Mahatma Gandhi, Rasul Non-kekerasan; Sebuah Pengenalan
Mahatma Gandhi, Apostle of Nonviolence: An Introduction
oleh John Dear
diterjemahkan oleh Charles Roring
Download PDF: Mahatma Gandhi Rasul Non Kekerasan
Ketika Mahatma Gandhi dibunuh pada 30 Januari 1948, dunia memujinya sebagai salah satu pemimpin spiritual terbesar, tidak hanya pada abadnya, tetapi juga sepanjang masa. Dia disejajarkan tidak hanya dengan Thoreau, Tolstoy, dan Santo Fransiskus, tetapi juga dengan Buddha, Mohammed dan bahkan Yesus. “Generasi-generasi yang akan datang sulit percaya bahwa ada orang seperti dia yang pernah berjalan di muka bumi ini dalam rupa daging dan darah,” tulis Albert Einstein ketika itu.
Apa yang diwariskan Gandhi tidak hanya perjuangan yang secara cerdas melawan rasisme terinstitusi di Afrika Selatan, pergerakan kemerdekaan India, dan membuka jalan bagi dialog antar-agama, tetapi juga memperkenalkan penerapan pertama yang luas dari perlawanan tanpa-kekerasan[1] sebagai alat yang paling ampuh bagi perubahan sosial. Non-kekerasannya Gandi tidak hanya bersifat politis; Metoda ini tertanam dan berakar dalam spiritual, yang menjadi penyebab mengapa dia cepat terkenal tidak hanya di panggung politis India, tetapi di panggung dunia, dan tidak hanya sementara, tetapi untuk sepanjang massa.
Gandhi adalah, pertama-tama dan paling utama, seorang yang religius dalam pencarian akan Tuhan. Selama lebih dari 50 tahun, ia mengejar kebenaran, menyatakan bahwa cara terbaik untuk menemukan kebenaran adalah melalui praktek yang aktif dari non-kekerasan yang belandaskan iman. Aku menemukan Gandhi ketika menjadi seorang novis Jesuit pada novisiat Jesuit di Wernersville, Pennsylvania. Kawan-kawanku dan aku sangat tertarik dengan masalah-masalah keadilan dan perdamaian. Jadi kami mempelajari Gandhi. Kami takjub ketika mendapati bahwa Gandhi memegang empat belas kaul, sekalipun ketika kami sedang menyiapkan diri untuk memegang kaul kemiskinan, kekudusan dan ketaatan. Aku menambah sebuah kaul yang keempat – di bawah pengaruh Gandhi – kaul non-kekerasan, sebagaimana yang telah Gandhi lakukan di tahun 1907. Kawan-kawanku dan aku menjalani eksperimen kami sendiri mengikuti model Gandi mengenai kebenaran dan non-kekerasan, dengan berdoa, berdiskusi, berpuasa, dan kesaksian publik, diikuti oleh perenungan diri yang serius. Kawan-kawanku dan aku kembali ke Gandhi sebagai jalan untuk memahami bagaimana cara yang terbaik dalam merespon budaya kekerasan yang ada di dalam masyarakat kami. Gandhi telah banyak sekali membantuku selama bertahun-tahun dalam pekerjaanku bagi perdamaian, dialog antar-agama, pembangkangan sipil dan penolakan terhadap senjata nuklir. Ketika aku dipenjara akibat sebuah demonstrasi anti-nuklir selama delapan bulan, Aku mempelajari Gandhi lagi untuk melihat bagaimana ia bisa bertahan di penjara dan mempromosikan pembangkangan sipil sebagai sebuah alat bagi perubahan sosial. Selama dua dekade, aku telah mempelajari tulisan-tulisan dan biografi Gandhi untuk menemukan petunjuk tentang bagaimana hidup secara manusiawi di dunia kita yang tidak manusiawi. Jawaban Gandi selalu sama; teguh, gigih, penuh pengabdian, berketetapan hati, sabar, tidak mudah putus asa, penuh kebenaran, penuh doa, penuh kasih, aktif tanpa-kekerasan.
Contohnya, seorang aktivis mahasiswa berkebangsaan Inggris yang berusia 21 tahun bernama Ronald Duncan menulis sebuah pamflet mengenai pemogokan buruh yang diorganisirnya dan mengirim kopian-kopiannya ke lebih dari seratus aktivis di seluruh dunia. Hanya Gandhi yang menjawab, menjelaskan bahwa cara-cara yang dipakai menentukan hasil akhir, dan bahwa semua pengaturan kita harus tanpa-kekerasan hingga ke intinya.
Mahatma Gandhi bersama para wartawan
Duncan membalas dengan menanyai Gandhi apakah suatu hari nanti ia bisa datang ke India untuk sebuah kunjungan. Gandhi segera mengirim telegram, “Temui Aku di Wardha pada tanggal 23.” Dengan dukungan pengumpulan dana dari teman-temannya, Duncan berangkat ke India, tiba di desa Wardha, dan menyewa sebuah taksi ke ashram. Selama perjalanan melewati pedesaan yang gersang, Gandi nampak sendirian di jalan. Dia telah berjalan sejauh tiga mil sendirian untuk bertemu dengan mahasiswa muda itu. Gandhi berusia diakhir enampuluhan tahun saat itu.
“Seperti yang aku katakan dalam suratku,” Gandhi berkata tanpa kehilangan tekanan, “cara-cara yang dipakai harus menentukan hasil akhir dan malahan patut dipertanyakan apakah ada suatu hasil akhir.” Mereka berjalan pulang, sambil membahas tentang perjuangan tanpa-kekerasan. Tidak ada perkenalan atau pertanyaan-pertanyaan mengenai perjalanan. Gandhi menjemputnya seakan-akan mereka adalah sahabat lama, terlibat dalam diskusi yang menarik. Itulah Gandhi: hanya mengabdikan pemikirannya terhadap perjuangan tanpa-kekerasan. Duncan sangat terkesan.
Menurut semua catatan yang telah saya baca, Gandhi memperlakukan hal ini pada setiap orang. Dia terus mencoba menyelami kedalaman perjuangan tanpa-kekerasan, mulai dari jantung dan jiwanya. Sepanjang jalan, ia mengemukakan sebuah metode perubahan sosial baru, yang ia sebut “Satyagraha” (dari bahasa Sanskrit untuk kekuatan kebenaran). Dia memimpin sebuah gerakan melawan ketidakadilan rasial di Afrika Selatan dan kemudian membawa revolusi tanpa-kekerasan di India yang menghasilkan kemerdekaan dari Kerajaan Inggris. Teladan dan ajarannya memberi inspirasi kepada kita untuk menerapkan cara-cara yang sama dengan sepenuh hati dalam upaya kita mengakhiri perang, senjata nuklir, pengrusakan lingkungan hidup, kekerasan, kelaparan, kemiskinan, ketidakadilan, dan penciptaan suatu budaya yang damai, adil dan tanpa-kekerasan. Dalam kata lain, ia menantang kita untuk menjadi nabi dan rasul non-kekerasan.
Kehidupan Gandhi di Afrika Selatan
Gandhi bereksperimen dengan hidupnya, sedikit sekali orang lain yang pernah melakukan hal ini. Dia berjuang keras menghentikan setiap jejak keegoisan dan kekerasan di dalam dirinya dalam upayanya mengejar kebenaran tanpa kenal lelah. Ketika dia sedang menyelami kedalaman non-kekerasannya sendiri, dia menyadari bahwa dia juga harus mengejar praktek non-kekerasan seluas mungkin di ruang publik dalam mewujudkan kedamaian dan keadilan bagi rakyat miskin. Dia sekaligus seorang yang spiritual, riligius dan politisi yang cerdik. Dia memperkenalkan cara yang sama sekali baru tentang bagaimana mengatur dan menjalankan negara dan mentransformasi budaya kekerasan menjadi budaya tanpa-kekerasan. Transformasi Gandhi adalah sebuah proses yang lambat, penolakan sehari-hari yang menyakitkan, doa, studi dan eksperimentasi radikal mengenai kehidupannya sendiri dengan pengorbanan pribadi yang sangat besar. Dia lahir di kota tepi pantai yang kecil di India pada 2 Oktober 1869, ayahnya seorang pedagang dan ibunya seorang taat beragama, yang berpuasa dan berdoa secara teratur. Anak laki-laki yang pemalu, dia dikawinkan di usia 13 tahun dengan seorang gadis, Kasturbai, dalam sebuah pernikahan yang diatur oleh orang tua mereka. Menginjak usia 18, dia dikirim ke sekolah hukum di Inggris, pada mulanya dia berusaha menjadi seorang barat yang sempurna, bahkan dia belajar bagaimana berdansa dan bermain biola. Ketika kembali ke India pada tahun 1891, dia tidak dapat menemukan pekerjaan, jadi keluarganya menyarankan agar dia menerima tawaran untuk praktek hukum bagi masyarakat India di Afrika Selatan. Nekat dan bersemangat, dia naik kapal ke Afrika Selatan pada tahun 1893. Lima puluh tahun kemudian, seorang pendeta menanyai Gandhi apa pengalaman paling transformatif dalam hidupnya. Gandhi bercerita tentang kisah minggu pertamanya di Afrika Selatan. Dia sedang bepergian di suatu malam dengan kereta api untuk menyelesaikan sebuah kasus di Pretoria. Dia duduk dengan tenang di sebuah kompartemen kelas satu ketika seorang kondektur berkulit putih muncul di pintu dan memerintahkannya untuk segera pindah ke gerbong kelas tiga, atau dibuang keluar dari kereta. Gandhi mendapati dirinya berhadapan langsung dengan rasisme terinstitusi. Dia menolak pindah, oleh karena itu mereka memukulnya dan membuang dia keluar dari kereta. Dia duduk sepanjang malam di peron kereta yang dingin membeku sambil memikirkan nasibnya. Dia tidak tahu di mana dia berada. Dia bisa saja kembali ke India atau bergabung dengan segelintir kaum revolusioner yang keras yang mencari perubahan lewat pertumpahan darah, atau dia bisa saja mengejar jalan ketiga: konfrontasi umum yang penuh damai dan penuh doa melawan rasisme yang dilegalkan sampai hak-hak sipil setiap orang dihormati.
“Kereta berlalu meninggalkanku gemetar dalam udara dingin,” kenang Gandhi. “Pengalaman kreatif muncul di sana. Aku sangat takut dengan hidupku. Aku masuk ruang tunggu yang gelap. Di sana ada seorang kulit putih di ruangan itu. Apa tugasku, aku menanyai diriku sendiri. Haruskah aku kembali ke India, atau haruskah aku maju terus, dengan Tuhan sebagai penolongku, dan menghadapi apapun yang akan terjadi terhadap diriku? Aku memutuskan untuk bertahan dan menderita. Pelawanan tanpa-kekerasanku dimulai sejak saat itu. Dan Tuhan mengizinkanku melewati ujian ini selama perjalanan itu. Itu adalah pengalaman hidupku yang paling kaya.”
Hari berikutnya, Gandhi mulai mengatur pemimpin-pemimpin kunci yang ada di dalam komunitas India untuk berbicara di depan umum menentang segregasi. Sewaktu ia mencapai usia dua puluh – lima, ia memenangkan kasus hukum yang sejak awal telah membawa dia ke Afrika Selatan, dan berencana untuk kembali ke India. Tetapi pada hari keberangkatannya, pemerintah Afrika Selatan mengumumkan bahwa orang-orang India tidak diizinkan lagi mengikuti pemungutan suara. Pada pesta perpisahan besar yang diselenggarakan untuk menghormatinya malam itu, teman-teman Gandhi memohon padanya untuk tinggal dan membantu mereka memperjuangkan hak-hak sipil mereka. Dia tinggal di Afrika Selatan selama dua puluh tahun. Masyarakat India di Afrika Selatan telah dikebiri hak-hak sipil mereka, termasuk hak suara. Gandhi mengatur perlawanan tanpa-kekerasan yang luas terhadap ketidakadilan ini. Dia membela ratusan klien, menulis artikel dan pernyataan pers yang tak terhitung banyaknya menentang hukum yang tidak adil ini, dan berbicara kepada kelompok apa saja yang mau mendengar. Kemudian di tahun 1906, pemerintah Afrika Selatan Transvaal mengumumkan bahwa mereka sedang memikirkan peraturan baru yang meminta setiap orang India untuk mendaftar ke pemerintah, diambil sidik jarinya, dan membawa sertifikat pendaftaran tersebut setiap saat. Masyarakat India terkejut.
