Lembar-lembar Ekspresi

Transformasi Sosial dalam Sensualitas

Sebuah Hadiah Pernikahan

oleh: Guy de Maupassant

diterjemahkan oleh: Leo Charles Roring

Untuk suatu masa yang lama Jaques Bourdillere telah bersumpah bahwa ia tidak akan pernah menikah, tetapi tiba-tiba saja ia mengubah pikirannya. Itu terjadi mendadak, pada sebuah musim panas, di tepi pantai.

Suatu pagi ketika Jaques sedang berbaring di pasir, sambil mengamat-amati para wanita yang keluar dari air, sebuah kaki kecil yang indah dan cantik membuatnya terpesona. Jacques memelototkan matanya dan terpana dengan keseluruhan tubuh gadis itu, walaupun sebenarnya ia tidak bisa melihat apapun selain pergelangan kaki dan kepala yang tersingkap dari jubah handuk flannel yang membungkus wanita itu rapat-rapat. Menurutnya, tubuh itu sensual dan langsing. Bentuk tubuh menawan inilah yang membuatnya terpana. Kemudian ia terbius oleh keramahan gadis muda itu, begitu sederhana dan baik, sesegar pipi dan bibirnya.

Jaques diperkenalkan dengan keluarganya dan ia menyukai mereka. Segera ia dimabuk cinta. Ketika Jacques melihat Berthe Lannis dari kejauhan, di hamparan pasir kuning yang panjang, dirinya bagai disengat listrik sampai ke akar-akar rambutnya. Kalau Jacques berada di dekat gadis itu, dia akan diam seribu bahasa, tak dapat berbicara atau bahkan berpikir, jantungnya terus berdebar, dan telinganya berdengung, pikirannya seperti orang linglung. Inikah yang dinamakan cinta?

Ia tidak mengetahui ataupun mengerti, tetapi ia telah memutuskan untuk mengawini anak gadis ini. Orang tua gadis itu sudah lama tidak menyukainya, karena reputasi buruk pemuda itu. Kata orang, Jacques dulu pernah memiliki seorang kekasih lama, salah satu ikatan yang walaupun sudah diputuskannya tapi masih tetap ada.

Di samping itu, beberapa waktu yang lalu, ia suka bergonta-ganti pasangan.

Kemudian Jacques menetap dan menolak, walaupun sekali saja, bertemu dengan perempuan yang pernah tinggal begitu lama dengannya. Seorang teman menangani uang pensiun perempuan ini dan menjaminnya sebuah penghasilan. Jacques membayar, tetapi dia tidak ingin mendengar kabar apapun tentang perempuan itu, bahkan dia berpura-pura mengabaikan namanya. Perempuan itu berkali-kali menyuratinya namun tak pernah ia membukanya. Setiap minggu Jacques akan mengenal tulisan jelek perempuan yang dicampakkannya itu, dan setiap minggu pula kemarahannya terhadapnya semakin bertambah, dan Jacques segera akan merobek amplop dan surat tersebut tanpa membukanya, tanpa membaca sebaris kalimatpun, seakan-akan ia sudah tahu tuduhan dan keluhan yang ada di dalamnya.

Karena tak seorangpun yakin akan kesungguhan hatinya, ujian itu berlanjut terus hingga melewati musim dingin, dan tangan Berthe baru menerimanya pada musim semi. Pernikahan berlangsung di Paris di awal bulan Mei.

Pasangan muda itu telah memutuskan untuk tidak mengambil liburan bulan madu biasa, tetapi setelah sedikit berdansa dengan sepupu-sepupunya yang lebih muda, tidak melebihi jam sebelas, agar acara seremonial yang panjang ini tidak terlalu melelahkan mereka, pasangan pengantin muda itu akan menghabiskan malam pertama mereka di rumah orang tua dan selanjutnya, pada pagi berikutnya, mereka akan berangkat ke pantai yang begitu berharga di hati mereka, tempat mereka pertama kali bertemu dan saling jatuh cinta.

