Diari Charles Roring

alam dan pikiran

Burung-burung Maluku yang Malang

Dalam perjalanan menuju Ambon dari Bula – ibukota Seram Bagian Timur, saya sempat bertemu dengan seorang penjual burung di kawasan transmigrasi. Sore itu, hujan baru saja berhenti dan sopir mobil berhenti sejenak di dekat sebuah warung untuk memuat beras. Memang kawasan transmigrasi di SBT adalah sentra produksi beras. Secara perlahan namun pasti beras semakin mengganti posisi sagu dan ubi sebagai makanan pokok orang Maluku. Suatu hal yang seharusnya tidak perlu terjadi. Hutan Seram yang kaya dengan berbagai spesies tumbuhan dan hewan semakin mengecil karena digantikan oleh ribuan hektar perkebunan kelapa sawit. Sebuah gambaran yang cukup memprihatinkan. Inilah fenomena umum yang terjadi tidak hanya di Maluku tetapi juga di seluruh Indonesia yang bio-diversity-nya begitu berharga.

Saya juga ikut turun dari bus trans-Seram untuk meluruskan kaki-kaki yang mulai terasa pegal. Waktu berhenti yang cukup singkat itu saya manfaatkan juga ke semak-semak untuk buang air kecil :)
Sang penjual burung berdiri di depan bus sambil menenteng lengkungan rotan tempat bertenggernya burung luri kepala hitam. Seorang penumpang mendekati penjual burung itu dan menanyakan harganya. Sang penjual itu bilang harganya 1 juta rupiah. Ini harga yang tergolong tinggi untuk standard lokal. Tapi sebagai seseorang yang berkecimpung di dunia eko-wisata, harga 1 jt itu tergolong kecil. Saya hanya bisa berharap bahwa akan ada birdwatching tour operator yang bersedia membantu pedagang burung ini dengan mengantar turis-turis untuk menonton burung lori tersebut di habitat alami burung itu. Saat menulis artikel ini, saya menyempatkan diri untuk mencoba mengidentifikasi species burung luri ini. Setelah kurang lebih 2 jam mencari-cari di internet, saya berhasil mendapat informasi yang akurat tentang burung luri tersebut. Namanya adalah Purple-naped Lory (Lorius Domicella). Oleh CITES, burung ini berstatus Endangered Species – artinya, burung ini terancam punah. Mengapa ia terancam punah? Karena burung ini banyak diburu dan diperdagangkan sebagai peliharaan dalam sangkar.

Gambar
Sangat disayangkan kalau burung-burung di Pulau Seram terus ditangkap dan dijual ke luar Maluku. Lama-lama burung-burungnya orang Maluku punah. Kasihan kalau orang Maluku kehilangan burungnya kan :) Walaupun burung-burung itu nampak kecil tak berdaya, mereka memagang peranan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Burung-burung ini menyebarkan biji-bijian dari buah yang mereka makan ke seluruh sudut-sudut hutan. Fungsi mereka sebagai seed disperser inilah yang membuat hutan Maluku tetap hijau. Di samping itu, burung-burung pantai yang memakan ikan secara langsung telah memberi pupuk kepada hutan-hutan baik di Pulau Seram, Ambon dan pulau-pulau lainnya di Maluku sehingga daratan-daratan karang yang terbentuk dari terumbu karang yang terangkat ke permukaan air laut ini menjadi pulau-pulau yang subur ditumbuhi vegetasi tropis.

Gambar

Jika Anda tertarik untuk jalan-jalan keliling Ambon, Seram dan pulau-pulau lainnya di Maluku dan membutuhkan seorang pemandu, silahkan menghubungi Rudi Fofid lewat email: rudifofid@gmail.com. Mari sama-sama katong jaga alam ini agar orang-orang Maluku zeng lagi kehilangan burung-burungnya. oleh Charles Roring.

Juni 27, 2012 Posted by | Jalan-jalan, Maluku | , , , , , | 1 Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.