Lembar-lembar Ekspresi

Transformasi Sosial dalam Sensualitas

Mohandas Karamchand Gandhi

Mohandas Karamchand Gandhi

translated by http://charlesroring.blogspot.com

Source: http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Mahatma_gandhi&redirect=no

Mohandas Karamchand Gandhi, 2 Oktober 1869 – 30 Januari 1948, juga dikenal sebagai Mahatma Gandhi, adalah pemimpin politik dan spiritual India serta pergerakan kemerdekaan India. Dia adalah pelopor Satyagraha – sebuah filosofi yang sebagian besar berkaitan dengan kebenaran dan perlawanan terhadap kejahatan melalui perlawanan tanpa-kekerasan yang menghantar India menuju kemerdekaan dan menginsipirasi gerakan hak-hak sipil maupun kemerdekaan di seluruh dunia. Gandhi telah dikenal luas di India dan di seluruh dunia sebagai Mahatma (Bahasa Sanskrit – “Jiwa Agung” – sebuah epithet yang diberikan oleh Tagore) dan sebagai Bapu (Gujarati – Ayah). Di India, dia secara resmi dihormati sebagai Bapak Bangsa. Tanggal 2 Oktober, hari kelahirannya, dirayakan setiap tahun sebagai Gandhi Jayanti, sebuah hari nasional. Pada 15 Juni 2007, Sidang Umum Perserikatan Bangsa-bangsa secara bulat menerima sebuah resolusi yang menyatakan bahwa 2 Oktober adalah “Hari Internasional Tanpa-Kekerasan.”

Gandhi menerapkan pembangkangan sipil secara damai untuk pertama kali dalam perjuangan hak-hak sipil komunitas India di Afrika Selatan. Sekembalinya ke India dari Afrika, dia memimpin para buruh dan petani miskin untuk memprotes pajak yang mencekik leher dan diskriminasi yang telah tersebar luas. Melanjutkan kepemimpinan Indian National Congress, Gandhi memimpin kampanye-kampanye nasional bagi pengentasan kemiskinan, bagi pembebasan kaum perempuan, bagi persaudaraan antara kelompok agama dan ethnik yang berbeda-beda, bagi diakhirinya kaum hina-dina/ tak tersentuhkan (untouchability) dan diskriminasi kasta, bagi kemandirian ekonomi bangsa, serta lebih dari semua itu – bagi Swaraj – yakni kemerdekaan India dari dominasi asing. Gandhi memimpin bangsanya dengan pembangkangan yang terkenal melawan pajak garam Inggris yang dibebankan kepada India melalui Pawai Garam Dandi sejauh 400 kilometer (250 mil) di tahun 1930, dan dalam seruan terbuka agar Inggris menghentikan penjajahannya atas India (Quit India) di tahun 1942. Dia dipenjarakan selama bertahun-tahun pada berbagai kasus baik di Afrika Selatan dan India.

Gandhi menjalankan dan menganjurkan non-kekerasan dan kebenaran dalam segala keadaan. Dia hidup sederhana, mengorganisir sebuah ashram yang memenuhi semua kebutuhannya secara mandiri. Ia menenun pakaiannya sendiri – kain dhoti dan syal tradisional India, yang ditenun dari benang buatan tangan yang dia pintal pada sebuah charkha – dia hidup sebagai seorang vegetarian sederhana dan kemudian makanan fruitarian. Dia menjalani puasa-puasa yang panjang, baik bagi pemurnian-diri dan protes.

Masa Muda

Mohandas Karamchand Gandhi dilahirkan ke dalam keluarga Hindu Modh di Porbandar, pada 2 Oktober 1869. Dia anak dari Karamchand Gandhi, diwan (perdana menteri) Porbandar, dan Putlibai, istri ke empat Karamchand, seorang Hindu dari aliran Pranami Vaishnava. Dua isteri Karamchand yang pertama, masing-masingnya melahirkan seorang anak perempuan, namun meninggal karena sebab-sebab yang tidak diketahui (kemungkinan karena melahirkan). Hidup bersama ibunya yang saleh dan dikelilingi oleh pengaruh Jain dari Gujarat, Gandhi sejak usia dini belajar tentang prinsip-prinsip tidak-menyakiti mahluk hidup, vegetarianisme, puasa bagi pemurnian diri, dan sikap saling menghargai di antara berbagai kepercayaan dan sekte. Dia dilahirkan ke dalam kasta vaishya, atau pedagang.

Pada bulan Mei 1883, di usia 13, melalui pengaturan orang tuanya Gandhi dikawinkan dengan Kasturba Makhanji (juga dieja “Kasturbai” atau dikenal sebagai “Ba”). Mereka dikaruniai lima anak, yang pertama meninggal sewaktu masih bayi, Harilal Gandhi, lahir pada 1888; Manilal Gandhi, yang lahir di tahun 1892; Ramdas Gandhi, yang lahir di tahun 1897; dan Devdas Gandhi, yang lahir di tahun 1900. Gandhi adalah seorang siswa yang tidak terlalu menonjol pada masa mudanya di Porbandar dan kemudian di Rajkot. Dia lulus ujian matrikulasi secara pas-pasan dari Samaldas College di Bhavnagar, Gujarat. Dia tidak terlalu suka belajar di sekolah tinggi itu, karena keluarganya menginginkannya menjadi seorang pengacara (barrister).