Malam telah tiba dan acara dansa sedang berlangsung ruang utama. Keduanya telah beristirahat di kamar pengantin kecil bergaya Jepang yang dihiasi kain sutra yang menjuntai serta temaram cahaya lembut lantera warna-warni yang menggantung di langit-langit seperti sebuah telur raksasa. Lewat jendela yang terbuka, udara segar menerobos masuk dari luar menerpa wajah-wajah mereka seperti suatu pijatan halus, malam itu hangat dan tenang, dipenuhi semerbak musim semi.

Keduanya diam, sambil saling berpegangan tangan, saling meremas dengan penuh hasrat. Pengantin wanita duduk di sana dengan tatapan menerawang, ia merasa sedikit tersesat pada perubahan besar dalam hidupnya ini, tetapi ia tersenyum, terharu dan hampir menangis, kadang-kadang juga hampir tak sadarkan diri dalam kegirangan, yakin bahwa seluruh dunia akan berubah lewat apa yang baru saja terjadi padanya, tidak mudah memang, ia tidak mengerti mengapa, dan ia merasa seluruh tubuh dan jiwanya dibuai oleh suatu kelelahan yang mengenakan dan yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

Pengantin laki-laki memandang pasangannya dengan senyumannya yang menawan. Ia ingin bicara, tapi ia tak tahu apa yang hendak dikatakannya, jadi ia hanya duduk saja di sana, hanya mengungkapkan semua hasratnya lewat remasan tangannya. Sebentar-sebentar ia berbisik, “Berthe!” dan setiap kali itu juga pengantin wanita ini mengangkat matanya dengan tatapan yang lembut; mereka akan saling berpandangan sebentar lalu pandangan gadis itu, ditembusi dan dibuai oleh sorot mata Jacques, akan tertunduk kembali.

Tak ada yang bisa mereka perbincangkan. Mereka telah ditinggalkan sendirian, tetapi kadang-kadang para pedansa akan mencuri pandang pada mereka, seakan-akan mereka adalah saksi-saksi misteri itu yang sopan dan dapat dipercaya.

Pintu terbuka dan seorang pelayan masuk, ia memegang sebuah baki yang di atasnya terdapat sepucuk surat. Surat itu baru saja diantar oleh seorang utusan. Gemetar, Jacques mengambil surat ini, mendadak samar-samar dirinya diliputi oleh ketakutan, terror misterius yang bisa merubah keberuntungannya malam ini menjadi sebuah ketidakberuntungan.

Lama dipandanginya amplop itu, tulisan yang tertera di situ tidak dikenalinya, Jacques tidak berani membukanya, tidak ingin ia membacanya, ia ingin segera memasukkannya ke dalam saku dan berkata pada dirinya sendiri: “Aku akan membiarkannya hingga besok, ketika aku sudah berada jauh!” Namun di salah satu sudut terdapat dua kata yang ditulis besar-besar, digarisbawahi, “Sangat Mendesak,” kata-kata itu membuatnya terperanjat. Sambil berkata, “Maaf sayangku, aku permisi dulu,” ia menyobek dan membuka amplop itu. Jacques membaca surat itu, wajahnya berubah pucat ketakutan, Jacques melihatnya sekali lagi, dan, dengan perlahan-lahan, nampaknya surat itu diejanya kata demi kata.Ketika ia mengangkat kepalanya keseluruhan wajahnya menunjukkan betapa sedihnya dia. Dengan terbata-bata ia berkata: “Sayangku, ini – ini dari teman baikku, yang baru saja mengalami kemalangan yang besar. Dia sangat membutuhkanku segera – ini masalah hidup atau mati. Maukah kamu mengizinkanku pergi sebentar selama setengah jam? Aku akan segera kembali.” Gemetar dan bingung, pengantin wanita itu menjawab: “Pergilah, sayangku!” belum lama ia menjadi isterinya untuk menanyainya, guna meminta penjelasannya. Jacques menghilang. Gadis itu ditinggal sendirian, mendengar acara dansa di ruangan sebelah.