Pada 11 September 1906, Gandhi menyerukan sebuah pertemuan massal di Johannesburg untuk memprotes rancangan peraturan itu. Tiga ribu orang memenuhi the Empire theater. Gandhi tidak yakin apa yang hendak dikatakannya, sampai salah satu dari pembicara utama membuat sebuah komentar yang sembrono, mengumumkan bahwa dia akan melawan peraturan-peraturan yang tidak adil ini “dalam nama Tuhan” sekalipun walau itu berarti kematiannya. Itulah jawabannya. Gandhi berdiri dan menyatakan bahwa jika setiap orang yang hadir bersumpah melawan tanpa-kekerasan terhadap peraturan yang tidak adil ini, dan tetap setia terhadap janji mereka dan terhadap Tuhan, meskipun mereka ditahan, dipenjara, disiksa, dan dibunuh, perjuangan tersebut akan menang. Sesederhana itu kata-katanya. Penderitaan yang sukarela itu akan menarik simpati dunia dan mencairkan hati orang-orang kulit putih Afrika Selatan. Hadirin terpukau. Mereka bangkit bersatu dan mengambil sumpah perlawanan tanpa-kekerasan menghadapi rancangan peraturan itu. Dalam beberapa bulan, lebih dari 1.500 orang India ditahan dan dipenjarakan karena menolak “undang-undang pass.” Sehingga lahirlah gerakan Satyagraha. (Cuplikan dari pidato terkenal Gandhi terdapat di bagian awal bab 7.)
Tidak lama kemudian, menjawab sebuah surat Gandhi yang telah dikirimkan kepadanya, Leo Tolstoy menyurati Gandhi bahwa Gandhi sedang menawarkan tidak hanya Afrika Selatan, tetapi seluruh dunia, sebuah cara baru untuk melawan ketidakadilan melalui praktek perlawanan kasih pada skala besar. Tolstoy telah membuat teori dan teologi mengenai program sedemikian, tetapi Gandhi menghidupinya. Gandhi ingin menemukan sebuah kata untuk menggambarkan metoda baru melawan ketidakadilan ini, oleh karena itu ia menyelenggarakan sebuah kontes. Pada akhirnya, ia menciptakan istilah sendiri, Satyagraha, atau “kekuatan kebenaran (truth force).” Satyagraha berarti melawan ketidakbenaran dengan cara-cara yang penuh kebenaran,” jelas Gandi dalam sebuah pidato di tahun 1911. Ini dapat ditawarkan di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja, sekalipun dia mungkin seorang minoritas. Jika seseorang tetap teguh dalam satyagraha, dalam semangat pengabdian, satyagraha selalu membawa kesuksesan. Satyagraha tidak mengenal frustrasi atau putus asa.”
Ketika akta Asiatic Registration menjadi undang-undang pada Juli 1907, Gandhi secara resmi meluncurkan kampanye Satyagraha. Pada 10 Januari 1908, Gandhi ditangkap untuk pertama kali dan pada hari berikutnya, dia dihukum dua bulan kerja paksa di dalam penjara. Ini adalah masa hukuman penjaranya yang pertama. Pada 16 Agustus 1908, Gandhi secara umum menyerukan pembakaran sertifikat registrasi. Orang-orang India Afrika Selatan diinspirasi oleh Gandhi dan bergabung dengan kampanyenya. “Mereka akan menjebloskan kita ke penjara, mereka akan menyiksa kita, dan mereka akan membunuh kita,” Gandhi berkata kepada masyarakat India, “tetapi kita tidak akan balik melawan, tidak akan menyerah, dan dengan demikian, kemenangan kita adalah pasti.” Ribuan orang berarak-arakkan dan pergi ke penjara dan pemerintah kulit putih yang oppresif itu dipaksa untuk mundur. Sewaktu Gandhi ditahan dan dipenjarakan kemudian tahun itu, dia mempelajari Thoreau dan mengambil kesimpulan yang mengherankan bahwa, “Jalan yang sebenarnya menuju kebahagiaan terletak pada masuk penjara dan mengalami penderitaan dan kemiskinan di sana demi kepentingan negara dan agama seseorang.”
Di tahun 1913, pemerintah Afrika Selatan mengumumkan bahwa hanya pernikahan Kristen yang sah, dalam sebuah serangan terbuka terhadap masyarakat India, yang sebagian besarnya adalah Hindu dan Muslim. Gandhi mengorganisir pawai-pawai dan demonstrasi baru serta orang India membakar kartu registrasi. Ketika tekanan pemerintah meningkat, Gandhi menyerukan kepada orang India untuk menerima apapun penderitaan yang dipaksakan kepada mereka tanpa mundur atau membalas. Dia yakin bahwa para penguasa, serta seluruh dunia, pada akhirnya akan mengakui martabat manusiawi dan kebenaran perjuangan orang India serta memberi mereka keadilan. Ketika penjara-penjara penuh dan dunia mengecam represi rasis, pemerintah terjebak dalam tekanan yang semakin meningkat.
Pada 6 November 1913, Gandhi memimpin 5.000 orang India, terutama para pekerja tambang, dalam sebuah arak-arakan ilegal dari Natal ke Transvaal. Dia ditahan dan dipenjara pada 11 November dan dihukum tiga bulan kerja paksa. Seperti halnya Nelson Mandela lima puluh tahun kemudian, Gandhi menghabiskan hari-hari penjara yang panjang itu dengan memecah batu karang. Tetapi dalam beberapa bulan, pemerintah Afrika Selatan menyerah terhadap kampanye tersebut dan meloloskan undang-undang baru yang melindungi hak-hak orang India, serta membebaskan semua tahanan politik yang tersisa. Ketika undang-undang pass dan undang-undang segregasi lainnya dicabut serta para tahanan dibebaskan, komunitas India mendeklarasikan kemenangan, tidak hanya untuk mereka sendiri, tetapi untuk semua masyarakat Afrika Selatan.
*
Keseluruhan tahun-tahun mereka di Afrika Selatan, Mohandas dan Kasturbai membesarkan empat anak. Suatu hari, dekat pergantian abad, Gandhi mengunjungi sebuah biara Trappist di luar Johannesburg. Dia begitu terinspirasi oleh kehidupan komunitas intensional, doa, kesederhanaan, dan pertanian, sehingga dia berpikir untuk membangun komunitas keagamaannya sendiri dan bertani. Bacaannya tentang karya klasik Ruskin, Unto This Last, mendorong dia untuk melakukan hal itu. Di tahun 1904 Gandhi membeli (lahan) seluas seratus acres di dekat Durban dan membangun Pemukiman Phoenix, ashram pertamanya.
Di tahun 1910, dengan berkembang pesatnya pergerakan itu dan ratusan orang berusaha bergabung dengan pertaniannya, dia membeli (lahan) 1.100 acres di dekat Johannesburg dan mendirikan tanah pertanian Tolstoy, ashram-nya yang kedua, yang menjadi pusat kampanye Satyagraha dan jaringan pendukung bagi semua tahanan politik. Komunitas Ashram menanam makanan sendiri, mendirikan bangunan-bangunan sendiri, menjalankan sekolah sendiri, mengumpulkan semua uang mereka, membuat rumah sendiri, berdoa bersama, dan berbagi segala sesuatu yang menjadi kepentingan bersama. Dalam usaha agar tetap miskin dan sederhana, Gandhi berjalan hampir kemanapun ia pergi. Selama bertahun-tahun, dia berjalan hampir setiap hari ke Johannesburg- jaraknya dua puluh -satu mil sekali jalan. Gandhi juga memulai surat kabar mingguan nasional untuk memobilisasi dan mengorganisasi komunitas India dalam perjuangan mereka demi keadilan. Ketika dia tiba di panggung politik Afrika Selatan, Gandhi mengalami perkembangan inner spiritual yang luar biasa. Gandhi mempelajari Tolstoy, Thoreau, Emerson, Perjanjian Baru dan Bhagavad Gita. Bacaannya tentang tulisan religius, khususnya Kotbah di Bukit, memperdalam keyakinannya dan memberi dia kerangka moral dan spiritual yang menentukan sisa hidupnya. Ia mengabdikan hidupnya “mencari Tuhan muka dengan muka.” Di tahun 1906, ia memegang kaul kebenaran, tanpa-kekerasan, selibasi, kemiskinan dan ketidaktakutan seumur hidup.
Perjuangan Gandhi bagi Kemerdekaan India
Pada 18 Juli 1914, setelah bernegosiasi bagi sebuah penyelesaian baru dengan pemerintah, demi kebaikan bersama, Gandhi meninggalkan Afrika Selatan. Dia berlayar ke Inggris, dan akhirnya kembali secara permanen ke India pada 9 Januari 1915, dan disambut layaknya seorang pahlawan. Di bawah tuntunan G.K. Gokhale, seorang politisi kawakan, Gandhi menghabiskan tahun pertamanya dengan kembali menemukan tanah airnya sendiri melalang-buana di negeri itu, mempelajari masalah-masalahnya dan mendengar kaum miskin. Dia kembali lagi mengenal kebutuhan dan potensi India dan mempelajari bagaimana dia bisa menerapkan pelajaran-pelajaran satyagraha yang dipelajari di Afrika Selatan bagi perjuangan India dalam memperoleh kemerdekaan dari Kerajaan Inggris.
Gandhi mendirikan ashram lagi, di sungai Sabarmati dekat Ahmedabad, di mana dia tinggal selama enam belas tahun berikutnya. Lebih dari 250 orang pada akhirnya bergabung dengan komunitasnya, yang mempraktekkan 14 kaul, termasuk kebenaran, non-kekerasan, selibasi[2], kemiskinan, ketidaktakutan, kerja fisik, toleransi terhadap semua agama, dan membuat baju sendiri. Mereka berdoa bersama, makan bersama, mengolah tanah, menerbitkan surat kabar, dan menyiapkan diri mereka untuk menderita dan mati dalam perjuangan tanpa-kekerasan bagi kemerdekaan. Di tahun 1917, seorang petani nekad dari sisi lain negeri itu memohon Gandhi untuk mengunjungi wilayah pelosok yang sangat miskin (Champaran) dan membantu petani-petani yang kelaparan dalam perjuangan mereka melawan tuan-tuan tanah Inggris yang kejam. Gandhi setuju, melakukan perjalanan yang panjang dengan kereta api, dan diam-diam mengumpulkan informasi tentang ketidakadilan-ketidakadilan spresifik terhadap para petani. Dia berharap untuk tinggal satu bulan, tetapi tinggal hampir dua tahun. Suatu hari, ketika dia sedang menunggang seekor gajah, Inggris menahannya. Dalam satu malam, berita itu menyebar keseluruh wilayah itu bahwa seorang suci telah ditahan ketika sedang memperjuangkan hak-hak mereka. Ribuan petani berkumpul di luar gedung pengadilan untuk mendukung Gadhi. Dia segera dibebaskan, diizinkan untuk menyelesaikan tugasnya tentang pelanggaran-pelanggaran terhadap para buruh tani, dan pada akhirnya, pemerintah India meloloskan sebuah hukum reformasi agraria yang baru untuk melindungi buruh tani yang tertindas. Gandhi menjadi harapan rakyat India.