Di usia 18 pada 4 September 1888, Gandhi masuk University College London untuk belajar hukum dan dilatih sebagai seorang pengacara. Masa hidupnya di London, ibukota Kerajaan, dipengaruhi oleh sumpah yang dibuatnya bagi ibunya di hadapan pendeta Jain Becharji, ketika meninggalkan India, untuk menaati aturan Hindu yang pantang daging sapi, alkohol, dan memiliki banyak pasangan seks. Meskipun Gandhi bereksperimen dengan menerima kebiasaan Inggris – contohnya mengambil pelajaran dansa – perutnya tidak cocok dengan (masakan) daging domba dan kubis buatan ibu kosnya. Perempuan itu menunjukkannya salah satu dari beberapa restoran vegetarian London. Bukannya secara sederhana menaati keinginan-keinginan ibunya, dia membaca, dan secara intelektual memeluk vegetarianisme. Dia bergabung dengan Vegetarian Society, dan dipilih ke dalam komite eksekutif, dan mendirikan cabang lokal. Di kemudian hari, dia memuji hal tersebut karena telah memberinya pengalaman berharga dalam mengorganisir institusi-institusi. Beberapa vegetarian yang ditemuinya adalah anggota Theosophical Society, yang telah didirikan pada tahun 1875 guna meningkatkan persaudaraan, yang diperuntukkan bagi studi tentang literatur Buddha dan Hindu. Mereka mendorong Gandhi untuk membaca Bhagavad Gita. Sebelumnya tidak menunjukkan ketertarikan khusus pada agama, kini dia membaca karya-karya tentang Hinduisme, Kristianitas, Buddisme, Islam dan agama-agama lain. Dia kembali ke India setelah dipanggil untuk bekerja sebagai pengacara oleh Innter Temple, tetapi kurang berhasil dalam profesi hukumnya di Bombai. Kemudian, setelah melamar menjadi guru sekolah menengah paruh-waktu dan ternyata ditolak, akhirnya dia kembali ke Rajkot dan hidup seadanya dengan menulis surat-surat pengaduan bagi para penggugat, tetapi dipaksa pula menutup usahanya ketika dia bermasalah dengan seorang opsir Inggris. Dalam autobiografinya, dia menggambarkan insiden ini sebagai suatu usaha lobbi yang tidak berhasil atas nama kakaknya. Pada iklim inilah (yakni di tahun 1893) dia menerima sebuah kontrak yang lamanya satu tahun bagi sebuah firma India untuk sebuah lowongan di Natal, Afrika Selatan, kemudian adalah bagian dari Kerajaan Inggris Raya.

Gandhi kembali ke London di tahun 1895, ketika dia berkesempatan bertemu Sekretaris Kolonial Joseph Chamberlain, ultra troy yang berubah menjadi radikal, yang anak laki-lakinya Neville menjadi Perdana Menteri di tahun 1930an dan membantu menekan Gandhi. Chamberlain Senior setuju bahwa perlakuan terhadap orang India adalah barbarik tetapi kelihatannya tidak berkeinginan mendorong dibuatnya undang-undang untuk menangani masalah ini.

Gerakan hak-hak Sipil di Afrika Selatan (1893-1914)

Artikel utama: Karya Gandhi di Afrika Selatan – http://en.wikipedia.org/wiki/Gandhi%27s_work_in_South_Africa

Di Afrika Selatan, Gandhi menghadapi diskriminasi yang ditujukan bagi orang-orang India. Awalnya, dia dilempar keluar sebuah kereta api di Pietermaritzburg, setelah menolak pindah dari gerbong kelas satu ke kelas tiga walaupun memegang sebuah tiket kelas satu yang masih berlaku. Dia menderita kesulitan lain juga, termasuk di tolak dari banyak hotel. Dalam berbagai kejadian serupa, seorang hakim pengadilan Durban memerintahkannya untuk melepas turbannya, namun Gandhi menolak. Insiden ini telah diakui sebagai titik balik kehidupannya, berjuang bagi kebangkitan keadilan sosial masa kini dan membantu menjelaskan aktivisme sosialnya sesudah itu. Lewat kesaksian langsungnya akan rasisme, prasangka buruk, dan ketidakadilan terhadap orang-orang India di Afrika Selatan maka Gandhi mulai mempertanyakan status rakyatnya di dalam Kerajaan Inggris, dan kedudukannya dalam masyarakat.

Gandhi memperpanjang masa tinggalnya di Afrika Selatan demi membantu orang-orang India menghadapi sebuah rancangan peraturan yang menolak hak mereka untuk memilih. Meskipun tidak dapat menghalangi pengesahan peraturan itu, kampanyenya berhasil menarik perhatian pada penderitaan-penderitaan komunitas India di Afrika Selatan sehingga menjadi kekuatan politik yang homogen. Pada Januari 1897, ketika Gandhi kembali dari sebuah perjalanan singkat ke India, segerombolan orang kulit putih menyerang dan mencoba membunuhnya. Karena keyakinannya akan nilai-nilai pribadi yang akan membentuk kampanye-kampanyenya di kemudian hari, dia menolak menuntut anggota manapun dari gerombolan itu, dan menyatakan bahwa salah satu prinsipnya adalah tidak menggugat seseorang karena kesalahan pribadi di sebuah pengadilan hukum.

Di tahun 1906, pemerintah Transvaal mengumumkan sebuah Akta baru yang mewajibkan pendaftaran penduduk India dari koloni itu. Pada sebuah protes massa yang diselenggarakan tanggal 11 September tahun itu, Gandhi mengadopsi metodologinya yang masih berevolusi yakni satyagraha (pengabidian kepada kebenaran), atau protes non-kekerasan, untuk pertama kalinya, menyerukan kepada sesamanya orang-orang India untuk menentang peraturan baru itu dan menderita hukuman-hukuman karena tindakan mereka, dan bukannya melawan dengan cara-cara kekerasan. Rencana ini diadopsi, menuntun mereka pada sebuah perjuangan selama tujuh tahun di mana ribuan orang-orang India dipenjarakan (termasuk Gandhi), dipukuli, atau bahkan ditembak, karena melakukan pemogokan, menolak mendaftar, membakar kartu-kartu pendaftaran mereka, atau terlibat dalam bentuk-bentuk perlawanan tanpa-kekerasan lainnya. Sementara pemerintah begitu berhasil dalam menindas para pemrotes India, kemarahan publik terbentuk atas metoda kekerasan yang diterapkan pemerintah Afrika Selatan dalam menghadapi para pemrotes India yang damai akhirnya memaksa Jenderal Afrika Selatan Jan Cristiaan Smuts untuk merundingkan sebuah kompromi dengan gandhi. Ide-ide Gandhi semakin jelas dan konsep Satyagraha semakin matang selama perjuangan ini.

