Pelestarian Gedung Tua Peninggalan Belanda Sangat Mendesak
oleh Charles Roring
Dua atau tiga hari yang lalu saya berjalan di sekitar kompleks. Saya ditemani Grace, keponakan kecil yang cantik dan baru berusia empat tahun. Saya membawa sebuah kamera digital kecil tipe Sony Cyber-shot 6.0 mega pixel. Saya memotret beberapa gambar saat berjalan perlahan bersama Grace.

rumah tua peninggalan Belanda di Papua
Salah satu di antara gambar itu adalah sebuah rumah Belanda yang dibangun di atas bukit. Seorang Papua yang sudah tua, Jan Manusawai, menceritakan bahwa rumah itu telah ada sejak sebelum Perang Dunia II. Rumah itu dulu digunakan sebagai rumah sakit sebelum menjadi kediaman pastor-pastor Katolik. Sekarang rumah tersebut milik Gereja Katolik diosis Manokwari – Sorong. Ada banyak gedung, rumah dan toko-toko indah yang dibangun oleh Belanda di kota ini.
BOM IKAN
oleh Charles Roring
Perairan di sekitar Pulau Numfoor sebelah utara Papua dikelilingi oleh terumbu karang yang indah. Karang itu menyerupai cincin berwarna-warni yang melingkari pulau. Bila cuaca cerah dan air laut jernih, bermacam-macam ikan terlihat berenang ria di dalam air.
Nelayan-nelayan di Pulau Numfoor Papua tidak perlu bersusah-payah berlayar hingga bermil-mil ke tengah laut. Alam telah menyediakan ikan-ikan bebatuan yang lezat rasanya dan tinggi harganya tak jauh dari pantai mereka.
Kadang-kadang wisatawan mancanegara dari Amerika, Australia dan Jepang menyelam di sekitar Pulau Numfoor. Mereka datang dalam rombongan lima hingga sepuluh orang dan menyewa perahu-perahu penduduk setempat untuk melihat warna-warni ikan dan terumbu karang di dasar laut.
DIBURU BURUAN
oleh Charles Roring
Di seluruh Kampung Warmare, keluarga Cornelis telah lama dikenal sebagai keturunan pemburu yang ulung. Cornelis sendiri mulai mempelajari teknik berburu dari ayahnya sejak ia masih kecil. Mula-mula ia diajari bagaimana menangkap ayam yang dipelihara di kolong rumah. Menginjak usia sepuluh tahun, ia sudah diajari bagaimana memanah burung Kumkum yang bertengger di dahan pohon durian di belakang rumahnya. Kini sebagai kepala keluarga beranak dua, setiap minggu ia berburu di hutan Prafi untuk memberi nafkah bagi keluarganya.
SOFTWARE BAJAKAN
oleh Charles Roring
Suatu sore, seorang misionaris Amerika datang mengunjungi toko bukuku. Orangnya masih muda kira-kira usianya 25 tahun. Ia ditemani seorang anak kira-kira 15 tahun, yang berperan sebagai penerjemah atau mungkin sebagai penunjuk jalan. Mereka baru datang dari kota Serui.
Setelah berkeliling melihat buku-buku yang dipajang di rak-rak, ia akhirnya tiba di rak buku komputer. Di samping menjual buku-buku komputer, aku juga menaruh software bajakan, kira-kira 30 keping banyaknya, termasuk beberapa produk Microsoft.
TES PEGAWAI
oleh Charles Roring
Maria bekerja di sebuah agen perjalanan yang melayani penjualan tiket maskapai penerbangan Batavia, Merpati dan Express Air. Sudah enam tahun ia mengabdi di perusahaan kecil itu. Matoa Travel Agency, nama perusahaan itu. Maria tidak tahu persis mengapa bosnya menamai agen perjalanan ini, Matoa. Yang jelas, Matoa adalah nama buah asli Papua yang ukurannya sedikit lebih besar dari buah lengkeng. Warna kulitnya hitam, isi dagingnya putih dan manis.
PELACUR DAN SOPIR TRUK
oleh Charles Roring
Malam minggu adalah malam yang panjang. Kompleks 666, pusat industri hiburan di kota Sorong sejak sore tadi sudah ramai dikunjungi orang. Kompleks ini terletak jauh di luar kota. Perlu waktu satu jam berkendaraan untuk berkunjung ke sana. Walau terpencil, Kompleks 666 selalu ramai dikunjungi para “wisatawan.”
Waktu menunjukkan pukul 20.00 WIT. Semarak lagu dangdut terdengar nyaring di pengeras suara. Para pria larut dalam goyangan dangdut ditemani kaleng-kaleng bir dan wanita-wanita penghibur. Mereka adalah perantau-perantau yang datang ke tanah Papua untuk mengadu nasib. Ada yang bekerja di perusahaan kayu, perusahaan ikan, serta ada pula yang hanya berprofesi sebagai sopir angkutan umum atau tukang ojek. Kebanyakan dari mereka datang untuk melupakan keletihan dan kepenatan kerja.
PENDARAHAN DI MULUT
PENDARAHAN DI MULUT
oleh Charles Roring
Ruang tunggu bandara Mokmer nampak ramai. Yuli duduk sendiri di dekat jendela kaca yang menghadap ke lapangan terbang. Di apron, sebuah pesawat jet jenis Boeing 737 Seri 200 milik Maskapai Penerbangan Merpati sedang diparkir. Tidak jauh dari pesawat besar itu, ada sebuah pesawat kecil yang berbaling-baling tunggal di moncongnya. Orang menyebutnya Pilatus. Pesawat ini milik MAF (Mission Aviaton Fellowship).
Yuli akan terbang dengan pesawat kecil ini ke Numfoor, kota kelahirannya. Kemarin ia baru tiba di kota Biak setelah berlayar dengan KM. Nggapulu selama seminggu dari Tanjung Perak, Surabaya. Ia tercatat sebagai mahasiswi jurusan teknik kimia di UPN Veteran, Jogjakarta. Sudah dua tahun ia tidak berlibur ke Papua. Sebentar lagi ia akan akan bertemu dengan bapak, ibu dan adik-adiknya di Numfoor. Ia rindu masakan ibunya – ikan bobara bakar -yang dilumuri lemon, irisan cabe dan garam.
RITUAL MANDI ASMARA
oleh Charles Roring
Jessica gadis cantik tinggi semampai. Hidungnya mancung, matanya biru kehijau-hijauan. Kulitnya putih, rambutnya panjang keemasan. Ia datang jauh-jauh dari Australia untuk magang di Lembaga Studi Hak-hak Adat Rakyat Papua (L-SHARP) Jayapura. Di sana ia mempelajari berbagai masalah yang berkaitan dengan masyarakat adat Papua.
MANUSIA KERDIL
oleh Charles Roring
Rumahku terletak tidak jauh dari hutan lindung. Jaraknya sekitar tiga ratus meter di sebelah utara. Di timur ada sebuah sekolah dasar yang sudah berdiri sejak zaman Belanda. Sebuah jurang yang agak lebar memisahkan rumahku dengan sekolah itu. Di jurang itu tumbuh pohon mangga, kelapa dan pisang-pisang. Ada juga pohon matoa yang tinggi sekali.
MALARIA TROPIKANA
oleh Charles Roring
Sedikit goncangan kecil terjadi ketika pesawat menembus awan. Lampu peringatan di langit-langit kabin menyala. Penumpang diminta mengencangkan ikat pinggang dan tidak merokok.