Pada 18 Maret 1919, Inggris mengumumkan bahwa tindakan-tindakan represif yang diberlakukan selama Perang Dunia I melawan gerakan kemerdekaan India, yang telah membatasi hak-hak sipil, akan dilanjutkan, walaupun perang telah usai. The Rowlatt Acts menghentikan kebebasan berbicara, pers dan berserikat, dalam suatu usaha untuk menumpas ketidakpuasan yang terus meningkat. Gandhi mengumumkan hari berikutnya bahwa ia telah bermimpi di mana seluruh bangsa India melakukan pemogokan melawan pemerintah Inggris, dan dia mengundang seluruh bangsa India untuk mewujudkan impiannya itu. Pada 6 April, sebagai jawaban bagi seruan Gandhi bagi sebuah hartal umum, yakni sebuah hari doa dan puasa nasional, kurang lebih setiap orang tinggal di rumah untuk berdoa dan berpuasa dan India tutup selama satu hari. Jutaan orang berpawai di jalan mengejutkan dan menakjubkan Inggris (dan Gandhi). Tiba-tiba, India bangun. Pemerintah Inggris merespon dengan melakukan apa yang kerajaan kehendaki- yakni menumpas gerakan itu, menahan pemimpin-pemimpinnya, membunuh pendemo-pendemo. Minggu berikutnya, serdadu Inggris membantai 379 pendemo damai dan melukai 1.200 lainnya di kota Amritsar.
Dalam bulan-bulan berikutnya, Gandhi berdoa sepenuhnya dan memutuskan hubungannya sama sekali dengan kerajaan Inggris serta membaktikan seluruh sisa hidupnya demi tercapainya kemerdekaan India melalui cara-cara damai tanpa-kekerasan. Dia menyerukan secara massal “non-kooperasi[3] tanpa-kekerasan terhadap Inggris, sampai mereka secara damai menyadari bahwa mereka adalah tuan-tuan di rumah orang lain dan pergi.” Di tahun 1920, Gandhi mendekati the Indian National Congress untuk mengadopsi strategi satyagraha demi mencapai kemerdekaan, dan gerakan itu mulai secara resmi. Dari tahun 1920 sampai 1921, Gandhi menyerukan pembangkangan sipil secara luas melawan pemerintah Inggris, tetapi setelah sekelompok demonstran secara brutal membunuh 21 opsir polisi di Chauri Chauri, Gandhi menangguhkan gerakan itu membuat marah pemimpin-pemimpin protes lainnya. Selama sisa hidupnya, Gandhi akan bergulat dengan gerakan itu, menyerukan penghentian setiap kampanye bila ada kekerasan sedikit saja. Pada akhirnya, dia menyesali bahwa orang India tidak pernah bersungguh-sungguh dengan non-kekerasan sebagaimana yang kehendakinya dari mereka.
Pada tahun 1922, lebih dari 50.000 orang India dipenjarakan karena pembangkangan sipil. Ketika Gandhi menghentikan kampanye itu, Inggris melepas semua tahanan politik, tetapi menahan Gandhi. Pada 18 Maret 1922 ia dibawa ke hadapan seorang hakim dengan tuntutan menghasut dan diundang untuk membuat sebuah pernyataan sebelum dia dihukum. “Non-kooperasi dengan kejahatan adalah tugas yang sama pentingnya dengan kooperasi dengan kebaikan,” kata Gandhi, dan karena pemerintahan Inggris atas India adalah sebuah kejahatan, ia nyatakan, dia bersalah karena non-kooperasi tanpa-kekerasan terhadap kejahatan tersebut. Kemudian ia menantang hakim untuk memberinya hukuman yang setinggi mungkin atau mengundurkan diri dan bergabung dengan gerakan tersebut. Gandhi dihukum enam tahun di penjara, hukuman maksimum.
|
Gandhi memimpin pawai yang memrotes pajak garam yang dikenakan Inggris menandai berakhirnya hari-hari Inggris Raya di India |
Selama dua tahun berikutnya di balik terali besi, Gandhi bermeditasi, membaca ratusan buku, menulis surat-surat yang tak terhitung banyaknya, dan bekerja dengan roda pemintalannya setiap hari. Dia juga menulis otobiografinya sendiri. Meskipun pemerintah Inggris mencoba untuk membungkam Gandhi, pemenjaraan terhadap dirinya hanya semakin menempatkan dirinya di hati semua orang India, yang sekarang memanggilnya, “Mahatma,” yang artinya “Jiwa Besar.” Gandhi meminta kepada semua orang yang berisiko ditahan untuk memeluk penderitaan dengan kasih, sebagai jalan menuju kemerdekaan politik dan spiritual. “Kita harus memperlebar pintu-pintu penjara,” tulisnya, “dan kita harus masuk ke dalamnya sebagai pengantin pria yang memasuki kamar pengantin, Kebebasan hendaknya dirayu hanya di dalam tembok-tembok penjara dan kadang-kadang di tiang gantung, tidak pernah di ruang dewan, pengadilan, atau ruang sekolah.” Pada 5 Februari 1924, Gandhi dilepaskan dari penjara karena kesehatannya yang buruk. Pada tahun-tahun berikutnya, ketika sedang meneruskan dukungannya bagi kemerdekaan, dia banyak memfokuskan waktunya pada mereformasi kehidupan rakyat India, untuk menyiapkan India bagi datangnya kemerdekaan. Prioritas utamanya adalah persatuan Hindu-Muslim. Pada satu saat, dia menjalani puasa 21 hari yang melelahkan bagi rekonsiliasi antar agama dan reformasi, yang menginspirasi jutaan orang India untuk menghilangkan prasangka (buruk) di masa lampau dan mengejar rekonsiliasi. Dia menyerukan penghapusan kasta paling rendah dari Hinduisme, kasta tak-tersentuhkan, yang termiskin dari kaum miskin, yang ditakdirkan sejak lahir hingga mati hanya untuk membersihkan toilet-toilet. Dia menganjurkan penggunaan roda pemintal setiap hari untuk membuat pakaian seseorang, dan suatu boikot terhadap pakaian-pakaian Inggris. Dia berkampanye bagi pengembangan “program-program pembangunan,” yang akan memperbaiki kehidupan desa bagi masyarakat biasa dan miskin India. Dia mengelilingi negara itu, menyebarkan ajarannya tentang non-kekerasan dan menginsprasi jutaan orang India untuk mengubah hidup dan bangsa mereka. Kadang-kadang dia bertemu dengan viceroy[4] Inggris yang sedang menjabat dan akan mengumumkan bahwa waktunya telah tiba bagi Inggris untuk meninggalkan India. Ratusan ribu orang akan berbondong-bondong melihat dia di mana saja dia muncul. Jika banyak orang itu ribut dan tak terkendali, dia akan duduk diam selama berjam-jam, sampai setiap orang benar-benar tenang. Kemudian, dia akan pergi dengan tenang.
Pada 2 Maret 1930, Gandhi menulis kepada viceroy dan mengumumkan bahwa kecuali jika Inggris mencabut pajak garam yang menyengsarakan jutaan rakyat India, dia akan memulai sebuah kampanye pembangkangan sipil. Pada 12 Maret, Gandhi menggelar pawai 240 mil ke kota Dandi yang terletak di pinggir laut. Ribuan orang keluar untuk menyalami para pengikut pawai, mengejutkan bahkan Gandhi. Setiap hari tekanan dan kegembiraan memuncak. Pada 6 April, setelah meditasi pagi, Gandhi membungkuk dan memungut garam illegal. Negara itu bersorak-sorai gembira. Ratusan ribu orang mulai memungut, membuat, menjual dan mendistribusi garam, sehingga melanggar pajak garam Inggris dan menyatakan kemerdekaan mereka. Tindakan Gandhi yang sederhana itu berhasil. Tindakan itu membangkitkan raksasa yang sedang tidur dan hari-hari pemerintahan Inggris tinggal sedikit.
Dalam sebulan, Inggris menahan dan memenjarakan 60.000 pemrotes, termasuk semua pemimpin pergerakan. Gandhi sendiri ditahan pada 14 Mei dan dipenjarakan selama delapan bulan. Pada 20 Mei, dua ribu orang satyagrahis berjalan menuju tambang garam Dharsana dan mendekati pintu dalam kelompok-kelompok kecil untuk masuk dan menuntut hak garam mereka. Saat setiap kelompok pemrotes Gandhi mendekat, serdadu-serdadu Inggris dengan kejamnya memukuli mereka di kepala dengan tongkat-tongkat baja, mencederai ratusan dan membunuh beberapa orang dari mereka. Dunia menjadi marah atas laporan-laporan mengenai serangan keji oleh apa yang disebut kerajaan Inggris yang “beradab” terhadap para demonstran damai yang tidak bersenjata yang bahkan tidak menggunakan tangan untuk membela diri. Beribu-ribu orang lagi bergabung dengan protes itu. Inggris dengan cepat kehilangan kendali dan menjadi lebih represif. Dalam tahun itu, Inggris memenjarakan lebih dari 100.000 orang India karena protes damai. Jutaan orang di seluruh dunia mulai berseru agar Inggris meninggalkan India.
Di bulan Maret 1931, sebagai jawaban atas tekanan yang memuncak, Inggris melepas semua tahanan politik, mengakui hak boikot pakaian buatan luar negeri, dan mencabut larangan atas garam buatan-rumah. Mereka kemudian mengundang Gandhi ke Inggris untuk sebuah konferensi “Meja Bundar” guna membahas kemungkinan kemerdekaan bagi India. Gandhi pergi ke London, di sana dia tinggal selama empat bulan dengan Muriel Lester di Kingsley Hall di bagian East End yang miskin. Sekalipun tidak ada hasil politik langsung dari usaha-usahanya, Gandhi mampu membawa kasus kemerdekaan itu bagi jutaan masyarakat Inggris dan Eropa. Dia memenangkan hati mereka dengan kesederhanaan, kelemahlembutan dan kebenaran. Meskipun teman-teman seperjuangannya menyimpulkan bahwa konferensi itu adalah sebuah kegagalan, Gandhi merasa bahwa seseorang tidak boleh menolak bertemu dengan musuhnya. Satu minggu setelah dia kembali ke India, pada 4 Januari 1932, Inggris melarang partai Kongres dan memenjarakan semua pemimpin-pemimpinnya, termasuk Gandhi.
Gandhi terus berbicara mengenai penghapusan kasta tak-tersentuhkan[5] Hindu. Pada 20 September, dia memulai sebuah “puasa hingga mati” di sel penjaranya “bagi penghapusan kasta tak-tersentuhkan.” Dunia terkejut. Kawan-kawannya, terutama Nehru, berkata bahwa kasta tak-tersentuhkan telah ada selama ribuan tahun, dan puasa seperti itu sama saja dengan bunuh diri. Tetapi rakyat India menghormati Gandhi dan mempercayai kebijaksanaannya. Sebentar saja, pemimpin-pemimpin Hindu di seluruh negeri menerima kasta tak-tersentuhkan di kuil-kuil mereka untuk pertama kali dalam ribuan tahun. Hanya dalam beberapa hari, Hinduisme mengalami reformasi karena orang-orang beriman menghormati Mahatma mereka. Setelah lima hari, Gandhi mengakhiri puasanya. Dia akan melanjutkan pembelaannya bagi kaum tak-tersentuhkan selama sisa hidupnya, dan Hinduisme tidak akan pernah sama (seperti dulu lagi).