Peranan dalam Perang Zulu

Artikel utama: Pemberontakan Bambatha – http://en.wikipedia.org/wiki/Bambatha_Rebellion

Di tahun 1906, setelah Inggris memperkenalkan sejenis pajak yang baru (poll-tax) yakni pajak kepala yang besarnya dipukul rata, masyarakat Zulu di Afrika Selatan membunuh dua opsir Inggris. Inggris mendeklarasi sebuah perang melawan orang-orang Zulu sebagai balasannya. Gandhi secara aktif mendorong Inggris untuk merekruit orang-orang India. Dia berpendapat bahwa orang India hendaknya mendukung usaha-usaha perang untuk melegitimasi klaim-klaim mereka atas kewarganegaraan sepenuhnya. Tapi Inggris menolak memberi pangkat kemiliteran bagi orang-orang India dalam kemiliteran mereka. Tapi mereka menerima tawaran Gandhi membentuk satu detasemen yang terdiri dari orang India sebagai sukarelawan pembawa tempat tidur usungan guna merawat tentara-tentara Inggris yang terluka. Pada 21 Juli 1906, Gandhi menulis di Indian Opinion – Korps yang terdiri dari dua puluh tiga orang India telah dibentuk seizin Pemerintah Natal sebagai suatu eksperimen, dalam hubungannya dengan operasi (tentara Inggris) melawan penduduk asli. Melalui kolom di Indian Opinion ini, Gandhi mendesak masyarakat India di Afrika Selatan untuk bergabung dalam peperangan tersebut – “Jika Pemerintah menyadari bahwa pasukan cadangan hanya percuma, mereka akan menggunakannya dan memberikan kepada orang-orang India kesempatan berlatih bagi peperangan yang sebenarnya.”

Menurut pendapat Gandhi, Draft Ordinance 1906 menempatkan status orang-orang India di bawah tingkat penduduk asli. Oleh karena itu dia mendesak orang India guna melawan Ordinance menggunakan cara-cara Satyagraha, dengan mengambil conth “Kaffirs.” Dengan kata lain, “Bahkan kasta-setengah dan kaffirs, yang lebih rendah dari kita, telah melawan pemerintah. Undang-undang Pass berlaku pula bagi mereka, namun mereka tidak mengurus Pass-pass tersebut.”

Perjuangan Bagi Kemerdekaan India (1916-1945)

Lihat juga Indian Independence Movement di: http://en.wikipedia.org/wiki/Indian_Independence_Movement

Pada 1915, Gandhi kembali dari Afrika Selatan untuk tinggal di India. Dia berbicara pada konvensi-konvensi Indian National Congress, tetapi secara khusus diperkenalkan dengan isu-isu India, politik dan rakyat India oleh Gopal Krishna Gokhale, seorang pemimpin Partai Kongres yang dihormati ketika itu.

Champaran dan Kheda

Artikel utama: Champaran and Kheda Satyagraha – http://en.wikipedia.org/wiki/Champaran_and_Kheda_Satyagraha

Pencapaian pertama Gandhi yang utama terjadi di 1918 lewat agitasi Champaran dan Kheda Satyagraha, meskipun masalah Kheda lebih menyangkut tanaman berharga lainnya dan indigo serta bukannya tanaman pangan yang diperlukan untuk bertahan hidup. Ditindas oleh milisi-milisi yang dimiliki oleh para tuan tanah (yang kebanyakannya berkebangsaan Inggris), mereka diberi kompensasi yang sangat kecil, yang menyebabkan mereka menjadi sangat miskin melarat. Kampung-kampungnya sangat kotor dan tidak sehat, alkoholisme, kaum hina-dina (untouchability) dan purdah tersebar di mana-mana. Kini di tengah-tengah merebaknya kelaparan, Inggris memungut pajak yang mencekik leher yang ingin mereka tingkatkan. Situasinya begitu parah. Di Kedah, Gujarat, masalahnya sama. Gandhi membentuk sebuah ashram di sana, mengorganisir sejumlah penduduk-pendukung lamanya dan sukarelawan baru dari wilayah itu. Dia memimpin sebuah studi yang baru dan melakukan survey ke kampung-kampung, mengumpulkan data mengenai tindakan-tindakan kejahatan dan episode yang buruk sekali tentang penderitaan rakyat, termasuk keadaan umum yang menyangkut menurunnya kualitas hidup. Membangun rasa percaya diri para penduduk kampung, dia mulai memimpin pembersihan kampung, membangun sekolah dan rumah sakit serta mendorong kepemimpinan desa untuk menghentikan dan mengutuk banyak kejahatan sosial seperti yang telh dikumpulkan di atas.

Namun pengaruh utamanya baru terasa ketika dia ditahan oleh polisi dengan tuntutan menciptakan keresahan dan diperintahkan untuk meninggalkan provinsi itu. Ratusan ribu orang melakukan protes dan berpawai di luar penjara, stasiun polisi dan pengadilan menuntut pelepasannya, yang enggan diberikan oleh pengadilan. Gandhi memimpin protes dan pemogokan-pemogokan yang teratur melawan para tuan tanah, yang dengan tuntunan pemerintah Inggris, menandatangani sebuah perjanjian yang memberikan lebih banyak kompensasi dan kendali atas tanah pertanian bagi para petani miskin di daerah itu serta penundaan peningkatan keuntungan dan pengumpulannya sampai bencana kelaparan berakhir. Selama agitasi inilah, Gandhi dipanggil rakyat dengan sebutan Bapu (Bapak) dan Mahatma (Jiwa Agung). Di Kheda, Sardar Patel mewakili para petani dalam perundingan-perundingan dengan Inggris, yang menunda pengumpulan keuntungan dan melepas semua tahanan. Sebagai hasilnya, ketenaran Gandhi menyebar ke seluruh negeri.