Segera diraihnya topi dan jas lalu bergegas turun sekali melangkah tiga anak tangga dilewatinya. Sebelum menuju ke jalan raya, Jacques berhenti di bawah lampu gas di ruang depan kemudian dibacanya lagi surat itu. Ini yang dikatakan surat itu:

TUAN: Seorang perempuan yang bernama Ravet, kekasih lamamu, nampaknya, baru saja melahirkan seorang bayi yang ia bilang adalah anakmu. Sang ibu hampir meninggal dan memanggil-manggil dirimu. Aku menulis surat ini dan memintamu kiranya bisa mengabulkan permohonan perempuan yang malang dan layak diberi belas kasihan ini.

Sahabatmu,

DR. BONNARD

Ketika Jacques tiba di ruangan perempuan yang sakit itu, ia sedang sekarat. Mula-mula Jacques tidak mengenalinya. Dokter dan dua orang suster tengah merawatnya. Di mana-mana berserakan di lantai ember-ember penuh es dan kain yang berlumuran darah. Air membanjiri karpet; dua lilin menyala di meja; di belakang tempat tidur, di sebuah keranjang kecil, bayi itu sedang menangis, dan setiap kali ia menangis hal itu akan membuat mamanya merintih, dalam kesakitan, dia berusaha bergerak, gemetar di bawah balutan-balutan es.

Dia terluka hampir mati, terbunuh oleh kelahiran ini. Darah mengalir dari tubuhnya, dan sekarang ia menahan es serta perawatan itu, pendarahan yang tidak menaruh rasa iba terus terjadi, mempercepat saat-saat terakhirnya.

Dia mengenali Jacques dan ingin sekali mengangkat tangannya. Tangan-tangan itu terlalu lemah sehingga ia tidak bisa melakukannya, air mata mengalir di kedua pipinya yang nampak lesu. Jacques berlutut di sisi tempat tidur, memegang salah satu tangan perempuan itu lalu menciumnya dengan penuh emosi. Kemudian, sedikit demi sedikit, ia mendekatkan wajahnya ke wajah perempuan itu, yang mulai menatapnya. Salah seorang suster menerangi mereka dengan sebuah lilin, sementara dokter mengawasi mereka dari belakang ruangan.

Tidak lama kemudian perempuan itu mulai berbicara dengan suara yang seakan-akan terdengar dari kejauhan: “Sayang, aku akan meninggal. Berjanjilah padaku untuk tetap bersamaku sampai aku pergi. Oh! Jangan tinggalkan aku sekarang. Jangan tinggalkan aku di saat-saat terakhirku!”

Jacques menciumi wajah dan rambut perempuan itu, dan, sambil menangis, dia berbisik: “Jangan bersedih; aku akan menemanimu,”

Beberapa menit perempuan itu belum bisa berbicara lagi, dia lemah sekali. Lanjutnya: “Bayi mungil itu milikmu. Aku bersumpah di hadapan Tuhan dan demi jiwaku. Aku bersumpah saat aku sedang sekarat saat ini! Tidak pernah aku mencintai pria lain selain engkau – berjanjilah untuk merawat anak ini.”

Jacques mencoba memeluk tubuh malang yang rapuh itu di dalam tangannya. Dikuasai oleh penyesalan dan kesedihan, dengan terbata-bata ia menjawab: “Aku bersumpah padamu bahwa aku akan membesarkannya dan mencintainya. Dia tidak akan pernah meninggalkan aku.”

Kemudian perempuan itu mencoba menciumi Jacques. Tak mampu ia mengangkat kepalanya, ia memoncongkan bibirnya yang pucat memohon sebuah ciuman. Jacques mendekatkan bibirnya untuk mengabulkan permohonan yang mengharukan ini.

Segera setelah itu ia merasa lebih tenang, selanjutnya ia berbisik, “Bawa bayi laki-laki itu kemari dan biarkan aku melihat apakah engkau mencintainya.”

Jacques pergi dan mengambil bayi itu. Ditempatkannya dengan lembut di tempat tidur di antara mereka, dan bayi itu berhenti menangis. Perempuan itu berbisik, “Jangan bersedih lagi!” Lalu bayi itu diam. Dan Jacques tetap di sampingnya, memegang di dalam tangannya yang panas membara tangan lain yang gemetar dingin mendekati kematian, sama seperti beberapa saat yang lalu, ia tengah memegang sebuah tangan yang gemetar karena cinta. Sebentar-sebentar ia melemparkan pandangannya ke jam dinding, yang menandai tengah malam, kemudian pukul satu, lalu pukul dua.