Gandhi dikeluarkan dari penjara bulan Mei 1933. Dia dan Kasturbai memutuskan untuk memindahkan rumah mereka ke wilayah termiskin di India, sebuah kampung kecil yang terpencil bernama Wardha, yang terletak langsung di tengah-tengah India. Kemudian ia memulai tur keliling negeri sepenuh waktu dan berkampanye bagi reformasi kehidupan desa India. Selama enam tahun berikutnya Gandhi mengelilingi negara itu, berbicara dengan jutaan orang, mengentas kemiskinan dan buta huruf, mendesak penggunaan roda pemintalan, mengumpulkan banyak uang guna mendukung kaum hina-dina, yang sekarang ia sebut “Harijans,” atau Anak-anak Tuhan.” Pada beberapa pawai, lebih dari dua ratus ribu orang muncul untuk melihat Gandhi menyalakan korek api dan membakar tumpukan-tumpukan besar pakaian buatan Inggris.
Selama bertahun-tahun, dia membangun apa yang disebut sebuah “kampung model,” atau “Sevagram” yang artinya “Kampung Pelayanan,” di Wardha, yang akan menjadi rumahnya selama sisa hidupnya. Dia memilih lokasi itu karena kemiskinannya yang ekstrim dan karena daerah ini didiami hampir seluruhnya oleh kaum hina-dina. Dia berharap ini akan menjadi sebuah tempat untuk menyepi. Yang terjadi adalah sebaliknya, kampung itu dengan cepat menjadi situs peziarahan, dan puluhan ribu orang mengunjungi kampung itu selama bertahun-tahun. Rumahnya adalah sebuah gubuk kecil yang terbuat dari lumpur dan bambu yang berisikan roda pemintal, sebuah tikar jerami, sebuah meja tulis yang rendah dan dua rak untuk beberapa buku. Dia bangun untuk berdoa pada pukul 04.00 setiap pagi, dan hanya makan buah, kacang dan sayur-sayuran. Sebagaimana sebelumnya, dia dan teman-temannya membuat pakaian mereka sendiri, menanam pangan sendiri, dan menjalankan sekolah mereka, menerbitkan surat kabar mereka sendiri, mengumpulkan dana bagi kaum termiskin, dan saling berbagi segala sesuatu bersama-sama. Pernah ketika dia mulai masa pemenjaraannya, dia diminta untuk menulis pekerjaannya dan menulis “petani dan penenun.” Meskipun seorang pengacara, politisi dan jurnalis, Gandhi melihat dirinya sebagai orang miskin yang sederhana, yang hidup menyepi dan miskin, berbakti pada teman-temannya dan perjuangan untuk keadilan dan perdamaian.
Sewaktu dunia terjerumus lagi dalam peperangan, Gandhi terus memperjuangkan non-kekerasan dan alternatif-alternatif damai terhadap perang. Ketika perang mulai di tahun 1939, Gandhi terduduk dan menangis. Sekalipun dia menentang kaum Nazi, dia juga menolak peperangan dan berbicara menentang perang di mana-mana, menyerukan perlawanan tanpa-kekerasan terhadap Hitler. Pendiriannya adalah salah satu dari beberapa suara di dunia yang menentang Perang Dunia II. Di tahun 1940, Gandhi meninggalkan Partai Kongres ketika mereka memutuskan untuk mendukung Inggris dalam perang. Dia bergabung kembali di tahun berikutnya setelah Churchill menolak tawaran Partai Congress untuk membantu melawan kaum Nazi. Gandhi mengumumkan berkali-kali bahwa jika Sekutu benar-benar membela demokrasi, mereka harus segera memberikan kemerdekaan kepada India. Pandangan publiknya menentang perang lebih mengancam Inggris daripada perjuangannya bagi kemerdekaan, dan Pemerintah Inggris, yang dipimpin Churchill, sejak saat itu semakin membenci Gandhi.
Pada 8 Agustus 1942, Gandhi menyerukan kampanye pembangkangan sipil yang baru melawan pemerintahan Inggris. Hari berikutnya, Inggris menahan dia dan istrinya. Kerusuhan pecah di seluruh negeri. Di awal 1943, Gandhi menjalani puasa 21 hari guna menentang baik imperialisme Inggris dan kekerasan India. Dia hampir membahayakan nyawanya.
Pada 22 Februari 1944, istri tercinta Gandhi yaitu Kasturbai meninggal dalam pelukannya di penjara, setelah sakit yang lama. Mereka telah menikah selama enam puluh-dua tahun. Gandhi menguburkan abunya di dalam tanah di penjara. Beberapa bulan sebelumnya, sekretaris Gandhi, salah satu teman terdekatnya, juga telah meninggal dalam penjara. Musim semi itu, setelah Gandhi terserang malaria dan hampir meninggal, Inggris melepasnya pada 6 Mei 1944. Secara keseluruhan, Gandhi ditahan dua belas kali selama hidupnya dan menghabiskan hampir enam tahun di balik terali besi (2.089 hari di penjara-penjara India dan 249 hari di penjara Afrika Selatan.)
Dengan hampir berakhirnya perang dan semakin jelas bahwa Inggris akan menarik diri dari India, politisi-politisi Muslim menuntut agar India dibagi berdasarkan garis agama untuk menciptakan Pakistan Timur dan Pakistan Barat. Kekerasan dan kerusuhan antara umat Hindu dan Muslim merebak di seluruh negeri. Gandhi memutuskan untuk melakukan perjalanan di salah satu pinggiran India yang termiskin, dimana kebanyakan kerusuhan dan pembantaian brutal terjadi, berupaya menyerukan persatuan dan non-kekerasan. Selama hampir enam bulan, Gandhi berjalan melintasi Noakhali, salah satu wilayah terpencil India, yang terdiri dari dua setengah juta orang Muslim yang hidup dan menderita dalam keputusasaan dan kemiskinan. Sekalipun dia secara relatif kurang dikenal di provinsi terpencil ini, dimana tak seorangpun mendengar kabar apapun dari dunia luar, dalam beberapa minggu, daerah itu merayakan kehadiran seorang mahatma yang berjalan telanjang kaki dari kampung ke kampung meneriakkan non-kekerasan dan persatuan religius. Gandhi akan tinggal semalam dengan petani pertama yang menawarkannya tumpangan. Keseluruhannya, dia mengunjungi 49 desa. Dia menginspirasi umat Muslim untuk menerima kembali umat Hindu yang telah meninggalkan daerah itu. Dalam beberapa bulan, seluruh daerah itu melucuti senjata dan menjadi damai. Kemudian, setelah kematiannya, sahabat-sahabat Gandhi menggambarkan bulan-bulan di Noakhali sebagai periode paling mukjizat dalam kehidupan Gandhi. Dia berjalan tanpa senjata sebagai seorang peziarah perdamaian yang masuk ke zona perang yang sedang kacau-balau, seorang rasul non-kekerasan di tanah yang dikuasai kekerasan. Setiap orang terpukau oleh Gandhi. Waktu itu dia berusia tujuh puluh-delapan tahun.
Dengan berakhirnya perang, Amerika menjatuhkan bom-bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, membakar seratus empat puluh ribu orang dalam dua ledakan dahsyat yang cepat. Gandhi mengecam bom atom, dan menyerukan pada kekuatan-kekuatan dunia agar tidak menggunakan senjata itu lagi. Dia adalah suara agamawi yang paling berpengaruh di dunia yang melawan pengembangan senjata nuklir Amerika Serikat. Dia menyerukan pada negaranya sendiri agar tidak pernah menciptakan atau menggunakan senjata seperti itu. Sampai mendekati ajalnya, berulang kali dia berkata bahwa kepemilikan senjata nuklir berisiko menghancurkan planet. Seruannya tentang perlucutan senjata nuklir menjadi pesan spiritual utamanya hingga kematiannya.
Setelah Churchill dikalahkan, pemerintah Inggris yang baru memutuskan untuk memberi kemerdekaan kepada India dan menerima tuntutan-tuntutan kaum Muslim untuk menciptakan negara Muslim Pakistan dan Pakistan Timur (sekarang Bangladesh) yang terpisah. Pada 15 Agustus 1947, kemerdekaan diberikan. Gandhi menghabiskan hari itu dalam kesendirian, berdoa, dan berpuasa bagi persatuan dan non-kekerasan. Tetapi ketika jutaan pengungsi Muslim melarikan diri ke dua Pakistan dan jutaan orang Hindu meninggalkan Pakistan Timur dan Pakistan Barat menuju India, negeri itu dilanda kekerasan. Ratusan ribu orang dibantai hanya adalah beberapa bulan.
Gandhi mencari suatu jalan untuk menghentikan pembunuhan. Dia memutuskan untuk pindah ke dalam rumah seorang Muslim yang miskin di Calcutta, wilayah yang kekerasannya paling buruk, dan menyatakan akan berpuasa sampai mati hingga kekerasan berhenti. Dalam 73 jam, ribuan umat Hindu dan Muslim tidak hanya menghentikan kekerasan, tetapi mulai berpawai dan berdoa bersama. Ketika Gandhi hampir meninggal, Calcutta terdiam dan setiap orang berdoa bagi perdamaian. Gandhi mengakhiri puasanya. Kekerasan telah berhenti karena tak seorangpun menginginkannya menderita karena apa yang mereka lakukan. Gandhi telah membuat sebuah mukjizat lagi. Paling kurang, selama tahun-tahun yang buruk itu, hampir satu juta orang India terbunuh ketika negeri itu terpecah. Gandhi kemudian pindah ke Delhi untuk mencoba menghentikan kerusuhan-kerusuhan di sana. Pada 13 Januari 1948, ia memulai lagi puasa sampai mati. Ini adalah puasa publiknya yang ke sebelas. Parade-parade besar diorganisir dan pertemuan-pertemuan antar para politisi dan pemimpin agama setempat diadakan, dan pada hari ke enam, lima puluh orang Muslim, Hindu dan Sikh yang terkemuka menandatangani perjanjian damai di hadapan Gandhi. Tetapi Gandhi berkata bahwa ini belum cukup, dan dia mulai menangis. Mereka menegaskan bahwa komitmen persatuan Hindu-Muslim adalah sungguh-sungguh. Ketika dia mendengar permohonan mereka, dia memutuskan untuk mengakhiri puasanya. Hari berikutnya, pada 20 Januari, sebuah bom meledak sewaktu dia sedang menyelenggarakan pertemuan doa malam di alam terbuka. Disaat banyak umat Muslim membencinya sebagai seorang pemimpin Hindu, banyak umat Hindu fanatik membencinya karena membela dan melindungi umat Muslim. Pada 29 Januari, dia berkata kepada seorang teman, “Jika seseorang akan mengakhiri hidupku dengan menembakkan sebuah peluru pada tubuhku, dan aku menerima peluru itu tanpa mengerang dan mengakhiri napasku dengan menyebut nama Tuhan, maka dengan itu saja telah kubuat klaimku yang baik.” Gandhi merasa dia akan dibunuh.
Gandhi merasa bahwa dia telah gagal meyakinkan India bahwa non-kekerasan adalah satu-satunya cara menuju kemerdekaan. Pemisahan negeri, pembantaian, kerusuhan, kebencian yang dalam dan perang dunia telah membuat dia sedih dan depresi. Tapi dia meneruskan pekerjaan umumnya bagi perlucutan senjata, dan berencana mengadakan perjalanan ke Pakistan. Pada 30 Januari 1948, jam 5.10 sore, sewaktu ia berjalan melintasi taman menuju upacara doa malamnya, Gandhi ditembak dan mati. Dia jatuh ke tanah meneriakkan nama Tuhan.
“Aku tidak memiliki sesuatu yang baru untuk diajarkan kepada dunia,” tulis Gandhi tak lama sebelum ia meninggal. “Kebenaran dan non-kekerasan sama tuanya dengan bukit-bukit. Semua yang kulakukan adalah mencoba bereksperimen dengan keduanya pada skala yang sebesar mungkin semampuku. Dengan melakukan hal itu, aku kadang-kadang membuat kesalahan dan belajar dari kesalahanku itu. Kehidupan dan masalahnya telah menjadi eksperimen yang begitu banyak buatku dalam praktek kebenaran dan non-kekerasan.”