Non-Kooperasi

Artikel utama: Non-cooperation movement – http://en.wikipedia.org/wiki/Non-cooperation_movement

Perlawanan secara damai dan non-kooperasi adalah “senjata” Gandhi dalam perang melawan ketidakadilan. Di Punjab, pembantaian Jallianwala Bagh (Jallianwala Bagh massacre) terhadap para penduduk sipil oleh pasukan Inggris (yang juga dikenal sebagai Pembantaian Amritsar) menyebabkan trauma yang dalam bagi bangsa itu, hal ini semakin menambah kemarahan publik dan tindak-tindak kekerasan. Gandhi mengritik keduanya – the British Raj dan pembalasan dengan kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang India. Dia menulis suatu resolusi yang menyatakan turut berduka cita bagi korban-korban penduduk sipil Inggris dan mengutuk kerusuhan, yang setelah pada awalnya ditentang oleh partai, kemudian diterima menyusul pidato Gandhi yang emosional ketika dia membela prinsipnya bahwa semua kekerasan adalah jahat dan tidak bisa dibenarkan. Namun setelah pembantaian tersebut dan kekerasan yang berturut-turut maka pikiran Gandhi berfokus pada upaya untuk mewujudkan pemerintahan-sediri dan kendali sepenuhnya atas semua institusi pemerintahan India, dan segera matang menjadi Swaraj atau kemerdekaan politik, spiritual dan individual sepenuhnya.

Pada Desember 1921, Gandhi ditunjuk sebagai executive authority atas Indian National Congress. Di bawah kepemimpinannya, Congress mengorganisir diri dengan sebuah konstitusi baru, dengan tujuannya adalah Swaraj. Keanggota dalam partai terbuka bagi siapa saja yang bersedia berkorban. Sebuah hirarkhi yang terdiri dari komite-komite dibentuk untuk memperbaiki disiplin, mengubah partai dari sebuah organisasi elit menjadi sebuah daya tarik massa nasional. Gandhi memperluas platform non-kekerasannya dengan memasukkan kebijakan swadeshi (swadeshi policy) – yakni boykot terhadap barang-barang buatan asing, khususnya barang-barang Inggris. Berhubungan dengan kebijakan ini adalah anjurannya agar khadi (kain yang ditenun sendiri di rumah) dikenakan oleh semua orang India dan bukannya tekstil buatan Inggris. Gandhi menyerukan kepada laki-laki dan perempuan India, kaya atau miskin, untuk menghabiskan waktu setiap hari dengan menenun khadi untuk mendukung gerakan kemerdekaan. Ini adalah strategi yang menguatkan disiplin dan dedikasi untuk menyingkirkan orang-orang yang pesimis dengan hal itu maupun orang-orang yang ambisius, dan untuk melibatkan para perempuan dalam gerakan itu secara bersamaan ketika banyak orang berpikir bahwa aktvitias sedemikian bukanlah aktivitas yang terhormat bagi kaum perempuan. Di samping memboykot produk-produk Inggris, Gandhi menyerukan agar rakyat memboykot institusi pendidikan Inggris dan pengadilan-pengadilan hukum, mengundurkan diri dari pekerjaan mereka di pemerintahan, serta membuang segala gelar kehormatan, jabatan dan pangkat-pangkat yang diberikan oleh Inggris.

“Non-kooperasi” memiliki daya tarik yang luas dan berhasil, meningkatkan kegembiraan dan partisipasi dari semua tingkatan masyarakat India. Tetapi, baru saja gerakan itu mencapai titik puncaknya, tiba-tiba gerakan itu berhenti sebagai akibat bentrokan kekerasan di kota Chauri Chaura, Uttar Pradesh, pada Februari 1922. Kuatir akan berubahnya gerakan itu menuju kekerasan, dan yakin bahwa ini akan menyebabkan segala usahanya menjadi sia-sia, Gandhi menyerukan penghentian kampanye pembangkangan sipil massa tersebut. Gandhi ditahan pada 10 Maret 1922, diadili dengan tuduhan menghasut rakyat guna melawan pemerintah, dan dihukum penjara enam tahun. Mulai 18 Maret 1922, dia hanya mendekam selama dua tahun, lalu dilepas pada Februari 1924 setelah menjalani operasi appendicitis.

Tanpa figur pemersatu Gandhi, the Indian National Congress mulai pecah selama tahun-tahunnya di penjara, terbelah menjadi dua faksi, satu dipimpin oleh Chitta Ranjan Das dan Motilal Nehru yang memilih partisipasi partai dalam dewan perwakilan, dan yang lainnya yang dipimpin oleh Chakravarti Rajagopalachari dan Sardar Vallabhbhai Patel, yang menentang tindakan ini. Lebih jauh, kerjasama di antara kaum Hindu dan Muslim, yang telah kuat selama kejayaan kampanya non-kekerasan, bubar. Gandhi berusaha menjembatani perbedaan-perbedaan ini melalui banyak cara, termasuk dengan sebuah puasa selama tiga minggu pada musim gugur di tahun 1924, namun dengan keberhasilan yang terbatas.

Swaraj dan Garam Satyagraha (Pawai Garam)

Article utama: Salt Satyagraha

Gandhi menjauhkan dirinya dari publisitas hampir selama tahun 1920an, lebih suka menyelesaikan perpecahan antara Partai Swaraj dan Indian National Congress, dan mengembangkan inisiatif-inisiatif terhadap kaum hina dina/ tak tersentuhkan (untouchability), alkoholisme, kebodohan, dan kemiskinan. Dia kembali tampil ke depan di tahun 1928. Tahun sebelumnya, pemerintah Inggris telah menunjuk sebuah komisi reform konstitusional baru di bawah Sir John Simon, tanpa seorang India pun di dalam kepengurusannya. Hasilnya adalah suatu boycott terhadap komisi tersebut oleh partai-partai politik. Gandhi mendorong diadakannya suatu penyelesaian pada Kongress Calcutta di Desember 1928 yang menuntut pemerintah Inggris memberikan status dominion India atau menghadapi sebuah kampanye tanpa-kekerasan yang baru dengan tujuan kemerdekaan penuh negeri itu. Gandhi tidak hanya memoderasi pandangan orang-orang muda seperti Subhas Chandra Bose dan Jawaharlal Nehru, yang mengejar sebuah penuntutan kemerdekaan segera, tetapi juga memodifikasi seruannya sendiri untuk menunggu selama setahun, dan bukannya dua tahun. Inggris tidak menjawab. Pada 31 Desember 1929, bendera India dibentangkan di Lahore. Tanggal 26 Januari 1930, dirayakan oleh Indian National Congress, yang bertemu di Lahore, sebagai Hari Kemerdekaan India. Hari ini dirayakan oleh hampir setiap organisasi India yang lain. Menepati janjinya, Gandhi meluncurkan sebuah kampanye satyagraha yang baru melawan pajak garam pada Maret 1930, ditunjukkan oleh Pawai Garam yang terkenal ke Dandi dari 12 Maret hingga 6 April, pawai sejauh 400 kilometer (248 mil) dari Ahmedabad ke Dandi, Gujarat untuk membuat garam sendiri. Ribuan orang India bergabung dengannya pada pawai ini ke laut. Kampanye ini adalah salah satu yang paling sukses yang membuat Pemerintah Inggris sedih, Inggris menjawab dengan memenjarakan 60.000 orang.

