MAMA ESTER PENJUAL SAGU
oleh Charles Roring
Hujan baru saja berhenti. Di pasar sayur, di meja baris ke dua, sebelah barat terminal angkot, tepatnya di dekat tiang kayu. Mama Ester duduk melamun. Dalam hati ia berkata, “Sejak pagi hingga sore ini, baru dua potong sagu basah yang laku. Masih ada delapan belas potong yang belum terjual. Kalau semuanya dibeli orang, maka seratus ribu rupiah akan saya bawa pulang. Karena hanya dua yang laku berarti baru sepuluh ribu yang masuk di saku. Semoga suamiku mendapat rezeki yang lebih banyak.”
Suami Mama Ester bekerja sebagai tukang ojek. Sebelumnya, mereka berdua hanya menekuni usaha sagu di Pasar Ampera Merauke.
Dua puluh tahun lalu, ketika pasar ini baru dibuka, Mama Ester bisa menjual seratus potong sagu per hari. Satu potong sagu bila dimasak menjadi papeda, bisa cukup untuk makan siang dan makan malam sebuah keluarga. Tentunya lauk yang pas haruslah ikan kuah pedas dan tumis kangkung – bunga pepaya.
Waktu itu, Mama Ester mampu menyewa sebuah ruangan kios di lantai bawah pasar Ampera ini. Dari usahanya menjual sagu, sayur-sayuran serta kelapa, ia dan suaminya mampu membeli tv, radio, dan sebuah sepeda motor. Ketiga anaknya bisa bersekolah dengan lancar. Buku, tas, seragam, dan ongkos transport mereka terjamin semuanya.
Sekarang, walaupun penduduk kota Merauke sudah tiga kali lipat, jumlah sagu yang terjual setiap hari semakin berkurang. Kini orang-orang Papua semakin banyak yang beralih makan nasi. Mama Ester bertanya lagi dalam hatinya, “Apakah nasi rasanya lebih enak dari sagu? – Ah rasanya sama saja. Tawar-tawar manis. Sama-sama tepung,” Mama Ester menjawab sendiri pertanyaan itu.
Dari sekitar tiga puluh penjual sagu di pasar ini, sekarang yang masih bertahan tinggal dirinya dan Oma Lopulalan. Oma itu adalah pengungsi dari kota Ambon. Ia sudah menetap di kota Merauke ini sejak tahun 2001.
Hampir semua penduduk kota Merauke, sudah beralih ke beras. Apalagi sekarang pemerintah memperkenalkan Program RASKIN (Beras Miskin) dan Program Pencetakan Sawah besar-besaran di Merauke. Harganya menjadi jauh lebih murah daripada tepung sagu. Mama Ester ingin protes tapi ia hanyalah orang kecil, tak akan ada yang mau mendengarnya.
Pukul 16.00, pasar ramai kembali. Banyak orang datang untuk membeli bahan makanan. Seorang ibu yang menjual kangkung di sebelahnya sedang bersiap-siap pulang. Semua dagangannya sudah habis diborong pembeli. Seorang gadis yang bibirnya dimerahi pinang, juga sudah pulang. Jualannya hanya pinang muda, sirih dan kapur, semuanya laku. Penjual keladi, singkong juga sudah pulang. Dagangannya dibeli Mas Sugeng, pengrajin keripik yang tinggal di dekat pelabuhan kapal.
Pukul 18.00, sudah lima belas potong sagu yang terjual. Mama Ester kelihatan lelah sekali. Duduk seharian berjualan sagu sangat menguras tenaga. Sejenak ia berdoa, “Oh, Tuhan pencipta tanah Papua. Tolonglah, agar masyarakatku mau kembali makan sagu.”
Setengah jam kemudian ia bersiap-siap pulang. Tiba-tiba seorang bapak mendekat dan menegurnya, “Selamat malam, Ibu.”
“Selamat malam. Bapak, mau beli berapa potong?”
“Eh- nama saya Keik King.”
“Oh iya – orang di pasar ini biasanya memanggil saya – Mama Ester. Apa Bapak Keik mau beli sagu?”
“Oh ya – oh tidak, eee… maksud saya iya, tapi tidak sekarang.”
“Maksud Bapak apa?” Mama Ester tidak mengerti jawaban Bapak Keik King.
“Eh – begini, saya dengar dari petugas pasar yang di dekat terminal sana, kata mereka – ibu sudah puluhan tahun berjualan sagu di sini. Apa benar?”
“Iya, kenapa?”