Gandhi sebagai seorang Guru Spiritual dan Pemimpin Agama
“Aku bukan orang suci yang tersesat dalam politik,” Gandhi pernah tulis. “Aku seorang politisi yang mencoba menjadi orang suci.” Sewaktu Adolf Hitler mengorganisir genosida di Eropa, Franklin Roosevelt memiliterisasi Amerika, Winston Churchill membangkitkan Sekutu dan Harry Truman memerintahkan agar bom-bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki, Gandhi memperjuangkan suatu jenis politik yang sama sekali baru, yang didasarkan pada spritualitas non-kekerasan yang transformatif. Gandhi menginginkan kebebasan bagi rakyatnya, tetapi dia tidak ingin membunuh seorangpun demi hal itu. Dia menginginkan hak-hak dasar manusia akan makanan, pakaian, perumahan, pendidikan, pekerjaan, perawatan kesehatan, dan harga diri bagi ratusan juta orang India yang miskin. Tetapi dia menyerukan keadilan dengan pertama-tama hidup dalam solidaritas radikal dengan kaum yang termiskin. Dia mendemonstrasikan dalam kehidupannya sehari-hari, lewat penggunaan roda pemintal dan hidup bermasyarakat, bagaimana mereka dapat mengubah hidup mereka sendiri, sekalipun ketika mereka memperjuangkan kemerdekaan politik. Dia ingin menghentikan penindasan di mana saja di seluruh dunia, tetapi dia tidak mau menggunakan metoda yang dipakai para penindas, yang dalam prosesnya nanti ternyata hanya menjadi imperialis baru. Dia ingin menjangkau puncak-puncak kekudusan dalam hidupnya sendiri, sehingga dia begitu mendisiplinkan dirinya, melakukan penyangkalan diri akan kesenangan-kesenangan yang mendasar, membagi kesalahan dan kekeliruannya dengan dunia. Dia juga menolak menyerah pada pandangan dunia yang sempit, dan sebaliknya ia memimpin pelayanan doa antar-agama, yang menyerukan persatuan dunia, dan menolak berbagai ketidakadilan yang dilakukan dalam nama Tuhan.
Sesuatu yang membuat kehidupan Gandhi begitu teguh adalah bahwa Gandhi mencoba menjadi seorang yang memiliki integritas dan autentisitas. Dia ingin menjalankan kehendak Tuhan, dan tidak ingin menjadi seorang pengecut. Itu berarti dia harus menjadikan dirinya secara radikal berada bersama orang-orang termiskin di dunia. Jika dia ingin mencapai puncak-puncak kesucian, dia berkata pada dirinya sendiri, dia harus menyentuh dasar kemanusiaan dan menjadi satu dengan jutaan orang lapar. Dengan cepat dia belajar bahwa jalan menuju Tuhan memerlukan pemurnian terus-menerus dari hati dan kehidupannya, dia selalu berkeyakinan bahwa jalan menuju perdamaian, keadilan dan keselamatan, pertama-tama dimulai dari pemurnian hati dan kehidupan sehari-hari seseorang. Ketika dia memurnikan inner life-nya, dia melangkah lebih dalam kepada kekacauan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat dan dengan sungguh menderita demi keyakinan politiknya, menjalani secara berulang kali penahanan, persidangan, pemenjaraan, ancaman kematian, usaha-usaha pembunuhan terhadap dirinya, penghinaan, berpuasa demi perjuangannya, hingga hampir mati beberapa kali. Tidak pernah ada idealisme religius seperti ini yang telah dipraktikan secara politis dan sosial di panggung dunia.
Ketika Gandhi memulai transformasi pribadinya pada pergantian abad di Afrika Selatan, dia menyadari bahwa dia tidak pernah boleh mencederai atau membunuh manusia lain, atau bahkan, ciptaan lain; bahwa tidak boleh ada alasan, betapapun mulianya alasan itu- yang dapat dipakai sebagai pembenaran untuk merenggut nyawa seseorang. Pada saat yang sama, dia tahu bahwa dia tidak bisa diam atau menutup mata bila melihat kekerasan, rasisme, kemiskinan dan perang. Gandhi berpikir bahwa suatu pencarian spiritual akan Tuhan harus mendorong seseorang ke dalam dunia, lewat pencarian keadilan bagi kaum miskin dan perdamaian antara orang-orang yang saling berperang. Namun dia juga dengan cepat berkesimpulan bahwa satu-satunya jalan untuk mewujudkan perubahan sosial dan keadilan bagi orang miskin- dalam nama Tuhan- adalah melalui cara yang sama sekali tanpa-kekerasan.
“Saya berusaha melihat Tuhan dengan cara melayani sesama, karena saya tahu bahwa Tuhan tidak berada di surga, dan tidak berada di dalam tanah, tetapi di dalam diri setiap orang,” tulis Gandhi kepada seorang teman pada 4 Agustus 1927. Jika Tuhan ada dalam diri setiap orang, Gandhi yakin, bahwa ia harus mengasihi sesama, bahkan musuhnya. Dia harus berada di samping orang-orang yang paling tertindas, miskin dan menderita di planet ini, tidak hanya sekali saja, tetapi setiap hari dan selama hidupnya. Jika ia tetap teguh pada jalan yang sulit ini, dia tahu bahwa hasilnya pasti: tidak hanya kemerdekaan politik dan perdamaian, tetapi visi tentang Tuhan.
Dalam pencarian spiritual ini, Gandhi muncul dengan metoda satyagraha sebagai sebuah strategi suci bagi revolusi sosial dan politik serta perubahan struktural yang luas. Jika seseorang sungguh-sungguh ingin menderita dan mati bagi keadilan, Gandhi mengajarkan, bahkan tanpa ada keinginan untuk membabi-buta atau membunuh, maka roh kasih yang menebus segalanya akan mampu menarik perhatian Tuhan, memenangkan simpati dunia dan meluluhlantakan lawan dalam proses itu sampai keadilan dan kebebasan tercapai. Ini adalah metoda sederhana yang telah terbukti, tegas Gandhi. Sewaktu Gandhi mencari tahu akar-akar spiritual dari perjuangan politiknya, dia semakin menyadari bahwa pada dasarnya dia hanya menerapkan ajaran-ajaran spiritual kuno dari Yesus, Buddha dan pemimpin agama lainnya pada berbagai krisis politik masa kini. Pencapaian terbesarnya ini sederhananya hanyalah aplikasi yang terus-menerus, sistematik, dan ilmiah dari ajaran-ajaran spiritual kuno terhadap masalah-masalah nasional dan internasional.
“Setiap tindakan memiliki dampak spiritual, ekonomi dan sosial,” kata Gandhi pada Ronald Duncan selama kunjungannya ke Wardha. “Spirit tidak bisa dipisahkan. Tidak boleh.” Gandhi melihat segala sesuatu yang dikerjakannya sebagai tindakan religius. “Aku yakin Tuhan ada di dekatku,” tulisnya pada seorang teman di tahun 1906. “Tuhan tidak pernah jauh daripadaku. Semoga kamu juga bertindak dalam keyakinan ini. Percayalah bahwa Tuhan ada di dekatmu dan selalulah mengikuti kebenaran.” Untuk memahami Gandhi, kita perlu perhatikan kegiatan hariannya dalam doa, meditasi, dan pembacaan kitab suci. Ketika dia masih seorang bocah, susternya mengajarinya kalau ia takut, maka ia harus menyebut nama Tuhan berkali-kali sepanjang hari. Dia mencoba meneruskan kebiasaan ini setiap hari selama hidupnya. Dia berusaha mengalami kehadiran Tuhan setiap menit dalam hidupnya. Pencarian spiritual secara pribadi ini, di tambah dengan pencarian umumnya yang dramatis akan transformasi Tuhan atas dunia secara tanpa kekerasan, menginspirasi kita dewasa ini untuk mengusahakan perjalanan spiritual yang sama dalam hidup kita. “Saya telah bertumbuh dan dibingungkan oleh peradaban Barat,” tutur Gandhi setelah kembali dari Konferensi Meja Bundar di London. “Orang-orang yang aku temui di jalan kelihatan setengah gila. Mereka menghabiskan hari-hari mereka dalam kemewahan atau hidup bekerja keras dan istirahat di malam hari dalam keadaan sangat lelah. Pada kondisi seperti itu, saya tidak mengerti kapan mereka bisa meluangkan waktu untuk berdoa.” Kehidupan doa sangatlah penting bagi Gandhi. Setiap pagi, dia menghabiskan satu jam bermeditasi diam sebelum matahari terbit. Setiap malam, dia menghabiskan lagi satu jam untuk meditasi diam. Setiap hari selama hampir lima puluh tahun, dia membaca Kotbah di Bukit, Al Qur’an, dan yang paling terpenting, Bhagavad Gita, dengan fokus pada bab dua, yang menyerukan penolakan atas nafsu mementingkan diri sendiri. Di sanalah, dia menemukan ajaran mengenai bagaimana melakukan kehendak Tuhan dan “bertemu Tuhan muka dengan muka.”
Gandhi melihat kitab Hindu sebagai seruan radikal sepenuhnya bagi kepasrahan, kasih yang tulus, dan non-kekerasan yang sempurna. Dia menulis banyak komentar mengenai Gita, menerjemahkannya beberapa kali, dan mencoba mengubah hidup dan kebiasaannya agar sesuai dengan ajaran-ajaran itu. Menggunakan ajaran-ajaran Gita, dia menyimpulkan model manusia sebagai seseorang “yang tidak cemburu pada apapun; yang berbelas kasih; yang tidak mementingkan diri sendiri; yang memberi perlakuan sama bagi panas dan dingin, kebahagiaan dan penderitaan; yang selalu mengampuni; yang selalu berserah diri; yang memiliki ketetapan hati yang teguh; yang mempersembahkan pikiran dan jiwanya untuk Tuhan; yang tidak menimbulkan ketakutan; yang tidak takut pada orang lain; yang bebas dari kesombongan, kesedihan dan ketakutan; yang murni; yang sungguh-sungguh ketika bertindak tetapi tidak terpengaruh oleh tindakan itu sendiri; yang bebas dari semua buah, baik atau jahat; yang memperlakukan sama sahabat dan musuh; yang tidak tersentuh oleh penghormatan atau penghinaan; yang tidak lupa diri oleh pujian; yang tidak menjadi rendah diri bila orang mencemoohnya; yang mencintai ketenangan dan kesendirian; dan yang berpegang teguh pada prinsipnya.” Gandhi menghabiskan hari-harinya mencoba ber-inkarnasi dengan spiritual yang ideal ini.
Jadi Gandhi bukan hanya seorang pengacara, politisi, aktivis, reformer sosial, atau revolusionari: Gandhi adalah seorang yang kontemplatif, seorang yang takut akan Tuhan, seorang suci. Dia menunjukkan kemungkinan-kemungkinan tidak hanya bagi Hinduisme dan Kristianitas dalam prakteknya, tetapi apa artinya menjadi manusia. Dia melakukan hal itu karena dia bersandar pada Tuhan. Dia mengizinkan Tuhan melucuti hatinya dan dalam proses tersebut menjadi sebuah instrumen bagi perlucutan Tuhan akan dunia ini. Malahan, dia tidak hanya menemukan kembali kemungkinan-kemungkinan bagi perdamaian dan keadilan, dia memulihkan kembali kemungkinan-kemungkinan bagi kekudusan, kepolosan, dan kesalehan. Inilah yang menjadi penyebab mengapa kehidupan dan kemartirannya telah begitu berpengaruh tidak hanya terhadap rakyat India tetapi juga bagi seluruh umat manusia. Dia menginsiprasi kita untuk mencari Tuhan, mempromosikan perdamaian, berjalan bersama orang miskin, mengejar keadilan, bermeditasi dan berbicara tentang kebenaran.