Pemerintah, yang diwakili oleh Lord Edward Irwin, memutuskan untuk berunding dengan Gandhi. Pakta Gandhi-Irwin ditandatangani pada Maret 1931. Inggris setuju untuk membebaskan semua tahanan politik sebagai imbalan atas dihentikannya gerakan pembangkangan sipil. Lebih dari itu, Gandhi diundang untuk menghadiri Konferensi Meja Bundar di London sebaga wakil tunggal Indian National Congress. Konferensi tersebut adalah sesuatu yang mengecewakan Gandhi dan para nasionalis, karena lebih berfokus pada pangeran-pangeran India dan minoritas India dan bukannya penyerahan kekuasaan. Selanjutnya, pengganti Lord Irwin, Lord Willingdon meluncurkan sebuah kampanye baru yang menindas para nasionalis. Gandhi ditahan sekali lagi, dan pemerintah berusaha menghancurkan pengaruhnya dengan mengisolasinya sepenuhnya dari pengikut-pengikutnya. Taktik ini tidak berhasil. Pada 1932, melalui kampanye pemimpin Dalit B.R. Ambedkar, pemerintah memberikan elektorat-elektorat terpisah kepada kaum hina-dina di bawah konstitusi baru. Sebagai protes, Gandhi melakukan mogok makan selama enam hari pada September 1932, dan berhasil memaksa pemerintah untuk menerapkan aturan yang lebih setara lewat perindungan-perundingan yang ditengahi oleh pemain kriket Dalit yang berubah menjadi pemimpin politik Polwankar Baloo. Ini adalah awal dari sebuah kampanye baru oleh Gandhi untuk memperbaiki kehidupan kaum tak-tersentuhkan, yang dinamainya Harijan, anak-anak Tuhan. Pada 8 Mei 1933 Gandhi memulai puasa 21 hari pemurnian diri untuk membantu gerakan Harijan.

Pada musim panas 1934, tiga upaya pembunuhan dilakukan terhadap dirinya namun gagal.

Ketika the Congress Party memilih untuk ikut pemilihan dan menerima kekuasaan di bawah skema Federasi, Gandhi memutuskan untuk mundur dari keanggotaan partai. Dia tidak setuju gerakan partai tersebut, tetapi merasa bahwa jika dia mundur, popularitasnya bersama orang-orang India akan berhenti menekan keanggotaan partai, yang sebenarnya beragam dari komunis, sosialis, persatuan dagang, mahasiswa konservatif agama, hingga orang-orang yang pro-bisnis. Gandhi tidak mau menjadi target propaganda penguasa (Raj) dengan memimpin sebuah partai yang telah menerima sementara akomodasi politik penguasa

Gandhi kembali ke puncak pada 1936, dengan presidennya Nehru dan suksesi Lucknow. Meskipun Gandhi menginginkan fokus sepenuhnya pada tugas memenangkan kemerdekaan dan bukannya berspekulasi terhadap masa depan India, dia tidak mencegah Kongres mengadopsi sosialisme sebagai tujuannya. Gandhi bertikai dengan Subhas Bose, yang telah terpilih menjadi presiden partai pada 1938. Pandangan-pandangan utama Gandhi terhadap Bose adalah kurangnya komitmennya terhadap demokrasi, dan kurangnya keyakinannya pada non-kekerasan. Bose memenangkan masa jabatannya yang kedua meskipun mendapat kritikan dari Gandhi, tetapi meninggalkan Kongres ketika semua pemimpin India secara massal memprotesnya karena membuang prinsip-prinsip yang diperkenalkan oleh Gandhi.

Perang Dunia II dan Quit India

Artikel utama: Quit India Movement

Perang Dunia Dua pecah di tahun 1939 ketika Nazi Jerman mencaplok Polandia. Mulainya, Gandhi memilih menawarkan “dukungan moral tanpa-kekerasan” bagi perjuangan Inggris, tetapi pemimpin partai Kongres yang lain merasa tersinggung oleh pelibatan India secara sepihak ke dalam perang, tanpa konsultasi dengan wakil-wakil rakyat. Semua anggota Kongres yang terpilih mundur dari jabatan secara massal. Setelah pembahasan yang panjang, Gandhi menyatakan India tidak bisa ikut terlibat dalam suatu peperangan yang pura-pura berjuang bagi kemerdekaan demokrasi, sedangkan kemerdekaan itu sendiri ditolak bagi India sendiri. Dengan semakin meluasnya perang, Gandhi mengintensifkan tuntutannya bagi kemerdekaan, menyusun sebuah resolusi yang menyerukan kepada Inggris untuk berhenti menjajah India (Quit India). Ini adalah adalah pemberontakan yang paling definitif dari Gandhi dan Partai Kongres yang bertujuan mengusir Inggris dari pantai-pantai India.