Dokter telah pulang. Dua orang suster, setelah mondar-mandir tanpa bersuara di dalam ruangan itu, sekarang lagi tertidur di kursi. Bayi itu sudah tidur, dan ibunya, dengan mata yang tertutup, kelihatannya juga tengah beristirahat.

Tubuhnya semakin memucat di balik tirai, tiba-tiba perempuan itu meluruskan tangan-tangannya dengan gerakan yang cepat dan menyentak hingga dia hampir mendorong bayinya ke lantai. Suara mengerang terdengar dari dalam kerongkongannya, lalu dia tergeletak tak bergerak, mati.

Suster-suster bergegas mendekat dan berkata, “Semua sudah selesai!”

Sekali lagi Jacques menatapi perempuan yang pernah dicintainya itu, dan pada jam, yang menunjuk ke angka empat, kemudian dia berlari pergi, lupa pada jaketnya, hanya dengan kemeja malam, dengan bayi itu di dalam pelukannya.

Setelah pengantin wanita itu ditinggal sendirian, ia telah menunggu, mulanya cukup tenang, di dalam kamar tidur mungilnya yang bergaya Jepang. Lalu, karena ia tidak melihat Jacques pulang, dengan wajahnya yang terlihat dingin dan tenang ia kemudian kembali ke ruang dansa, namun ia sangat kuatir. Ketika melihat dia sendirian ibunya bertanya, “Di mana suamimu?”

Jawabnya, “Di ruangannya, ia akan segera kembali.”

Setelah satu jam berlalu, ketika setiap orang menanyainya, pengantin wanita ini akhirnya menceritakan tentang surat itu, juga tentang wajah Jacques yang terlihat sedih dan kekuatirannya akan terjadinya sebuah kecelakaan.

Mereka masih menunggu. Tamu-tamu sudah pulang, hanya keluarga dekat yang masih ada. Tengah malam pengantin itu kembali ke kamarnya sambil menangis tersedu-sedu. Ibu dan dua orang bibinya, duduk mengelilingi tempat tidur, mendengarnya menangis, diam dan dalam keputusasaan. Ayahnya sudah pergi ke komisaris polisi untuk mencari tahu mungkin ia bisa memperoleh kabar.

Pada jam lima terdengar suara kecil di ruang dansa. Pintu dibuka dan ditutup perlahan-lahan. Tiba-tiba saja tangisan kecil seperti suara meong seekor kucing menggema di keseluruhan rumah yang sunyi itu.

Seluruh perempuan berhamburan keluar dan Berthe berlari mendahului mereka semua, melewati bibi-bibinya, hanya memakai jubah handuk.

Jacques berdiri di tengah-tengah ruangan, pucat dan kelelahan, sambil menggendong bayi di tangannya. Empat wanita itu melihat padanya, terheran-heran; tetapi Berthe, yang tiba-tiba saja menjadi bersemangat, dengan penderitaan mental di hatinya, berseru, “Apa itu? Apa itu?”

Jacques mengangkat wajahnya dan menjawab pendek, “Aku-aku punya seorang anak dan ibunya baru saja meninggal.”

Dengan tangannya yang masih kaku ia menyodorkan bayi yang sedang menangis itu.

Tanpa mengucapkan sepatah kata, Berthe mengambil bayi itu, menciumnya dan memeluknya. Lalu dengan mata yang berkaca-kaca ia memandang Jacques, sambil bertanya, “Kamu bilang bahwa ibunya sudah mati?”

Ia menjawab, “Ya – baru saja – di dalam pelukanku. Aku telah putus dengannya sejak musim panas. Aku tidak tahu apa-apa. Dokter yang memberitahuku.”

Kemudian Berthe berbisik, “Kalau begitu, kita akan membesarkan si kecil ini.”

Maret 18, 2008 - Ditulis oleh charlesroring | Cerita Pendek, Cinta dalam Cerpen | , , | Belum Ada Tanggapan

Belum ada komentar.

Tinggalkan komentar