Pesan Gandhi Mengenai Non-kekerasan
Sumbangan Gandhi yang terbesar bagi kemanusiaan adalah pesannya mengenai non-kekerasan sebagai jalan menuju perdamaian, keadilan dan Tuhan. Gandhi menjalani dengan serius perintah-perintah Alkitab, “Jangan membunuh” dan “Kasihilah musuh-musuhmu,” bersama-sama dengan tradisi Hindu tentang ahimsa (tidak membunuh), dan menerapkan penolakan terhadap kekerasan ke dalam hati dan kehidupannya demikian pula kepada Afrika Selatan, India dan seluruh dunia. Tetapi dia mengajarkan pula bahwa non-kekerasan bukan hanya menolak membunuh: itu adalah tindakan kasih dan kebenaran sebagai sebuah kekuatan perubahan sosial yang positif. Malahan, dia menegaskan bahwa non-kekerasan adalah kekuatan yang paling aktif dan dahsyat di dunia. Karena dia melihatnya sebagai kekuatan Tuhan, metoda Tuhan, dan kuasa Tuhan yang sedang bekerja bagi kebaikan di tengah-tengah umat manusia, dia berkesimpulan bahwa non-kekerasan lebih ampuh dari pada senjata nuklir. Jika jutaan orang Amerika mau mempraktekkan non-kekerasan, secara damai, di hadapan umum dan aktif menentang produksi dan pemeliharaan senjata nuklir, perlucutan senjata akan terlaksana. Non-kekerasan selalu manjur, katanya, karena non-kekerasan menggunakan kasih yang menderita untuk mencairkan hati manusia.
Meskipun Gandhi adalah ahli strategi politik dan revolusionari yang cerdas, apa yang membedakan dia dari yang lain adalah ketergantungannya yang unik kepada Tuhan dalam praktek non-kekerasannya secara umum. Non-kekerasan bagi Gandhi bukan hanya sekedar taktik, tetapi sebuah spiritualitas, sebuah pandangan hidup, pusat dari agamanya. “Non-kekerasan hanya berhasil bila kita memiliki iman yang hidup dan benar di dalam Tuhan,” tegas Gandhi. Oleh karena itu, Gandhi berdiri di panggung dunia sebagai seorang nabi dan seorang rasul, seorang utusan dari Tuhan yang memberi tahu kita bahwa Tuhan itu non-kekerasan, dan menginginkan kita menjadi non-kekerasan bahkan di tingkat politis, nasional dan internasional, jika kita berani mencoba.
Meskipun hanya sedikit negara yang telah melucuti senjata mereka, kehidupan dan ajaran-ajaran Gandhi menawarkan kepada kita suatu idealisme yang dipegang oleh banyak orang.
Dari aktivis akar-rumput hingga Peraih Hadiah Nobel, milyaran orang di seluruh dunia mengenal Gandhi dan telah tersentuh olehnya. Dorothy Day, Nelson Mandela, the Dalai Lama, dan Uskup Agung Tutu semua telah menyatakan penghargaan mereka kepada Gandhi. Baru-baru ini, ketika mengunjungi the Rock and Roll Hall of Fame di Cleveland, saya menyaksikan sebuah video tentang mendiang John Lennon, pada puncak kejayaannya sebagai seorang Beatle, menjelaskan bagaimana dia berpikir bahwa Gandhi benar dan jalan Gandhi yang non-kekerasan adalah satu-satunya pilihan baginya dan bagi kemanusiaan.
Biarawan trappist Thomas Merton menulis tentang Gandhi dan mengedit sebuah buku mengenai tulisan-tulisan Gandhi tentang non-kekerasan guna membantu menumbuhkan gerakan damai menentang senjata nuklir, rasisme dan perang di Vietnam. Merton berkesimpulan bahwa kunci memahami Gandhi adalah dengan memeluk non-kekerasannya bukan hanya sekedar taktik, tetapi sebagai jalan spiritual bagi transformasi pribadi, sosial dan global. “Semangat non-kekerasan Gandhi mengalir dari inner realization kesatuan spiritual dalam dirinya sendiri,” tulis Merton. “Keseluruhan konsep Gandhi tentang aksi tanpa-kekerasan dan satyagraha sulit dipahami jika hal itu dipikirkan hanya sebagai alat untuk mencapai persatuan dan bukannya sebagai buah dari inner unity yang sudah dicapai.” Bila kita bisa mengalami inner spiritual transformation yang sama, Merton nyatakan, kuasa roh Tuhan dapat bekerja melalui kita untuk mentransformasi dunia. Gandhi tidak pernah berhenti berharap bahwa dunia akan mengadopsi metoda non-kekerasannya. Malahan, dia berpikir eksperimen dengan non-kekerasan yang luas baru saja dimulai, sehingga kita sedang masuk dalam sebuah era yang sama sekali baru dalam hubungan (antar) manusia, bahwa masa depan dunia memiliki potensi untuk berbeda secara keseluruhan, tidak ada lagi perang, tidak ada lagi senjata, tidak ada lagi rasisme, tidak ada lagi seksisme, tidak ada lagi kekerasan dan tidak ada lagi ketidakadilan. Dengan meletusnya mimpi buruk Perang Dunia II, dia memberitahu pendeta besar Howard Thurman yang seorang Amerika keturunan Afrika bahwa satu-satunya jalan untuk membuktikan kebenaran non-kekerasan adalah melalui perjuangan hak-hak sipil kaum Afrika Amerika. Dalam beberapa tahun saja, Martin Luther King, Jr. sedang mempelajari Gandhi di Morehouse College, Crozier Seminary dan Universitas Boston, dan akan tampil untuk mengajari dunia Barat kebijaksanaan sang pelopor perdamaian yang agung dari timur ini.
“Sewaktu aku menyelami lebih dalam filosofi Gandhi,” tulis Pendeta King dalam buku pertamanya, Stride Toward Freedom, “skeptisismeku terhadap kuasa kasih perlahan-lahan sirna, dan aku untuk pertama kalinya dapat melihat potensinya dalam bidang reformasi sosial. Sebelum membaca Gandhi, aku telah berkesimpulan bahwa etika-etika Yesus hanya efektif untuk hubungan individual. Filosofi ‘berikan pula pipi yang lain’ dan ‘kasihi musuh-musuhmu’ aku rasa hanya berlaku, ketika individu-individu sedang berkonflik; bila kelompok rasial dan bangsa sedang berkonflik kelihatannya diperlukan pendekatan yang lebih realistik. Tetapi setelah membaca Gandhi, aku melihat betapa jelas kesalahanku. Mungkin, Gandhi adalah orang pertama dalam sejarah yang mengangkat etika kasih Yesus di atas interaksi antara individu menjadi suatu kekuatan sosial yang dahsyat dan efektif pada skala besar. Bagi Gandhi, kasih adalah instrumen yang ampuh untuk transformasi sosial dan kolektif. Penekanan Gandhi pada kasih dan nonviolence inilah yang menyebabkan aku menemukan metoda reformasi sosial yang selama ini telah kucari. Aku merasa bahwa ini adalah satu-satunya metoda yang baik sekali secara moral dan praktis yang terbuka bagi orang-orang tertindas dalam perjuangan mereka menuju kebebasan.”
“Saya melihat bahwa doktrin Kristen tentang kasih yang bekerja melalui metoda nonviolence Gandhi adalah salah satu senjata ampuh yang tersedia bagi kaum African-American dalam perjuangan untuk kebebasan,” tulis King. “Kristus memberi roh dan motivasi sedangkan Gandhi memberi metoda.” Kontribusi Gandhi bagi Spiritualitas Modern “Jika kemanusiaan hendak dimajukan,” simpul King, “Gandhi tidak dapat dihindari. Kita boleh mengabaikannya dengan risiko kita sendiri.” Sumbangan Gandhi bagi spiritualitas modern termasuk tidak hanya dampaknya pada gerakan-gerakan sosial di seluruh dunia lewat strategi politik non-kekerasan dan satyagraha yang aktif, tetapi transformasinya mempengaruhi agamanya sendiri. Terima kasih kepada Gandhi, banyak agama-agama dunia telah terinspirasi untuk kembali ke akar kepercayaan mereka mengenai kebenaran dan non-kekerasan yang mereka semua anut bersama.
Pengaruh Gandhi begitu besar dan mengagumkan sehingga sulit mengkategorikan kontribusi dan pencapaiannya yang banyak itu. Tetapi beberapa ajarannya dapat dirangkum berdasarkan karya hidup dan kesaksiannya.
Sumbangan utama Gandhi terhadap spiritualitas dan dunia itu sendiri adalah nonviolence. Gandhi menegaskan bahwa jika penyembahan kita kepada Tuhan adalah jujur, jika iman kita tulus, jika kita ingin menjadi pendoa-pendoa, malahan, jika kita ingin menjadi manusia seutuhnya, kita harus menjadi orang-orang yang nonviolence. Gandhi menyembah Tuhan yang nonviolence, dan mengumumkan bahwa setiap agama besar berakar pada nonviolence. Dia mengajarkan bahwa nonviolence bisa dipraktekkan pada setiap tingkat kehidupan manusia, dalam hati kita sendiri, di antara keluarga dan sahabat-sahabat kita, di dalam komunitas lokal kita, demikian pula secara nasional dan internasional. Gandhi mendesak kita untuk menyingkirkan senjata-senjata dan bom-bom kita, berhenti menyakiti orang-orang di sekitar kita, menyederhanakan gaya hidup kita, memasuki perjuangan umum untuk perlucutan senjata dan keadilan, serta mengejar kedalaman-kedalaman dari nonviolence. Dia mengatakan bahwa setiap orang dapat melakukan hal ini, dari tahanan yang paling termiskin hingga para presiden dan paus.
Lebih dari itu, Gandhi menantang orang-orang beriman untuk mengakui kemunafikan dalam hidup kita. Dia bersikukuh bahwa kita tidak bisa pergi ke gereja, sinagoga, dan mesjid pada suatu hari, dan di hari berikutnya, menyetujui peperangan, mendukung eksekusi, mempromosikan rasisme atau membayar bagi senjata nuklir. Kita tidak bisa mengklaim diri sebagai orang beriman dan takut akan Tuhan sedangkan pada saat yang sama, berbakti kepada dunia yang tak beriman dan tak ber-Tuhan, seperti yang terlihat dalam pembunuhan, eksekusi, peperangan, dan senjata nuklir. Bagi Gandhi, satu-satunya spiritualitas yang otentik adalah spiritualitas non-kekerasan. Setiap fase kehidupan mulai dari sekarang, katanya, hendaknya diukur dari perspektif non-kekerasan. Ketika dia menerapkan spiritualitas tanpa-kekerasan ini di Afrika Selatan dan India, dia menunjukkan bagaimana kita dapat mentransformasi politik, agama, sosial, institusi, hukum dan bahkan kerajaan-kerajaan. Dia tahu itu akan berhasil karena non-kekerasan, katanya, adalah jalan Tuhan.
Melalui dedikasi dan pengorbanannya, Gandhi membuka dinamit spiritual, tidak hanya dalam kitab Hindu, tetapi dalam Injil-injil sebagaimana yang belum pernah dilakukan sebelumnya, ketika dunia sangat membutuhkan hal itu, ketika terbitnya era nuklir. Dia memberi kita sebuah jalan di luar dari kegilaan kita. Secara khusus, dia menunjukkan kepada umat Kristen bahwa puncak dari ajaran Yesus tentang, Kotbah di Bukit, bukanlah sesuatu yang tidak bisa dipraktikkan, oleh karena itu ajaran tersebut bisa diterapkan kepada semua bangsa dan individu, ajaran itu bukan sebuah etika sementara tetapi puncak semua etika. Bagi Gandhi, Kotbah di Bukit adalah suara yang nyaring untuk non-kekerasan aktif, dalam kata-kata Yesus, yang tidak menawarkan perlawanan kekerasan terhadap kejahatan tetapi mengasihi musuh seseorang. Bahkan Gandhi yakin bahwa Yesus adalah praktisioner terbesar dari non-kekerasan aktif dalam sejarah, dari ajaran-ajaran dan tindakannya sampai pada kemartirannya di salib. Dia berkata satu-satunya kaum di seluruh dunia yang tidak memahami, yang sangat sedikit menerima, non-kekerasan Yesus adalah orang-orang Kristen.