Gandhi dikritik oleh beberapa anggota Kongres dan kelompok-kelompok politis India lainnya, baik yang pro-Inggris dan anti Inggris. Beberapa orang merasa bahwa menentang Inggris dalam perjuangan hidup atau matinya adalah immoral, sedangkan yang lainnya merasa Gandhi tidak cukup berbuat. Quit India menjadi gerakan yang paling kuat dalam sejarah perjuangan itu dengan penahanan-penahanan massa dan kekerasan pada skala yang tak pernah terjadi sebelumnya. Ribuan pejuang kemerdekaan dibunuh atau dilukai oleh tembakan senjata polisi, dan ratusan ribu orang ditahan. Gandhi dan pendukung-pendukungnya mengemukakan dengan jelas bahwa mereka tidak akan mendukung usaha perang kecuali jika India segera diberi kemerdekaan. Dia bahkan mengklarifikasi bahwa kali ini gerakan tersebut tidak akan dihentikan jika ada tindakan-tindakan kekerasan yang dilakukan secara individual, dengan mengatakan bahwa “anarkhi yang teratur” di sekitarnya adalah “lebih buruk daripada anarkhi yang sebenarnya.” Dia menyerukan kepada semua anggota Kongres dan rakyat India untuk menjaga disiplin lewat ahimsa, dan Karo Ya Maro (“Kerjakan atau Mati”) demi kemerdekaan sejati.

Gandhi dan seluruh Komite Kerja Kongres ditahan di Bombay pada 9 Agustus 1942. Gandhi ditahan selama dua tahun di Istana Aga Khan di Pune. Di sinilah Gandhi menderita goncangan besar dalam kehidupan pribadinya. Sekretarisnya yang berusia 50 tahun Mahadev Desai meninggal karena serangan jantung 6 hari kemudian dan isterinya Kasturba meninggal setelah 18 bulan pemenjaraan pada 22 Februari 1944, enam minggu kemudian Gandhi menderita serangan malaria berat. Dia dibebaskan sebelum perang berakhir pada 6 Mei 1944 karena kesehatannya yang terus memburuk dan perlunya pembedahan, penguasa (the Raj) tidak menginginkannya mati di penjara dan membangkitkan kemarahan seluruh negeri. Sekalipun gerakan Quit India sedikit berhasil dalam mencapai tujuan-tujuannya, penindasan yang kejam terhadap gerakan itu menertibkan India di akhir 1943. Di akhir perang, Inggris memberikan petunjuk yang jelas bahwa kekuasan akan diserahkan ke tangan orang-orang India. Pada titik ini Gandhi menyerukan penghentian perjuangan, dan sekitar 100.000 tahanan politik dibebaskan termasuk pemimpin-pemimpin Kongres.

Kemerdekaan dan Partisi India

Artikel utama: Partition of India

Gandhi menasihati Kongres untuk menolak proposal the British Cabinet Mission yang ditawarkan pada 1946, karena dia sangat curiga mengenai pengelompokan yang diusulkan bagi negara-negara bagian yang mayoritas Muslim – Gandhi memandang hal ini sebagai awal bagi partisi. Tapi, ini menjadi satu dari beberapa kali perpecahan Kongres dari nasihat Gandhi (meskipun bukan kepemimpinannya), karena Nehru dan Patel tahu bahwa jika Kongres tidak menyetujui rencana itu, kendali pemerintahan akan diserahkan kepada Liga Muslim. Antara 1946 dan 1948, lebih dari 5.000 orang terbunuh dalam kekerasan. Gandhi secara tergas menolak rencana apapun yang membagi India menjadi dua negara terpisah. Sebagian besar kaum Muslim yang tinggal di India, berdampingan dengan kaum Hindu dan Sikhs, lebih menyukai Partisi. Di samping itu Muhammad Ali Jinnah, pemimpin liga Muslim, memiliki dukungan yang tersebar luas di Punjab Barat, Sindh, NWFP dan Bengal Timur. Rancangan partisi disetujui oleh kepemimpinan Kongres sebagai satu-satunya jalan untuk mencegah perang saudara Hindu-Muslim dalam skala yang lebih besar. Pemimpin Kongres tahu bahwa Gandhi mati-matian menentang partisi itu, dan tidak mungkin bagi Kongres untuk maju terus tanpa persetujuannya, karena pendukung Gandhi di partai dan di seluruh India adalah kuat. Teman-teman terdekat Gandhi telah menerima partisi sebagai jalan terbaik, dan Sardar Patel berusaha meyakinkan Gandhi bahwa ini adalah satu-satunya jalan untuk menghindari perang sipil. Gandhi yang sangat kecewa tersebut memberi persetujuannya.

Dia melakukan dialog yang luas dengan pemimpin-pemimpin komunitas Muslim dan Hindu, demi meredakan ketegangan di India utara, demikian juga di Bengal. Sekalipun terjadi perang India-Pakistan 1947 (Indo-Pakistani War of 1947), dia bersedih ketika Pemerintah memutuskan menolak mengakui Rs. 55 crores berdasarkan perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh Dewan Partisi. Para pemimpin antara lain Sardar Patel khawatir bahwa Pakistan akan menggunakan uang tersebut untuk membiayai perang melawan India. Gandhi juga sedih ketika muncul tuntutan-tuntutan agar semua orang Muslim dideportasi ke Pakistan, dan ketika pemimpin-pemimpin Muslim dan Hindu menyatakan frustrasi dan ketidakmampuan untuk menaati kesepakatan-kesepakatan satu sama lain. Dia menjalani puasa sampai matinya yang terakhir di Delhi, meminta agar semua kekerasan masyarakat diakhiri segera dan untuk selama-lamanya, dan bahwa pembayaran Rs. 55 crores dilakukan terhadap Pakistan. Gandhi khawatir bahwa ketidakstabilan dan ketidakamanan di Pakistan akan meningkatkan kemarahan terhadap India, dan kekerasan akan menyebar melintasi perbatasan. Lebih jauh, dia kuatir bahwa kaum Hindu dan Muslim akan membarui rasa permusuhan dan memburuk menjadi perang sipil terbuka. Setelah debat emosional dengan kawan-kawan lamanya, Gandhi menolak untuk merubah pendiriannya, dan Pemerintah menarik kembali kebijakannya dan membayar kepada Pakistan. Pemimpin komunitas Hindu, Muslim dan Sikh, termasuk Rashtriya Swayamsevak Sangh dan Hindu Mahasabha meyakinkannya bahwa mereka akan menghentikan kekerasan dan menyerukan perdamaian. Gandhi lalu menghentikan puasanya dengan meminum jus orange.