“Eh- begini saja, ibu tinggal di mana?”
“Saya tinggal di Jalan Panorama. Rumah saya di dekat jembatan besi arah ke airport.”
“Kalau dari kota, letaknya sebelum atau sesudah jembatan?”
“Sesudah”
“Baik, bagaimana kalau besok saya ke rumah ibu Ester, apa bisa?”
“Bisa, tapi Bapak ada keperluan apa?”
“Saya bekerja untuk sebuah perusahaan pembuat kue kering cap Hongkong Biscuits. Perusahaan itu berkantor pusat di Hongkong, the People’s Republic of China. Saya datang ke Papua ini karena perusahaan kami sedang mencari sagu dalam jumlah banyak. Jadi saya perlu bicara dengan ibu dan suami ibu untuk sebuah kerjasama.”
“Oh, jadi Bapak ini investor dari Hongkong ya?”
“Iya, kira-kira begitu.”
“Oh, kalau soal sagu, Mister Keik tidak usah kuatir. Mama Ester mengubah sapaannya dari kata Bapak menjadi kata Mister. Tanah adat keluarga saya luas sekali, sepanjang mata memandang semuanya dipenuhi hutan sagu.”
“Wah, bagus sekali. Kalau begitu saya akan ke rumah Ibu besok pagi. Bagaimana?”
“Bisa. Nanti saya akan beritahu suami saya.”
“Terima kasih, sampai jumpa. Selamat malam.”
“Selamat malam juga.”
Sejak saat itu, Mama Ester tidak terlihat lagi berjualan sagu di Pasar Ampera Merauke. Setelah berunding dan melakukan peninjauan lapangan, perusahaan kue kering cap Hongkong Biscuits berhasil menandatangani kontrak kerjasama pembelian dan pemrosesan tepung sagu dengan keluarga besar Mama Ester. Baginya, semua ini bagai mukjizat.
Selama ini, banyak sekali pohon sagu yang walaupun sudah matang tidak bisa dipanen karena di pasar pembelinya sedikit sekali. Seluruh penduduk kota Merauke telah beralih ke beras sebagai makanan pokok mereka. Dengan masuknya perusahaan sagu Hongkong Biscuits segalanya akan segera berubah.
Biasanya perusahaan Hongkong Biscuits memperoleh pasokan sagu dari Sarawak Malaysia. Tahun lalu, perkebunan sagu di sana terserang hama Botronyopa Grandis. Akibatnya mereka tidak bisa memenuhi permintaan perusahan kue kering Hongkong Biscuits. Perusahaan ini selanjutnya mengirim Mr. Keik King jauh-jauh ke Papua untuk mencari pemasok tepung sagu bagi pabrik mereka. Kue kering yang mereka buat semakin digemari segenap lapisan masyarakat. Kue-kue ini juga telah merambah ke berbagai pasar swalayan di Korea Selatan dan Jepang.
Untuk memperlancar pasokan tepung sagu sebagai bahan baku utama produk kue kering Hongkong Biscuits, berbagai mesin pemroses didatangkan langsung dari Hongkong. Sebelumnya, selama berabad-abad lamanya, orang-orang Papua menokok sagu secara tradisional dengan menggunakan pangkur. Sejenis mata cangkul terbuat dari batu yang diikat pada sepotong kayu dan dipakai untuk mengambil pati sagu. Sebelum patinya di ambil, pohon sagu yang telah matang ditebang dan dibelah batangnya.
Pangkur atau cangkul batu yang digerakkan tenaga manusia akan segera diganti oleh mesin parut, mesin saring, mesin tekan, mesin pengering dan mesin pembungkus dari Hongkong. Menurut rencana, kapasitasnya pada Tahap 1 adalah sebanyak 25 ton tepung sagu kering setiap bulan. Secara bertahap jumlah ini akan ditingkatkan hingga mencapai 100 ton per bulan. Semuanya diekspor untuk kebutuhan pabrik kue kering Hongkong Biscuits. Mama Ester pun sempat diundang ke Hongkong untuk melihat-lihat proses produksi pabrik kue itu.
Sejak saat itu, kesejahteraan keluarga Mama Ester semakin meningkat. Mama Ester melamun lagi, “Kami orang Papua semakin melupakan sagu, sedangkan orang Cina, Jepang dan Korea semakin gemar makan sagu. Apa dunia ini sudah terbalik?”









saya menawarkan bahan baku sagu untuk pembuatan tepung