Pengaruh Gandhi pada Kristianitas sangatlah penting. Dia tegaskan bahwa untuk menjadi seorang Kristen, seseorang harus mempraktikkan non-kekerasan. Segala sesuatu yang kurang dari itu bukan hanya merupakan ketidaksetiaan, tetapi juga pengkhianatan. Mulai dari sekarang, dia tekankan, bukannya menjadi bidak negara yang merestui kekerasan, seperti Yudas yang menyerahkan Yesus pada kekaisaran, atau menjalankan kekerasan buruk, sebagai pembenaran, seperti Petrus yang memotong telinga serdadu untuk mempertahankan-diri, orang-orang Kristen haruslah merenungkan kata-kata Yesus yang terakhir kepada komunitasnya, “Sarungkan Pedangmu.” Dalam terang kritik Gandhi, setiap gereja Kristen, berdasarkan definisi, haruslah menjadi komunitas non-kekerasan.
Kedua, “non-kooperasi terhadap kejahatan adalah tugas yang sama pentingnya dengan kooperasi terhadap kebaikan,” kata Gandhi selama Pengadilan Besar 1922. Bila kita ingin bekerja bagi perdamaian dan hidup dalam kedamaian, kita harus, sesuai dengan keadaan dunia, juga bekerja melawan dan menentang perang. Kita perlu aktif secara umum dalam mempromosikan hal-hal yang menjadi kebaikan dan juga bekerja sama menentang kejahatan bersama. Kebanyakan orang beriman belum memiliki pemahaman spiritual mendasar ini.
Ketiga, Gandhi berpikir bahwa iman mendorong kita untuk mempromosikan perdamaian dan keadilan, tetapi dia menghidupkan kembali kebijaksanaan yang dalam, yang dipegang oleh setiap tradisi agama yang sudah ada sejak dulu bahwa jalan menuju perubahan sosial bagi perdamaian secara positif, tanpa kekerasan adalah melalui risiko dan pengorbanan. Gandhi menegaskan bahwa isu-isu ini adalah masalah hidup dan mati, sehingga menjadi pertanyaan spiritual, jadi perdamaian dan keadilan membutuhkan dedikasi yang panjang dan kesiapsediaan untuk menderita dan mati. Ini bukan suatu ajaran yang baru. Yesus memerintahkan pengikut-pengikutnya untuk memanggul salib. Orang-orang Kristen mula-mula menulis bahwa jalan bagi pemerintahan Tuhan terletak pada partisipasi kita dalam Misteri Paskah, salib dan kebangkitan. Gandhi menerjemahkan salib sebagai kesiapsediaan untuk ditahan, diadili, dipenjara dan dibunuh bagi perjuangan keadilan dan perdamaian. “Kebebasan hendaknya dirayu hanya dalam tembok-tembok penjara dan kadang-kadang di tiang gantung,” tegasnya, “tetapi tidak pernah di ruang-ruang dewan, pengadilan, atau ruang sekolah.” Jalan Gandhi menuju transformasi politik secara mendasar berakar dalam persyaratan spiritual yakni risiko, penyangkalan diri, pengorbanan, bahkan kemartiran.
Keempat, Gandhi mengajari kita untuk menerima penderitaan, bahkan rela menderita, jika kita ingin transformasi pribadi, revolusi politik dan sebuah visi tentang Tuhan. “Nonviolence dalam dalam kondisi dinamiknya berarti penderitaan yang dijalani dengan sadar,” tulis Gandhi. “Ini bukan dimaksudkan untuk tunduk pada keinginan para pembuat kejahatan tetapi ini berarti mengasihani keseluruhan jiwa seseorang dengan menentang kehendak pemerintah yang kejam dan tidak adil. Bekerja dalam hukum keberadaan kita, dimungkinkan bagi seseorang untuk menantang seluruh kerajaan yang tidak adil demi menyelamatkan kehormatannya, agamanya, jiwanya dan meletakan pondasi bagi kejatuhan atau regenerasi kerajaan itu.” Malahan, Gandhi berkata bahwa jiwa dari penciptaan perdamaian tidak terletak pada seni membunuh, tetapi pada seni penderitaan dan pengorbanan secara sukarela. Dia mengajarkan, seperti halnya Yesus, agar kita harus secara konstan mati bagi diri kita sendiri, menentang ketidakadilan yang sistemik dengan semangat yang luar biasa bila perlu dengan meninggalkan kebebasan dan hidup kita, demi mewujudkan pemerintahan Tuhan yang non-kekerasan. Ketika ditanya untuk menyimpulkan kehidupan dalam tiga kata atau kurang, Gandhi menjawab dengan berseri-seri, “Itu mudah: penyangkalan diri[6] and gembira.” Saat ini, tidak populer membicarakan tentang penyangkalan-diri atau penderitaan secara suka rela, tetapi Gandhi berbicara mengenai hal tersebut sepanjang waktu. Kunci keberhasilannya yang berani terletak pada penderitaannya yang terus menerus, termasuk kemiskinannya, selibasi, penahanan-penahanan, pemenjaraan, serangan dan pembunuhan. Dia bersaksi selama hidupnya bahwa semakin dia menyangkal dirinya dan mencari Tuhan dan kebaikan kemanusiaan, berapapun pengorbanan diri yang harus dideritanya, semakin besar kegembiraan dan kedamaian yang ia alami dalam dirinya.
Kelima, meskipun Gandhi adalah seorang pengacara, politisi dan revolusionari, dia mengakui bahwa senjatanya yang paling ampuh adalah doa. Melalui meditasi hariannya, dia menjadi yakin akan kehadiran dan kedekatan Tuhan dalam kehidupannya dari hari ke hari. Dia tidak melihat penampakan atau mendengar suara-suara, tetapi doanya menuntunnya kepada pengandalan akan Tuhan yang telah memberinya iman (yang jauh lebih penting dari pada keberanian) untuk menjalankan aksi-aksi publiknya yang berani demi keadilan dan kemerdekaan. Karena Gandhi mempraktikkan kedamaian melalui doa dan ketenangan pikiran, dia tidak menjadi seorang pemarah atau pemberang. Dia memancarkan kedamaian. Dia gampang tertawa. Dia penuh kegembiraan. Semakin berpengaruh hidupnya, semakin dia bergantung pada doa, mencari ketenangan yang lebih besar, bahkan mengambil satu hari dalam satu minggu dengan puasa bicara selama dua dekade terakhir dalam hidupnya. Komitmennya pada doa dan devosinya kepada roh yang bekerja di dalam hatinya melalui doa, mentransformasi Gandhi dari seorang politisi menjadi seorang santo, seorang yang menjalankan kehendak Tuhan, yang melaluinya Tuhan berbicara dan menggerakkan serta menyentuh umat manusia.
Keenam, Gandhi meyakini bahwa kemurnian hati yang radikal merupakan landasan bagi banyak sekali perubahan positif yang terjadi di seluruh dunia. Pesan ini adalah salah satu keyakinan-keyakinan inti yang konsisten dan yang paling mengejutkan, yang saya temukan ketika membaca kumpulan karya-karyanya. Dia sungguh percaya bahwa semakin kita memurnikan diri kita[7] , semakin hidup kita akan melayani pekerjaan Tuhan untuk menghentikan perang, kemiskinan dan ketidakadilan. Dia mengajarkan bahwa integritas pribadi diperlukan untuk suatu spiritualitas yang otentik, bagi non-kekerasan. Sampai di sini, dia menyarankan puasa yang teratur dalam keseluruhan hidup seseorang, dan menjadi seorang pembela dan pendukung puasa sebagai jalan untuk bertobat dari dosa-dosa pribadi seseorang dan dosa-dosa dari orang-orang yang kita cintai. Dia akan memberitahu para politisi, aktivis dan pemimpin-pemimpin agama untuk menata hati mereka, untuk membiarkan Tuhan melucuti hati mereka, jika mereka ingin membantu sesama.
Ke delapan, Gandhi menyerukan agar orang jangan rakus kekuasaan sebagai jalan menuju Tuhan. Sekalipun dia berhubungan dengan raja-raja dan viceroy serta dipuji sebagai bapak India, dia lebih menyukai berada di antara kaum miskin dan mendesak setiap orang agar menghindari mencari kekuasaan atas orang lain. “Jangan rakus kekuasaan,” katanya pada wartawan Vincent Sheean beberapa hari sebelum dibunuh. Gandhi yakin bahwa orang beriman dan non-kekerasan hendaknya (tidak) memegang posisi otoritas apa saja atas orang lain karena dominasi dan sistem negara-kebangsaan yang berakar dalam kekerasan. Dia sendiri bisa dengan mudah menjadi presiden India yang pertama, tetapi sebaliknya dia memilih jalan merendah. Dia melihat betapa korup dan butanya kekuasaan sekalipun itu dipegang oleh orang-orang terbaik. Dia menyadari pula bahwa hal tersebut membuat kita melawan Tuhannya kaum miskin. Karena dia dengan kerendahan hati ingin melaksanakan kehendak Tuhan, dia tahu bahwa dia harus mengejar ketidakberdayaan orang miskin, seperti yang Yesus lakukan. Jika kita semua mencoba tidak gila kekuasaan dan bukannya gila kekuasaan, ajarnya, kita akan menemukan diri kita sebagai saudara satu sama lain dan mulai melayani satu sama lain. Dengan begitu, damai akan bertumbuh di antara kita.
Kesembilan, Gandhi mengajari bahwa setiap agama dunia memiliki suatu kebenaran yang hendaknya kita hormati. Dengan memperjuangkan toleransi dan kesetaraan antar agama, Gandhi menyarankan agar kita semua berbagi dasar non-kekerasan yang sama dan dapat hidup berdampingan secara damai, sekalipun kita memeluk keyakinan yang berbeda-beda. Dengan kebijaksanaan yang mendasar ini, Gandhi membuka jalan baru bagi perdamaian. Dia memahami bahwa kebanyakan peperangan dan ketidakadilan memiliki akar-akar religius dalam kebencian ethnik, kesombongan dan penyembahan berhala. Sama halnya dengan kekerasan yang dia saksikan di India yang didasarkan pada pemecahbelahan agama dan kebencian, demikian pula maka peperangan di masa datang akan berakar pada pemecahbelahan dan kebencian ethnik. Obatnya sederhana: Usaha-usaha penciptaan perdamaian harus mulai lewat dialog dan kerjasama antar-agama, secara regional dan nasional. Hal ini tidak hanya akan mempercepat datangnya perdamaian, tetapi membentuk perdamaian yang kita cari. Penciptaan perdamaian antar-iman ini menjadi mungkin ketika orang-orang dari iman yang berbeda menemukan dasar bersama dari non-kekerasan di semua iman.
Kesepuluh, Gandhi meyakini bahwa kehidupan spiritual, sebagaimana halnya semua kehidupan politik dan karya sosial, mencari kebenaran tanpa rasa takut. Bahkan, dia secara konsisten berkata bahwa dia menyembah Tuhan tidak hanya sebagai Tuhan non-kekerasan, tetapi juga sebagai Tuhan Kebenaran. Dia sampai pada kesimpulan yang mengejutkan, sebagai seorang Hindu yang taat, bahwa Kebenaran adalah Tuhan. Dalam perjalanan ini, dia mendemonstrasikan kuasa pernyataan Injil Yohanes bahwa, “Kebenaran akan membebaskan kamu.” Berulang-ulang kali dia berbicara tentang kebenaran di hadapan umum, dengan tidak takut, secara terbuka, dan sama sekali mengabaikan akibat-akibatnya. Dia berbicara kebenaran tentang kemiskinan, perang, rasisme, imperialisme, dan senjata nuklir, ketika hanya beberapa orang yang bisa membayangkan hal itu, jauh lebih sedikit yang membicarakan hal itu. Spiritualitas Gandhi tidak didasarkan pada keyakinan palsu, kenyamanan, atau new age. Spiritualitas tersebut didasarkan pada kebenaran yang dinyatakan secara terbuka dengan kasih. Jarang sekali ada figur publik yang berbicara selantang yang telah dilakukan Gandhi. Dia tahu bahwa jika dia berpegang pada kebenaran, dia bersandar pada Tuhan, sehingga kebenaran yang telah dinyatakan akan bekerja sendiri dan menuntunnya kepada kebebasan dan perdamaian yang baru.