Pembunuhan

Lihat juga: Assassination of Mohandas Karamchand Gandhi

Pada 30 Januari 1948, Gandhi ditembak dan dibunuh sewaktu sedang melaksanakan perarakan (doa) umum malamnya di kawasan Birla Bhavan (Birla House) di New Delhi. Pembunuhnya, Nathuram Godse, adalah seorang Hindu radikal yang memiliki hubungan dengan ekstrimis Hindu Mahasabha, yang yakin bahwa Gandhi bertanggungjawab karena melemahkan India dengan memaksa pembayaran kepada Pakistan. Godse dan co-conspiratornya Narayan Apte kemudian diadili dan dinyatakan bersalah; mereka dieksekusi pada 15 November 1949. Memorial Gandhi (atau Samādhi) di Rāj Ghāt, New Delhi, bertuliskan epigraph “Hē Ram”, (Devanagari: atau He Rām), yang bisa diterjemahkan sebagai “Oh Tuhan”. Ini secara luas diyakini merupakan kata-kata terakhir Gandhi setelah ditembak, meskipun kebenaran pernyataan ini masih diperdebatkan. Jawaharlal Nehru berpidato kepada bangsa India melalui radio:

Kawan-kawan dan rekan seperjuangan cahaya itu telah berlalu dari kehidupan kita, dan ada kegelapan di mana-mana, aku tidak begitu tahu apa yang hendak kukatakan pada kalian atau bagaimana mengatakannya, sebagaimana kita telah melihat dia selama bertahun-tahun, kita tidak akan bisa mendatanginya untuk meminta nasihat atau mencari penghiburan darinya, dan itu adalah sebuah kehilangan yang besar, tidak hanya bagiku, tetapi bagi jutaan dan jutaan (orang) di negeri ini.

Abu Gandhi dituangkan ke dalam guci-guci yang dikirim ke memorial service di segala penjuru India. Sebagian besar dibenamkan di Sangam at Allahabad pada 12 Februari 1948 tetapi sebagian kecil disimpan. Pada 1997, Tushar Gandhi membenamkan isi dari sebuah guci di Sangam at Allahabad, yang ditemukan di ruang penyimpanan sebuah bank dan diklaim kembali lewat pengadilan. Pada 30 Januari 2008 isi dari guci yang lain dibenamkan di Girgaum Chowpatty oleh keluarga setelah seorang businessman Dubai mengirimnya ke sebuah museum Mumbai. Guci yang lainnya lagi berakhir di istana Aga Khan in Pune (di mana dia telah dipenjarakan dari 1942 sampai 1944) dan yang lainnya di Self-Realization Fellowship Lake Shrine di Los Angeles. Keluarganya khawatir abu-abu yang dikuilkan ini dapat disalahgunakan demi tujuan-tujuan politik tetapi tidak menginginkan abu itu dipindahkan karena ini berarti kuil-kuil itu perlu dibongkar terlebih dulu.

Prinsip-prinsip Gandhi

Lihat juga: Gandhism

Kebenaran

Gandhi membaktikan hidupnya untuk tujuan yang lebih luas yakni menemukan kebenaran atau Satya. Dia mencoba mencapai hal ini dengan mempelajari kesalahan-kesalahannya sendiri dan melaksanakan eksperimen terhadap dirinya sendiri. Dia menyebut autobiografinya The Story of My Experiments with Truth.

Gandhi menyatakan bahwa pertempuran yang paling terpenting adalah mengalahkan tabiat jahat, ketakutan dan ketidakamanan kita sendiri. Mula-mula Gandhi meringkas keyakinan-keyakinannya ketika dia berkata “Tuhan adalah Kebenaran.” Ia kemudian mengubah pernyataannya menjadi “Kebenaran adalah Tuhan.” Sehingga, Satya (Kebenaran) dalam filosofi Gandhi adalah “Tuhan.”

Non-Kekerasan

Mahatma Gandhi bukan pencetus prinsip non-kekerasan. Tetapi dia adalah yang pertama menerapkannya dalam bidang politik pada skala yang sangat besar. Konsep non-nonviolence (ahimsa) dan nonresistance memiliki sejarah yang panjang dalam pemikiran agama India dan telah memiliki kebangkitannya dalam konteks Hindu, Buddhist, Jain, Yahudi dan Kristen. Gandhi menjelaskan filosofi dan jalan hidupnya dalam autobiografinya The Story of My Experiments with Truth. Dia dikutip pernah berbicara:

“Ketika aku putus asa, aku ingat bahwa sepanjang sejarah jalan kebenaran dan kasih selalu menang. Pernah ada penguasa kejam dan para pembunuh dan selama jangka waktu tertentu mereka berkuasa, tetapi pada akhirnya, mereka jatuh – pikirkan itu, selalu.”

“Apa yang dapat membedakan orang mati, anak yatim, dan tuna wisma, di mana kerusakan yang gila itu disebabkan atas nama totalitarianisme atau nama suci kemerdekaan dan demokrasi?”

“Mata ganti mata membuat seluruh dunia buta.”

“Ada banyak hal yang membuat aku siap mati memperjuangkannya tetapi tidak ada hal yang membuat aku siap membunuh untuk memperjuangkannya.”

Dalam menerapkan prinsip-prinsip ini, Gandhi tak pernah ragu sedikitpun dalam melaksanakannya hingga yang paling ekstrim secara logis demi melihat suatu dunia di mana pemerintah, polisi dan tentara adalah non-kekerasan. Kutipan-kutipan di bawah ini berasal dari buku, “For Pasifists.”

