujungnya yang diikat dengan tali rotan dan disambung dengan sebuah kawat sedang bergoyang-goyang. Seekor babi hutan sedang tergantung di sana dan salah satu kakinya terjerat kawat. Kawat itu adalah bekas kawat rem sepeda motornya. Babi hutan yang terjerat ukurannya besar sekali.
Gonggongan si Blacky membuat babi hutan itu meloncat-loncat ketakutan. Tanpa menunggu aba-aba dari tuannya, Blacky melompat dan menggigit leher babi hutan itu. Cornelis yang baru tiba di lokasi jerat tersebut langsung mengambil busur dan panah dari punggungnya. Babi hutan yang meronta-ronta itu dipanahnya. Swing…, bles…! Panah itu melesat dan menusuk paha kirinya.
Babi itu terluka. Ia semakin ketakutan tapi segera berubah menjadi ganas. Ia balik menggigit kaki depan Blacky.
“Kaing.., kaing…, kaing…, guk…, guk …, guk… ” anjing Blacky berteriak kesakitan.
Gigitannya di leher babi hutan tersebut lepas. Ia meloncat lagi hendak mengigit tapi babi hutan itu bergerak cepat ke samping dan menanduk perut Blacky dengan kedua taringnya yang menjorok keluar dari mulutnya.
“Kaing…, kaing…, kaing …, guk…, guk …, guk…. kaing…, kaing…, kaing …, guk…, guk …, guk…,” Blacky dan babi hutan bertarung mati-matian.
Cornelis tidak berani memanah lagi, takut panahnya nyasar mengenai anjingnya. Anak panah yang tadi dilepaskannya masih menempel di paha kiri babi itu. Ia berjalan mendekati binatang itu yang sedang berkelahi melawan si Blacky. Ketika Cornelis hendak mengambil tombak di punggungnya, tiba-tiba dilihatnya babi hutan tersebut terlepas. Ujung kaki kanan bagian depan yang terikat kawat akhirnya putus di pergelangan akibat rontahan babi itu sendiri.
Walaupun pincang dan berdarah-darah, babi hutan yang terluka ini menjadi lebih beringas menghadapi musuhnya. Dalam sekejap, si Blacky diseruduk dan digigitnya. Anjing itu terluka parah. Ia tidak mampu lagi melawan babi hutan yang sedang mengamuk membela diri. Ia hanya bisa menggonggongnya saja. Kemudian babi itu berlari mengejar Cornelis yang tinggal beberapa meter saja dari binatang itu. Cornelis sekarang balik diburu buruannya.
Ia tidak jadi mengambil tombaknya. Cepat-cepat dicabutnya parang yang menggantung di pinggangnya. Babi hutan itu semakin dekat. Cornelis melompat ke samping. Diayunnya parangnya sekuat tenaga ke kepala babi itu. Tebasannya meleset. Karena tanahnya licin dan berair, Cornelis kehilangan keseimbangan. Ia jatuh terjungkal. Parang yang dipegangnya terlempar darinya sementara busur, anak-anak panah dan tombak di punggungnya sudah berserakan di tanah.
Babi hutan itu berbalik dan menyerangnya lagi. Tak ada waktu baginya untuk memunguti salah satu dari senjata-senjatanya itu. Babi hutan berlari kencang, ia semakin dekat. Taring-taringnya yang panjang, yang mencuat dari mulutnya siap mencabik-cabik tubuh Cornelis. Ia segera bangkit. Ia harus berlari menyelamatkan diri dari amukkan babi hutan ini. Ia berlari sekuat tenaga menuju sebuah pohon yang berdiri tak jauh dari situ.
Berkelahi dengan tangan kosong melawan babi hutan yang ganas ini artinya sama saja dengan cari mati. Pernah seorang penduduk kampung yang berburu di hutan ditemukan mati mengenaskan diamuk babi hutan yang terluka. Cornelis tidak ingin menjadi korban berikutnya. Ia harus berhati-hati seperti yang dinasihati isterinya tadi pagi.
Babi itu berlari mengejarnya dari belakang, diikuti si Blacky yang menggonggong dari belakang. Anjing hitam ini berusaha menolong tuannya. Cornelis berhasil mencapai pohon. Ia melompat dan menangkap dahan pohon yang paling rendah. Ditariknya tubuhnya ke atas. Mulut babi terbuka, ia hampir menggigit betis Cornelis.
Walaupun telah terluka parah akibat gigitan babi hutan itu, si Blacky, anjing pemburu yang setia pada tuannya itu, melompat lagi dan menggigit pantat babi hutan tersebut. Babi itu berbalik dan menyeruduknya dengan taringnya yang tajam. Anjing pemburu itu terlempar.
Untuk mengecoh babi hutan, dari atas pohon, Cornelis membuka bajunya, celana panjangnya dan celana kolornya. Kini ia telanjang bulat. Diremas dan diikatnya pakaiannya itu membentuk sebuah bola. Lalu dilemparnya babi hutan itu.
Bola kain itu mengenai punggung babi hutan. Keringat dan bau badannya yang masih menempel di bajunya membuat babi itu menggigit dan merobek-robek bola tersebut. Beberapa kali bajunya tersangkut di ranting-ranting semak belukar yang tumbuh di sekitar pohon. Sangkutan itu seakan-akan merupakan perlawanan dari bola kain pada babi hutan. Babi hutan semakin mengganas, bola kain itu diobrak-abrik hingga terbongkar. Ia mengamuk terus hingga tak peduli lagi dengan Cornelis dan si Blacky.
Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Cornelis. Cepat-cepat dia melompat turun mendapati tombak yang tergeletak tidak jauh dari kubangan. Diraihnya tombak itu dan dilemparinya babi hutan yang sedang bergulat dengan baju, celana dan kolornya itu. Tombak menembus rusuk kiri tepat mengenai jantung. Babi hutan itu akhirnya roboh, mati tak berdaya.
Untuk beberapa saat, Cornelis berdiri saja dengan tubuhnya yang telanjang bulat menatapi saat-saat terakhir babi hutan tersebut. Ia memungut lagi pakaiannya. Dikenakannya kembali baju, celana dan kolornya yang sudah hancur dicabik-cabik oleh babi hutan tadi. Pakaiannya kini penuh berlumuran darah dari luka babi hutan.
Babi itu lalu dipikulnya di punggungnya. Anjingnya berjalan mengikutinya dengan terpincang-pincang. Perlahan kedua pemburu yang gagah perkasa ini berjalan meninggalkan hutan. Setelah menyebrangi sungai dan sampai di motor, binatang buruannya ini diturunkannya dari pundaknya, dan diikatnya di jok belakang. Si Blacky kembali didudukkannya di atas tangki bensin. Anjing ini harus istirahat satu atau dua bulan penuh sebelum dapat kembali menemaninya berburu. Ia pun pulang mengenakan pakaian yang compang-camping berlumuran darah dan lumpur tanah.
Siang itu, sesampainya di kampungnya, tetangga-tetangganya sudah ramai menunggu di depan rumahnya. Mereka ingin membeli daging buruan yang masih segar. Terheran-heran mereka melihat pakaian Cornelis yang telah compang-camping itu. Dalam benak mereka, pasti Cornelis telah bertarung habis-habisan melawan babi hutan ini.
“Memang dia pemburu yang terhebat di kampung kita, tak ada yang mampu menandinginya,” kata salah seorang bapak di antara tetangga-tetangganya itu.














hayyy…….