Kesebelas, Gandhi mendesak kita agar kita pasrah pada hasil, dan secara sederhana pada kebaikan dari perjuangan damai itu sendiri. Pasrah pada hasil adalah ciri dari Bhagavad Gita dan yang menjadi pokok utama theologi pribadi Gandhi. Setiap hari dia merenungkan persyaratan ini, dan dengan berlalunya waktu, bertumbuh lebih bebas dari kewajiban harus berhasil atau efektif, bahkan meskipun dia bekerja keras untuk mengubah dunia. “Tugas kita adalah bekerja demi apa yang kita pandang benar dan adil,” katanya, “dan biarkan Tuhan yang menentukan hasilnya, tak akan ada sehelai rumput yang bergerak di luar kehendakNya.” Jalan spiritual ini sungguh menantang bagi orang-orang Amerika, di mana di dalam diri kita telah tertanam sebuah budaya yang mengidolakan keberhasilan, pencapaian dan keefektifan. Kehidupan Gandhi menjadi contoh bagi ajaran itu: semakin dia mengejar kebenaran, keadilan dan perdamaian melalui non-kekerasan yang aktif, dan semakin ia memasrahkan keinginannya untuk mencapai hasil-hasil ini serta menyerahkan hasilnya ke dalam tangan Tuhan, semakin hal itu terjadi dalam kehidupannya. Di sinilah letak salah satu misteri kehidupan spiritual: Semakin kita membaktikan diri kita pada perjuangan, biarkan Tuhan yang menentukan hasilnya, semakin banyak buah kedamaian dan keadilan yang akan kita terima sebagai pemberian dari Tuhan. Tuhan mampu mengerjakan lebih banyak melaluinya, kata Gandhi, ketika dia memasrahkan hasilnya ke dalam tangan Tuhan.
Keduabelas, Gandhi memahami prinsip-prinsip dasar kebenaran dan non-kekerasan ini tidak hanya sebagai ide-ide romantik atau semboyan keagamaan, tetapi sebagai hukum alam semesta yang sebenarnya, yang benar-benar bisa dirasakan seperti halnya hukum gravitasi. Jika kita mengejar kebenaran dan non-kekerasan, kehidupan kita akan menghasilkan buah yang baik dari kebenaran dan non-kekerasan, kata Gandhi. Tetapi dia tambahkan bahwa hasil ini sama pastinya dengan penemuan Newton, bahwa ketika kita melepas sebuah apel, buah itu akan jatuh ke tanah. Sama halnya, dia amati, kekerasan hanya akan menghasilkan kekerasan lagi. Kekerasan tidak hanya immoral, tetapi juga selalu impractical. Dengan pemahaman ini, Gandhi mengajarkan bahwa perang; revolusi; eksekusi; atau senjata pemusnah; tidak ada yang adil. Jadi, setiap aksi yang didasarkan pada perjuangan tanpa-kekerasan yang penuh doa, penuh damai dan penuh kasih akan menghasilkan buah yang baik. Sekali lagi, dia secara sederhana menjelaskan tentang Kotbah di Bukit: Kamu akan menuai apa yang kamu tabur.
“Apakah umat manusia secara sadar akan mengikuti hukum kasih, aku tidak tahu,” tulis Gandhi. “Tetapi itu tidak perlu mengganggu aku. Hukum itu akan bekerja seperti halnya hukum gravitasi bekerja, apakah kita terima atau tidak. Orang yang menemukan hukum kasih adalah ilmuan yang jauh lebih besar dari pada ilmuan modern manapun. Hanya saja eksplorasi kita belum cukup jauh dan tidak mungkin bagi setiap orang untuk melihat semua karya dari hukum kasih tersebut.”
Tulisan-tulisan Gandhi
“Tulisan-tulisanku hendaknya dikremasi bersama-sama dengan tubuhku, Gandhi pernah menulis hal ini. “apa yang telah kukerjakan akan bertahan, bukannya apa yang telah kukatakan atau tuliskan.” Senangnya, Pemerintah India mengabaikan nasihatnya dan menghabiskan lebih dari dua puluh tahun mengumpulkan setiap pernyataan, surat atau kata-kata yang ditulis Gandhi, dalam sebuah proyek penerbitan yang paling melelahkan yang pernah dikerjakan. Pada 1983, India menyelesaikan publikasi sembilan puluh lima volume The Collected Works of Mahatma Gandhi, sebuah usaha yang sangat besar dengan lebih dari 43.000 halaman surat, pidato, essai, telegram, memo dan buku-buku oleh Gandhi sendiri, setiap pucuk tulisan yang bisa mereka temukan. (Kemungkinan masih ada ribuan surat yang tersebar di seluruh dunia yang masih harus ditambahkan.)
Tulisan Gandhi merupakan salah satu dari koleksi terbesar oleh seorang figur politik dan spiritual yang pernah dikumpulkan. Untuk buku ini, saya membaca sembilan puuh lima volume tersebut, demikian pula lusinan koleksi dan biografi yang lain. Ini adalah pengalaman yang sangat melelahkan, membuka mata, dan yang menginspirasikan. Tetapi usaha apapun untuk merangkum semua materi itu menjadi sebuah volume tipis berisikan pokok-pokok tulisannya akan menjadi tidak lengkap. Untuk studi lebih lanjut, saya rekomendasikan anda membaca karya Louis Fischer yang luar biasa, biografi yang bagus, The Life of Mahatma Gandhi; koleksi Thomas Merton sendiri, Gandhi On Nonviolence; dan biografi yang baru-baru ini diterbitkan oleh Stanley Wolpert berjudul, Gandhi’s Passion.
Gandi bukan seorang figur sastrawan, seperti Thomas Merton; atau seorang teolog, seperti Karl Rahner; atau seorang intelektual, seperti Simone Weil; atau seorang pujangga, seperti Thich Nhat Hanh dan Daniel Berrigan. Dia adalah seorang aktivis, dan meskipun dia menulis selama berjam-jam setiap hari, hal itu selalu dilakukan secara tergesa-gesa, sebagai sebuah tugas- untuk menyerukan kepada orang lain agar menjalani hidup spiritual dan kerja politik yang tanpa-kekerasan. Jadi tulisan-tulisannya hendaklah dilihat dalam konteks sebuah kehidupan di tengah-tengah kekalutan yang terjadi di masyarakat. Saya telah memilah-milah tulisan Gandhi ke dalam beberapa pengelompokan besar dengan tulisan autobiografinya dan diikuti oleh bagian-bagian mengenai “Pencarian akan Tuhan,” “Pengejaran akan Kebenaran,” “Praktek Non-kekerasan,” “Disiplin-disiplin Doa dan Puasa,” “Kebutuhan yang mendesak bagi Perlucutan Senjata Nuklir,” dan “Kehidupan Perlawanan yang Teguh,” yang mengetengahkan beberapa pidato dan sejumlah surat penting.
Kesimpulan
Pada akhirnya, Gandhi menantang kita untuk mencari Tuhan melalui pencarian akan kebenaran dan non-kekerasan yang aktif. Dia mengundang kita untuk mengejar kedalaman kedamaian yang spiritual, politik, ekonomik dan sosial dengan kebulatan hati yang teguh dan pengorbanan sebagaimana yang pernah ia jalani. Gandi mendesak kita untuk menanggalkan hawa nafsu untuk terkenal, beruntung, berkuasa, dan ego, dan sebaliknya berjalan bersama kaum miskin, menyederhanakan hidup kita, berdoa kepada Tuhan setiap hari, mempraktekkan non-kekerasan di setiap bidang kehidupan kita, dan berkarya di masyarakat bagi penghapusan senjata nuklir, perang bintang, perang itu sendiri, kemiskinan, rasisme, seksisme, kelaparan, hukuman mati, aborsi, sanksi bagi Irak, senjata genggam, pengrusakan lingkungan hidup, ketiadaan rumah, fanatisme agama, eksploitasi binatang dan kekerasan dalam bentuk apapun. Dia hanya menyerukan transformasi total kehidupan dan dunia kita. Dalam seruan ini, dia berdiri bersama Fransiskus dari Asisi dan Dorothy Day, sebagai utusan Tuhan dan sebagai model iman dan perdamaian.
“Secara terus menerus kita dikejutkan oleh penemuan-penemuan yang menakjubkan akhir-akhir ini di bidang kekerasan,” Gandhi pernah amati. “Tetapi saya berkeyakinan bahwa akan ada penemuan-penemuan baru yang kelihatannya tidak mungkin atau tidak pernah dibayangkan akan terjadi di bidang non-kekerasan.”
Gandhi menginginkan setiap orang yang membaca kata-katanya untuk menjalani hal yang sama yakni “eksperimen dengan kebenaran” dalam hidup kita, dalam usaha mengejar penemuan-penemuan baru di bidang non-kekerasan, sehingga sebuah hari yang baru dengan perdamaian dan keadilan akan segera terbit dan kita semua akan bergembira melihat Tuhan muka dengan muka. Semoga harapan dan doanya menjadi kenyataan.
Oleh John Dear, S.J.
(dari pengantar untuk “Mohandas Gandhi: Selected Writings tersedia di Orbis Books)
Saya menerjemahkan artikel di atas dengan maksud untuk mempromosikan non-kekerasan – Charles Roring
[1] Terminologi nonviolence dalam artikel ini diterjemahkan dengan frase non-kekerasan atau tanpa kekerasan sesuai konteks kalimat.
[2] Celibacy – keadaan tidak menikah atau menghindari hubungan seksual.
[3] tidak bekerja sama
[4] Seseorang yang memerintah sebuah koloni, provinsi dan lain-lain sebagai perwakilan dari raja atau ratu.
[5] Istilah lain yang dipakai untuk the untouchables adalah kasta hina dina sebagaimana yang banyak dipakai dalam buku-buku atau artikel mengenai Mother Teresa.
[6] Dari kata renounce yang artinya melepas dengan rela gelar, kedudukan, atau kenyamanan khususnya secara resmi atau di hadapan publik.
[7] inner lives











TOLONG SAYA INGIN MEMBUAT AUTOBIOGRAFI GIMANA CARANYA DAN DALAM PENYUSUNAN KATANYA YANG BAGUS SEPERTI ANDAN BIKIN GIMANA CARANYA KASIH TAHU YA SEBELUM DAN SESUDAHNYA SAYA UCAPKAN TRIMS DARI JAWA TENGAH yUSNI67@YAHOO.COM
saya, sangat bangga sekali. situs ini memberikan arti tersendiri dalam hal saya mengenal lebih mendalam tentang semangat gerakan tanpa kekerasan (non violence) M.K.Gandhi (Sang jIwa Agung/Bapu). sebab saya dalam menyelesaikan Studi S1 Sosiologi saya tentang beliau. semoga para Umat Manusia dalam kehidupan ini tidak menjadikan kekerasan sebagai senjata utama untuk membunuh semsamanya. Oh Rama….
terima kasih. “bawa pergi apa yang bisa kau bawa, ambillah dariku hanya hal-hal yang setelah kaurenungkan, juga benar menurutmu” Mahatma Gandhi