Ilmu pengetahuan tentang perang mengantar seseorang pada diktatorship, pure dan simple. Ilmu pengetahuan tentang non-kekerasan sendiri dapat mengantar seseorang pada demokrasi murni…. Kekuasaan yang didasarkan pada kasih adalah ribuan kali lebih efektif dan permanen daripada kekuasaan yang diturunkan dari ketakutan akan hukuman… Adalah suatu hujatan bila mengetakan non-kekerasan dapat dipraktikkan hanya oleh individu-individu dan tidak pernah oleh bangsa-bangsa yang terdiri dari individu-individu. Pendekatan terdekat anarkhi termurni adalah demokrasi yang didasarkan pada non-kekerasan… Suatu masyarakat yang diatur berdasarkan non-kekerasan sepenuhnya adalah anarkhi termurni.

Saya telah akui bahwa bahkan dalam sebuah negara yang tanpa-kekerasan angkatan polisi mungkin diperlukan… jabatan-jabatan polisi akan diisi oleh orang-orang yang percaya dengan non-kekerasan. Masyarakat akan secara instink memberikan bantuan dan melalui kerjasama yang saling menguntungkan mereka akan dengan mudah menangani gangguan-gangguan yang semakin sedikit… pertikaian-pertikaian kekerasan antara pekerja dan pemodal dan pemogokan-pemogokan akan sedikit dan jauh (berbeda) antara sebuah negara non-kekerasan karena pengaruh mayoritas non-kekerasan adalah besar demi menghormati elemen-elemen prinsip dalam masyarakat. Demikian pula, tidak akan ada tempat bagi gangguan-gangguan masyarakat….

Tentara non-kekerasan tidak seperti tentara bersenjata, baik di masa-masa damai maupun gangguan-gangguan. Tugas mereka adalah mempertemukan masyarakat-masyarakat yang saling berperang, mengemban propaganda damai, terlibat dalam aktivitas yang akan membawa dan menempatkan mereka dengan setiap orang di dalam kelompok masyarakat atau divisi. Tentara seperti itu haruslah siap menghadapi berbagai keadaan darurat dengan risiko terhadap nyawa mereka, dengan tujuan demi menenangkan gerombolan perusuh yang beringas. Brigade-brigade Satyagraha (angkatan – kebenaran) bisa dibentuk di setiap kampung atau setiap blok gedung di kota-kota. [Jika masyarakat non-kekerasan diserang] ada dua jalan yang terbuka bagi non-kekerasan. Untuk menghadapinya, tetapi tidak-bekerja sama dengan penyerang … lebih baik mati daripada tunduk. Jalan yang ke dua adalah perlawanan tanpa-kekerasan oleh rakyat yang telah dilatih dalam cara non-kekerasan…. Gelombang demi gelombang yang luar biasa dan tak terkira dari laki-laki dan perempuan yang lebih memilih mati daripada menyerah pada keinginan penyerang pada akhirnya akan meluluhkan hatinya dan tentaranya… Sebuah bangsa atau kelompok yang telah membuat non-kekerasan sebagai kebijakan akhirnya tidak bisa ditundukkan kepada perbudakan sekalipun dengan bom atom…. Tingkat non-kekerasan di bangsa itu, jika hal itu bahkan dengan bahagia datang, akan secara alamiah mencuat sedemikian tingginya sehingga mendapatkan penghormatan yang universal.

Sejalan dengan pandangan-pandangan ini, pada 1940, ketika invasi oleh Nazi German terhadap Kepulauan Inggris semakin nampak, Gandhi menawarkan nasihat berikut ini kepada rakyat Inggris (Non-Kekerasan dalam Damai dan Perang)

Diterjemahkan oleh http://charlesroring.blogspot.com dari wikipedia

Untuk mempromosikan anti kekerasan

Juni 20, 2008 - Ditulis oleh charlesroring | Catatan Kecil, Non-kekerasan | | & Komentar

& Komentar »

  1. bahas tentang partai liga muslim kayaknya keren dech tapi yg tahun 1930-1947

    Komentar oleh naza | Maret 19, 2009 | Balas

  2. setiap orang yang telah mempelajari ataupun mengetahui Sosok Mahatma Gandhi. pasti terisnpirasi untuk mewujudkan kehidupan di alam ini dengan gerkan kata dan tindakan yang penuh arti dan damai dalam cinta kasih. lelaki yang semasa hidupnya hanya menggunakan bulatan kain tanpa sentuhan modernime mode serta kaki yg beralakan sandal yang di jahit sendiri apabila rusak. dan anti terhadap kekerasan dalam bentuk apapun. pemimpin kharismatik yang menginspirasikan sekian banyak tokoh dunia, seperti Nelson Mandela, Dalai Lama, martin Luther King, Bunda Theresa, Bung Karno, bung Hatta, Sjahrir, Mira Bhen, Badhas Khan dan Nehru. sang Jiwa Agung yang memilih tinggal di tengah-tengah masyarakat miskin. Gandi pernah berkata” Membantu orang miskin itu mudah, tetapi untuk hidup seperti orang miskin itu yang sulit bagi setiap orang” Gandhi sendiri mampu mendorong rakyat India untuk bangkit dari tidur panjangnya dan keluar dari kebodohan untk melawan kolnialisme serta imperialisme Inggris di negaranya. dan beliau mampu mewujudkan gerakan ketidak patuhan terhadap hukum Inggris sehingga di penjara selama separuh dari masa hidupnya. namun akhirnya rakyat india dapat menikmati kemerdekaannya. namun Gandhi lebih memilih hidup di tengah perkampungan Rakyat miskin India. pemimpin sekaligus filsuf yabg jujur menulis dalam biografinya secara jujur dan tidak takuk di hujat oleh pembacanya. sebab menurut Gandhi. berkata jujurlah, sekalipun itu penuh dengan konsekuansi buruk bagimu” dan setahu saya belum ada Tokoh Kharismatik yang menulis tentang keburukannya sendiri dalam sejarah hidup pribadinya. pantas kalau dia di sebut sebagai Mahatma (SANG JIWA AGUNG) oleh masyarakat india. ini gelar yang serupa dengan Nabi Muhammad SAW (AL AMIN) semoga amal dan perjuangan nya di terima oleh Tuhan yan gmaha Esa.

    Komentar oleh Kamaruddin Salim | Agustus 3, 2009 | Balas


Tinggalkan komentar